Masa muda adalah masa dimana kita hanya harus berbahagia, menjadi egois sesekali dilakukan demi merasa bahagia.
Jatuh cinta adalah bahagia yang dirasa amat indah ketika muda, sama hal dengan Naura yang merasakan cinta dimasa SMAnya.
Rekas adalah adik kelasnya yang berhasil menarik hati Naura, lelaki baik, dan populer sejak pertama masuk Sekolah tersebut karena keatifannya itu.
Tapi akan seperti apa Naura ketika tahu bahwa Rekas menginginkan wanita lain, dan bahkan lebih menginginkan wanita itu dari pada dirinya.
Akankah sikap dan sifat egois yang Nuara berikan pada Rekas demi menjaga bahagianya sendiri? Atau mungkin Naura akan membiarkan lelakinya dengan pilihan sendiri meski itu bukan bahagia bagi Naura?
Selamat membaca, tinggalkan jejak indah ya Readers.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sweet'Candy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dulu
Yuka menarik dua lelaki itu keluar kamar, perdebatan mereka hanya akan menambah beban fikiran Rekas. Yuka ingin putranya tenang, dan bisa segera pulih tanpa menghabiskan waktu lama.
"Sudah cukup! Kalian tidak malu seperti ini?" tanya Yuka.
"Yuka ...."
"Jangan bicara dengannya, kita yang berurusan bukan dia," sela Farhan.
"Papa, diamlah dulu!"
Farhan berpaling, jengkel sekali hati Farhan saat ini, kenapa mereka harus bertemu lagi setelah sekian lamanya. Yuka meminta Andre untuk segera pergi saja, tidak akan gunanya mereka terus berdebat.
"Atas nama Radit, tolong maafkan dia, biar ku bantu perawatan Rekas."
"Tidak! Tidak perlu seperti itu! Sebaiknya urusi saja anakmu sendiri, dan tolong tolong dengan sangat jangan lagi mengganggu anak kami, tolong!" mohon Yuka.
"Akan ku peringati dia saat bertemu nanti."
"Pastikan tidak akan ada lagi pertengkaran apa lagi perkelahian seperti ini!"
Andre mengangguk pasti, Radit memang sudah keterlaluan, mulutnya terlalu pandai berbohong. Anak itu akan mendapatkan pelajaran saat Andre pulang nanti, Andre lantas pamit setelah mengulang permintaan maafnya yang bahkan tetap tidak diperdulikan Farhan.
Yuka melirik suaminya, bisa sekali Tuhan mempertemukan mereka lagi tetap dengan keadaan buruk. Yuka menghembuskan nafasnya tenang, dan mengusap pundak Farhan lembut.
"Tenanglah, kasihan Rekas kalau seperti itu, dia butuh ketenangan sekarang agar fikirannya bisa kembali positif."
"Aku akan menghukum anak itu dengan caraku sendiri!"
"Jangan seperti itu, Andre sudah tahu keadaan anak kita, biarkan saja anaknya menjadi tanggung jawab dia."
Farhan menggeleng, sekali lagi saja Farhan mendengar anak itu membuat masalah dengan Rekas, Farhan benar-benar akan menghukumnya sendiri. Yuka tersenyum hangat, Farhan tidak pantas seperti itu, dia sudah menjadi seorang ayah dan sudah seharusnya bisa lebih sabar lagi.
"Papa akan temui Rekas."
"Untuk apa? Biarkan dia istirahat dulu."
"Papa harus minta maaf sama dia."
Yuka melepaskan tangannya dari pundak Farhan dan membiarkannya masuk menemui Rekas, meminta maaf adalah hal baik. Rekas juga pasti merasa kesal atas perbuatan Farhan tadi, Yuka hanya tidak ingin jika Rekas semakin tidak karuan atas dirinya sendiri.
Langit yang telah berganti gelap, membuat sebagian besar aktivitas terhenti. Mereka bisa menghabiskan waktunya bersama keluarga di rumah, termasuk keluarga Andre yang beranggotakan empat orang.
"Sudah bisa kamu berfikir benar?" tanya Andre.
Sejak tadi entah sudah berapa kali Radit membuat Andre memarahinya, Radit sama sekali tak perduli dengan teguran Andre. Semakin Andre menghentikannya maka semakin keras juga Radit melawannya.
"Siapa memangnya dia? Kenapa Papa harus membelanya?"
"Papa membela kamu! Kamu mau mereka yang memberimu hukuman? Siap kamu menanggung kemarahan keluarga anak itu?"
Vika tak hentinya menarik nafas dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri mendengar dan melihat perdebatan suami dan anaknya itu.
"Kakak memang jahat!" ucap Dea sang adik.
"Diam kamu!" sahut Radit.
"Sebaiknya kamu pindah Sekolah saja."
Radit mengernyit, haruskah seperti itu? Radit tidak akan bisa melihat penderitaan Rekas kalau sampai pindah Sekolah.
"Radit sebentar lagi ujian kenaikan kelas, bagaimana bisa pindah Sekolah?" tanya Vika.
"Pindah setelah kelas dua, selesaikan ujian kamu dan jangan berani bertingkah lagi."
"Aku tidak mau seperti itu!"
"Kamu fikir Papa mau mendengar penolakanmu?"
Radit berdecak kesal, keputusan Andre justru membuat Radit semakin jengkel saja terhadap Rekas. Bisa-bisanya Andre membela anak lelaki itu, padahal sejak awal bukan Radit yang mencelakainya.
