Penglihatan menembus dimensi ghaib. Tidak hanya di alam nyata, dalam pandangan lain bahwa sosok Indigo ketika berada alam bawah sadar itu sukmanya bisa terlepas keluar dari badannya. Berjalan-jalan menembus ruang dan waktu dunia lain. Setiap malam dirinya di kejar kematian yang mengancam. Para Indigo yang meninggal nanti ada dua kemungkinan. Yang pertama takdir dari Yang Maha Kuasa atau yang kedua karena tidak dapat kembali ke wujud tubuhnya di alam dunia. Simak kisahnya..!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Tabir Jin Kuda
Di pagi hari, Rasmi merapikan kamarnya yang berantakan. Esti melihat kamar anaknya, dia juga melihat penampilan Rasmi setiap hari memakai syal di lehernya. Memasuki kamar mendekatinya, dia memegangi syal, gerakan tubuhnya menjauh.
“Kamu masih sakit? Terus kamar kamu kenapa?”
“Saya sudah mulai baikan bu. Kamar saya mau di tata ulang.”
Suara Rasmi terdengar sangat dingin, dia melengos membanting pintu. Kursi kosong, meja makan hanya ada Esti yang melahap masakan kesukaannya. Ayam rebus potongan paha, dia melihat pintu kamarnya yang tertutup.
Malam ini Esti tidak kembali ke ruangan khusus. Pekerjaannya merapikan setengah lagi sisa benda-benda di dalam ruangan tertunda karena dia sedang sakit. Berbaring di atas tempat tidur. Sedari tadi dia batuk namun panggilan suaranya memanggil Rasmi tidak mendatangkan anaknya.
Rasmi mendengar jelas ibunya berharap dia membawakan segelas air dan obat. Tidak setelah kebenciannya akan kematian kedua anak dan suaminya. Suara batuk ibunya tidak lagi terdengar, Rasmi membuka pintu. Kamarnya remang-remang, tirai membentang tertiup angin dari jendela yang terbuka.
Sosok jin kuda melompat pergi, tampak ibunya duduk di atas kasur menatap ke depan. “Bu, ibu nggak apa-apa kan?” Tanyanya dengan senyuman.
Esti kembali batuk, dia mengeluarkan tumpahan darah kental. Dia merasa nafasnya akan terputus. Dokter yang memeriksa tidak menemukan penyakit yang serius di tubuhnya. Bik Upik di suruh memanggil mbah Kasina, si dukun duduk di dekat kasurnya. Dia menggeleng kepala melihat Esti menyodorkan sisa perhiasannya yang terakhir.
“Semua ini tidak akan membuatmu sembuh. Perjanjian tetap perjanjian, kau harus menanggung semua resiko atau kau akan sakit-sakitan, bangkrut dan jatuh miskin.”
“Saya akan segera memberikannya tumbal dan menyediakan lebih banyak sesajian sebagai permintaan maaf akan masalah ruangan itu mbah. Uhuk, uhuk.”
“Jangan tunda lagi. Tuan mu si jin kuda iblis itu menunggu. Sebelum akhir tahun berakhir kau harus memberikannya tumbal.”
......................
Esti menulis surat untuk anak dan cucunya yang ada di kota. Kertas itu terkena tetesan darahnya yang keluar dari hidung. Dia memanggil Rasmi untuk memasukkan surat di dalam amplop dan menyisipkan beberapa lembar uang di dalamnya.
“Uang ini tidak usah bu. Pabrik Tempe sedang mengalami penurunan. Para pekerja banyak yang ibu pecat karena tidak sanggup menggaji. Kemungkinan sebentar lagi pabrik kita akan tutup.”
“Kau jangan bicara seperti itu, susah payah aku merintisnya setelah ayah mu pergi. Uhuk, uhuk! Kirimkan surat ini dan tanyakan uang hasil penjualan ke bu Geo.”
“Ya bu. Dengan senang hati.”
Rasmi bersiap-siap pergi keluar. Dia mengoleskan luka di lehernya yang tidak kunjung sembuh. Mengemudikan mobil berhenti di pinggir jalan membuka surat. Dia membuangnya dan mengambil uang di dalamnya.
💀
💀
💀
Kepada anak dan cucu ku tersayang.
Ibu sangat merindukan kedatangan kalian. Ibu berharap kalian menjenguk ibu yang sedang sakit dan menginap dalam waktu yang lama. Kasih sayang ibu tidak akan pernah habis terutama untuk Jeri. Ibu menunggu kalian datang besok.
💀
💀
💀
“Kamu sudah mengirim suratnya Ras?”
“Sudah bu, oh ya tadi kata bu Geo kalau dia tidak lagi menerima penjualan Tempe.”
“Kenapa dia jadi seperti itu. Padahal dia adalah langganan tetap kita yang sangat lama dan__ uhuk!” ucapan Esti terputus.
