Awalnya Aleta sangat bahagia saat dirinya diadopsi oleh keluarga Dirga yang kaya raya hingga dapat membantu Rangga yaitu Ayah kandung Aleta untuk berobat ke rumah sakit.
bertahun tahun Aleta menjalani hidup seperti biasa dengan kedua orang tua angkatnya. namun siapa sangka bahwa ternyata kedua orang angkatnya itu adalah seorang mafia yang suka menjual gadis perawan untuk mendapatan keuntungan dunia.
Apakah Aleta sanggup menjalani semua deritanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan.Agst, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IBU MASIH HIDUP?
Keesokan paginya Arini pun terbangun lebih dulu dari Aleta. Saat Arini ingin membangunkan Aleta namun ia mengurungkan niatnya itu karena takutnya Aleta tak biasa bangun sepagi ini dan ia takut bahwa Aleta akan merutuki dirinya jika ia membangunkan Aleta dari tidur nyenyaknya itu.
Arini pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk bebersih dan bersiap untuk menyambut calon Ibunya yang akan datang pagi ini.
Mendengar suara gemericik air Aleta pun terbangun dengan muka yang masih sangat mengantuk menengok kanan kiri tapi tak menemukan keberadaan Arini.
" eh kakak udah bangun? Apa aku membuat kakak terbangun yah? Maaf yah kak "
Ucap Arini yang baru selesai mandi dan melihat Aleta sudah duduk dengan setengah sadar.
" hhmmm.... "
Jawab Aleta dan melanjutkan tidurnya lagi.
Arini yang melihat Aleta tidur lagi itu hanya tersenyum karena memang sekarang masih pukul setengah lima pagi dan ia memutuskan kembali ke kamarnya untuk mengganti baju dan bersiap.
¤¤¤¤¤
Tok.. Tok.. Tok...
" kak.. Kak Aleta... Kak Ari masuk yah? "
Arini yang tak mendengar ada jawaban dari Aleta itu pun memutuskan untuk masuk ke kamar Aleta dan melihat Aleta masih tidur pulas.
" ya ampun ini sudah hampir jam tujuh pagi kak.. Bangun.. "
Ucap Arini sambil berjalan mendekat dan mengguncang guncang badan Aleta.
" hhmmm masih ngantuk Bu "
Jawab Aleta tanpa sadar.
hah? Ibu?
" kak! Ini Arini... Ayo bangun.. Kakak... "
Ucap Arini kini tak lembut lagi.
Karena keberisikan Aleta akhirnya bangun dan melihat Arini sudah rapi dengan baju barunya.
Aleta melihat Arini memakai baju yang ia pilihkan untuknya kemarin terlihat sangat lucu dan menggemaskan rasanya Aleta ingin sekali mengucel ngucel pipi Arini yang terlihat seperti boneka itu.
" kamu udah rapi aja? "
Tanya Aleta.
" Ari sudah terbiasa bangun subuh kak karena dipanti asuhan kalo bangunnya lebih dari jam lima aja pasti ga kebagian sarapan "
Ucap Arini menceritakan pengalamannya.
" lalu? Apa calon Ibumu itu sudah datang? "
Tanya Aleta lagi kini dengan nada jutek dan tak suka tak terlihat sangat jelas di wajahnya.
" belum kak , Calon Ibu kita kak , kan kakak anak Ayah juga "
Kata Arini membenarkan ucapan Aleta.
Aleta hanya menghela nafas panjang mendengar perkataan Arini dan beranjak dari tempat tidurnya langsung menuju kamar mandi.
Tok.. Tok.. Tok...
" Al.. Ari.. Sudah bangun nak? "
Ucap Rangga dari balik pintu.
Arini yang mendengar Ayahnya itu pun langsung membuka pintu.
" sudah Ayah.. Kak Aleta sedang mandi mungkin nanti setelah kami berdua sudah siap akan langsung ke ruang makan kok Yah "
Ucap Arini pada Rangga dengan tersenyum bahagia.
" hhmm Baiklah , Ayah akan menunggu, Calon Ibu kalian sudah datang "
Ucap Rangga sambil mengelus kepala Arini lalu menundukan kepala dan berbisik dikalimat terkahir kemudian Rangga berjalan kembali ke ruang makan untuk menemui calon Ibu bagi kedua putrinya itu.
Rangga yang melihat Maya tersenyum kepadanya itu ia pun membalas dengan senyuman yang hangat. Maya adalah perempuan cantik yang berusia 38 tahun beda empat tahun dengan Rangga yang kini telah menginjak usia 42 tahun.
Maya memiliki paras yang sama persis dengan mendiang sang istri bahkan bisa dibilang kembar saking miripnya.
Pertama kali ia bertemu dengan Maya ia sempat kaget dan tak percaya dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya.
Rangga pun terus mengorek informasi tentang Maya dari mana asal usulnya , silsilah keluarganya , dan apakah ada hubungan kerabat dengan sang istri semua Rangga selidiki dengan seksama yang akhirnya membuat Rangga tahu bahwa Maya adalah wanita Cantik yang berasal dari Bogor dan bekerja sebagai Dokter kecantikan disebuah klinik terbesar dan paling terkenal di Jakarta.