Vika menggeleng dan meminta Radit ke kamar saja, lagi pula masih ada waktu untuk sampai ujian selesai, mungkin saja Andre bisa berubah fikiran.
"Pokoknya aku tidak mau pindah Sekolah, apa pun alasan, apa lagi jika alasannya hanya karena aku harus mengalah pada anak lemah itu."
"Radit!"
"Papa, sudahlah!" sela Vika.
Radit melirik ketiganya bergantian, menjengkelkan sekali mereka semua. Apa Radit dan Rekas itu anak tertukar, kenapa mudah sekali untuk Andre mengambil keputusan seperti itu.
"Kalau aku sampai keluar dari Sekolah sekarang, mungkin tidak akan ada yang bisa berubah menjadi baik."
"Kamu benar-benar menantang Papa, hah?"
"Suuttt, ssss sudah diam-diam! Radit ke kamar apa kamu tidak dengan Mama?"
Radit berlalu begitu saja bukankah meski terluka tapi Radit masih bisa berjalan bahkan berlari, Andre menatap istri di sampingnya, wanita itu juga kerap menentangnya ketika membela Radit.
"Apa itu permintaan orang tua dari anak yang dipukuli Radit?"
"Tidak."
"Lalu kenapa?"
"Karena mereka tidak akan pernah berdamai!"
Vika mengernyit, untuk alasan apa Andre bisa memastikan semua itu? Bahkan setiap harinya kehidupan manusia kerap berubah-ubah, sikap dan pemikiran juga bisa saja berubah.
"Siapa anak itu?"
"Dia anak Farhan."
Tak ada jawaban, Vika diam berusaha menepis kebenaran atas apa yang difikirkannya. Andre berpaling sesaat dan kembali menatap istrinya, nama itu tidak mungkin juga dilupakannya.
"Farhan, sampai kapan pun dia akan tetap membenci Radit. Sudah sebaiknya kita yang pergi!"
"Pergi! Kita akan pergi kemana? Kita tidak ada urusan lagi dengan mereka!"
"Benarkah? Tapi Radit sudah membuka jalan buruknya sekarang, fikirkan!"
Vika kembali diam, kalimat Andre memang benar, tapi kenapa dan kemana mereka harus pergi. Rumah yang ditinggalinya adalah rumah pribadi, terlalu sayang untuk ditinggalkan.
"Jangan pernah lupakan apa pun tentang ucapan Farhan!"
#Falshback ...
Vika menangis sejadinya ketika melihat Andre ditarik paksa oleh polisi, Farhan yang kalut ditengah duka dan amarahnya itu sama sekali tak perduli dengan apa yang sedang terjadi.
"Tolong hentikan!"
Farhan terkejut saat tiba-tiba Vika bersujud di kakinya, tangisnya benar-benar pilu, tangannya bergetar kala menyentuh kaki Farhan.
"Tolong jangan lakukan ini! Suami saya tidak mungkin sengaja melakukannya, tolong!"
Yuka yang juga menangis sebenarnya iba atas Vika, tapi Yuka tidak bisa berkata apa pun pada Farhan untuk saat ini.
"Pergi kalian! Saya akan memaafkan kalian jika Mama saya bisa kembali!"
"Tidak, itu tidak mungkin, tolong ampuni kami ampuni Suami saya! Mbak, Mbak saya mohon Mbak!"
Yuka memejamkan matanya, kenapa Vika harus bersujud padanya juga. Yuka membangunkan Vika meski dengan kesulitan, tanpa henti Vika terus saja memohon pada dua orang di depannya.
"Papa!" panggil Yuka.
"Tolong, saya sedang mengandung saat ini, saya membutuhkan Suami saya selama kehamilan yang bahkan masih muda ini, tolong!"
Farhan menunduk, keadaannya sama dengan Yuka yang juga sedang mengandung. Farhan juga tidak mungkin meninggalkan istrinya yang tengah hamil, dan Yuka juga tidak mungkin mau ditinggalkan suaminya tanpa bertemu sama sekali.
"Tolong, saya mohon!"
"Sudah cukup!
Yuka menahan Vika yang hendak kembali bersimpuh pada Farhan, derai air mata yang seolah tak ingin surut, Farhan mengusap wajahnya kasar dan segera meminta polisi itu melepaskan Andre.
Jelas saja itu mengejutkan untuk mereka semua, Andre yang sudah duduk di mobil polisi itu kembali berdiri di hadapan Farhan. Andre tak sengaja menabrak Farida yang tak lain mama dari Farhan, malangnya Farida meninggal saat itu juga sehingga Farhan tak sanggup untuk memaafkan Andre.
"Saya memilih damai, Pak," ucap Farhan dengan terbata, tidak ada yang tahu hancurnya perasaan Farhan saat mengucapkan kalimatnya itu.
Vika dan Andre bersamaan bersimpuh di hadapan Farhan, itu keputusan yang sesuai keinginan mereka berdua.
"Menghilang, menghilang dari kehidupan saya, jangan pernah berani menunjukan diri lagi. Siapa pun yang bersangkutan denganmu jangan pernah berurusan dengan keluargaku! Siapa pun yang bersangkutan denganmu, sedikit saja mengusik bahkan menyakiti keluargaku, tidak akan lagi berakhir semudah ini!"