Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Pertanyaan kecil.
Bang Dante berhenti menatap layar ponselnya. Perlahan ia meletakkan benda itu di meja samping tempat tidur, lalu menatap lekat wajah istrinya yang tampak rapuh di balik keberanian bertanya itu.
"Saya tidak pernah menyukainya. Tidak pernah, dan tidak akan pernah. Saya mengenal dan menganggap dia saudara kandung saya sendiri, sama seperti Elang, Jangkar dan Bang Riez."
Ia berhenti sejenak, membiarkan setiap perkataannya masuk ke dalam hati Cherry lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut.
"Tentang pertanyaanmu... apakah hubungan ini akan berakhir dengan perceraian?" Sedikitpun pandangan Bang Dante tak lepas dari manik mata Cherry. "Saya menikahimu bukan karena ada paksaan, bukan karena sedang bingung atau karena rasa kasihan. Saya menikahimu karena saya mau. Karena saya yang memilihmu. Dan pilihan itu ada dari dasar hati saya, tidak akan pernah saya tarik kembali."
"Ya sudah, nikahi saja..!!!" Sambar Cherry.
Bang Dante tersenyum, ia menganggap ucapan Cherry hanya sebatas candaan semata.
Tidak ada yang tau bahwa komunikasi mereka sebenarnya tidak berjalan dengan baik. Bang Dante memang sudah menikahi gadis itu bahkan sudah memperjelas dan bertanya sendiri pada Cherry, namun agaknya Cherry tidak pernah menganggap semua itu nyata.
"Okeee.. Setelah beres semua berkas, kita buat acara syukuran." Janji Bang Dante tanpa mengerti ternyata Cherry tidak sepenuhnya memahami situasi.
Cherry terdiam. Nafasnya berat tapi malas berdebat.
***
Cherry mengintip dari balik jendela rumahnya. Rumah itu sudah sepi, ia pun menyalakan ponsel yang ia simpan di antara pakaiannya.
Setelah ponsel menyala, ia melihat banyaknya pesan singkat disana. Tak lama ada panggilan masuk.
"Kau kemana saja, Kin??" Tanya seseorang di seberang sana.
"Maaf, Bang. Banyak yang terjadi hampir sebulan ini. Saat ini posisi saya ada di Karang Hitam." Jawab Cherry.
"Karang Hitam?? Jauh sekali. Kalau kau ada disana, bagaimana pergerakan kita??"
"Saya bisa kerjakan dari jauh. Tapi saat ini posisi saya tidak beruntung, Bang. Saya akan di nikahi seorang perwira tentara. Kabur pun sulit." Kata Cherry.
"Kenapa sampai begitu, Kin. Kamu harus tetap hati-hati dan jangan sampai mau di nikahi. Kamu adalah nexator kepolisian. Tugasmu masih masuk dalam jaringan itu, Kin. Saya cemas betul kepolosanmu itu akan membawamu masuk ke dalam jurang bahaya tanpa saya." Ujar pria di seberang sana. "Ngomong-ngomong. Bagaimana pria itu?? Apa dia jahat?? Mau coba menyentuhmu, melecehkanmu?? Lalu bagaimana kuliahmu??"
"Bang Al, dia itu nggak jahat. Hanya cerewet saja. Orangnya kaku, bicaranya irit, pokoknya nggak asyik deh."
"Oke.. Kalau begitu, saya selidiki segala sesuatunya lebih jauh. Karena posisimu jauh disana, saya akan selidiki pergerakan ke arah timur. Selidiki saja, kurangi pergerakan, tunggu sampai saya datang..!!" Penjelasan Bang Al sebelum menutup panggilan telepon.
//
Wajah datar itu mengisi sambutan danyon pada Danki baru Batalyon. Tak ada pilihan lain sebab tak ada lagi jabatan kosong bagi staff intelijen di Batalyon. Namun kedatangan Bang Dante memang di khususkan untuk menempati jabatan Kasie intelijen dua bulan lagi.
"Selamat datang Letnan Dante. Semoga betah bergabung di Batalyon ini." Sapa hangat Danyon. "Oiya, sekalian untuk tugas pertamamu. Blue Virgine yang kita cari, entah bagaimana titiknya sudah ada di pulau ini. Tidak ada manifest yang menunjukan dia melakukan perjalanan menggunakan pesawat sipil, darat atau kapal laut."
Kening Bang Dante berkerut, ia seperti tidak bisa menerka arah pembicaraan komandannya.
Danyon melanjutkan, suaranya merendah, serius dan penuh penekanan.
"Blue Virgine itu tidak datang lewat jalur resmi. Dia masuk lewat jalur gelap. Tanpa jejak, tanpa tanda, persis seperti cara kerjanya selama ini. Dan itu artinya... dia sudah ada di sini, bergerak di antara kita, tanpa kita tau wajahnya yang asli."
Bang Dante diam, jemarinya perlahan mengepal di dalam saku celana lorengnya. Namanya sebagai Letnan Dailago Pascal Wiradante memang dikenal luas pada lingkup militer, namun peran aslinya sebagai team intelijen yang paling tajam dan sulit untuk di tandingi, hanya diketahui oleh segelintir orang, termasuk Danyon.
"Berarti dia masuk lewat jalan yang pastinya tidak pernah kita sangka." gumam Bang Dante pelan, matanya tegas . "Dia berani sekali. Diaa... Benar-benar perempuan nekat."
"Itulah sebabnya Ayah... Pak Riegan, meminta kau dikirim ke sini lebih dulu, sebelum jabatan Kasie Intelijen resmi bersandar di pundakmu." Danyon menatapnya lekat. "Kau punya naluri yang berbeda, Dante. Kau bisa melihat apa yang orang lain tidak lihat. Dan sekarang... Blue Virgine ada di pulau ini. Di Karang Hitam."
Bang Dante mengangguk pelan, namun hatinya berdebar kencang. Karang Hitam bukan sekadar tempat dinas baru. Dan Cherry... istri yang baru saja ia nikahi, gadis yang terlihat polos dan sederhana itu, entah kenapa, seketika wajahnya terbayang di benaknya. Tiba-tiba saja ia ketakutan, takut gadis polosnya itu celaka di tempat baru tersebut.
"Siap, Dan. Saya akan cari tau siapa dan dari mana dia masuk." jawab Bang Dante.
"Hati-hati, Dante. Blue Virgine bukan orang sembarangan. Dia di lindungi orang berbahaya di sekitarnya dan sangat pandai menyembunyikan wajah. Dia bisa menjadi siapa saja. Tetangga, pedagang, bahkan mungkin... orang yang tidur di sebelahmu."
Kata-kata terakhir itu menghantam dada Dante tanpa peringatan. Ia menelan ludah dengan kasar, berusaha menepis pikirannya yang semrawut. Cherry tidak mungkin, gadis itu takut hantu, takut monyet, takut sendirian di kamar. Dia tidak mungkin menjadi seperti yang Danyon nya bicarakan.
Hanya saja di lubuk hatinya yang paling dalam, ada satu hal yang belum bisa ia jelaskan dalam beberapa waktu ia mengenalnya.
'Tapi, kenapa Cherry selalu menyembunyikan ponselnya? Kenapa dia selalu terlihat tau hal-hal yang tidak seharusnya ketahui? Dan kenapa, di saat yang paling genting, tatapan matanya berubah, bukan lagi tatapan gadis polos yang takut, melainkan tatapan seseorang yang sudah terbiasa menghadapi banyak bahaya.'
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara