Indonesia
NovelToon NovelToon
Mafia Bucin

Mafia Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Balas Dendam / Persaingan Mafia
Popularitas:182.6k
Nilai: 5
Nama Author: keyna elsyavira

"Menurut lah maka kamu akan mendapatkan keuntungan yang kamu mau." Bisik Marco di telingan Ruby.

"Mengapa aku harus percaya dengan perkataan mu? Bahkan aku belum mengenal mu!" Sahut Ruby dengan sarkas.

"Bukankah kita pernah berciuman? Bagaimana bisa kamu melupakan itu dan mengatakan bahwa kamu tak mengenal diriku?"

Ruby jadi mengingat dimana Marco menciumnya secara sepihak, dan itu membuat dirinya kesal.

"Aku akan menuruti semua perkataan mu jika kamu mau bertanding denganku malam ini.!" Sahut Ruby dengan senyum smirknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keyna elsyavira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Dengan nafas yang sama-sama tersenggal, Marco menyudahi aktivitasnya lalu memberikan kecupan di kening Ruby dengan begitu lama sebelum ia menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh gadis kecilnya itu.

Marco menarik tubuh Ruby ke dalam dekapanya, sampailah dimana mereka tertidur dengan pulas.

Ruby yang merasa mengantuk karena lelah dan juga sehabis menangis tadi tertidur di dalam pelukan pria yang ia benci untuk saat ini.

Melihat Ruby sudah tertidur, Marco segera melepas ikatan pada lengan Ruby yang sudah semakin memerah karena ulahnya sendiri, ada rasa menyesal dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Lalu Pria itu mengambil salep pereda sakit dan juga memar di dalam sebuah kotak yang seperti p3k, dengan lembut dan telaten Marco mengoleskan salep tersebut ke lengan Ruby yang hampir berwarna keunguan karena ikatan yang mungkin terlalu kencang.

" I'm soryy baby, aku telah membuat mu merasa sakit." Ucapnya yang bahkan terdengar seperti bisikan.

Marco lalu berdiri dan mengganti pakaiannya dan akan bergegas kembali ke perusahaannya, karena tujuan ia pulang tadi adalah untuk mengambil berkas yang ketinggalan di dalam kamarnya, tak di sangka ia harus melihat gadis kecilnya itu masuk ke dalam ruangan yang yang benar-benar sudah menjadi privasi dirinya.

***

Butuh waktu sekitar lima belas menitan untuk sampai kembali ke perusahaan Marco.

"Mengambil berkas atau sekalian tidur siang? Mengapa lama sekali?" Cibir Stive yang sebenarnya ia takut jika harus menggoda Marco.

"Apa segala hal yang saya lakukan kamu harus tahu?" Sahut Marco yang tak mau kalah mencibir.

"Oke! Aku diam." Kata Stive yang akan percuma jika dirinya terus berdebat dengan boss sekaligus sahabatnya itu.

"Bagaimana dengan informasi yang aku minta?"  Tanya Marco tanpa basa basi lagi.

"Entahlah aku sedikit sulit untuk mendapatkan informasi itu, seperti ada seseorang yang sengaja menutup rapat-rapat kasus tersebut, hingga kita tidak bisa dapat menemukan informasi apapun tentang kematian ibunda Ruby. Apa kau juga merasa demikian? Bukankah hal seperti ini adalah hal sepele yang biasanya kita dapatkan dengan sangat mudah."

Marco tampak berfikir, ia merasa bahwa apa yang diucapkan oleh Stive ada benarnya juga. Informasi mana yang ia tidak bisa dapatkan, Marco jadi berfikir bahwa ada seseorang dengan yang sama kuatnya dengan dirinya yang bahkan dengan sengaja menutup kasus tersebut dengan sangat rapat.

