Indonesia
NovelToon NovelToon
Si Detektif Gila

Si Detektif Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Sistem
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Hidup Tanpa Ikatan

Hidup mungkin akan jauh lebih ringan kalau tidak ada hati yang terlanjur terikat.

Di kehidupan sebelumnya, Revan pernah merasakan cinta yang begitu dalam. Cinta yang membara, sekaligus meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Saat itu, usianya baru delapan belas tahun. Ia jatuh cinta pada seorang gadis yang juga berusia delapan belas tahun sama-sama muda, penuh semangat, dan merasa dunia seolah milik mereka berdua.

Namanya Jeni.

Jeni adalah tipe perempuan yang mungkin hanya akan ditemui sekali seumur hidup. Cantiknya sulit dijelaskan dengan kata-kata. Wajahnya seperti seorang dewi yang turun dari langit ke bumi. Rambut hitam panjangnya selalu terurai indah, dan entah sejak kapan, Revan sudah menyerahkan seluruh hatinya kepada gadis itu.

Mereka saling mencintai.

Di masa muda yang penuh warna, keduanya menciptakan begitu banyak kenangan indah. Mereka pernah tertawa bersama, berjalan berdua, dan bermimpi tentang masa depan yang saat itu terasa begitu panjang.

Sayangnya, kisah cinta mereka tidak berakhir seperti yang mereka bayangkan.

Revan masih terlalu muda, keras kepala, dan gegabah. Ia sering terlibat perkelahian tanpa memikirkan akibatnya.

Sampai suatu hari, sebuah perkelahian yang seharusnya tidak terjadi justru membuat Jeni mengalami cedera parah pada kakinya.

Sejak saat itu, Jeni lumpuh dan tidak bisa berjalan lagi.

Orang tua Jeni murka.

Mereka menyalahkan Revan sepenuhnya. Revan bahkan dipukuli habis-habisan sebelum akhirnya mereka membawa Jeni pergi ke kota lain, jauh dari tempat itu.

Sejak hari tersebut, Revan dan Jeni tidak pernah bertemu lagi.

Bahkan ketika Revan berdiri di hadapan tiang eksekusi, menunggu jarum suntik memasukkan obat ke dalam pembuluh darahnya, satu-satunya nama yang masih terlintas di pikirannya tetap sama.

Jenita.

Manusia memang seperti itu.

Seseorang mungkin sudah pergi dari hidup kita, tetapi kenangan tentangnya tidak akan semudah itu menghilang.

Bahkan sampai napas terakhirnya, Revan tetap tidak mampu melupakan nama Jeni.

Siapa yang menyangka?

Siapa pula yang bisa menduga?

Cinta yang selama ini ia kira telah terkubur bersama kehidupan lamanya ternyata kembali muncul di hadapannya.

Dan lebih mengejutkan lagi...

Dialah pemilik tas yang baru saja dirampas!

Ketika melihat wajah yang selama ini hanya hidup dalam ingatannya, jantung Revan seolah kembali berdetak lebih kencang.

Perasaan yang sudah lama terkubur mendadak bangkit lagi.

Padahal sebenarnya, Revan tidak pernah benar-benar mati.

Jeni berdiri tidak jauh darinya.

Ia mengenakan pakaian berwarna merah muda yang sederhana namun tetap terlihat anggun. Rambut hitamnya diikat rapi membentuk ekor kuda. Wajahnya kini terlihat lebih dewasa dibandingkan gadis yang ada dalam ingatan Revan.

Namun kecantikannya tidak berubah.

Bahkan setelah bertahun-tahun, Jeni masih terlihat anggun dan lembut.

Meskipun tasnya baru saja dirampas, ia tetap memancarkan ketenangan yang membuat orang-orang di sekitarnya tanpa sadar memperhatikannya.

“Pencuri! Tas saya!”

Suara Jeni terdengar panik.

Ia sempat melirik Revan, tetapi tidak benar-benar menatapnya.

Seolah jauh di lubuk hatinya, ia sendiri tidak menyangka pria itu akan ikut mengejar pencuri yang baru saja merampas tasnya.

“Hah?!”

Revan tersentak.

Ia akhirnya tersadar dari lamunannya.

“Tidak mungkin...”

Tatapannya langsung tertuju pada tas yang dibawa kabur pencuri.

“Kalau itu tas Jeni, berarti masalahnya beda!”

Revan mengepalkan tangannya.

