Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13 — Pertemuan Terakhir
Pesan Adrian datang ketika Nara sedang memasang tirai.
Boleh kita bertemu?
Ia berdiri di atas kursi, satu tangan memegang batang penyangga, ponsel bergetar di saku celemek.
Pesan berikutnya masuk sebelum ia turun.
Bukan soal pekerjaan. Aku ingin ketemu kamu.
Nara duduk di kursi yang tadi dipakainya berdiri.
Ia membaca kedua kalimat itu berkali-kali. Adrian ingin bertemu dengannya. Tidak ada urusan lukisan yang bisa dipakai Nara untuk membenarkan pertemuan ini.
Maya baru membantu membersihkan ruangan ini kemarin.
Nara mengetik bahwa sebaiknya tidak. Ia menatap jawabannya, lalu menghapus setengahnya.
Kalau mereka bertemu sekali untuk mengakhiri, bukankah itu lebih baik daripada terus menyisakan hal yang tidak pernah selesai?
Nara tahu ia sedang mencari alasan agar boleh bertemu. Ia tetap mengetik balasan.
Sebentar saja. Aku juga perlu bilang sesuatu.
* * *
Adrian memilih kedai dengan halaman belakang yang terbuka. Siang hari, jauh dari kantor keduanya, cukup ramai agar mereka tidak bisa lupa sedang berada di luar rumah.
Nara datang sepuluh menit lebih awal.
Ia telah menyiapkan tiga kalimat: mereka tidak boleh melanjutkan, Maya sudah bicara dengannya, dan setelah hari ini sebaiknya nomor Adrian dihapus.
Ia mengulang ketiganya sambil memandang menu yang tidak dibaca.
Lalu Adrian muncul di pintu.
Kemeja biru muda, lengan digulung, mata langsung mencari wajahnya di antara meja-meja.
Nara lupa kalimat pertama.
Adrian berhenti di depannya, tersenyum kecil seolah tidak ingin membuatnya semakin gugup.
“Sudah lama?”
“Baru.”
Padahal es di gelasnya sudah mulai mencair.
Adrian duduk, membiarkan ponselnya tetap di saku. Sesekali percakapan mereka terhenti, tetapi ia terus memperhatikan Nara, membuat perempuan itu semakin gugup.
“Aku lihat lukisanmu di pameran,” katanya.
Nara tersenyum tipis. “Aku juga lihat kamu di sana.”
“Maksudku, yang satunya. Yang orang-orang lewati karena warnanya lebih gelap.”
Nara mengangkat wajah.
Adrian menyebut bagian sempit di sisi kanan yang sengaja dibiarkannya kosong. Nara menjelaskan sedikit, lalu lebih banyak ketika ia bertanya lagi.
Ia sudah lupa betapa mudahnya berbicara dengan laki-laki ini ketika topiknya sesuatu yang disukainya.
Nara ingin menceritakan buku yang baru dibacanya, tirai yang tadi hampir jatuh, hal-hal kecil yang tidak ada hubungannya dengan Dimas. Ia ingin tahu bagaimana hari Adrian, ingin menjadi orang yang dicari ketika laki-laki itu punya kabar baik. Mendengarnya tertawa di seberang meja, Nara akhirnya berhenti menyebut semua ini sekadar tertarik. Ia sudah jatuh cinta.
Setengah jam lewat sebelum ia melihat jam.
Adrian mengikuti pandangannya.
“Kamu harus kembali?”
Nara meletakkan gelas.
“Aku datang buat bilang kita jangan begini lagi.”
Kalimat itu akhirnya keluar. Sesudahnya, ia justru merasa sedih.
Adrian tidak pura-pura tidak mengerti.
“Iya.”
Nara menunggu ia menambahkan bahwa pertemuan ini memang hanya untuk menutup semuanya.
Ia tidak menambahkannya.
Pelayan datang menanyakan pesanan lain. Adrian menggeleng, meminta tagihan. Nara mendadak kecewa. Apa Adrian akan langsung pergi? Padahal ia sendiri yang baru saja meminta mereka berhenti.
Ia membuka tas untuk mengambil dompet.
“Biar aku.”
“Aku bisa bayar minumku.”
Adrian mengangguk dan membiarkannya membayar minumannya sendiri.
Mereka berjalan ke halaman samping menuju tempat parkir. Sebuah pohon menaungi bangku kosong di dekat tembok. Nara berhenti di sana untuk mencari kunci mobilnya.
Dimas sedang bekerja di luar kota sehari. Mobil Nara akhirnya dipakai olehnya sendiri.