" mereka belum siap mas? "
Tanya Maya pada Rangga saat tiba di kursi sebelah Maya.
" Sedang mandi, kita tunggu sebentar lagi yah, tidak apa? "
Tanya Rangga pada Maya dan Maya hanya mengangguk dengan senyuman hangat tersungging di bibirnya.
" oh yah? Bagaimana dengan pekerjaanmu belakangan ini? tidak ada masalah ? "
.
" baik.. Semuanya lancar kaya biasanya mas , cuman kemarin ada sedikit insiden dengan klien yang biasa perawatan di klinik aku, tapi semuanya sudah diatasi "
.
" oh yah? Insiden sepeti apa? "
Tanya Rangga lagi terlihat antusias dengan pembicaraan mereka yang membuat Maya tersenyum senang.
" ituu.. Biasanya kan kalo memang ada klien yang mau perawatan harus reservasi dulu biar jadwalnya tidak bertabrakan dengan klien lainnya, tapi kemarin orang tersebut langsung datang ke klinik dan minta dilayani terlebih dahulu tanpa memedulikan klien yang lain "
Jelas Maya.
.
.
" kak Aleta!! "
Arini tiba tiba teriak saat melihat Aleta jatuh pingsan. Hal itu pun membuat Maya dan Rangga terkejut dan melihat apa yang terjadi.
Saat Menoleh kearah Arini betapa kagetnya Rangga saat melihat Aleta sudah tergeletak di lantai. Sontak Rangga langsung berlari kearah mereka dan membawa Aleta ke kamarnya diikuti Maya yang juga merasa khawatir dengan keadaan Aleta.
Maya pun meminta Arini mengambilkan minyak kayu putih dan menggosokannya ke telapak tangan dan kaki Aleta kemudian menciumkannya ke hidung Aleta yang tak lama kemudian Aleta pun tersadar dari pingsannya.
Aleta yang baru saja tersadar itu pun menyadari apa yang dia lihat dan langsung saja memeluk Maya sambil memanggilnya Ibu.
Arini dan Maya pun terkejut dengan ucapan Aleta. Namun Maya tak berbicara apapun dan hanya mengusap usap punggung Aleta.
" hiks hiks.. Ibu masih hidup.. Ibu masih hidup... Huhuhu "
Mendengar ucapan Aleta itu Maya pun menyadari sesuatu bahwa dulu saat pertama kali ia bertemu dengan Rangga hal yang sama juga terjadi pada Rangga. Rangga pingsan dan saat bangun ia memeluk Maya seeratnya sambil mengucapkan bahwa istrinya masih hidup. Dari situlah Maya tahu baha ia memiliki kemiripan yang hampir 100% dengan mendiang istrinya. Maya yang memahami hal itu pun juga tak keberatan.
" sudah sudah Aleta.. Lebih baik kita sarapan dulu yuk.. Setelah itu baru kita bicarakan hal ini yah nak "
Ucap Maya sambil mengecup puncak kepala Aleta.
Aleta pun langsung menuruti perkataan Maya tanpa basa basi dan langsung beranjak dari tempat tidurnya tak lupa ia menggandeng tangan Maya dan Arini bersamaan disebelah kanan dan kirinya lalu menuju ke ruang makan.
Saat tiba diruang makan Aleta langsung duduk di kursi sebelah Maya sambil menatapi Maya tanpa henti sambil senyum namun matanya jelas sekali menampakan kebingungan.
" hhmm ada apa Al? "
Ucap Maya yang juga bingung ditatap terus oleh Aleta.
Aleta hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tapi terus saja memandangi Maya dengan tatapan yang sama.
Saat Rangga sampai di ruang makan barulah mereka makan bersama. Setelah Rangga dan Maya selesai mengisis piring mereka Aleta pun langsung mengambil piring Arini dan mengambilkan nasi untuknya dan beberapa lauk yang sekiranya tak bisa Arini jangkau. Setelah itu Aleta duduk lagi dan memandangi Maya sampai lupa jika ia juga harus sarapan.
Maya pun hanya diam dan masalah dengan Aleta karena ia tahu bahwa Aleta menganggap dirinya sebagai Ibu kandungnya yang telah meninggal.
" aaa... "
Ucap Maya sambil mengarahkan sesuap nasi ke Aleta. Tanpa berkata apa apa Aleta pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Maya. Namun Aleta malah meneteskan air mata dan langsung mengambil nasi dan lauk pauk sendiri.
Melihat hal itu Maya pun menampakan kecewa pada wajahnya yang terlihat jelas saat melihat Aleta tiba tiba mengambil nasi dan langsung makan sendiri. Apakah perbuatannya tadi itu salah? Pikir Maya.
" aku tak ingin merepoti seseorang yang sedang makan jadi lebih baik aku makan sendiri "
Ucap Aleta dengan sehalus mungkin agar tak menyakiti perasaan Maya.
Baru saja Maya ingin mengucapkan sesuatu namun sudah dihentikan oleh Rangga yang tiba tiba memegang tangannya dan menganggukan kepala yang mengartikan bahwa Aleta tak marah. Maya pun tersenyum hangat dan melanjutkan acara sarapan bersama mereka.