“Kenapa aku masih berdiri di sini?!”

Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari mengejar pencuri tersebut.

Sayangnya, pencuri itu sudah melaju cukup jauh.

Kalau hanya mengandalkan kedua kakinya, Revan jelas tidak akan mampu mengejar.

Apalagi jalanan Jakarta sedang padat-padatnya.

Mobil berjejer memenuhi jalan. Motor pun sulit bergerak. Bahkan sepeda saja hampir tidak punya celah untuk lewat.

Tidak ada kendaraan yang bisa dipinjam untuk mengejar.

Lalu harus bagaimana?

Revan menoleh ke kanan dan kiri.

Tiba-tiba matanya membelalak.

Di sana...

Ada seekor unta!

“Hah?! Itu dia!”

Tanpa berpikir dua kali, Revan langsung menyambar tali penuntun yang dipegang pemiliknya.

Dalam satu gerakan cepat, ia melompat ke atas punggung unta tersebut.

“Hah!”

Revan pernah menunggang kuda sebelumnya, jadi ia merasa seharusnya tidak terlalu sulit.

Ia menjepit tubuh unta dengan kedua kakinya, lalu menepuk bagian belakangnya.

“Ayo! Jalan!”

Unta itu diam.

Tidak bergerak sedikit pun.

Ia berdiri kokoh seperti patung.

“Woy, Pak! Ini gimana?!”

Pemilik unta langsung panik.

“Turun, Pak! Jangan begitu! Nanti untanya malah..”

“Diam!”

Revan membentak dengan suara lantang.

“Saya polisi!”

Pemilik unta langsung terdiam.

“Saya sedang menjalankan tugas! Sekarang saya butuh unta ini untuk kepentingan umum!”

Revan menunjuk ke arah pencuri yang semakin jauh.

“Cepat! Bagaimana cara membuatnya lari?!”

Pemilik unta terlihat bingung.

Namun karena takut, ia akhirnya mendekati unta itu dan mencubit bagian belakang tubuhnya.

“Coba begini, Pak!”

Plak!

Seketika unta itu bergerak.

Lalu...

Berlari!

“WOAAAH!”

Percepatan mendadak itu hampir membuat Revan terlempar.

Ia buru-buru memeluk punuk unta sekuat tenaga agar tidak jatuh.

“Pelan-pelan!”

Tapi unta itu sama sekali tidak peduli.

Ia terus berlari kencang.

Angin menerpa wajah Revan. Suara langkah kaki unta terdengar cepat menghantam jalan.

“Gila...!”

Kecepatannya ternyata luar biasa.

Rasanya bahkan lebih menegangkan daripada mengendarai motor balap!

“Revan... kamu...”

Seorang wanita yang berdiri di pinggir jalan terpaku melihat pemandangan tersebut.

Jeni.

Matanya membesar melihat Revan melintas di atas seekor unta.

“Revan! Kamu itu...!”

Namun suaranya tidak mungkin terdengar.

Revan sudah melaju terlalu cepat.

Dalam sekejap, ia melewati Jeni.

Jeni sendiri sampai tertegun.

Ia mendongak dan melihat seekor unta besar melintas dengan kecepatan tinggi, sementara Revan duduk di atasnya dengan posisi yang masih terlihat kaku.

Pemandangan itu benar-benar tidak masuk akal.

Revan mengendalikan unta tersebut menyusuri trotoar.

Jalannya memang sempit, tetapi ternyata unta itu cukup lincah. Kecepatannya hampir tidak berkurang sama sekali.

Tidak lama kemudian...

Revan semakin dekat dengan si pencuri.

Awalnya pencuri itu merasa dirinya sudah aman.

Namun ketika menoleh ke belakang, ia langsung melihat sesuatu yang besar melaju ke arahnya.

Matanya melotot.

“Apaan itu?!”

Ia buru-buru mempercepat langkah.

Namun unta itu jauh lebih cepat.

Revan hampir berhasil menyusul dan merapat ke sampingnya.

Tapi tepat saat itu, si pencuri berbelok tajam.

Ia masuk ke sebuah gang sempit.

Revan menarik tali penuntun.

“Belok!”

Unta itu pun ikut berbelok dan masuk ke gang tersebut.

Gang itu dipenuhi kios-kios kecil.

Ada yang menjual panci, wajan, makanan ringan, bahkan sebuah lapak loak.

Si pencuri berlari dengan gesit.

Ia dengan mudah melompati barang-barang yang menghalangi jalan.

