Kumpulan cerita horor, urban legend
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon antonchandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakar (2)
"Kang! Kang!" Teriak sang istri ketika sampai di rumahnya.
"Ada apa? Teriak-teriak seperti orang habis dikejar-kejar setan," sahut sang suami yang keluar dari dalam kamar.
"Itu ... itu ...." Sang istri masih berusaha untuk mengatur napasnya yang terengah-engah.
“Aku baru mendengar tembang yang biasanya muncul di malam hari," lanjut sang istri.
"Jangan ngawur kamu, Dik! Biasanya tembang itu hanya muncul pada malam Jumat Legi. Sekarang ini hari apa? Tidak mungkin muncul." Sang suami tak percaya.
"Kamu kira aku ini budek? Aku benar-benar mendengarnya. Sukesih yang bernyanyi, Kang," ujar sang istri. Hal itu membuat sang suami seperti tersambar petir di siang bolong. Buka tanpa alasan, tak mungkin Sukesih yang jarang keluar rumah, bahkan tak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya, adalah dalang di balik semua ini. Apakah istrinya sedang mengingau?
"Kamu jangan ngawur!" Sang suami masih belum percaya mendengar cerita istrinya.
"Sumpah, Kang! Aku tidak berbohong. Awalnya dia mengambilkan beras untukku, lalu aku mendengar ada suara tembang itu!"
"Berarti kalau benar Sukesih yang bernyanyi setiap malam, kita harus segera memberitahukan kepada warga yang lain!"
"Kenapa tidak ke Kepala Desa dulu?"
"Kau tahu sendiri bagaimana jika kita melaporkannya pada Kepala Desa? Pasti dia hanya berkata 'Tenang, tenang, kita tidak boleh menuduh orang sembarangan'. Bisa-bisa kita yang akan mati di sini. Setelah anak-anak habis, kemudian orang tua yang akan dia jadikan tumbal. Cepat! Kita harus segera melaporkannya pada warga, agar nanti sore kita bisa melakukan sesuatu.” Sang suami memandu sang istri agar pergi ke arah utara dan dirinya sendiri ke arah selatan.
***
Sukesih menutup pintu belakang rumahnya dengan cepat, setelah itu dia langsung berlari menuju kamarnya. Napasnya terengah-engah, keringatnya bercucuran. Dia pergi ke belakang untuk membuang hajat tapi, malah bertemu dengan setan cacat.
"Aku tak ikut campur dengan masalah mereka, tapi kenapa aku juga diteror?" guman Sukesih. Dia belum bisa bergerak dari tempatnya karena ketakutan. Dia tak habis pikir apa yang membuat makhluk itu tak pandang bulu meneror semua orang.
Perlahan tapi pasti, ketakutannya mulai menghilang. Lentera di samping tempat tidurnya cukup membuatnya tenang. Semoga saja setan-setan itu tak memasuki kamarnya. Walaupun dengan perasaan yang masih was-was, akhirnya Sukesih bisa tertidur pulas.
Di sisi lain, warga sudah berbondong-bondong menuju rumah Sukesih. Dengan obor dan teriakan agar Sukesih mati. Mereka harus menyingkirkan nenek sihir yang selama ini membuat mereka menderita. Warga tak peduli dengan orang-orang yang tak sependapat tentang pembakaran rumah Sukesih, terutama Kepala Desa.
"Ada apa ini?" Sejenak pertanyaan Kepala Desa membuat warga berhenti melangkah.
"Kami ingin membakar rumah Sukesih!" Teriak salah satu dari mereka.
"Betul!" Jawaban serentak itu membuat Kepala Desa terkejut.
"Apa kalian punya bukti kalau Sukesih benar-benar bersalah?" Pertanyaan Kepala Desa membuat warga semakin geram. Bukannya mendapat jawaban, Kepala Desa itu malah didorong ke pinggir agar tidak menghalangi jalan.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah Sukesih. Warga sudah berbaris rapi di depan rumahnya. Bu Sri yang mengharapkan hal ini tidak terjadi keluar dari rumah. Dia tak ingin rumahnya dibakar oleh warga, jika memang yang salah adalah Sukesih. Lagi pula Bu Sri tak percaya jika dalang semua ini adalah tamunya itu.
"Saya mohon! Jangan dibakar Bapak-Bapak, ini rumah saya! Lagi pula tidak ada bukti untuk menghakimi Sukesih."
Jika perkataan Kepala Desa tidak dihiraukan, apalagi seorang wanita yang tidak punya pangkat di desa ini. Tak peduli rumah siapa yang akan mereka bakar, yang terpenting malapetaka ikut menghilang.
Teriakan dan tangisan Bu Sri memanggil-manggil Sukesih dihiraukan oleh warga. Bahkan ibu-ibu yang ikut menyaksikan pembakaran itu malah memegangi Bu Sri agar tidak menghalangi.
Dengan cepat, para lelaki melemparkan obornya ke arah rumah itu Mereka senang karena rumah bambu akan cepat habis dilalap api. Si jago merah menari-nari di atas rumah Sukesih. Disambut tawa oleh mereka yang bahagia. Tangisan bagi mereka yang percaya Sukesih tidak bersalah. Namun, keputusan ada di tangan warga yang memiliki pendapat paling banyak. Mereka tak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan rumah Sukesih yang perlahan hangus. Setelah wanita itu dan rumahnya hangus, warga berharap tidak akan ada lagi anak-anak yang akan hilang dari desanya.
***