Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: AME author

menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.

akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.

apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI YANG TERUJI

Suara bel hari pertama di semester baru membahana di sepanjang koridor, memecah keriuhan para siswa yang saling bertegur sapa setelah liburan usai.

Di antara langkah-langkah kaki yang terburu-buru, Akira dan Yuki berjalan bersisian. Rona canggung dan sisa hangat dari pelukan di taman semalam seolah masih berbekas jelas di antara mereka. Setiap kali jemari mereka tak sengaja bersentuhan saat berjalan, pipi Yuki akan merona tipis, sementara Akira berpura-pura batuk kecil untuk menutupi detak jantungnya yang berpacu.

"Ingat janji semalam ya, Akira... kita harus sukses bareng-bareng," bisik Yuki pelan, menatap Akira dengan binar mata penuh keyakinan.

Akira menghentikan langkahnya sejenak, lalu tersenyum tipis seraya mengangguk mantap. "Iya, aku ingat."

Namun, riak optimisme itu mendadak diuji saat mereka berdua berdiri di depan kerumunan murid yang memadati papan pengumuman pembagian kelas. Dengan teliti, mata Akira menyusuri barisan nama di kertas putih tersebut. Langkah jarinya berhenti pada lembar pertama, lalu berpindah ke lembar berikutnya. Tatapannya tertegun.

Akira berbalik menatap Yuki, sementara gadis itu tampak mengerucutkan bibirnya sambil menatap papan pengumuman dengan tatapan lesu.

Nama Akira berada di kelas 3-A, sedangkan nama Yuki tertera di kelas 3-C.

Hari pertama di kelas tiga baru saja dimulai, dan janji masa depan mereka langsung disambut oleh ujian pertama: jarak dan ruang yang kini memisahkan mereka.

"Aaargh... kita tidak sekelas, Akiraaa! Padahal aku mau satu kelas lagi," kata Yuki dengan lesu.

"Ya tidak apa-apa, kan kita masih bisa ketemu dan masih bisa pulang bareng," jawab Akira berusaha menyemangati Yuki.

Mata Yuki ganti menyusuri daftar nama kelas 3-A. Tepat dua baris di bawah nama Akira, tertera nama yang sangat ia kenali: Megumi.

Yuki seketika membeku. Ia menoleh perlahan dengan bibir mengerucut tajam. "Akira... kamu sekelas sama Megumi?"

Akira yang kaget hanya bisa menelan ludah canggung. "A-aku juga baru tahu, Yuki..."

Namun sebelum Yuki sempat memprotes lebih jauh, Akira ganti mengintip lembar kertas kelas 3-C milik Yuki. Mata Akira membelalak saat menemukan satu nama di barisan atas: Najime.

Kini giliran Akira yang menatap Yuki dengan alis terangkat tajam. "Tunggu... kamu juga sekelas sama Najime, kan?"

Yuki mengedipkan matanya, lalu gelagapan sendiri saat sadar. Momen yang tadinya hendak dipakai Yuki untuk memojokkan Akira mendadak berbalik. Mereka berdua berdiri di koridor yang ramai itu, saling menatap dengan raut wajah cemburu tipis yang tak bisa disembunyikan.

"Kamu tidak boleh terlalu dekat dengan Najime," tegas Akira pada Yuki.

"Kamu juga tidak boleh bicara sama Megumi!" balas Yuki sambil cemberut.

Suasana mendadak canggung karena mereka berdua justru dipasangkan di lingkungan kelas bersama orang-orang yang dulu pernah menyukai mereka.

"Ya sudah, aku pergi ke kelas dulu," pamit Yuki.

"Iya, ingat pesanku tadi!" sahut Akira melempar tatapan peringatan manis.

Begitu Yuki masuk ke kelas 3-C, Najime langsung menghampirinya. "Kita satu kelas ya, Yuki. Mohon bantuannya untuk tahun ini," sapa Najime ramah.

"Ah, iya..." jawab Yuki singkat sambil tersenyum canggung.

Di saat yang sama di kelas 3-A, Akira juga melangkah masuk dan mendapati Megumi sudah berada di sana. Saat pelajaran dimulai, wali kelas masing-masing mengumumkan denah tempat duduk.

Di kelas 3-C, Yuki mendapat posisi di bangku paling depan-dan bersebelahan tepat dengan Najime.

Sementara di kelas 3-A, Akira ditempatkan di bangku paling belakang dekat jendela, bersandingan dengan Megumi. Akira sejujurnya sangat menyukai posisi dekat jendela itu, tetapi fakta bahwa Megumi duduk di sebelahnya membuat kepalanya sedikit pusing.

Pelajaran semester baru dimulai dengan ritme yang jauh lebih serius. Materi kelas tiga langsung menghujam tanpa ampun. Namun, waktu demi waktu, pikiran Akira melayang membayangkan Yuki yang satu kelas dengan Najime. Begitu pula dengan Yuki di kelas sebelah; ia sama sekali tidak bisa fokus mencerna papan tulis karena bayangan Akira yang satu kelas dengan Megumi terus menari-nari di kepalanya.

Teeet...!

Bel istirahat akhirnya berbunyi, memecah kesunyian kelas yang sejak tadi terasa menghimpit.

Tanpa menunda waktu, Akira dan Yuki sama-sama langsung berdiri dari bangku masing-masing. Tergerak oleh rasa cemas yang sama, langkah kaki mereka terburu-buru menyusuri koridor menuju satu tempat tujuan: atap sekolah.

Akira memegang kotak bekalnya dengan erat saat melangkah naik. Begitu pintu besi berdecit terbuka, ia menemukan Yuki sudah terduduk di atas lantai beton atap gedung sekolah, memeluk kotak bento berbalut kain merah di pangkuannya. Rona merah tipis di pipi Yuki terasa kontras dengan hembusan angin siang yang berembus perlahan.

Tanpa mengucap sepakat, Akira melangkah mendekat dan ikut duduk meluruskan kaki di lantai beton, persis di sebelah Yuki. Yuki menyerahkan kotak bento kepada Akira dengan tatapan yang sedikit malu-malu.

"Aku... sengaja buat porsi telur gulungnya lebih banyak hari ini. Biar kamu tidak terlalu kepikiran hal lain."

Akira mengambil sumpitnya, lalu terkekeh pelan sembari menyantap telur gulung itu. Kehangatan nasi dan perhatian Yuki mendadak menyapu bersih rasa cemas yang mengendap di kepalanya sejak jam pertama. Ia menoleh menatap gadis yang sedang duduk di sampingnya itu.

"Jujur, tadi di kelas aku sama sekali tidak bisa fokus karena mikirin kamu satu kelas sama Najime," bisik Akira tulus, memotong kesunyian.

Yuki menahan napas sejenak, lalu perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Akira sambil menatap lurus ke arah langit di atas atap. "Aku juga... pikiranku penuh sama kamu dan Megumi. Tapi pas lihat kamu makan bekal buatanku di sini, aku sadar kalau kekhawatiranku tadi cuma pikiran konyol."

Ketika bel istirahat usai, mereka kembali ke kelas masing-masing setelah saling menyisipkan larangan-larangan kecil yang menggemaskan di koridor.

Hingga akhirnya, bel tanda jam pulang sekolah yang ditunggu-tunggu pun bergema.

Di kelas 3-C, Najime menghampiri meja Yuki. "Yuki, mau pulang bareng?"

"Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah janji sama seseorang," jawab Yuki tegas namun sopan. Ia segera merapikan tasnya dan berjalan menuju area loker bawah untuk menunggu Akira.

Namun di saat yang sama, Akira berjalan menuju area loker dengan Megumi yang berjalan di sampingnya sambil membicarakan tugas kelas. Yuki yang melihat pemandangan itu dari kejauhan mendadak tersulut cemburu. Tanpa berpikir panjang, Yuki langsung menghampiri Akira, menarik jemari cowok itu, dan menggandengnya erat-erat untuk diajak pergi.

Akira terkejut setengah mati saat tangannya tiba-tiba ditarik dan digenggam erat oleh Yuki di depan umum. Sementara Megumi yang tertinggal di belakang hanya bisa terpaku menatap punggung mereka berdua.

Kenapa dengan Yuki? Padahal aku tidak melakukan apa-apa pada Akira... Atau jangan-jangan dia masih mengira aku menyukai Akira? batin Megumi seraya mendesah pelan.

Sepanjang perjalanan pulang, Yuki hanya diam seribu bahasa. Wajahnya ditekuk manis, efek cemburu yang masih tersisa dari kejadian di loker tadi. Melihat tingkah Yuki yang begitu menggemaskan, Akira tidak bisa menahan diri untuk terus menggoda gadis di sampingnya itu dengan kata-kata manis.

"Jadi ada yang cemburu nih?" goda Akira pelan.

Usaha Akira berhasil. Yuki akhirnya luluh, merona malu mendengar godaan Akira. Ia menoleh ke arah Akira dengan tatapan lembut dan senyuman manja yang melelehkan hati.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat. Ritme kehidupan mereka berdua semakin padat. Hari-hari kini diisi oleh tumpukan soal, bimbingan belajar, dan persiapan ujian yang makin menyita waktu.

Jadwal Yuki pun semakin padat. Di luar jam sekolah, ia harus berkejaran dengan waktu menuju studio pemotretan dari petunjuk manajernya dan menjalani sesi latihan modeling. Sementara itu, Akira terus menenggelamkan diri di antara buku-buku tebal, berjuang sekuat tenaga meningkatkan nilai akademisnya demi mengejar impian yang telah ia janjikan pada Yuki.

Meski berada di bawah atap sekolah yang sama, waktu untuk sekadar duduk berdua di lantai atap gedung-menikmati bento bersama-menjadi momen yang makin langka dan berharga.

Hari sudah melarut ketika Yuki baru saja selesai merapikan barang-barang bekas pemotretannya. Tubuhnya terasa sangat lelah, tetapi matanya langsung bersinar saat layar ponselnya menyala, menampilkan satu pesan masuk dari Akira.

"Jangan lupa istirahat, Yuki. Kamu sudah berjuang keras hari ini. Sampai ketemu besok."

Senyum tipis terukir di bibir Yuki. Rasa lelah yang menghimpit sepanjang hari seolah menguap begitu saja. Ia mengetik balasan singkat sambil menatap langit malam dari jendela kamarnya:

"Kamu juga, Akira. Jangan belajar sampai kemalaman, ya."

Di tempat terpisah, Akira membaca pesan itu dengan napas lega. Meski jarak kelas dan kesibukan terus menguji, mereka tahu janji itu masih tergenggam erat.

*- TBC -*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!