Sayangnya, unta sebesar itu tidak mungkin melakukan hal yang sama.

“Eh?! Tunggu!”

Brak!

Unta itu justru menerobos semuanya.

Panci dan wajan berjatuhan dengan suara berisik. Barang dagangan beterbangan ke segala arah.

Brang!

Kursi dan meja terbalik.

Panci pecah di lantai.

Bahkan kursi tempat duduk seorang peramal buta ikut terdorong hingga menghantam dinding.

Dalam sekejap, gang tersebut berubah menjadi berantakan.

Orang-orang berteriak dan berusaha menyelamatkan barang dagangan mereka.

Namun Revan tidak peduli.

Targetnya hanya satu.

Pencuri itu!

Unta tersebut terus berlari tanpa mengurangi kecepatannya.

Akhirnya, mereka berhasil mendekati ujung gang.

Pencuri itu sudah hampir kehabisan tenaga.

Napasnya tersengal-sengal.

Bahkan kondisinya terlihat lebih mengenaskan daripada unta yang mengejarnya.

“Hah... hah... sial...”

Namun tepat ketika Revan hampir berhasil menangkapnya, sebuah kesadaran mendadak muncul di kepalanya.

Astaga!

Aku lupa menanyakan cara menghentikannya!

“Bagaimana cara berhenti?!”

Revan panik.

“Berhenti! Berhenti dulu!”

Ia mencoba menarik tali penuntun.

Tidak berhasil.

Ia mencoba mengarahkan tubuh unta ke samping.

Tidak berhasil juga.

“WOY! BERHENTI!”

Unta itu terus berlari.

Revan hampir menangis.

“Siapa tadi yang bilang caranya cuma dicubit?!”

Sayangnya, tidak ada yang menjawab.

Unta itu malah terus melaju.

Dalam beberapa detik, Revan sudah melewati si pencuri dan melaju beberapa meter lebih jauh.

“Hah?”

Si pencuri yang tadi sudah pasrah melihat kesempatan.

Ia menoleh ke belakang.

Pria di atas unta itu ternyata tidak berhenti.

“Dia nggak bisa berhenti?!”

Semangatnya kembali muncul.

Ia segera berbalik dan mencoba kabur.

Namun tubuhnya sudah benar-benar kehabisan tenaga.

Langkahnya bahkan sudah tidak stabil.

“Sialan!”

Revan panik setengah mati.

Kalau terus begini, pencurinya bisa kabur lagi!

Dalam keadaan terdesak, Revan menarik tali penuntun sekuat tenaga.

Unta itu akhirnya berbelok lebar di ujung gang.

Setelah berputar cukup jauh...

Unta itu berhasil menghadap kembali ke arah pencuri.

“Tidak mungkin...”

Wajah pencuri itu langsung pucat.

“Jangan bilang dia balik lagi...”

Ia menggertakkan gigi dan memaksa dirinya berlari.

Namun kali ini Revan tidak akan memberinya kesempatan.

Unta itu semakin dekat.

Semakin dekat.

Dan ketika jaraknya sudah cukup...

Revan melompat!

Tubuhnya melayang tinggi di udara.

“Rasakan!”

Bruk!

Revan mendarat tepat di atas tubuh si pencuri.

Pencuri itu langsung terkapar.

Setelah pengejaran gila-gilaan tersebut, dia benar-benar sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan.

Revan berdiri.

Pencuri itu langsung mengangkat kedua tangannya.

“Menyerah! Saya menyerah!”

Namun Revan yang masih terbawa emosi sama sekali tidak peduli.

Buk!

Satu pukulan langsung mendarat di wajah pencuri tersebut.

Hidungnya berdarah dan salah satu matanya mulai membengkak.

“Berani-beraninya kamu lari dari saya!”

Plak!

Satu tamparan keras kembali mendarat di pipinya.

Pencuri itu langsung terjatuh ke tanah.

Sementara Revan sendiri akhirnya terengah-engah.

Seluruh tubuhnya terasa sakit.

Rasanya seperti semua tulangnya hampir copot gara-gara aksi pengejaran barusan.

Di sisi lain, unta tadi akhirnya berhenti sendiri.

Seolah mengerti bahwa bebannya sudah turun, hewan itu berdiri tenang sambil menatap Revan.

Revan menoleh.

Ia mengangkat satu jempol ke arah unta tersebut.

“Terima kasih, Bro.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!