Assalamu'alaikum.. Maaf yah novel ini ngak di lanjut lagi jadi mending ngak usah di baca🥲
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SENJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IKTM_15
Sejak kematian Nyonya Lina ibu kandung Ivan dan Evan membuat Tuan Abraham sangat terpuruk hingga hampir saja perusahaan yang dia rintis dari nol hancur begitu saja.
Dua tahun Tuan Abrahama hidup dalam kehampaan dan untung nya Nyonya Lusy hadir di saat Tuan Abraham sedang terpuruk hingga dua tahun kemudian mereka memutus kan untuk menikah.
Nyonya Lusy yang berstatus kan janda kaya raya yang mempunyai seorang cewek bernama Vina yang berusia tiga tahun. Nyonya Lusy bersedia menikah dan membantu perusahaan Tuan Abraham untuk kembali bangkit tapi dengan satu syarat jika Evan harus di asing kan karena Nyonya Lusy tidak ingin di permalukan.
Awal nya Tuan Abraham menolak tapi karena keegoisan nya lah hingga Evan terpaksa di asing kan saat berusia enam tahun. Ivan yang tidak setuju jika adik nya di asing kan pun terpaksa ikut bersama Evan ke mansion seram itu.
Namun Ivan bertahan di mansion seram itu hanya satu tahun karena setelah berusia tujuh tahun Ivan kembali ke mansion utama karena harus bersekolah.
Walaupun Ivan sering datang saat libur sekolah tapi tetap saja Evan merasa bosan dan marah karena telah di asing kan di tempat yang seram ini.
Hingga beberapa tahun kemudian kedua anak kembar itu tumbuh menjadi pria dewasa. Evan yang sejak kecil memang terkenal sangat angkuh dan arrogant sedangkan Ivan memang pria yang hangat dan perhatian.
Hingga suatu ketika Ivan ketahuan berpacaran dengan Vina membuat Tuan Abraham sangat marah hingga mengirim Vina ke Prancis untuk melanjutkan kuliah nya di sana.
Beberapa bulan lalu Ivan mengalami kecelakaan setelah mengunjungi Evan di mansion nya dan Ivan di nyatakan meninggal di rumah sakit.
Sedangkan Vina yang masih berada di Prancis tidak mengetahui bahwa Ivan mengalami kecelaan hingga beberapa minggu saat kejadian kecelakaan itu barulah Vina mendapat kabar jika orang yang sempat membuat warna dalam hidup nya kini telah pergi meninggalkan nya untuk selama lama nya.
Sejak kejadian itu kondisi Evan semakin buruk dan selalu memberontak. Penyakit yang di derita Evan juga sering kambuh bahka emosional nya pun semakin tak terkendalikan.
.
.
Araya dan Lili berjalan menuju meja makan namun langkah mereka terhenti saat berpapasan dengan Nyonya Lusy di ruang tamu.
"Selamat malam ibu" sapa Araya dengan sedikit mengbungkuk saat melihat Nyonya Lusy duduk di sofa.
Nyonya Lusy menatap Araya sinis. "Apa aku perna meminta mu untuk memanggilku dengan sebutan itu" kata Nyonya Lusy sembari duduk di sofa tanpa menyuruh Araya untuk duduk.
Araya hanya diam membisu. "Kau pasti sangat senang bukan menjadi istri orang kaya" lanjut Nyonya Lusy.
Araya hanya bungkam dengan senyuman manis walaupun hati nya saat ini sangat sakit oleh perkataan nenek sihir itu. "Haha aku hanya bercanda sini duduk bersama ku" Nyonya Lusy tertawa melihat expresi Araya lalu menepuk sofa di samping nya memberi kode agar Araya duduk di samping nya.
Araya terdiam cukup lama lalu menghampiri Nyonya Lusy dan duduk di samping nya dengan ragu-ragu. "Jangan perna bermimpi lebih tinggi. Kau hanya gadis sewaan untuk mendampingi pria buta yang menyedihkan" setelah mengucapkan kalimat pedas itu, Nyonya Lusy berdiri dan meninggalkan Araya yang terdiam. Ucapan pedas Nyonya Lusy membuat hati Araya semakin sakit.
