Indonesia
NovelToon NovelToon
Kamu Di Lapangan Padel

Kamu Di Lapangan Padel

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: wabula

Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat sekawan dikedai kopi

percakapan mendalam tersebut, Dika mengusulkan ide untuk mengatur pertemuan santai antara empat orang, mengajak Reta yang selama ini juga sudah tahu banyak mengenai perkembangan hubungan Zia dan Baska tersebut. "Bas, gimana kalau kita ajak Zia sama Reta ngopi bareng? Biar suasananya lebih santai, nggak cuma berdua doang."

"Boleh juga tuh, Dik. Tapi jangan sampai lo malah bikin gue makin canggung," jawab Baska sedikit khawatir, mengingat kebiasaan Dika yang suka menggoda dirinya di depan orang lain.

"Tenang aja, gue janji bakal jaga sikap," jawab Dika dengan nada meyakinkan, meski dari senyumnya yang jahil, Baska tidak sepenuhnya percaya dengan janji tersebut.

Pertemuan tersebut akhirnya terlaksana di sebuah kedai kopi yang cukup ramai di akhir pekan, dengan keempat orang tersebut duduk mengelilingi meja kecil sambil menikmati berbagai minuman kopi kekinian. Suasana yang awalnya sedikit canggung perlahan mencair seiring berjalannya obrolan ringan yang mengalir begitu saja di antara mereka.

"Jadi, Zia, gimana rasanya ngobatin orang yang awalnya males banget olahraga terus sekarang jadi rajin banget?" tanya Dika dengan nada menggoda, sengaja melontarkan pertanyaan yang membuat Baska langsung melotot ke arahnya.

Zia tertawa kecil mendengar pertanyaan tersebut, melirik sekilas ke arah Baska yang terlihat sedikit salah tingkah. "Seneng sih, Kak Dika. Jarang-jarang ada murid yang progressnya secepat itu."

"Progress apaan, progress hati kali maksudnya," sahut Reta dengan nada bercanda, ikut menggoda kedua sahabatnya tersebut yang sama-sama terlihat malu mendengar komentar tersebut.

"Ih, Ret, apaan sih," bantah Zia sambil menyikut pelan lengan sahabatnya tersebut, meski wajahnya sudah memerah menahan malu akibat godaan tersebut.

Baska, yang duduk di seberang meja, hanya bisa tersenyum kikuk mendengar godaan tersebut, tidak berani membantah terlalu keras mengingat dalam hatinya sendiri dia tahu betul bahwa godaan tersebut tidak sepenuhnya salah. Momen tersebut, meski penuh candaan, memberikan suasana yang begitu hangat dan alami, menunjukkan betapa cocoknya keempat orang tersebut berkumpul bersama.

Di sela-sela obrolan tersebut, Dika sengaja menciptakan kesempatan bagi Baska dan Zia untuk duduk berdampingan ketika dia dan Reta pergi sebentar untuk memesan tambahan kudapan, sebuah taktik halus yang disadari betul oleh Baska namun tidak dia protes karena diam-diam juga menginginkan waktu berdua dengan Zia tersebut.

"Mas Baska, tadi katanya mau cerita sesuatu waktu di lapangan. Jadi apa yang mau diomongin?" tanya Zia tiba-tiba, mengingatkan kembali percakapan yang sempat tergantung beberapa hari lalu tersebut.

Baska terkejut mendengar pertanyaan tersebut, tidak menyangka Zia masih mengingat dengan jelas momen yang sempat dia tunda tersebut. "Oh, itu... nanti deh, Mbak, saya masih nyari waktu yang lebih tepat."

Zia sedikit kecewa mendengar jawaban tersebut, namun tidak memaksa, menghormati keputusan Baska untuk menunggu momen yang menurutnya lebih pas. "Oke deh, Mas. Saya tunggu aja kapan pun siapnya."

Kata-kata tersebut, yang diucapkan dengan penuh pengertian, membuat Baska semakin merasa bersalah karena terus menunda pengakuan yang sebenarnya sudah lama dia siapkan tersebut. Dalam hati, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk segera mengambil keberanian tersebut sebelum kesempatan baik ini terlewat begitu saja.

Ketika Dika dan Reta kembali dengan membawa beberapa kudapan tambahan, suasana kembali ramai dengan candaan dan obrolan ringan, namun di balik keramaian tersebut, baik Baska maupun Zia sama-sama menyimpan perasaan yang semakin menguat, sebuah perasaan yang perlahan namun pasti mengarah pada momen penting yang akan segera mengubah status hubungan mereka berdua, dari sekadar teman dekat menjadi sesuatu yang jauh lebih bermakna.

Sore itu berlangsung dengan penuh tawa dan kehangatan, keempat sahabat tersebut menghabiskan waktu hingga menjelang malam, membahas berbagai topik ringan mulai dari rencana liburan, film yang baru rilis, hingga gosip-gosip ringan seputar teman kantor Baska dan Dika. Reta, yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara Zia dan Baska, sempat berbisik pelan kepada Zia ketika mereka berdua ke kamar kecil bersama.

"Zi, kayaknya emang bener deh dugaan gue. Baska tuh naksir berat sama lo," bisik Reta sambil tersenyum penuh arti.

"Aku juga ngerasa gitu, Ret. Tapi dia kayaknya masih ragu buat ngomong," jawab Zia dengan nada sedikit gemas, mengungkapkan kefrustrasiannya sendiri menunggu pengakuan yang belum kunjung datang tersebut.

"Sabar aja, Zi. Cowok kadang emang butuh waktu buat ngumpulin keberanian. Yang penting lo juga udah kasih sinyal yang jelas kalau lo juga suka," ujar Reta memberikan semangat, meyakinkan sahabatnya tersebut bahwa kesabaran yang dia jalani akan segera membuahkan hasil yang manis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!