Rasmi meninggalkannya, melihat anaknya seakan menyembunyikan rahasia. Dia mengutus bik Upik untuk menjemput anak keduanya bersama supir pribadinya. Membuka mata di akhir bulan, Esti sangat berharap Upik cepat menjemput anaknya.
Delim bersama Jeri duduk di tepi ranjang. Mereka memeluk menumpahkan rasa rindu.
“Ibu cepat sembuh ya. Aku dan Jeri sudah datang.”
“Apakah surat yang ibu kirim belum sampai?”
“Delim nggak ada menerima surat bu..”
Jawabannya terdengar jelas di telinganya.
Melihat Delim pergi bersama Jeri, amarah Esti yang tidak tertahan membuat dia menjerit memanggil Rasmi. Dia tidak tau mengapa anaknya sampai berbuat seperti itu. Kedatangan Rasmi mendorong tubuh Esti untuk berbaring.
“Kenapa ibu tida suka aku nggak mengirim surat sebagai tanda tumbal selanjutnya? Ibu belum puas atas kematian mas Banu, kedua cucu ibu Aji dan Pendeng? Atau jangan-jangan ayah juga jadi tumbal!”
“Kurang ajar kau Rasmi! Kau anak durhaka!” ucap Esti bernada pendek.
Bik Upik yang hadir menenangkannya, Rasmi membanting keras pintu belum puas menunggu ibunya menderita. Di sore hari yang masih memperlihatkan cahaya mentari, Esti mengumpulkan anak-anaknya. Dia menunjuk Delima sebagai pewaris semua kekayaannya. Hal itu membuat Rasmi semakin marah
Esti meninggal di makan jin pesugihan karena terlambat memberikan tumbal. Di depan makamnya, Rasmi tidak meneteskan air mata. Langkah terpisah antara dia dan Delim yang menggandeng tangan Jeri. Anak kecil itu berhenti menunjuk ke sisi bagian ujung pepohonan.
“Bu lihat ada Kuda”
“No baby, itu hanya halusinasi kamu saja. Yuk kita pulang menelepon Daddy.”
Tadi malam Delim bermimpi melihat kuda. Dia jadi was-was, malam yang mencekam di mulai pada asap hitam mengelilingi rumahnya. Di depan kaca bagian dapur dekat Jeri duduk, dia kembali menjerit melihat penampakan kuda. Delim berlari menutup tirai, dia membawa anaknya masuk ke dalam kamar.
Pemadaman lampu mengagetkannya, dia menjerit memanggil nama bik Upik dan kakaknya Rasmi. Peran kakak tiri yang datang beberapa tahun sekali itu malah mendatangkan perampasan harta kekayaan yang seharusnya jatuh di tangannya.
“Bi Upik, diam saja bi jangan di jawab panggilannya!” bisik Rasmi.
Delim menjerit ketakutan, sosok kuda jin mendekati anaknya. Dia menarik Jeri menjauh, berlari keluar rumah meminta tolong mengetuk rumah warga yang jaraknya agak dekat dari rumah ibunya. Wanita berambut putih yang jalannya sudah membungkuk melotot membuka pintu.
“Nek tolong saya dan anak saya nek!”
“Maaf, aku tidak berani berurusan dengan keluarga mu.”
“Kalau gitu saya menitipkan anak saya saja nek. Kasian dia masih kecil, kami di kejar setan” Delim memelas menyatukan kedua tangan.
“Cepat masuk!”
Dia menyuruh Delim dan Jeri jangan keluar rumah sampai pagi menjelang. Dari balik tirai mengintip sosok setan berwujud jin mengeluarkan suaranya yang meringkik.
Suara ayam yang berkokok, langit yang cerah dan matahari bersinar terang. Delima semalaman terjaga sambil memeluk anaknya.
“Sudah aman sekarang.”
“Terimakasih banyak nek. Saya mohon pamit pergi.”
“Cepat tinggalkan rumah terkutuk itu kalau kau dan anak mu mau selamat!”
“Itu rumah ibu saya nek. Mana mungkin saya meninggalkannya begitu saja. Maaf sebelumnya nenek tinggal sendirian?”
“Aku dulu bekas pekerja di pabrik itu dan hampir terbunuh setan di dalamnya. Aku tau ada iblis yang bersarang di dalam sana.”
Bola mata mengecil memutih, wajahnya berubah semakin mengerikan. Dia kerasukan mengeluarkan suara kuda. Delim menjerit mengangkat Jeri mencari pintu keluar.
Penggambaran suasana dan detail dalam cerita ini sangat kuat, membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan ketegangan dan ketakutan yang dirasakan oleh Aluna.
Saya penasaran dengan bagaimana Aluna akan menemukan solusi untuk menghadapi bencana yang akan datang, dan apakah dia akan berhasil mengubah nasibnya.
Pesan tentang pentingnya keberanian, persatuan, dan harapan dalam menghadapi tantangan hidup sangat menginspirasi.