Afifah Syahira, seorang gadis cantik bermata bulat dengan sifatnya yang polos selalu membuat orang-orang di sekelilingnya merasa gemas dengan semua tingkahnya.
Tetapi pada suatu malam, ia telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya karena pacarnya.
Hingga beberapa saat, ia harus menerima kenyataan bahwa ia tengah mengandung anak dari pacarnya sendiri.
"Gugurin bayi itu."
"Nggak mau! Fifah gak mau bunuh bayi ini, dia gak salah apa-apa."
~♡~
"Saya sudah mendengar semuanya, kamu tenang saja saya yang akan bertanggung jawab atas bayi ini. Dan, saya akan segera menikahi kamu."
Namun siapa sangka? kehidupannya yang ia pikir akan berantakan karena pacarnya tidak mau bertanggung jawab, justru di tepis oleh Dosen muda yang selalu mengajarnya di kampus, bersedia dan menawarkan diri untuk bertanggung jawab dan akan menikahinya.
warning☠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurlindaaprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EMPAT BELAS
~♡~
Cekitt
"Yaampun, Pak! hati-hati dong, ahh." Tegur Fitri ketika mobilnya berhenti mendadak.
"Maap Bu, sepertinya ada yang tertabrak."
"Hah?"
Tanpa berlama-lama, Fitri segera turun dari mobilnya. Wanita paruh baya itu langsunv menghampiri seorang wanita yang terduduk di aspal dekat mobilnya.
"Astaghfirullah! kamu gapapa, Nak?" Tanya Fitri berjongkok dihadapan wanita itu.
Wanita itu mendongak, "Oh saya gapapa kok, Tan. Cuman kaki saya sedikit sakit." Ringis wanita itu.
"Aduh, kita ke rumah sakit aja yah."
Wanita itu langsung menggeleng, "Gak usah, Tan. kayaknya kaki saya cuman terkilir aja." Tolak wanita itu.
"Kalo gitu, kamu ikut ke rumah Tante. Deket kok, gak jauh dari sini." Ajak Fitri.
"Tepat sasaran, gue berhasil," Batin wanita itu tersenyum smirk.
"Saya gak mau ngerepotin, Tante."
Fitri tersenyum dan langsung menggelengkan kepalanya. "Nggak ko, siapa nama kamu?" Tanya Fitri.
"Iska, Tan."
"Yasudah, ayo Iska biar Tante bantu." Fitri membantu Iska berdiri, dan masuk ke dalam mobilnya.
Di Mobil
"Kamu seperti masih kuliah, usia kamu berapa nak?" Tanya Fitri.
"Iya Tante saya masih kuliah, saya baru berusia 20 tahun." Jawab Iska di buat seramah mungkin.
Fitri terlihat antusias, "Serius? kamu kuliah dimana? kamu kuliah di Universitas Garuda Pancasila?" Tanya Fitri antusias seperti biasa.
"Wah, Tante ko bisa tau sih? Iyah, saya memang berkuliah disana."
"Anak Tante juga kuliah disana, ada juga anak Tante yang kerja di sana sebagai dosen." Ujar Fitri sedikit sombong.
"Kalo boleh tau, siapa nama anak Tante?"
"Yang masih kuliah namanya Davi, kalo yang jadi dosen namanya Alfin." Jawab Fitri.
"Ternyata bener, mereka sodaraan." Batin Iska.
"Saya kenal mereka." Kata Iska sambil tersenyum.
Sesampainya di kediaman Bagaskara. Fitri langsung menyuruh Bi Minah, Untuk memijat kaki Iska yang terkilir tadi. Wanita paruh baya itu, sudah bekerja sebagai ART selama kurang lebih 11 tahun.
Iska sesekali meringis kesakitan, karna kakinya memang benar-benar terkilir,demi melancarkan aksinya
Ia rela melakukan apa saja, demi mendapatkan Alfin.
"Tante, mohon maaf kalo saya lancang. Kalo boleh tau, Pak Alfin dimana yah?" Tanya Iska.
"Ohh Alfin ada dirumahnya, dia dan istrinya Afifah. Sbentar lagi pasti kesini, soalnya Tante mau ngadain makan malam bersama."
"Sialan! jadi ini semua bener." Batin Iska.
"Istri?"
