Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Bayaran Bos Besar

Istri Bayaran Bos Besar

Status: tamat
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Berondong / Tamat
Popularitas:32.3k
Nilai: 5
Nama Author: IkeFrenhas

Medina selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Ia juga rela menjadi tulang punggung keluarga. Medina bekerja di saat suaminya belum mendapatkan pekerjaan lagi setelah kena PHK.

Selain harus menutupi kebutuhan sehari-hari, Medina juga membiayai sekolah kedua adiknya.

Hari itu, Medina pulang kehujanan. Berulang kali ia menghubungi nomor Bagas, suaminya untuk menjemput karena motornya mogok. Namun, panggilannya tidak juga mendapatkan jawaban. Ia pun pulang dengan mendorong motornya.

Baju Medina basah kuyup, tubuhnya pun teramat lelah hari ini, ditambah gigil yang mulai menyerang karena kehujanan. Namun, semua penderitaannya hari itu tidak ada artinya dengan kenyataan yang wanita 28 tahun itu terima.

Medina memergoki suami dan adiknya bercinta di kamarnya sendiri. Ia tidak menyangka jika rumah tangganya diempaskan oleh perselingkuhan suami dan sang adik. Detik itu juga, dunia Medina seakan runtuh.

"Medina telah mati."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Makan malam berjalan dengan sangat baik dan lancar, diiringi dengan perbincangan ringan. Oma yang banyak bercerita, tentang kehidupannya juga tentang cucunya.

"Adiknya Rafe ada di Jerman, bersama orang tua mereka. Nanti setelah lulus kuliah, barulah Belinda menyusul ke sini," ujar Oma.

Aku mendengarkan dengan seksama, tanpa menyela juga tanpa mengalihkan perhatian.

"Rafe anak yang penurut. Dia tidak pernah mengecewakan Oma. Sedari kecil, Rafe ikut Oma. Seperti Belinda, dia juga kuliah di Jerman bersama orang tuanya. Setelah lulus langsung pulang dan mengambil alih perusahaan." Oma mengulas senyum.

Om menatap Mas Rafe dengan hangat dan penuh kasih sayang. Rasa yang Oma sampaikan kepada sang cucu sampai ke dalam dadaku. Kehangatan itu menyebar ke sekujur tubuh lewat aliran darah, menerbitkan senyum di bibirku.

Rasanya pasti menyenangkan jika bisa bersama seseorang yang menyayangi tanpa batas waktu dan usia.

"Selama ini, Oma selalu bertanya-tanya apakah ada seseorang yang bisa menaklukkan hati cucu Oma itu? Sebab, selama ini Rafe tidak pernah mengenalkan seorang wanita ke hadapan Oma. Dia terus saja jadi orang yang sok misterius."

Mas Rafe terkekeh pelan. Lelaki itu menggeleng lemah, lalu menyandarkan kepala di bahu sang oma.

"Belum waktunya saja, Oma," lirih Mas Rafe berbicara. Dia meringis saat Oma mencubit pipinya.

Pemandangan yang aku saksikan ini berhasil menyentuh hati. Rasanya, ada segumpal rasa bersalah karena hubunganku dengan Mas Rafe hanya sebatas kontrak dan bayaran saja.

"Iya, sampai Oma masuk rumah sakit dan dirawat barulah kamu berpikir untuk membawa calon istrimu, kan? Padahal, Oma enggak pernah mengajukan syarat yang berat apalagi aneh-aneh, kan?" Oma memasang wajah cemberut. Mas Rafe memeluk sang oma dengan erat, lalu menghujani dengan banyak ciuman di pipi keriput itu.

"Iya ... iya, maafkan Rafe ya, Oma," ujar Mas Rafe lembut.

"Jadi kapan kalian saling kenal dan di mana?" tanya Oma kemudian yang membuatku menatap Mas Rafe.

"Kami ketemu di kantor, Oma. Dia bekerja di pabrik yang aku buat untuk Belinda ...."

Penjelasan Mas Rafe membuat mulutku menganga. Ternyata, pabrik tempatku bekerja itu milik adiknya yang tinggal di Jerman itu.

"Aku terkesan dengan kepribadian dan cara kerjanya dari saat pertama kali bertemu di acara job fair ...."

Tunggu! Kapan aku dan Mas Rafe bertemu di acara job fair waktu itu? Seingatku, di sana hanya ada Pak Gio.

