Jovelyn Evgeniy adalah keturunan terakhir dari keluarga bangsawan pengkhianat dunia pada lima ribu lima ratus tahun yang lalu. Keluarga Jovelyn dibunuh secara tragis oleh pihak kekaisaran, dia tinggal sendirian hingga berhasil menjadi pembunuh berantai paling ditakuti demi membalaskan dendam kematian keluarganya. Namun, pada akhirnya Jovelyn ditangkap lalu dieksekusi di hadapan publik.
Ketika Jovelyn membuka mata kembali, dia terbangun di tubuh leluhurnya sebelum terjadinya pengkhianatan besar. Dia terbangun di masa lima ratus lima puluh tahun yang lalu. Sang leluhur yang mempunyai rupa dan nama yang sama dengannya telah dikurung di sebuah mansion seusai memergoki tunangannya dan sepupunya berselingkuh.
Mulai dari sini, Jovelyn pun mencari alasan pasti mengapa leluhurnya dianggap sebagai pengkhianat dunia. Dia memainkan berbagai cara hingga menciptakan kerusuhan besar di bumi manusia. Jovelyn akhirnya menjadi wanita penjahat yang bersembunyi di balik kepalsuan senyumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xeiralana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuka Topeng
Jovelyn dan yang lain terperangah begitu mendengar perkataan Xenof, baru kali ini Xenof memarahi Jovelyn. Mungkin ini karena Xenof tidak tahan lagi melihat Jovelyn disiksa secara batin oleh Paman dan Bibinya. Jovelyn perlahan merekahkan senyum tipis, dia mewajari kemarahan Xenof sebab pria itu murni mengkhawatirkan dirinya.
“Duke Vallois, saya paham jika Anda marah karena kondisi saya yang sekarang, tapi saya tidak bermaksud sama sekali untuk merahasiakannya. Lagi pula ini adalah kediaman orang tua saya, tidak mungkin saya pergi dari tempat tinggal saya sendiri. Saya memaklumi kekhawatiran Anda, namun bukan berarti Anda harus membuang-buang tenaga untuk meluapkan emosi Anda,” tutur Jovelyn sambil menggenggam tangan Xenof.
Berkat tutur kata lembut Jovelyn akhirnya kemarahan Xenof mereda, memang tidak ada obat yang lebih ampuh dibanding senyum dan suara Jovelyn. Kini ekspresi Xenof kembali datar, atmosfer sekitar juga mulai dingin lagi.
“Jovelyn, maaf atas kegaduhan yang kami perbuat, tapi kami kemari ingin memastikan kondisimu. Tampaknya benar apa yang dikatakan oleh rumor bahwa kau diperlakukan buruk di sini, jadi mengapa kau tidak tinggal di istanaku saja?” ujar Jeremy menawarkan Jovelyn untuk tinggal di istana kediamannya.
Senyum Jovelyn perlahan pudar, dia tidak bisa selalu bermain halus di depan keempat pria tersebut. Selain itu, hal ini hanya akan membuat rencana Jovelyn semakin rumit, jadi Jovelyn berpikir untuk sedikit membuka topengnya di hadapan empat pria yang tengah mengkhawatirkan dirinya.
“Sepertinya saya harus menjelaskan sesuatu kepada Anda semua, saya memiliki beberapa fakta yang mungkin saja pernah terlintas di pikiran Anda.” Jovelyn menjentikkan jemarinya, tiba-tiba sebuah dinding penghalang menyelimuti ruangan tempat mereka berdiri.
Mereka berempat terlihat jelas kalau mereka sangat terkejut, selama ini yang mereka ketahui Jovelyn tidak bisa menggunakan sihir, tapi apa yang mereka saksikan kala itu seolah membantah seluruh fakta di masa lalu.
“K-Kau bisa menggunakan sihir?” Lexen bertanya dengan suara gelagapan, tentunya pertanyaannya mewakili yang lain.
“Bisa, saya bisa menggunakan sihir, tapi hanya beberapa sihir yang dapat saya gunakan. Jadi, sekarang bisakah kita berbicara serius?”
Udara di sekeliling mereka berubah berat, ekspresi manja Jovelyn kini tidak ada lagi tergurat di wajahnya. Jovelyn mendudukkan diri di sofa, kedua kakinya bersilang sembari menunggu mereka berempat duduk tenang di hadapannya.
‘Ini adalah yang terbaik, aku tidak akan bisa menyembunyikan topengku selamanya dari mereka. Lagi pula aku masih merasa asing dengan dunia ini, aku butuh banyak orang membantuku mencari informasi tentang gereja sekaligus mengenai istana kekaisaran,’ gumam Jovelyn dalam hati.
Belum pernah sekali pun mereka merasa setertekan ini saat berhadapan dengan orang lain, keempat lelaki tampan itu saat ini hanya mengikuti keseriusan Jovelyn.
“Saya akan berbicara terus terang saja, kematian kedua orang tua saya ada kaitannya dengan pihak kekaisaran dan kaki tangan mereka adalah Paman dan Bibi saya. Bukankah begitu yang Anda semua yakini?” terka Jovelyn seraya tersenyum miring.
Mereka tersentak ketika Jovelyn mengatakan dengan blak-blakkan bahwa perkiraan mereka selama ini ialah kematian kedua orang tua Jovelyn diakibatkan karena campur tangan pihak kekaisaran.
