Indonesia
NovelToon NovelToon
NIGHTMARE

NIGHTMARE

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Tamat
Popularitas:430k
Nilai: 4.8
Nama Author: Dewinisme

Slowly Update!!

Berkedok sebagai jaminan hutang ayahnya, Ruma berhasil dijerat menjadi tawanan abadi oleh Rico Dzadakun. Alih-alih menjadikan Ruma salah satu penari striptis di club malam miliknya, Rico justru merasakan jatuh cinta bahkan pada pandangan pertama pada gadis itu.

Sementara dibawah pengawasan Rico Dzadakun, diam-diam Ruma mendamba sebuah aksi balas dendam atas mimpi buruk yang selama ini ia dapatkan dari pebisnis kriminal tersebut.

Ditengah obsesi Rico terhadapnya, akankah Ruma berhasil melancarkan aksi balas dendam yang selama ini ia inginkan? ataukah Ruma justru semakin terjebak dalam jeruji-jeruji cinta yang Rico lilitkan dilehernya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Rudi berjalan kaku, seperti seseorang yang terkena tembakan peluru panas di kakinya. Langkahnya diikuti dua ekor anjing mungil jalanan yang dekil. Dua anjing itu menggonggong seolah ingin mengajak orang yang mereka temukan untuk bermain. Namun Rudi tampak tak peduli. Dibiarkannya dua ekor anjing jenis mongrel itu mengitari dirinya. Gonggongan bahkan geraman keduanya, tak juga melenyapkan kesedihan yang menggelayuti hati lelaki malang itu.

Ditengah heningnya malam yang ternoda deru kendaraan, benak Rudi berkelana pada beberapa saat yang lalu ketika ia mencoba menghubungi Abdul Dzadakun melalui seorang kenalan. Adik angkat sekaligus rival abadi Rico itu menolaknya bahkan sebelum ia mengutarakan maksudnya. Rudi berjalan dengan kepala tertunduk lesu, harapan tinggi akan bantuan dari Abdul membuatnya jatuh tersungkur dalam lubang kekecewaan.

Kekecewaan itu terasa semakin menyakitkan tak kala bayangan tipis keceriaan Ruma saat masih bersama tergambar jelas di pelupuk matanya. Rudi tersiksa oleh ketidakmampuannya membawa kembali Ruma dari tempat terkutuk itu.

Detik dan menit terus berjalan mengiringi kepekatan malam saat itu. Sorot mata berkabut Rudi menyapu jalanan panjang yang mulai sepi. Hanya beberapa kendaraan yang telihat masih siaga dan melintasi jalanan utama itu. Rudi membalikkan setengah tubuhnya. Dua ekor anjing yang tadi mengikuti dirinya memutuskan berhenti dan membiarkan Rudi berjalan sendirian. Rudi menyeringai penuh luka.

Bahkan anjing-anjing jalanan pun kehilangan minat melihat lelaki paruh baya yang berjalan dengan tatapan kosong, bak mayat hidup.

"Ruma" Rudi bergumam sedih. Manik matanya basah hanya karena bayangan cantik anaknya berkelebatan sesaat.

Tiba-tiba udara malam terasa semakin menggigit dari malam biasanya. Namun Rudi tidak peduli. Dalam keremangan lampu jalanan, bola mata Rudi mengerjap ketika dari kejauhan ia melihat sebuah truk besar sedang mengarah hendak melintasinya.

Truk besar dengan muatan yang sama besarnya itu berjalan dengan kecepatan sedang. Tatapan Rudi terpaku pada dua bola lampu truk yang semakin mendekat. Bibirnya tersungging dengan cara yang aneh ketika mengingat kembali wajah-wajah keluarganya di rumah. Ia mengingat Luna, wanita yang ia nikahi beberapa tahun itu yang membuat semua kesedihannya memuncak saat ini. Seberapa pun kerasnya Rudi berusaha memaklumkan perbuatan Luna atas apa yang menimpa Ruma. Hatinya tetap saja tidak bisa menerima hal kejam itu.

Di titik ini, Rudi merasa kehidupannya sudah tak lagi berarti. Ia merasa gagal menjadi seorang ayah yang bisa melindungi anaknya sendiri. Lelaki malang itu larut dalam kesedihan dan penyesalan yang menyiksa. Langkahnya semakin sempoyongan menatap jalanan lurus yang terasa berat. Tanpa mengindahkan bunyi klakson truk yang nyaring, Rudi berlari kencang. Tubuhnya melompat tepat beberapa saat ketika truk itu hampir melintasi dirinya.

Bruk! Tiiiiiiiiiin!