"Setelah mencari tahu asal usul dan seluk beluknya, aku merasa yakin untuk mengajaknya menikah dan membawanya ke hadapan Oma." Mas Rafe terus menjelaskan tentang awal pertemuan kami.

Jadi, sudah selama itu Mas Rafe mengenalku, bukan hanya hari di mana aku ke kantornya? Tidak bisa dipercaya.

"Ceritakan bagaimana kehidupan kamu, Medina." Oma menatapku, sedangkan aku membalas tatapan itu dengan perasaan takut.

Aku sangat takut jika melukai perasaan wanita tua itu. Aku sudah lama tidak merasakan kasih sayang dari seorang ibu kandung, dan rasanya akan sangat menyakitkan jika Oma harus mengetahui fakta tentang aku yang sebenarnya.

"Saya ... selama ini tinggal bersama ibu tiri. Entah ke mana perginya ibu kandung saya, Oma. Saya memiliki dua adik, satu perempuan yang sudah berkeluarga dan satu lagi masih SMA ...." Aku menelan ludah, menatap Mas Rafe yang kini sudah duduk menyandarkan punggung ke sandaran kursi.

Seperti Oma, Mas Rafe juga memperhatikan aku dengan seksama. Seolah, apa yang aku katakan barusan menjadi hal yang pertama kali Mas Rafe ketahui. Bukankah lelaki itu sudah mencari tahu tentang diriku dan kehidupanku sebelumnya?

"Ayah saya sudah meninggal setahun setelah adik laki-laki saya lahir. Kehidupan keluarga kami sangat bahagia." Tanganku gemetar dan suhu panas dingin. Seakan, udara di sekitarku ini telah berhasil memerangkapku.

"Saya sudah pernah menikah, tetapi gagal --"

"Berapa tahun usia pernikahan kamu sebelumnya?" tanya Oma menyela perkataanku.

"Tiga tahun, Oma." Aku menjawab dengan suara lirih. Lagi, aku menoleh pada Mas Rafe.

"Jangan takut, kamu bisa berbicara jujur sama Oma, Medina. Rafe tidak akan marah, apalagi jika dia memang sudah menerima kamu apa adanya." Oma menoleh pada Mas Rafe. "Kamu sudah tahu tentang kehidupan Medina sebelumnya, kan?"

"Iya, Oma. Rafe sudah tahu semua. Medina adalah orang yang jujur, dia tidak menutupi apa pun saat Rafe mendekatinya. Mungkin kalau aku tidak menunjukkan kesungguhanku, Medina tidak akan luluh juga." Mas Rafe tersenyum lebar.

Aku heran sekali dengan lelaki itu. Dia bisa begitu pintar memainkan sandiwara ini. Jika dipikir ulang, tentulah akan mudah bagi Mas Rafe untuk menemukan wanita yang sepadan dengannya. Baik dalam segi financial, kepintaran, kecantikan dan kepopuleran. Namun, tentu saja aku tidak akan bisa mendiktenya.

"Kalian punya rentang umur yang cukup lumayan. Berapa jarak kalian, sekitar tiga tahun lebih tua Medina?" Oma tampak berpikir menerka jarak usia kami.

"Oma memang paling pintar," puji Mas Rafe dengan suara riang dan kekehan pelan.

"Kamu ini ...." Oma melayangkan delikan tajam untuk sang cucu yang dibalas cuek.

"Apakah kamu memiliki anak dari pernikahan kamu sebelumnya, Medina?" Oma bertanya dengan raut serius.

Aku menggeleng lemah. Seketika hawa panas menjalas di wajahku sampai ke mata, menciptakan bulir bening yang mengaburkan pandangan.

"Itu yang menjadi salah satu alasan suami saya ...." Aku tidak bisa melanjutkan kalimat. Air mata ini mengalir dengan tidak tahu diri.

Aku dengan cepat menyeka air mata ini dengan punggung tangan.

"Maaf, Oma," ujarku berbisik.

"Jika ada waktu luang sempatkan untuk memeriksa kesehatan kalian, Rafe. Bukan apa-apa, tapi untuk memastikan bahwa kalian baik-baik saja. Dan, kalaupun ada masalah agar bisa segera dicari solusinya." Oma mengulurkan tangan dan langsung aku sambut. Dia genggam tangan ini dengan genggaman hangat, senyum tulusnya cukup mampu menenangkan hati ini.