"Siapa? Selain orang tua itu yang menyamai kedudukannya dalam berbisnis?" Gumamnya dalam hati

Selain ayah dari Marco tak ada yang bisa menyamai kedudukan Marco dalam berbisnis. Ayah dan anak itu seperti orang berlomba karena posisi keduanya yang kadang naik turun dengan mendapatkan posisi yang pertama atau yang kedua.

Tapi karena Marco yang tak mau lagi berurusan dengan ayahnya, ia tak mau bertanya perihal tersebut, walau sebenarnya Marco sedikit merasa curiga kepada ayahnya.

"Carilah sebisa mungkin, mereka pasti mempunyai kelemahan dan kelalaian, hingga akhirnya kita mendapatkan informasi itu." Titah Marco agar Stive terus berusaha.

"Oke. Aku tau dengan apa yang kau maksud." Sahut Stive yang percaya dengan pemikiran Marco.

***

Dering ponsel membangunkan Ruby dari tidur lelapnya, gadis itu mengerjapkan kedua matanya lalu mencari keberadaan ponselnya yang terus berdering.

Ketika jemarinya menemukan ponsel yang ia cari, Ruby segera melihat siapa yang tengah meneleponnya.

"Hallo." Jawab Ruby dengan masih suara serak khas orang bangun tidur.

"Kamu dimana? Mengapa pesan yanga aku kirim begitu banyak tak ada balasan sama sekali?" Deretan pertanyaan terucap kala Ruby baru saja mengangkat menyambungkan panggilanya.

Sebenarnya Daniel merasa lega kala ia sudah mendnegar suara Ruby yang tampak baik-baik saja.

"Kenapa kau jadi bawel seperti Melani?" Sahut Ruby yang masih belum sadar jika tanganya sudah terlepas dari ikatan.

"Aku khawatir Ruby! Sejak kamu pergi dengan pria yang baru saja kamu kenal itu, kamu bahkan baru kali ini menjawab telepon dari ku." Perkataan Daniel seketika membuat Ruby tersadar jika dirinya masih berada di kamar Marco.

Tanpa basa basi lagi, Ruby memutuskan panggilannya sepihak dengan Daniel. Membuat sahabatnya itu bingung di sebrang sana.

"Kenapa aku baru tersadar jika aku masih berada di kamar pria tua mesum itu?" Gumamnya lalu melihat ke arah tanganya yang sudah terlepas dari ikatan, bahkan goresan di tanganya pun sudah berkurang sakit dan lebabnya.

"Apa orang itu yang mengobati? Jika iya, setidaknya dia masih berhati baik bukan?" Monolognya yang seolah luluh dengan sikap manis Marco.

Ruby memukul kepala sendiri, karena sikap bodohnya yang percaya dengan kata hatinya begitu saja.

"Cih. Hanya mengobati bukan? Itu bukan hal yang baik." Monolognya lagi dengan menolak pemikiran positifnya.

Karena hari juga sudah sore dan matahari mulai tenggelam, Ruby yang merasa sangat bosan pun hanya bisa menunggu kepulangan Marco. Ia benar-benar ingin pulang saat ini juga ke rumahnya sendiri dan segera bertemu dengan kamar juga kasur yang sangat ia rindukan.

"Non makan dulu." Kata salah satu pelayan dengan mengetuk pintu kamar Marco.

"Aku tidak lapar." Sahut Ruby yang mulai malas untuk bertemu pelayan tersebut karena dirinya lah yang menahan dirinya dari aksi melarikan dirinya tadi siang.

"Makan dulu non, nanti tuan Marco bisa marah kalau nona tidak mau makan."

"Baguslah jika dia marah dan memarahi kalian.!" Sarkas Ruby merasa dendam.

"Ada apa ini?" Tanya seseorang dengan khas suara baritonya yang kini sudah berdiri di tak jauh dari pelayan yang bernama Sella itu.

"Tuan sudah pulang." Sahut Sella dengan membungkukkan tubuhnya dengan sopan.

"Apa dia membuat masalah lagi.?" Tanya Marco dengan mengendorkan dasi yang mengikat lehernya.

