Tersesat di alam Gaib.( Misteri hilangnya para gadis).
" Satu persatu warga kita yang masuk ke pabrik gula itu, hilang entah kemana, setiap hari pasti ada saja yang hilang, dan hilangnya pasti di tempat yang sama, kebun tebuh milik Mustofa Suherman."
" Sudahlah bu jangan mudah berprasangkah buruk sama orang, siapa tau aja itu cuma kebetulan."
" Ngga pak, emang seperti itu, coba bapak bayangkan, setiap bulan pasti ada saja yang hilang, entah kemana mereka hilangnya."
Ya hari ini aku tak sengaja mendengar percakapan bapak juga ibu, perihal orang-orang pabrik Haji Mustofa hilang setiap bulannya, Ibu enggang menyebutnya Haji, karna katanya ngga pantes karna dia melakukan pesugihan, dengan tumbal nyawa manusia, aku sih tidak begitu yakin, mana ada pesugihan di jaman modern seperti sekarang ini.
Aku berjalan keluar membawa nampan di tanganku, berisikan kopi hitam kesukaan ibu juga bapak, kuletakkan di meja di depan mereka.
" Kita ngga tau bu, warga kita itu kemana, yang mungkin saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akbarr 123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PRAKTEK BEDA MAYAT BAB 12
#AkbarPratama73
Uhuk! Uhuk!
Aroma yang menusuk hidung begitu menyengat membuat tenggorokanku gatal, juga mataku berair perih. Dari baunya aku menyimpulkan kalau ini bau isi perut yang membusuk, bukan bangkai hewan. Terbukti saat kami mencari sumber bau ini di seluruh ruangan, kami tidak menemukan apa-apa.
Bau itu menyebar begitu saja bagai pengharum ruangan. Saking menyengatnya aku dan Fauzi tak sanggup berada di kamar lebih dari satu menit. Kami putuskan untuk duduk di teras depan, dengan membiarkan pintu terbuka lebar berharap bau itu segera hilang.
Suasana kos-an saat itu cukup sepi kebanyakan penghuninya masih tertidur. Beberapa bahkan lampunya masih menyala menandakan kamar itu sedang di tinggal pemiliknya.
"Aku putus asa, Zi," keluhku. Aku menggeleng lemas tak berdaya. Seandainya ini peperangan, mungkin aku sudah mengangkat bendera putih tanda menyerah.
"Jangan gitu. Kita kan sudah sama-sama berjuang buat masuk ke kedokteran, sekarang kita sama-sama cari jalan keluarnya," ujar Fauzi menyemangati.
"Kemarin parah banget."
"Memang ada apa?"
Aku ceritakan semua kejadian sore itu, yang menurutku sudah di luar batas kemampuanku yang hanya seorang manusia biasa. Demi apapun, seluruh logika yang ada di dalam otakku tak mampu menampung kejanggalan yang terjadi kemarin sore.
Fauzi menarik napas panjang, dia juga seperti bingung harus berbuat apa, dan akhirnya dia memilih diam tak menanggapi ceritaku.
"Apa kata orang tuamu tentang keadaan kita ini?" Aku menatap lekat Fauzi bertanya dengan serius berharap dapat jawaban yang menenangkan, atau setidaknya jalan keluar dari masalah ini.
Namun Fauzi malah menggelangkan kepala dengan raut penyesalan. Dari gestur itu aku sudah tau jawabannya pasti mengecewakan.
"Aku juga punya cerita yang tidak kalah menarik," ungkap Fauzi.
Pandanganku yang sedang mengedar ke depan langsung kualihkan ke Fauzi. "Apa itu?" tanyaku.
"Waktu pulang kampung aku ketemu dengan sepupuku yang katanya dia seorang indigo." Fauzi mulai bercerita.
"Katanya?" Aku menginterupsi cerita Fauzi.
"Ya, karena aku sendiri tidak tau dia beneran bisa lihat hantu atau tidak, dan hal itu gak bisa dibuktikan dengan logika kita, kan?" jelas Fauzi, dengan nada tidak senang karena aku memotong ceritanya.
"Oke, terus apa yang dia katakan?"
"Dia bilang banyak sekali yang mengikutiku dari bangsa ghaib, termasuk sosok pocong yang isi perutnya keluar. Dengan ciri-ciri seperti mayat kadaver kita." Fauzi menghela napas.
"Dengan begitu, sepupumu memang bisa melihat itu, ya." Aku kembali mempertanyakan kebenaran soal indigo sepupunya Fauzi.
"Yah, dari situ aku mulai percaya. Dia tau ciri-ciri mayat kadaver, padahal aku tidak pernah menceritakannya." Fauzi merubah cara duduknya kini dia bersila menghadapku. "Kamu tau, Dik, yang lebih seram dari itu?"
Aku naikan sebelah alis. "Apa?"