"Wanita sering kali menjadi korban dan disalahkan atas kehadiran seorang anak. Padahal, mana ada wanita yang mau hidup dengan tidak sempurna. Semua wanita ingin menjadi sempurna. Kita juga tidak bisa terus menerus menyesali takdir." Oma menghela napas panjang, "Oma juga dulu susah dan lama untuk mendapatkan papanya Rafe. Setelah dapat satu, Oma sudah. Cukup satu saja karena tidak bisa melahirkan lagi."

Jemariku bergerak mengelus punggung tangan Oma, memberikan kekuatan dan pengertian atas setiap cerita yang Oma sampaikan.

"Sekarang dunia medis sudah canggih, banyak cara untuk mendapatkan seorang bayi. Kamu enggak usah berkecil hati. Dan Oma akan memastikan jika Rafe bisa nerima apa pun keadaan kamu, Medina. Kamu sudah menjadi wanita pilihannya, maka dia akan bertanggung jawab secara penuh atas kehidupan kamu selanjutnya." Oma menatap lurus ke kedalaman mataku. Seakan tengah memastikan bahwa dia bisa memegang penuh apa yang telah diucapkannya.

Semantara aku, kini tergugu. Rasanya sangat tidak adil jika hanya sandiwara yang kami berikan. Namun, aku juga tidak bisa mundur dari permainan ini.

1
sutiasih kasih
medina sadarlah.... baik boleh... bodoh jgn.... smpe kpn km harus jdi keset mereka.... harus menanggung beban mereka.... yg bukn jdi tanggung jawabmu...
bnar apa g di katakn farel.... cobalah dgrkn saran farel...
sutiasih kasih
knapa km harus repot n mngorbankn hidupmu untuk luarga toxicmu.... yg tak punya rasa terimaksih.... & tak tau mnghargai perasaanmu...
Karlina S. Wiratmadja
lama, sekali baru up lg, semoga anda sehat selalu yaa thor.. ditunggu selalu lanjutannya
Ike Frenhas: terima kasih masih setia, Kak
total 1 replies
Sri Mulyani
kok lama ya.
Ana St
lanjut thor
Ana St
kapan up lg thor
Ike Frenhas: hari ini yaa
total 1 replies
Karlina S. Wiratmadja
setelah lama ditunggu2 up juga, tolong jangan digantung karya ini ya thor, aku tunggu selalu lanjutannya, rafe so sweet deh klo bersikap lembut gitu, percayalah rafe, itu adalah anakmu
R-Nie z
akhirnya up jg....
dan rafe jg udh sadar ya.... walaupun secara fisik medina yg pingsan...
Satria Devi
Luar biasa
Karlina S. Wiratmadja
mana lanjutannya lagi ini?
Della Nuri delima
double up thooooooooorrr plissssssss
Ike Frenhas: hehe, berat bagian ini, Kak
total 1 replies
R-Nie z
lha.... klo g disentuh digeletakin gitu z getoh ? ....
Ike Frenhas: dibiarkan saja ... dibiarkan saja ....
total 1 replies
Patma Kusuma
semangat ditunggu kak lanjutanya....seru
Ike Frenhas: siap, tunggu tayang yaa udah up
total 1 replies
🌷𝙈𝙗𝙖 𝙔𝙪𝙡 ☪
kan bisa diliat brp.minggu kehamilan medina...
🌷𝙈𝙗𝙖 𝙔𝙪𝙡 ☪: saking tokcernya mpe ga pede rafe🤭🤣🤣🤣🤣✌
total 4 replies
R-Nie z
iiich ....
Rafe mw nya apa sih ?
Ike Frenhas: sabar ... sabar ... ini ujian. eh
total 1 replies
R-Nie z
knp km Rafe ?
kejedot tembok, ampe amnesia ?
udh berbuat g mw tanggung jawab!
R-Nie z: lha jaman skrng jng kalah sama teknologi dunk... hp z udh smartphone.... iiii gemeusss aku tuh Thor....
total 2 replies
Karlina S. Wiratmadja
waaah, jngn2 meidina benaran hamil.. senengnya c oma klo meidina benaran hamil
Karlina S. Wiratmadja
pd akhirnya nnti juga lama2 rafe cinta sama meidina, ya gak thor?
Ike Frenhas: maunya, sih, gitu. hihi
total 1 replies
R-Nie z
kaya nya mas Rafe ketagihan deh....
Ike Frenhas: hahahah. kecanduan dia. eh
total 1 replies
Karlina S. Wiratmadja
alur ceritanya bagus, ditunggu lanjutannya thor...
Ike Frenhas: siap. makasih, Kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!