"Tidak Tuan. Hanya saja nona Ruby belum makan sama sekali dari pagi hingga malam ini." Sahutnya yang tak menggegerkan tubuhnya sedikit pun dengan membungkuk.

"Ambil makananya, biar saya yang tangani." Titah Marco. Lalu Sella segera bergegas untuk mengambil makanan yang di minta oleh Marco.

Suara knop pintu yang terbuka membuat Ruby mengalihkan pandangannya, dan benar saja dengan apa yang ia fikirkan jika Marco sudah pulang.

Pria itu berjalan ke arah Ruby yang masih terjaga di atas ranjang dengan setelan pakaian yang kemarin malam ia kenakan.

"Kenapa tidak makan? Bahkan kamu juga tidak mandi? Apa kamu benar-benar tidak bergerak dari atas ranjang?" Serentetan pertanyaan membuat telinga Ruby terasa panas.

"Cerewet sekali. Aku ingin pulang malam ini juga.!" Ketus Ruby dengan wajah yang sudah ia tekuk.

Dengan membuka dua kancing atas kemejanya dan sedikit menggulung kemejanya sampai siku, Marco mendekati Ruby dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Apa kau tuli? " Sarkas Ruby bertanya.

Tak lama kemudian, pelayan datang dengan membawa makanan di atas nampan lalu memberikannya kepada Marco.

Ruby menatap pelayan itu dengan tatapan tajamnya seolah masih dendam atas apa yang di lakukanya tadi siang.

"Makanlah." Kata Marco dengan menyendokan nasi untuk Ruby.

"Aku tidak lapar!! Aku hanya ingin pulang sekarang juga!!" Ketus Ruby dengan ekspresi wajah yang sudah tidak bersahabat.

"Akan saya antar pulang, tapi makanlah terlebih dahulu." Jawab Marco dengan melembutkan suaranya.

"Aku bisa makan sendiri." Ketusnya lagi lalu merebut piring yang di pegang oleh Marco.

Dengan cepat Ruby mengabiskan satu piring nasi dan sayur juga lauk pauk yang berada dalam piring tersebut.

"Puwang.!!" Kata Ruby dengan susah karena masih ada makanam di dalam mulutnya.

Marco mendekat dan bahkan mengambil nasi yang tak sempat ikut masuk ke dalam mulut Ruby dengan lidahnya. Bayangkan jika marco sedang menjilat satu nasi yang tertinggal di sisi bibir Ruby.

Netra Ruby terbelalak kala perlakuan Marco membuat hatinya tiba-tiba berdetak dengan cepat.

"Pulang.!!" Sarkas Ruby mengenyampingkan perasaannya yang mulai sedikit runtuh.

" Tunggulah sebentar, aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu."

1
Uri
cerita nya bagus
NK Penyair
Keknya Millers punya hubungan dengan Ibunya Ruby di masa lalu🤔
Joana Santos
ayoo kak up lagi
Joana Santos
bagus
🍏A↪(Jabar)📍
*yang baru saja
@Al**
/Good/
Sus Suswanti
kayak nya seru nih
Evi Yolanda
thot please lanjutkan
Yennie Ika
lanjut thorrr 🔥
💝F&N💝
ayo kak up lg. aku sudah vote.
Yennie Ika
lanjutt thorrr. semangat up nyaaa😗😗
Kunci Nama
besok tak up 5 lagi ya🤗
💝F&N💝
aku puas membacanya, kak.
tp jangan lama lama up nya. biar gak lupa alurnya
Yennie Ika
semangat up thorrr..... setiap menit ku menunggu lanjutannya😗
Mahfud Mahfud
Kecewa
Mahfud Mahfud
Buruk
Darmi X
sepertinya ada cinta segitiga di masa lalu
💝F&N💝
double double double up nya kak. semakin seru ceritanya. aku lagi penasaran akan kelanjutannya.
Reni Anjarwani
doubel up thorr
💝F&N💝
ayo semangat, kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!