Indonesia
NovelToon NovelToon
SAYAP YANG PATAH

SAYAP YANG PATAH

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Goresan_Pena421

HIATUS

cerita ini mengisahkan jalinan kasih yang tak mudah dan mengorbankan hubungan antara anak dan ibu demi bersanding dengan wanita pilihannya.

Namun apakah anak ini adalah anak kandungnya?
Rahasia apa yang ada di masa lalu?
siapakah mereka ?
mari temukan jawaban nya di novel ini.

Mohon maaf cerita ini hanya fiksi, jika ada kesamaan ataupun suasana yang sama sekali lagi maaf ini hanya kisah karangan yang tidak benar-benar terjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Goresan_Pena421, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terluka tapi tak bedarah

Setelah prosesi sakral itu selesai, Huda langsung menghampiri ibundanya dan benar-benar ia mencium kaki ibundanya meminta maaf karena tidak bisa sejalan dengan apa yang diharapkan bundanya.

"Ibu maafkan Huda, tapi ini sudah menjadi pilihan Huda bu, "ucap Huda.

"Nak, ibu sangat kecewa dengan keputusan mu, tetapi hiduplah dalam damai, dan anggap saja kamu tidak pernah lahir dari rahim ibu, "ucap ibunda Huda yang segera berjalan meninggalkan ruang gereja.

"Ibuuuuuuuu," teriakan Huda menggema diruang gereja yang sudah mulai sepi.

Lara dan keluarga Lara yang menyaksikan hal itu benar-benar merasa bahwa ini bukan sekedar pengorbanan Huda tetapi juga awal dari proses yang aka. Huda lalui tanpa dukungan dari ibundanya lagi, Lara langsung memeluk Huda yang sedang terluka hatinya.

"Sayang aku akan selalu mendampingi mu dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan untung maupun malang, dalam keadaan senang maupun sedih," ucap Lara.

Suara lonceng gereja perlahan mereda, meninggalkan gaung sayup di antara dinding-dinding tua yang masih menyimpan aroma dupa dan bunga. Huda masih berlutut di lantai dingin, matanya basah, sementara bayangan ibundanya yang berjalan menjauh semakin kabur hingga hilang di balik pintu utama. Seolah dunia yang ia kenal runtuh begitu saja dalam satu keputusan.

“Ibuuu…” suara itu keluar lirih, seakan tali terakhir yang mengikat dirinya dengan kasih seorang ibu sudah benar-benar terputus.

Lara yang sedari tadi menggenggam tangannya kini meraih wajah Huda, menghapus air mata yang terus jatuh. “Sayang, kamu tidak sendirian. Aku ada di sini. Keluargaku juga menerima kamu. Tolong jangan biarkan kata-kata ibumu membuatmu hancur.”

Huda menatap Lara, berusaha menemukan pegangan dalam tatapan penuh cinta itu. Tapi luka di hatinya terlalu dalam. “Aku… aku hanya ingin beliau bangga. Aku tidak ingin dianggap anak durhaka, Lar…”

Lara menunduk, menempelkan keningnya ke kening Huda. “Kadang cinta kita pada Tuhan menuntut pengorbanan yang tak mudah. Mungkin suatu hari nanti hati ibumu akan terbuka. Kita harus percaya.”

Ayah Lara, yang masih berdiri tidak jauh dari mereka, menghela napas panjang. “Nak Huda, kami tahu ini berat. Tapi langkahmu hari ini bukanlah akhir, melainkan awal. Kamu kini punya tanggung jawab besar, bukan hanya sebagai seorang suami kelak, tapi juga sebagai seorang pemimpin bagi keluargamu sendiri.”

Huda mengangguk pelan, meski di dadanya masih ada gemuruh perih. Ia mencoba berdiri dengan sisa tenaga, dan Lara menopangnya. Bersama, mereka meninggalkan gereja, menyusuri halaman dengan bunga-bunga yang mulai layu diterpa panas siang.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

---

Beberapa minggu kemudian, kehidupan baru Huda bersama Lara dimulai. Mereka tinggal di rumah sederhana yang disiapkan keluarga Lara di pinggiran kota. Suasana rumah itu hangat, meski kadang Huda masih merasakan kekosongan setiap kali mengingat ibunya.

Lara berusaha menambal kekosongan itu dengan perhatian. Setiap pagi, ia menyiapkan sarapan sederhana, lalu duduk di samping Huda sambil bercerita tentang masa depan mereka. “Aku ingin rumah kita penuh tawa anak-anak, sayang. Aku ingin kamu merasa punya keluarga utuh di sini.”

Huda tersenyum samar, mencoba menepis bayangan wajah ibunya yang penuh kecewa. Ia tahu Lara sedang berusaha keras, dan ia pun tak ingin mengecewakannya.

Namun, dunia di luar rumah tidak semudah itu menerima perubahan Huda.

Di pasar, beberapa orang mulai berbisik-bisik saat melihatnya. Ada yang menatap dengan sinis, ada pula yang terang-terangan menyebutnya “pengkhianat darah”.

“Eh, itu anak Bu Rahayu, kan? Masuk gereja kemarin.”

“Kasihan ibunya. Anak lelaki satu-satunya malah memilih jalan berbeda.”

Bisikan itu seperti jarum kecil yang menusuk telinga Huda. Ia mencoba berjalan tegak, tapi hatinya semakin tertekan. Lara yang ikut bersamanya hanya bisa menggenggam tangannya erat-erat.

“Biarkan mereka bicara, sayang. Hidup kita bukan untuk mereka,” ucap Lara tegas.

---

Konflik semakin memuncak ketika suatu malam, pintu rumah mereka diketuk keras. Huda yang sedang duduk membaca kitab baru yang diberi pendeta, segera bangkit.