Fitri terkekeh melihat wajah terkejut Iska, "Ah Iyah, pernikahan Alfin dan Afifah memang tidak di publikasikan. Jadi, hanya sedikit orang yang tau." Ucap Fitri menjelaskan.
"Maksud Tante, Afifah Syahira?"
"Kamu kenal sama menantu Tante ternyata?"
"Aku kenal dia Tante, dia lagi hamil kan?" Tanya Iska.
Fitri mengkerutkan keningnya heran. Karena setaunya, selama ini tidak ada yang tau tentang kehamilan Afifah. Kecuali keluarga, dan teman-teman terdekat Afifah saja.
"Kamu tau, Nak?"
"Tante mau tau sesuatu tentang Afifah gak?" Tanya Iska tersenyum manis sekali.
"Afifah, liat aja gue bakalan hancurin rumah tangga lo sama Pak Alfin. Dan pak Alfin, bentar lagi pasti jadi milik gue seutuhnya" Batin Iska.
~♡~
Setelah menunaikan solat magrib, Alfin dan Afifah langsung bergegas pergi ke rumah Bagas dan Fitri.
"Assalamualaikum!" Ucap mereka bersamaan ketika melangkahkan kakinya memasuki rumah.
"Waalaikum salam." Jawab Bagas Dan Fitri.
Alfin dan Afifah langsung menyalami kedua Tangan Bagas Dan Fitri. Tetapi raut wajah mereka kali ini berbeda, tidak seperti biasanya. Kali ini, wajah mereka terlihat sangat datar tanpa ekspresi.
Itu semua membuat Alfin dan Afifah mengernyit heran.
"Ayah sama Bunda kenapa?" Tanya Alfin serius.
"Kalian harus jujur." Ucap Bagas Dingin.
"Maksud Ayah apa?"
"Bayi yang ada di dalam kandungan Afifah itu bukan darah daging kamukan, Alfin?" Tanya Fitri dengan mata yang berkaca-kaca.
Deg
"Bunda apaan sih? ini anak Alfin, Bun."
"Gak usah bohong kamu, Alfin!" Bentak Fitri membuat Tangis Afifah pecah.
"Bunda udah tau semuanya." Lirih Fitri dengan air mata yang sudah mengalir, dengan sigap Bagas langsung mengelus punggung sang istri.
"Bunda, Alfin mohon jangan nangis." Alfin berjongkok,untuk menghapus air mata Fitri.
"Maafin Bunda, Alfin.." Lirih Fitri membuat Alfin langsung menggeleng.
"Kenapa Bunda malah minta maap? seharusnya Alfin yang minta maap sama Bunda."
Bagas menghela nafasnya, " Kita udah tau, kalo bayi yang di kandung Afifah adalah anak Davi kan?" Tanya Bagas.
"Bayi itu anak Alfin, Yah!" Koreksi Alfin penuh penekanan.
Fitri mengangguk, "Iyah sayang, bayi itu adalah anak kamu." Ujar Fitri tersenyum. Ia sangat bangga kepada putra sulungnya itu, Fitri tau bahwa Alfin sangat mencintai Afifah, ia dapat melihatnya sendiri.
Fitri menatap sendu Afifah yang masih diam menunduk, "Afifah sayang, sini sayang, peluk Bunda. " Fitri merentangkan tangannya guna memeluk Afifah, membuat Afifah mendongak menatap Fitri. Fitri mengangguk, menyuruh Afifah masuk kedalam pelukannya. Dengan ragu, Afifah berjalan menghampiri Fitri.
Fitri langsung menarik tubuh Afifah masuk kedalam dekapannya, "Maafin Bunda yah, sayang?Maafin anak Bunda." Ucap Fitri mengelus sayang kepala Afifah.
"Nggak, Bun. Fifah yang seharusnya minta maaf sama Bunda dan Ayah, karena Fifah Mas Alfin sama Davi jadi nggak akur."
"Shutt, bukan salah kamu sayangg." Ujar Fitri mengusap punggung mungil Afifah.
Bagas ikut mengusap rambut Afifah, "Ayah sudah gagal mendidik putra Ayah, maafin Ayah Afifah. Kamu pasti sangat kesulitan pada saat itu." Bagas membayangkan bagaimana keadaan Afifah ketika kehormatannya di renggut paksa oleh anaknya, Davi.
