shanum gadis 25 tahun yang terjebak dalam pernikahan bak neraka baginya. sanggupkah shanum menjalani hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 15
Pukul 4 sore Wildan sudah menyelesaikan kelasnya. Ia berjalan menuju parkiran setelah sampai di parkiran ia bertemu lagi dengan Aina. Nampak motor mereka bersebalahan.
"Astaga dia lagi, ngikutin gue lu?" ucap Wildan
"Heh, gue mahasiswi ya disini. Lu pikir lu doang yang kuliah disini? Minggirin motor lu, gue mau lewat."
"Dasar bocah". Gumam Wildan seraya mengeluarkan motornya
Aina yang mendengar gumaman Wildan nampak kesal. Dengan cepat ia mengeluarkan motornya lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan Wildan.
"Woy makasi," teriak Wildan.
"Astagfirullah ada ya perempuan kayak gitu.
Jangan sampai ketemu lagi, bisa naik darah gue" gerutu Wildan lalu pergi meninggalkan kampus.
Ditengah-tengah perjalanannya Wildan teringat ia ingin membeli keperluan. Lalu ia membelokkan motornya ke pusat perbelanjaan.
Begitu sampai di tempat tujuan ia memilih-milih sepatu khusus untuk pria. Ia terlalu asyik memilih hingga tak sadar bahwa ada seorang gadis yang berada tepat disampingnya yang juga nampak memilih sepatu. Hingga akhirnya Wildan dan perempuan itu mengambil sepatu yang sama. Mereka saling pandang dan
"Lu," ucap Wildan dan Aina bersamaan.
Dengan gerakan cepat mereka melepas sepatu yang mereka pegang. Sebenarnya Aina ingin membeli sepatu untuk sang kakak. Namun naas ia bertemu dengan pria yang menyebalkan.
"Ketahuan kan lu ngikutin gue. Ngapain lu kesini? Lu kan cewek ngapain milih barang cowok. Naksir lu ama gue."
"Astaghfirullah, heh kaleng biskuit jangan PD ya lu. Lagian ini tempat umum siapapun boleh masuk. Kepo banget lu ama urusan gue," ucap Aina seraya mengambil sepatu yang ia pegang tadi.
"Eh kemoceng wartek ini sepatu gue yang pegang duluan ya, enak aja lu main ambil," protes Wildan seraya merebut sepatu yang di ambil Aina.
"Apaan sih. Gue yang ambil duluan juga."
"Gue."
"Gue."
Mereka merebutkan barang layaknya anak kecil yang memperebutkan mainannya. Hingga Wildan menarik sepatu itu lebih keras dan
Buuuggghh
Mereka jatuh bersamaan dengan posisi Wildan di bawah dan Aina diatasnya. Mereka saling pandang sejenak lalu sadar dengan keadaan. Dengan cepat Aina bangun dan membersihkan gamisnya, hal yang sama pun dilakukan oleh Wildan.
"Huhuhu, gue udah ternoda" ucap Aina sambil merengek.
"Eh apaan si lu, diem nggak," ucap Wildan seraya membungkam mulut Aina dan mengajaknya pergi ke tempat yang lebih sepi lantaran sudah banyak orang yang melihat dirinya dengan Aina yang nampak merengek.
"Apaan sih lepasin ah. Jangan sentuh-sentuh gue," protes Aina.
"Lu bikin malu gue ya. Lu nggak lihat tadi banyak orang liatin kita?"
"Bodo amat," ucap Aina lalu pergi meninggalkan Wildan dan membawa sepatu yang sedari tadi ia bawa.
"Astaga kelakuannya. Baru ini gue nemu mahluk yang bikin dongkolnya diatas rata-rata," ucap Wildan sambil mengelus dada. Lalu memutuskan untuk pergi dari sana. Mood nya sudah terlanjur buruk untuk melanjutkan belanja.
****
Sementara di rumah masih sedikit tegang dengan situasi yang baru saja terjadi. Davin yang sudah mulai tenang bangkit dari duduk dan diikuti oleh Lena
"Mas kamu udah nggak marah sama aku kan?" tanya Lena begitu mereka sampai di lantai atas.
"Nggak," jawab Davin singkat.
"Aku tahu aku salah tapi..." Belum selesai Lena bicara Davin sudah memotongnya.