Tok! Tok! Tok!

“Siapa malam-malam begini?” tanya Huda, agak waspada.

Saat pintu dibuka, ia terkejut mendapati dua orang lelaki asing berdiri di depan rumah. Wajah mereka keras, tatapan tajam menusuk.

“Kamu Huda, kan?” salah satu dari mereka bersuara dingin.

“Iya, saya Huda. Ada apa?”

Lelaki itu mendekat, suaranya penuh nada ancaman. “Kami hanya ingin mengingatkanmu. Jangan coba-coba bawa nama keluargamu tercemar lebih jauh. Ibumu sudah menanggung malu di kampung. Kalau kamu terus begini… jangan salahkan kami kalau ada yang celaka.”

Huda terpaku, darahnya mendidih sekaligus dingin. Lara yang berdiri di belakangnya langsung meremas tangannya. “Huda, tutup pintunya!” bisiknya penuh ketakutan.

Namun sebelum pintu bisa ditutup, lelaki itu menahan dengan kakinya. “Ingat baik-baik, Nak. Kamu bukan anak siapa-siapa lagi. Jadi jangan coba-coba merasa punya tempat di sini. Kalau tidak, siap-siap saja menghadapi akibatnya.”

Brak! Mereka pergi, meninggalkan ancaman menggantung di udara malam.

Huda berdiri kaku, napasnya terengah. Lara langsung memeluknya dari belakang, tubuhnya gemetar. “Sayang, aku takut… siapa mereka? Kenapa mereka bisa tahu rumah kita?”

Huda menelan ludah, mencoba menenangkan istrinya. “Mungkin orang-orang kampung yang tidak terima. Atau… ada yang sengaja menyuruh mereka.”

“Menyuruh? Siapa?”

Pertanyaan itu menggantung. Huda tak berani menyebut nama, tapi di hatinya, ada rasa getir—ia curiga ibunya sendiri berada di balik semua ini.

---

Malam itu, Huda tidak bisa tidur. Tatapannya kosong ke arah langit-langit. Lara masih menggenggam tangannya, matanya bengkak karena menangis.

“Aku janji, Lar,” bisik Huda lirih, “aku akan melindungimu, apapun yang terjadi. Aku sudah kehilangan ibuku, aku tidak akan pernah kehilangan kamu juga.”

Lara menutup mata, mengangguk dalam tangis.

Namun, seakan dunia memang ingin menguji janji itu, suara kaca pecah tiba-tiba terdengar dari depan rumah.

Praakkk!

Huda sontak bangkit, berlari ke ruang depan. Sebuah batu besar menembus jendela, pecahannya berhamburan ke lantai. Pada batu itu, ada selembar kertas yang dililitkan dengan karet.

Dengan tangan bergetar, Huda mengambil kertas itu dan membacanya.

“Tinggalkan pilihanmu… atau kami akan datang lagi, kali ini tidak hanya dengan kata-kata.”

Darah Huda berdesir, matanya merah menahan amarah. Ia mengepalkan tangan, dadanya naik turun.

“Cukup!” serunya, menggema di dalam rumah. “Kalau mereka pikir aku akan mundur, mereka salah besar!”

Lara mendekat, wajahnya pucat. “Sayang… jangan buat aku takut. Apa maksud mereka? Apa yang akan kamu lakukan?”

Huda menoleh, menatap dalam mata Lara. “Aku tidak akan tinggal diam, Lar. Kalau mereka ingin perang, aku akan lawan. Tapi satu hal yang pasti—aku tidak akan pernah menyerahkan imanku. Tidak peduli siapapun musuhnya, bahkan kalau itu darah dagingku sendiri.”

Di luar sana, malam semakin pekat. Suara anjing menggonggong panjang, seakan ikut memberi tanda bahwa badai yang lebih besar akan segera datang.

Dan itulah awal dari konflik baru yang akan menguji kesetiaan, keberanian, dan cinta Huda serta Lara.

1
Intan Wiwi
bagus kak ceritanya
Intan Wiwi
cerita yang bagus
Intan Wiwi
semngat
Iqueena
Maaf typo nih thor, mungkin maksudnya ibunda kali ya
Iqueena
pakai sambel masak duhhhh enaknya
Goresan_Pena421: enak banget kak
total 1 replies
Septi Utami
seru tahu sosialisasi bareng sama tetangga apalagi tinggal di kompleks
Iqueena
Pasti ada sesak dikit ya, Bun
Iqueena
Resiko jadi kepala rumah tangga, Hud
ig: kekeutami2829
maria udah gendong bayi? hah bngung aku 😳
ig: kekeutami2829
aku bingung bacanya thor ...
kl typo kok beda bgt dari narasi ya?
ig: kekeutami2829
maria udh bsa masak??? 😳
Bulanbintang
Kak, sayangnya banyak banget.😭
ig: kekeutami2829
manggil nenek ny ibu?
ig: kekeutami2829
dia bru setahun tp ngomongnya lancar bgt 😄
ig: kekeutami2829
di atas ku baca udh 1 thn. sekarang bbrapa minggu . yg bnar yg mna?
Drezzlle
lebih baik kalian pindah aja, daripada dengerin hal yang menyakitkan terus
Iqueena
Terlepas dari kamu pindah agama atau tidak. Yang penting kebahagiaan selalu menyertaimu , Huda 😌🦋
TokoFebri
kamu benar lara. Maria yang akan menjahit luka luka kalian.
CumaHalu
lanjut thorr...
Alyanceyoumee
konsekuensi dari cinta dan pilihan kalian, terima saja dengan lapang dada. pasti selalu ada yang pro dan kontrak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!