"Siapa yang ngasih tau kalian?" Tanya Alfin.
Fitri menghela nafasnya, kemudian menceritakan semuanya kepada Alfin.
Flashback
"Tante mau tau sesuatu tentang Afifah gak?" Tanya Iska tersenyum manis.
Fitri mengangkat sebelah alisnya, "Tahu apa?" Tanya Fitri.
"Sebelumnya Iska mau minta maaf sama Tante, kalo apa yang akan Iska sampein ini akan menyakiti Tante."
Fitri mengangguk, "Gapapa, bicara aja sayang!" Ucap Fitri sudah terlanjur penasaran.
"Iska pernah denger kalo bayi yang Afifah kandung itu gak jelas siapa Ayah kandungnya."
Deg
"Iska! Tante izinin kamu ngomong bukan buat ngomong yang nggak-nggak seperti ini, yah." Ujar Fitri dingin.
"Maaf Tante, tapi Iska beneran bicara jujur sama Tante. Tante harus tau kalo Afifah tuh bukan wanita baik-baik, keliatannya aja polos, tapi sifat aslinya gak ada yang tau. Saya aja baru tau kalo Afifah lagi hamil."
"Saya yakin, kalo Pak Alfin sebenarnya telah di jebak oleh Afifah-"
"ISKA!"
Teriakan itu berhasil membuat Iska dan Fitri terlonjak kaget. Davi yang baru saja pulang terkejut mendapati Iska berada dirumahnya? niat awal ingin menyapanya, tapi ia urungkan karena mendengar Iska yang sedang berbicara yang tidak-tidak tentang Afifah.
"Davi.. "
"Lo apa-apaan sih? punya hak apa lo ngomong yang nggak-nggak tentang Afifah?" Tanya Davi menatap tajam Iska.
"Gue ngomong jujur yah, bayi yang ada didalam perutnya Afifah itu bukan anaknya Pak Alfin kan?" Tanya Iska menatap Davi sengit.
"Gue tau lo gak pernah akur sama temen-temennya Afifah, tapi jangan gini jugalah."
"Gue bicara kenyataan Davi, bayi itu adalah anak yang gak jelas asal usulnya. Anak haram-"
"CUKUP!" Teriak Fitri memisahkan adu mulut antara Davi dan Iska.
"Kamu diem dulu!" Tunjuk Fitri kepada Davi, "Ayo lanjutkan." Titah Fitri kepada iska.
Iska menganggukkan kepalanya, "Afifah sering ngajakin cowok-cowok buat main kerumahnya kalo orangtuanya lagi gak ada. Tante bayangin deh, ngapain aja mereka berdua-duaan di rumah yang sepi itu." Ucap Iska mengada-ada, Iska tersenyum penuh kemenangan melihat raut wajah Fitri yang sudah berubah menjadi merah karena menahan marah.
"Bun, udah gak usah di dengerin lagi." Ucap Davi menatap Bundanya, "Lo juga mending pergi dari sini!" Usir Davi.
"Kalo bayi itu bukan anak Alfin, terus bayi itu anak siapa?" Tanya Fitri sendu.
"Saya juga gak tau Tante, tapi Intinya bayi itu adalah anak haram-"
"DIA ANAK GUE BANGSAT!"
Bentak Davi tidak terima Anaknya disebut anak haram. Entah sadar atau tidak, tapi Davi telah membuka kebohongan yang selama ini sudah ia tutup tutupi.
"Maksud kamu?" Tanya Fitri.
"Bayi itu anak Davi Bun, Davi udah lakuin apa yang nggak seharusnya Davi lakuin ke Afifah." Ucap Davi pelan.
"Bunda gak ngerti."
"Maafin Davi Bun.." Davi berlutut di hadapan Fitri, "Davi udah renggut masa depan Afifah secara paksa, dan dengan jahatnya Davi malah nyuruh Afifah buat gugurin kandungannya." Ujar Davi berkata jujur membuat Fitri terisak tidak menyangka putra bungsu nya telah melakukan hal sebejat itu.
"Davi nggak mau bikin Ayah sama Bunda kecewa, Davi lari dari tanggung jawab." Davi mendongak menatap wajah sang Bunda, "Waktu itu, Bang Alfin denger semuanya. Saat itu juga Bang Alfin yang ambil alih tanggung jawab dan langung nikahin Afifah. Maafin Davi, Bun."