Bunyi nyaring klakson panjang menjadi akhir dari denyut nadi Rudi yang sekarat di jalanan beraspal.

Lelaki paruh baya itu mati. Dalam dinginnya udara malam. Dalam pekatnya rasa duka yang melingkupi hatinya. Matanya memilih terpejam selamanya, daripada harus melihat kehancuran Ruma, anak yang paling ia cintai di dunia ini.

🍁🍁🍁🍁

Rico tertidur di sofabed kamarnya kala itu.

Selama beberapa jam setelah pertemuannya dengan Ruma tadi malam, Rico menghabiskan sisa malamnya dengan pembicaraan ringan dengan ayah angkatnya di rumah. Rico memilih menyibukkan diri berbincang daripada harus berjam-jam menunggu pergantian waktu hingga esok hari menjelang.

Mentari bersinar cerah hari itu. Sinarnya menembus lapisan tirai tipis yang menghalangi tubuh tengkurap Rico di sofabed maroon mengkilap. Pembicaraan panjang dengan ayah angkatnya semalam, menjadi cara paling ampuh agar dirinya dapat segera terjatuh dalam dunia mimpi.

Tok tok tok

Ketukan pintu membuat bola mata yang masih terpejam itu bergerak lambat. Pendengarannya belum sepenuhnya siaga menangkap ketukan yang beberapa kali terdengar.

Sesaat setelah ketukan terdengar kembali, bola mata Rico terbuka. Ia membalikan badan. Pandangannya lurus menatap langit-langit kamarnya, sementara mulutnya terbuka lebar. Lelaki itu menguap. Kuapan yang cukup lebar hingga menyisakan air di sudut matanya.

"Ada apa?" tanyanya seraya merenggangkan tubuhnya yang kaku.

"Nyonya Meggy ingin bicara dengan Tuan" ujar Matias, pekerja Rico yang kemarin bertengkar dengan istrinya.

Rico terdiam sesaat. Tangannya mencari ponsel yang semalam entah ia taruh dimana. Ketika ponsel itu berhasil ia dapatkan dari lipatan sofabed, matanya langsung tertuju pada delapan panggilan tak terjawab dari Meggy.

"Bilang padanya aku akan menghubunginya" suara parau dengan intonasi cukup tinggi tertangkap jelas oleh telinga Matias.

"Baik Tuan" sahut Matias disusul oleh suara derap langkahnya yang menjauh.

Ada sebersit rasa malas di wajah kusut Rico pagi itu ketika ia mengingatkan dirinya untuk segera menghubungi Meggy setelah ia benar-benar siap memulai hari. Namun, mendadak rasa malas itu lenyap secara tak terduga, manakala kilasan wajah sendu Ruma mengisi benaknya.

Hatinya membungbung oleh rasa senang yang penuh gairah. Sudut bibirnya terangkat sedikit sementara kedua kakinya bergerak menuruni tempat peristirahatannya. Rico bergegas bangkit meninggalkan sofabed, berjalan lurus menuju kamar mandi dengan langkah sedikit terburu. Dari raut wajah lelaki itu saja jelas terlihat bagaimana dirinya ingin segera bersiap, lalu menyelesaikan urusannya dengan Meggy sebelum akhirnya pergi ke Nightmare untuk menghabiskan hari bersama Ruma.

Bersama Ruma. Kembali dengan gadis itu.

Oh sial! Hanya dengan membayangkan berdua bersama gadis itu saja, sekujur tubuh Rico berdesir hangat.

Terpaan air shower di wajahnya, justru semakin menstimulus benaknya untuk menangkap jelas bayangan cantik Ruma yang meringkuk disana. Rico merasa dirinya sudah hampir gila, otaknya tanpa tahu malu sibuk memikirkan hal apa yang akan ia lakukan setelah masa perjanjian itu berakhir. Kobaran gairah dalam dirinya bergejolak begitu membayangkan kehalusan kulit Ruma yang berhasil ia sentuh sebentar lagi.

"Ah, makhluk menjijikan apa yang merasukimu, Ric. Bisa-bisanya kau membayangkan tubuh gadis itu di waktu Sepagi ini" gumam Rico pada dirinya sendiri.

Ini baru beberapa hari sejak ia mendapatkan Ruma. Namun mengapa pengaruhnya begitu kuat Rico rasa.