Kunci terselip di bawah buku sketsa. Ia menemukannya, tetapi tidak segera berjalan lagi.
Adrian berdiri di dekatnya.
“Semalam aku hampir kirim pesan,” kata Nara.
Ia langsung menyesal. Harusnya ia sudah masuk mobil, bukan mengatakan sesuatu yang membuatnya ingin tetap di sini.
“Aku juga,” jawab Adrian.
“Kenapa nggak jadi?”
Adrian menunduk ke tangannya.
“Karena aku tahu kalau kamu balas, aku akan cari alasan buat terus ngobrol.”
Nara melihat cincin itu.
Ia mengingat janji di kedai bersama Maya, pelukan di pintu, permintaan agar jangan membuatnya menyesal percaya.
“Aku harus pergi.”
“Iya.”
Nara tidak bergerak.
Adrian mengangkat wajah. Jarak di antara mereka tinggal satu langkah, dan Nara sudah menghabiskan semua kalimat yang seharusnya membantunya mengambil langkah ke arah lain.
“Aku kangen kamu,” kata Adrian.
Tidak ada penjelasan sesudahnya.
Nara memejamkan mata sebentar. Ia telah membayangkan kalimat itu dalam begitu banyak versi sampai mendengarnya sungguhan terasa hampir menyakitkan.
“Aku juga.”
Adrian menyentuh tangannya. Ringan, memberi kesempatan untuk ditarik.
Nara justru menggenggam.
Ia melihat laki-laki itu memandang mulutnya, lalu kembali ke matanya. Nara maju lebih dulu, hanya sedikit, cukup untuk membuat keputusan itu menjadi miliknya juga.
Adrian menciumnya.
Sentuhan pertama itu lembut, nyaris ragu, tetapi Nara sudah terlalu lama membayangkannya. Jemarinya mencengkeram lengan kemeja Adrian dan menarik lelaki itu lebih dekat. Adrian mencium lagi, kali ini lebih dalam. Tangan yang tadi hanya menyentuh pipinya berpindah ke belakang leher, menahannya dengan tekanan yang membuat lutut Nara melemah.
Nara membuka bibir tanpa diminta. Napas Adrian menyusup hangat, bercampur dengan rasa kopi yang masih tertinggal di lidahnya. Ketika tubuh mereka merapat, Nara bisa merasakan dada lelaki itu naik turun cepat di balik kemeja. Panas yang sejak melihat video itu terus ia tekan mendadak hidup kembali, menjalar sampai ke ujung jarinya.
Cincin di tangan Adrian menyentuh pipinya. Ia tahu benda itu ada. Ia tidak berpura-pura lupa.
Ia tetap membalas. Bahkan ketika Adrian hendak mengendurkan ciuman, Nara mengejar bibirnya dan mencium sekali lagi, lapar sekaligus gemetar. Tangan Adrian turun ke pinggangnya, dan hanya lapisan tipis pakaian yang memisahkan telapak tangan itu dari kulitnya.
Ketika mereka akhirnya berpisah, bibir Nara terasa panas dan napasnya berantakan. Ia belum melepaskan lengan Adrian. Dari dalam kedai terdengar seseorang tertawa keras, lalu bunyi gelas beradu.
Nara tersentak mendengar tawa itu. Mereka masih di samping kedai, tempat siapa pun bisa lewat dan melihatnya mencium suami Maya.
Nara menunduk.
“May…”
Nama itu membuat tangan Adrian turun.
Nara menarik tangannya sendiri, meraih tas, lalu membuka pintu mobil sebelum ia kehilangan keberanian untuk pergi.
Adrian tidak menahannya.
“Aku minta maaf,” katanya.
Nara menggeleng, tidak tahu bagian mana yang ingin ia tolak. Permintaan maaf itu, kejadiannya, atau kemungkinan bahwa Adrian menyesal menciumnya.
Ia menyalakan mesin dengan tangan gemetar.
Di kaca depan ia melihat Adrian masih berdiri di bawah pohon. Ia ingin memintanya masuk, duduk sebentar, membuat pertemuan ini lebih sulit diakhiri.
Nara menginjak rem terlalu lama sebelum memindahkan persneling.
Ia datang untuk berhenti.
Sekarang ia tahu bagaimana rasanya dicium suami sahabatnya, dan bagian paling buruk adalah ia ingin mengalaminya lagi.
kayaknya ada yg GK jujur nih di masa lalu
kenapa gue yg deg" an yaaaa😄
bahayaa