"Apa? Kamu cemburu? Kamu boleh cemburu Lena tapi tidak perlu dengan cara kotor seperti itu. Aku tidak mau kamu menjadi wanita kriminal. Kamu ingat tujuan kita kan? Kalau kamu membuat aku dan Shanum salah paham ini tidak akan menyelesaikan masalah. Justru menambah masalah. Dimana lagi aku harus mencari wanita yang mau aku nikahi hanya untuk mendapat anak? Bukankah itu akan membutuhkan waktu yang lebih lama?"
"Kapan Shanum hamilnya mas? Ini sudah setahun lebih".
"Sabar ya."
Tanpa mereka sadari Shanum yang berdiri ditengah tangga mendengar semua pembicaraan mereka. Tanpa ia minta air matanya jatuh begitu saja. Hatinya sakit mendengar penuturan Davin yang membelanya hanya karena ia belum mendapatkan yang ia inginkan. Awalnya Shanum mengira Davin marah pada Lena karena ada sedikit rasa kemanusiaan yang ada pada diri Davin dan mengkhawatirkan keadaan istri keduanya itu. Namun ia salah. Sungguh kecewa rasanya.
"Tidak seharusnya aku berharap lebih dengan hubungan ini, aku tidak ingin dicintai oleh Davin aku hanya ingin dia menghargaiku. Kenapa tidak ada sedikit rasa kemanusiaan di hati mereka? Satu-satunya pria yang menghargai ku sudah memilih untuk pergi dari hidupku. Sangat tragis". batin Shanum
Suasana hati Shanum berubah menjadi buruk setelah mendengar percakapan sepasang suami istri itu ia memutuskan untuk kembali turun ke ruang keluarga. Ia menekan remot untuk melihat acara ditv. Tak lama kemudian nampak Wildan yang datang dengan muka masam.
"Kenapa Wil? Pulang-pulang mukanya kusut banget kayak kantong kresek," tanya Shanum.
Mendengar Shanum memanggilnya, Wildan memutuskan untuk duduk di samping Shanum.
"Capek aja mbak," jawab Wildan sekedarnya.
"Perasaan hampir tiap hari pulang malem banget nggak pernah ngeluh capek. Ini juga baru jam 7 masak udah capek."
"Capek hati," jawab Wildan ketus
"Berantem sama pacar? Eh tapi kamu nggak pernah cerita ke mbak kalau udah ada pacar".
"Ihhh amit-amit punya pacar model begitu."
Shanum mengerti apa yang dimaksud oleh Wildan. Namun bukannya menenangkan ia justru menggodanya
"Jangan terlalu benci Wildan. Nanti kamu kena karma."
"Apa mbak?"
"Jatuh cinta lah apalagi?"
"Astaghfirullah mbak nggak akan aku jatuh cinta sama perempuan yang modelnya kayak kemoceng wartek itu."
"Hahahaha. Belum apa-apa udah ada panggilan sayang."
Shanum terlihat terbahak-bahak dengan ucapan Wildan. Ia yang tak pernah melihat Shanum sebahagia ini nampak memandang tak berkedip. Shanum sejenak tersadar dengan keadaan.
"Ada apa Wil? Kok ngeliatnya begitu banget. Mbak bukan lagi perempuan remaja yang bisa jatuh cinta sama kamu ya. Jadi biasa aja ngeliatnya."
"Yeeee apaan sih mbak. Aku seneng aja lihat mbak bisa tertawa lepas begitu. Setahun mbak tinggal disini aku nggak pernah lihat mbak tertawa selepas itu."
Mendengar ucapan Wildan, Shanum mata Shanum kembali berkaca-kaca.
"Loh kok malah nangis sih mbak? Aku salah ngomong ya?"
"Nggak Wil, justru aku senang dan bersyukur ada kamu disini. Kamu adalah obat buat mbak. Saat mbak sedih, saat mbak terpuruk kamu selalu ada dengan membawa kebahagiaan tersendiri. Entah itu dengan tingkah konyol kamu, usilnya kamu. Tetap seperti ini ya. Tetap menjadi obat buat mbak, meskipun suatu saat nanti kita akan terpisah oleh jarak," ucap Shanum seraya menghapus air matanya
"Mbak ngomong apa sih. Wildan akan tetap jadi adik mbak apapun yang terjadi. Boleh aku peluk mbak?" ucap Wildan yang tiba-tiba ikut sedih dengan apa yang diucapkan Shanum.
"Dengan senang hati," ucap Shanum seraya merentangkan kedua tangannya. Merekapun berpelukan dengan hangat.
Bu Estu yang melihat pertunjukan tersebut ikut menangis terharu.
"Ikatan darah tak akan pernah bisa bohong. Seandainya kalian tahu, kalian adalah saudara satu ayah," batin Bu Estu
Bersambung