Rico menyeringai menatap bayangannya dalam cermin washtafel, dalam hatinya ia memuji kepintaran Rudi yang berani mengambil resiko dengan melibatkan adiknya pada masalah ini. Lelaki bajingan itu ternyata masih ingat bagaimana Abdul selalu tertarik untuk mengganggu apapun kesenangan kakak angkatnya. Beruntung Don sudah memastikan bahwa Rudi tidak akan bisa menghubungi adik angkatnya itu. Dan itu artinya peluang Rudi untuk mendapatkan pinjaman demi Ruma telah hilang. Sama seperti menghilangnya peluang pinjaman dari rekan bisnisnya yang lain.

Rico meletakkan cangkir kopinya di meja kerja. "Ada apa?" tanyanya pada Meggy melalui ponsel.

"Kau membuatku khawatir, honey" Hembusan nafas wanita itu terdengar berat.

"Aku hanya terlelap lebih lama. Apa yang membuatmu khawatir?"

"Aku kesal karena menunggu panggilanmu" Meggy diam sejenak. "Pesta Olympus Palace itu benar-benar dimajukan" sambungnya.

"Kapan?" tanya Rico sambil menatap pohon-pohon rindang di halaman rumahnya.

"Akhir pekan ini" sahut Meggy. "Mereka menanyakan barang itu"

Rico menyeringai puas. "Katakan pada mereka. Mereka akan mendapatkannya segera"

"Baiklah. Honey, apa yang akan kau lakukan hari ini?" tanya Meggy manja.

"Bertemu beberapa rekan bisnis--maybe" Rico berbohong. Nyatanya, hari ini adalah hari dimana ia akan menghabiskan waktunya hanya untuk bersama Ruma.

"Bisakah kau menjemputku di lokasi syuting lagi? Lokasiku masih sama seperti kemarin kau menjemputku untuk berbelanja" pinta Meggy berharap.

Rico menggeleng pelan. Jelas lelaki itu tak ingin hari ini diganggu oleh apapun dan siapapun. "Aku tidak bisa. Urusanku begitu banyak, maafkan aku" tolaknya langsung.

"Urusan apa?" selidik Meggy tak puas.

Rico merasa terganggu dengan pertanyaan itu. Matanya memicing tanpa ia sadari. "Kita sudah sepakat untuk tidak mengganggu urusan kita masing-masing, bukan?"

Meggy gugup seketika. Jarinya saling meremas dengan gelisah mendengar nada peringatan kekasihnya dari seberang sana. "Bu--bukan begitu, aku hanya ingin tahu sedikit saja kegiatanmu hari ini" ujar Meggy sambil menggigit bibir bawahnya.

"Kesepakatan tepat kesepakatan. Pertanyaanmu melewati batas kesepakatan kita saat awal berhubungan" Rico mengingatkan.

Meggy mendesah pasrah. Dalam hatinya ia merasa tersiksa dengan kesepakatan yang pernah ia buat dulu bersama kekasihnya itu. Saat itu Rico setuju menjalin hubungan Meggy, asalkan Meggy tidak melewati teritori pribadinya. Ada beberapa urusan yang tidak boleh Meggy campuri kecuali jika Rico sendiri mengijinkannya. Tapi sungguh, hal itu begitu berat bagi Meggy yang sudah menempatkan Rico di puncak hatinya. Meggy yang pecemburu, tentu selalu ingin tahu semua mengenai Rico. Tanpa terkecuali urusan-urusan yang bersifat privasi.

Setelah bergumul dengan pikirannya sendiri Meggy kembali berucap. "Baiklah. Aku akan menghubungimu lagi nanti" putusnya dengan nada suara terdengar pasrah.

Rico mematikan ponselnya segera. Diluar langit sedang begitu cerah. Langkah kakinya mulai mengalun menuruni anak tangga. Tidak jauh dari arah pintu terlihat Matias dan Viona menganggukkan kepala pada dirinya.

Mobil mewah berkaca hitam itu meluncur dengan cepat begitu Dion, anak dari Matias dan Viona membukakan pintu gerbang utama. Deru mobil sport keluaran terbaru itu memecah keramaian jalanan. Kesibukan manusia di Ibukota pada siang hari berkali-kali lebih terlihat padat dan sesak. Hampir tiga puluh menit waktu yang diperlukan untuk sampai di Nightmare miliknya. Meskipun siang hari adalah waktu yang paling keliru untuk memasuki sebuah club malam. Pintu masuk yang tertutup rapat terpaksa terbuka ketika deru mobil mewah yang familiar di telinga para penjaga Nightmare berhenti sempurna di pelataran parkir.

Dua orang lelaki bertubuh besar membungkuk sopan pada seorang lelaki tampan dengan penampilan casual yang keluar dari balik pintu mobil. Di belakang kedua lelaki besar itu, muncul Don dengan wajahnya yang kaku.