Fitri menggeleng menghapus kasar air matanya, "Saya rasa kamu harus pergi dari sini, ini urusan keluarga saya. Orang luar tidak perlu ikut campur, jadi saya minta kamu pergi dari sini. Dan maaf karna kelalaian supir saya, kaki kamu jadi terkilir." Usir Fitri kepada Iska.
"Oke gapapa, yang penting mereka udah tau kalo bayi yang Afifah kandung itu bukan anaknya Pak Alfin." Batin Iska.
"Davi! kamu anterin Iska pulang. Setelah itu, kita bicarakan ini dengan Abang kamu dan Afifah."
Davi mengangguk patuh, kemudian menyeret kasar tangan Iska keluar dari rumahnya.
Flashback end
"Iska?" Afifah tidak menyangka Iska teman kampusnya itu?
"Iska Daniar, salah satu Mahasiswi Alfin?" Tanya Alfin yang langsung di angguki oleh Fitri.
"Dia bilang sih, gitu."
"Tapi ada untungnya juga dia bicara seperti itu. kalo dia tidak bicara, kalian pasti tidak akan pernah jujur kepada Ayah dan Bunda." Bagas menyindir.
"Kita minta maap." Ucap Alfin dan Afifah bersamaan.
"Disini yang harus nya minta maaf tuh gue, gue akar dari semua masalah ini." Kata Davi yang baru saja memasuki rumah.
"Dengan meminta maap, kamu tidak akan pernah mengembalikan apa yang sudah kamu renggut dari Afifah." Ucap Bagas dingin.
Davi menghampiri Bagas, "Davi minta maap, Yah. Davi udah buat kalian kecewa. Kalo Ayah mau, pukul Davi aja. Davi siap kok, asalkan itu bisa buat kalian semua mau maapin Davin." Davi menangis berlutut bahkan bersujud dihadapan semua orang.
Semua orang merasa iba kepada Davi, termasuk Afifah yang memang sangat polos dan sangat baik kepada orang.
"Ihh Davi ngapain pake berlutut kaya gitu? kalo sujud itu ke Tuhan, jangan ke kita."
"Pinter banget." Alfin mengusap rambut Afifah.
"Dengerin kata Afifah, tuh! sujud itu ke Tuhan bukan ke kita." Ucap Fitri.
"Bangun, kamu." Titah Bagas dengan wajah datarnya. Mendengar suara dingin dari sang Ayah, dengan cepat Davi langsung bangkit.
"Lo harusnya minta maap ke Afifah, bukan ke kita." Ucap Alfin.
Davi hendak berjongkok didepan Afifah,tapi sudah di cegah oleh Afifah. "Gak usah jongkok, Fifah nggak suka."
"Lagian Fifah udah maafin Davi, Kok. Yah, berhubung Afifah baik hati dan tidak sombong. Tapi Davi harus janji sama Fifah, lain kali jangan mainin perempuan lagi. Tapi Davi harus jaga perempuan, oke." Ujar Afifah panjang lebar.
Davi mengangguk, "Iyah, gue janji gak akan mainin perempuan lagi. Makasih yah, Fah." Ucap Davi hendak memeluk Afifah.
Alfin segera mendorong tubuh Davi, "Mau apa lo?mau peluk, hm? enak aja, gak ada yang boleh peluk-peluk Afifah selain gue." Ucapnya dingin.
"Caelah posesif amat, Pak!" Goda Fitri.
"Tau tuh, cuman mau peluk Kakak ipar aja gak boleh."
"Emang gak boleh!"
Bagas geleng-geleng kepala, "Sudah sudah, ayo kita makan." Perintah sang kepala keluarga.
"Yaudah ayo, untung Bunda udah masak."
"AYO!"
~♡~
Semua makan dengan khidmat. Apalagi Afifah, ia makan dengan lahap.
"Ayo makan yang banyak, sayang! kamu pasti laper bangetkan? pasti belum makan juga, Alfin nggak peka banget kan?" Ujar Fitri membuat Afifah dan Alfin saling menatap.
"Tapi.. " Ucap Afifah menggantung, membuat semua orang menatapnya heran.
"Tapi kenapa Fah?"
"Tapi Fifah udah makan 5 kali." Ucap Afifah cengengesan.
"Astaga!"
~♡~