"Kemarin, aku pulang itu langsung ke rumah kakek, dari awal niatku pulang emang buat jenguk kakekku yang sakit. Aku ketemu sepupu juga di sana, di rumah kekekku." Fauzi menghentikan ceritanya sebentar karena ada orang lewat, lalu setelah itu dia melanjutkannya. "Berhubung aku gak mau nginep, jadi malam tadi aku sendirian di rumah. Jam dua belas malam lagi enak tidur, kucing piaraan keluargaku berisik, empat-empatnya mengeong berisik. Aku kira kucing-kucing itu kelaparan, ternyata bukan."
"Terus kenapa?" Aku semakin penasaran.
"Aku melihat makhluk yang disebut pocong itu sedang berdiri di kamar mandi yang gelap, tapi aku masih bisa melihatnya dengan jelas karena lampu di luar kamar mandi dibiarkan menyala semua. Wujudnya itu ... huh!" Fauzi membuang napas kasar. "Persis seperti yang dikatakan sepupuku," pungkasnya sambil bergidik ngeri.
Hampir aku tersedak air liurku sendiri mendengar cerita Fauzi. "Terus apa yang kamu lakukan, baca Ayat Kursi?" Kembali aku bertanya pada Fauzi.
"Jangankan ingat Ayat Kursi, mau gerakin badan aja susah, aku berasa mau mati berdiri," ungkapnya.
"Siapa yang gak ketakutan coba, mayat yang tempo hari kita kuburkan tiba-tiba ada di kamar mandi rumahku," lanjut Fauzi. Dia menceritakan semuanya dengan ekspresif, yang membuatku bisa membayangkan gimana ketakutannya dia saat itu.
Aku merasa bersyukur karena tidak pernah melihat sosok itu dengan jelas, seperti yang dialami Fauzi.
"Kamu tau, Dik. Baunya itu persis dengan bau kamar kita sekarang ini!"
Barulah di situ aku merinding, sudah kuduga bau menyengat ini bukan bau biasa. Pasti ada sangkut pautnya dengan teror yang menimpa kami.
"Hampir semalaman aku gak bisa tidur, ada aja ganguannya. Suara ketukan pintu, suara barang jatuh. Makanya subuh-subuh aku langsung balik ke sini. Gak betah aku tinggal di rumah," keluh Fauzi. Wajahnya memucat mungkin karena mengingat teror-teror yang ia rasakan semalam.
Andai semalam aku tidak pergi dari kos-an, aku enggak bisa membayangkan akan ada apa di kamar ini. Mengingat paginya mendapati kamar ini berbau menyengat. Seakan sesuatu yang berbau itu, diam di kamar ini cukup lama.
"Untungnya aku gak tidur di kos-an," kataku.
Beberapa saat kita diam melamun.
"Mungkin ini sudah saatnya kita cari paranormal," kata Fauzi. Sekarang dia kembali bersandar ke dinding.
"Gak, gak, gak, paranormal itu nomer ke sekian. Kita bisa makin gak waras kalau minta bantuan paranormal," sergahku.
"Terus apa yang harus kita lakukan? Pasrah? Menunggu setan itu capek sendirinya? Aku sih, gak mau," ujar Fauzi dengan nada menggebu.
"Kemarin aku menemukan artikel berita yang menurutku berkaitan dengan mayat kadaver kita. Sebelum ke paranormal kita harus cari tau, kenapa si mayat ini menghantui kita. Lebih bagus kalau kita bisa mengakhiri teror ini tanpa ke paranormal, kan?"
Aku mengeluarkan laptop dari tas yang semalam kubawa ke warkop. Lalu menunjukkan isi artikel itu pada Fauzi.
"Jadi kita akan menyelidiki ini?"
"Yah, tidak salahnya dicoba kan!"
"Aku capek banget, Dik." Fauzi mengembalikan laptopku.
"Gak harus sekarang juga, Zi. Aku juga capek semalaman gak tidur."
Aku dan Fauzi masuk ke kamar memeriksa kondisi kamar, syukurlah bau itu sudah tidak terlalu menyengat. Jadi kami memutuskan untuk istirahat dengan keadaan pintu kamar terbuka, agar bau ini segera lenyap sepenuhnya.
****
Siang harinya aku terbangun dengan kepala terasa berdenyut nyeri. Suasana kos-an kembali ramai seperti biasa, terdengar dari suara penghuni sebelah yang sedang berbincang-bincang diselingi tawa entah sedang membahas apa. Smentara itu Fauzi masih terlelap menikmati istirahatnya.
Aku pergi ke kamar mandi, salat duhur, dan kembali duduk di dalam kamar. Handphone yang sedari pagi diangurkan karena habis batrei, kini berada di genggaman tanganku dengan kondisi batarei sudah penuh lagi setelah di charger sewaktu aku tidur.
Beberapa notifikasi muncul dari aplikasi hijau pertanda pesan masuk dengan waktu terkirim yang berbeda-beda. Salah satunya dari teman kampusku, kulihat chat itu masuk jam 06:20. Ketika kubuka, isi pesan itu cukup mengejutkanku. Isi pesan itu memberitahukan kalau-
Delia sedang dirawat di Rumah Sakit!
Bersambung ....
tapi nangung masih up