“Akhirnya kau menyadarinya, selepas beberapa waktu seusai kematian kedua orang tuamu banyak kejanggalan yang terjadi. Pihak kekaisaran tidak mengerahkan pencarian lebih lanjut, mereka menganggap bahwa kedua orang tuamu mati saat penaklukkan tembok iblis. Tetapi, dengan begini kami yakin ada sesuatu yang disembunyikan pihak kekaisaran,” jelas Helio.
Jovelyn mengangguk, sesuai dengan perkiraannya serta kecurigaannya setelah melintasi waktu ke masa lalu. Fakta yang diyakini yaitu kejanggalan di balik kematian kedua orang tua Jovelyn patut dipertanyakan. Namun, Jovelyn masih belum mempunyai kekuatan lebih untuk melawan pihak kekaisaran, ada banyak hal yang perlu dia ketahui menjelang melakukan pemberontakkan besar.
“Pihak kekaisaran merasa terancam oleh keberadaan kedua orang tua saya, kemungkinan paling mendekati ialah Ayah dan Ibu saya memegang rahasia yang selama ini disembunyikan pihak kekaisaran atau mungkin juga ada rahasia yang lebih besar dari itu. Oleh sebab itulah, saya berada di sini sekarang untuk mengorek fakta kematian Ayah dan Ibu,” ucap Jovelyn.
Ekspresi Jovelyn datar tapi tajam, keempat lelaki yang terbiasa melihat ekspresi lembut Jovelyn kini hanya bisa terpaku seakan-akan gadis yang mereka tatap kala itu berubah menjadi orang lain. Kebencian sekaligus rasa dendam mencuat bersamaan aura membunuh yang dimiliki Jovelyn, entah mengapa hal itu justru semakin menyesakkan atmosfer di sekitar.
“Sebelum itu, aku ingin bertanya, apakah kau benar Jovelyn yang kami kenal?” tanya Lexen tiba-tiba.
Jovelyn membatu sepersekian detik, dia pun menghela napas sembari mengarahkan pandangan sayu nan menggoda ke Lexen.
“Duke Crowley, saya menyimpan rasa benci dan dendam lebih dari yang Anda bayangkan. Menurut Anda saat ini, apakah saya adalah Jovelyn yang Anda kenal atau bukan? Saya menyerahkan penilaian tersebut kepada Anda pribadi.”
Lexen terdiam, dia memindai tubuh Jovelyn, bila dia melihat dari segi fisik maka yang dia temukan ialah Jovelyn Evgeniy yang dia kenal sedari dahulu. Tidak ada yang berubah, hanya karakter tidak bergunanya saja yang berubah.
“Hahaha.” Suara tawa Jeremy memecah ketegangan di antara mereka. “Apa sekarang kau mau mengatakan kalau kau membuka topengmu pada kami? Jovelyn, sejak awal aku curiga karena kau bisa keluar dari mansion yang mengurungmu selama beberapa bulan. Aku sempat pergi memeriksanya sebelum akhirnya aku menyerahkan tugas itu pada menara sihir. Seluruh pelayan dan kesatria yang berada di mansion lenyap tanpa sebab, apakah ini adalah ulahmu?”
Jeremy menatap Jovelyn dengan tatapan penuh curiga, Jeremy menyembunyikan kenyataan itu dari ketiga rekannya. Jeremy sebaik mungkin berperilaku bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang perbuatan Jovelyn. Meskipun pada awalnya dia ragu Jovelyn punya kekuatan untuk membunuh, tapi melihat Jovelyn yang sekarang dia jadi yakin kalau gadis itu memang membunuh seluruh pelayan dan kesatria di mansion.
“Apa yang kau katakan, Jeremy? Kau tidak pernah menyebut soal itu kepada kami,” tanya Lexen kepada Jeremy.
“Anda benar-benar pantas menjadi seorang Pangeran, Anda menerka segalanya dengan sempurna. Memang benar, saya melenyapkan mereka karena sudah berani kurang ajar kepada saya dan saya merekayasa seluruh kejadian di tempat Putra Mahkota mengurung saya. Awalnya saya ingin terus mencoba menjadi Jovelyn yang lembut dan murah senyum, tapi saya tidak bisa lagi menyembunyikannya dari Anda sekalian.”
Jovelyn pun bangkit dari posisi duduknya, dia melangkah menuju ke pintu balkon sembari mengeluarkan pedangnya.
“Sekarang saya akan tunjukkan kepada Anda bagaimana cara saya membunuh orang lain.”
Jovelyn mengayunkan pedangnya di ambang pintu balkon, darah segar memancar dari seorang pria berjubah hitam yang ternyata menyelinap menggunakan sihir tak kasat mata ke kamar Jovelyn. Pria itu mati begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun, Jovelyn mengusap darah yang menyiprat ke wajahnya seraya memutar posisi badan.
“Bagaimana? Apakah hal ini terlalu mengejutkan bagi Anda semua? Ya, saya tidak terlalu peduli tapi inilah diri saya yang sekarang. Saya membuka topeng saya sepenuhnya demi membalaskan dendam yang terpendam selama ini. Saya tidak peduli siapa pun diri Anda, tapi jika Anda berniat menggagalkan rencana pembalasan dendam saya, maka saya tidak akan segan-segan memotong leher Anda.”