Brum
Brum
Lamunan Araya buyar saat mendengar suara mobil yang masuk ke halaman mansion. Ternyata yang datang adalah Vina bersama Varrel.
"Araya" Vina yang melihat Araya sedang berdiri segera menghampiri nya dan memeluk nya dengan erat. "Akhir nya kamu datang" Vina menjeda ucapan nya. "Kak Evan di mana" tanya Vina dengan celingak celinguk mencari keberadaan Evan.
"Dia lagi di kamar" jawab Araya ragu karena sebenar nya Araya tidak tahu Evan di mana karena setelah sampai di mansion Evan melongos pergi begitu saja tanpa mengajak Araya.
"Nona, Tuan Abraham sudah menunggu anda untuk makan malam bersama" Vina melirik Lili lalu kembali melihat Araya "Ayo" kata Vina lalu berjalan lebih dulu dengan tersenyum.
.
.
.
Araya datang bersama Vina sedangkan Varrel dan Nyonya Lusy sudah duduk di kursi meja makan bersama Tuan Abraham. "Araya, kemana suami mu?" Araya yang tadi nya ingin menarik kursi untuk duduk kini malah terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Emm" Araya tampak berfikir. Varrel yang sedang mengigit apel pun melirik Araya. "Kak Evan sedang di kamar" jawab Varrel lalu kembali mengigit apel nya.
"Ah iya aku akan memanggil nya untuk makan bersama" kata Araya lalu bergegas pergi meninggalkan ruang makan yang membuat jantung nya terus berdegup kencang karena tatapan Nyonya Lusy membuat suasana ruang makan lebih horor di banding film hantu.
Araya menaiki anak tangga setelah sampai di atas Araya di buat bingung. "Kamar Tuan Muda yang mana" gumam Araya dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Tok
Tok
Araya mencoba mengetuk kamar pertama namun tidak ada jawaban dari dalam. Hingga kamar ke dua, ketiga dan keempat tetap saja tidak ada yang bersuara. "Pasti Tuan Muda ada di sini" gumam Araya karena tersisa satu kamar lagi yang belum Araya ketuk yaitu kamar paling ujung.
Tok
Tok
Terdengar dehaman dari dalam kamar dan Araya yakin itu pasti Evan. Araya dengan berani membuka pintu kamar itu. "Tuan Muda an.. Aaaaaa" Araya sontak menutup kembali pintu kamar itu saat melihat bukan Evan yang berada di dalam melain kan Alvin yang baru saja selesai mandi dan hanya menggunakan handuk kecil yang melilit pinggang nya.
"Maaf saya tidak sengaja" kata Araya di balik pintu lalu berlari kembali menuju meja makan namun saat ingin menuruni anak tangga tanpa sengaja Araya menabrak seseorang.
Bruk..
"Ahh awww" Araya jatuh tersungkur dan meringis kesakitan. "Akh sial banget sih hari ini" batin Araya.
Araya mendongak untuk melihat siapa kah yang dia tabrak dan ternyata. "Tuan Muda" gumam Araya saat melihat Evan sedang berdiri di depan nya. "Gadis bodoh" umpat Evan lalu pergi meninggal kan Araya tanpa berniat membantu nya sedikit pun.
Araya yang melihat Evan pergi begitu saja merasa kesal dengan mencak mencak lalu menyumpahi Evan dengan sumpah serapah.
"Araya, kenapa kau lama sekali?" kata Nyonya Lusy saat Araya sudah berada ruang makan.
Araya tidak menjawab mata nya tertuju pada Evan yang duduk sendiri di ujung meja makan mengisahkan jarak antara mereka semua. Seperti nya di sisi sebelah sana hanya untuk Araya dan Evan. Tidak ada seorang pun yang duduk di sebelah nya.
klo bisa, sebaiknya Evan dan araya pergi dari rmh org tuanya dan menjalani kehidupan mereka biar mereka bahagia