"Rudi tewas," ungkap Don menghentikan langkah Rico menuju ambang pintu. Lelaki itu menoleh pada tangan kanannya. Alisnya terangkat mencoba mempercayai berita yang baru saja ia dengar.

"Apa aku tidak salah dengar?" tanyanya memastikan.

Don diam. Namun dari manik hitamnya yang tegas, tak ada sedikitpun keraguan dari ucapannya. "Seseorang yang kita tugaskan mengawasinya, memberitakan itu tadi pagi" sambungnya.

Rico tampak berpikir sesaat. Ia memaksa diri untuk mengabaikan berita tragis itu dengan melanjutkan langkahnya memasuki club. Kakinya berhenti bergerak tepat di barisan anak tangga dan hal itu memicu reaksi berantai dari Don yang mengikutinya di belakang. "Apa dia bunuh diri?" tebak Rico menolehkan sedikit kepalanya.

Don mengangguk pelan. "Rudi menabrakkan dirinya pada sebuah truk yang melintas," ungkap Don.

Rico kembali berpikir. "Ceritakan padaku detailnya nanti. Sekarang aku butuh waktu berdua bersama Ruma. Kau pastikan tidak ada siapapun yang menggangguku hari ini"

Rico memutuskan segera menaiki anak tangga setelah Don mengangguk paham akan perintahnya. Berita kematian Rudi tidak berarti apapun untuknya. Namun ketika ia mengingat kehadiran Ruma ditempatnya, kematian lelaki itu menjadi sesuatu yang harus pikirkannya kembali. Bagaimana reaksi gadis itu jika mengetahui berita kematian ayahnya? Apakah Rico harus memberitahu Ruma? Ataukah merahasiakan hal itu terlebih dulu?

Tiba-tiba keraguan melingkupi diri Rico. Langkahnya terhenti begitu ia menyadari bahwa pintu ruangan Ruma tepat berada di hadapannya.

🍁🍁🍁

1
Ita Listiana
sungguh aq suka banget sama semua novelmu yg tamat yg aq baca, aq suka bahasamu thor, gk bertele" gk kayak drama ikan terbang muter" gk jelas, tapi kenapa yg baca cuma dikit ya?? btw sukses terus buat othor semangat terus buat berkarya. dan novelmu yg ngegantung tolong dilanjutkan dong thor../Drool//Grin/
Greenenly
ya ampun..sangat menyedihkan sekali, aku menangis pilu😭
Made Ayu
Kecewa
Made Ayu
ini sdh kesekian x baca ulang tetep suka 😍
Fe☕
Alur cerita ringan , enak dibaca

bbrp kalimat yg digunakan memabukkan berasa baca karya sastra 👌

mksh Author
tetap semangat berkarya ✒️📱
Cia²
👍👍
sherly
terbaik
sherly
mantull
sherly
part ini paling mengelikan.. asli Thor sampai ngakak pas si Rico ngk mau nyamar malah komplain
sherly
woh
sherly
ini karyamu yg ke 3 yg aku baca Thor dan beneran smuanya bangus pakai banget .. kisah cinta dimana si cowok beneran sayang banget sama pasangannya.. msh blm bisa move on dr sabiel dan Laura, Raka dan raya eh ternyata Rico dan ruma ngk kalah bucin
sherly
keren thor
sherly
seru
sherly
keren banget
sherly
ceritanya bagus, penulisan dan kata2nya luar biasa..
sherly
ngeri ya
sherly
bahasamu Thor sungguh luar biasa
Sang Dewi: terima kasih kaka.. aku baca setiap komen kaka, dan terharu hihi.. makasih banyak sudah mampir 🙏😉
total 1 replies
sherly
ini yg ke 3 karyamu yg aku baca thorr... semoga keren juga seperti yg lain
Hanifah Ifah
rico kamu hrs hati2 jg sm meggy dan ayahnya lucas..... mreka ingin balas dendam
Wanda Sukma
aku yakin ini novel bagus, karna bs dilihat dr pemilihan kosa katanya autor memiliki wawasan luas.
tp aku heran dg algoritma noveltoon ini, knp novel2 receh yg alur ga jelas arahnya mau kemana dan blundet ga masuk akal justru bisa di up, sdngkan novel yg rata2 bagus sprti ini justru ga di up.

krn sblm aku baca aku paasti lihat dulu komen2 jika ada 1 komen yg buruk sdh pasti alurnya emng buruk. tp dikomen ini baik dan menarik jd aku baca.

sejauh ini masih suka sih, semangat thor meski ga trending yg penting ttep berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!