Indonesia
NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Berbaikan / Tamat
Popularitas:892.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.

Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.

Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.

Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Setelah Shaka membawa Abinaya dan Anaya masuk ke dalam rumah, suasana halaman mendadak terasa jauh lebih sunyi. Hanya ada Kanaya dan Arkana yang berdiri saling berhadapan. Namun meskipun jarak mereka hanya beberapa meter, rasanya seperti dipisahkan oleh jurang yang sangat dalam.

Kanaya berdiri dengan kedua tangan mengepal di samping tubuhnya. Ia berusaha terlihat tenang, tetapi dadanya terus naik turun menahan gejolak emosi yang sejak tadi berusaha keluar.

Sementara itu, Arkana tidak mampu mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah perempuan yang selama lima tahun terakhir selalu hadir dalam doa dan penyesalannya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa melihat Kanaya dari jarak sedekat ini. Bukan melalui foto, bayangan dalam mimpi, tetapi benar-benar berdiri di hadapannya.

"Aya ...." panggil Arkana lirih.

Kanaya langsung memalingkan wajah. "Jangan panggil aku seperti itu."

Kalimat itu membuat dada Arkana terasa nyeri. Dulu Kanaya selalu tersenyum manis dan menyahut manja, setiap kali ia memanggilnya dengan sebutan itu. Namun sekarang, panggilan yang sama justru terdengar seperti sesuatu yang ingin dijauhi perempuan tersebut.

"Aku sudah mencarimu selama lima tahun," ucap Arkana pelan.

Kanaya tertawa hambar. "Tidak penting."

"Aya, dengarkan aku dulu."

"Apa yang harus aku dengarkan?" tanya Kanaya. "Penjelasan bahwa pernikahan kita dulu cuma bagian dari taruhan kalian?"

Arkana langsung terdiam. Luka itu ternyata masih sedalam itu dan ia sadar dirinya memang pantas menerimanya.

"Aku tahu aku salah."

"Salah?" Kanaya menatapnya tajam. "Kamu menyebut itu hanya salah?"

Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. "Bagiku pernikahan itu ibadah. Bagiku pernikahan itu sesuatu yang suci."

Suara Kanya mulai bergetar. "Sementara bagimu?"

Kanaya tertawa kecil. Tawa yang justru terdengar menyakitkan. "Bagimu itu cuma permainan."

"Aya, tidak seperti itu."

"Lalu seperti apa?"

Arkana menarik napas panjang. Selama bertahun-tahun ia membayangkan pertemuan ini. Namun saat benar-benar terjadi, ternyata tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan penyesalan yang selama ini ia rasakan.

"Aku memang ikut taruhan itu."

Kanaya memejamkan mata. Meski sudah mengetahui kenyataannya, mendengar pengakuan langsung dari mulut Arkana tetap terasa menyakitkan.

"Tapi aku tidak pernah menikahimu karena taruhan itu."

Kanaya langsung membuka mata. Tatapannya dipenuhi ketidakpercayaan. "Apa bedanya?"

"Ada." Arkana melangkah satu langkah mendekat.

"Aku memang menerima tantangan mereka. Tapi sebelum semuanya terjadi, aku sudah jatuh cinta kepadamu."

Kanaya menggeleng. "Bohong!"

"Aku serius." Arkana mengangkat sebelah tangannya.

Kanaya kembali tertawa hambar. "Aku bahkan tidak pernah memperlihatkan wajahku kepadamu saat itu."

"Itulah masalahnya." Arkana tersenyum pahit. "Aku jatuh cinta bukan karena wajahmu."

Kanaya langsung terdiam. Karena dahulu Arkana selalu saja memuji kecantikan wajahnya.

Arkana menundukkan kepala sejenak sebelum melanjutkan. "Apa kamu ingat pertama kali kamu mengajakku ke panti asuhan tempat kamu dibesarkan?"

Mata Kanaya sedikit melebar. Tentu saja ia ingat.

Hari itu adalah salah satu hari yang paling berkesan baginya dan hari bersejarah dalam hidupnya.

"Ya, aku ingat."

"Aku juga ingat." Suara Arkana terdengar sangat lembut. Arkana tersenyum tipis mengingat masa lalu.

"Hari itu aku melihat bagaimana kamu memperlakukan anak-anak di sana. Kamu hafal nama mereka satu per satu. Tahu makanan kesukaan mereka. Tahu siapa yang sedang sakit. Bahkan kamu tahu siapa yang sedang sedih," lanjut Arkana dengan nada lembut.

Air mata mulai menggenang di mata Arkana.

"Aku belum pernah melihat perempuan seperti itu sebelumnya. Kamu menggendong anak kecil yang demam. Membantu operasional panti dengan seluruh gajimu. Aku melihatmu tertawa bersama mereka. Dan saat itulah aku jatuh cinta."

Kanaya perlahan menunduk. Ingatan itu kembali memenuhi kepalanya.

"Aku bahkan belum tahu seperti apa wajahmu saat itu," lanjut Arkana. "Tapi aku sudah tahu kalau aku ingin selalu berada di dekatmu."

Kanaya berusaha tetap tegar. Namun, hatinya mulai bergetar. Karena apa yang dikatakan Arkana bukanlah kebohongan. Ia masih mengingat bagaimana pria itu dengan sungguh-sungguh menunjukkan keseriusannya dengan menikahinya sore itu juga di panti asuhan.

Kanaya menggigit bibir bawahnya. Tanpa disadari, kenangan lama yang selama ini ia kubur mulai bermunculan kembali. Kenangan yang selama ini tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Karena sebenarnya, jauh sebelum Arkana mendekatinya, Kanaya lebih dulu memperhatikan pria itu.

Saat itu salah satu anak panti asuhan hanyut terbawa arus sungai. Semua orang panik dan anak-anak menangis. Para pengasuh berteriak meminta tolong. Dan tanpa berpikir panjang, Arkana langsung terjun ke sungai.

Pria itu mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan anak yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya. Hari itu Kanaya melihat semuanya. Melihat keberanian dan ketulusan Arkana. Untuk pertama kali dalam hidupnya, hati Kanaya berdebar karena seorang pria.

Namun, perasaan itu tidak pernah Kanaya ceritakan. Tidak pernah ia akui. Ia hanya menyimpannya sendiri.

Kemudian ada banyak kejadian lain. Arkana sering membeli keripik dari anak-anak panti yang berjualan sepulang sekolah.

Belakangan Kanaya tahu pria itu tidak terlalu suka makanan ringan. Namun, waktu itu Arkana tetap membelinya hampir setiap hari. Bahkan sering memberikan uang lebih. Bukan karena kasihan, melainkan karena ingin membantu.

Semua kebaikan itu yang pernah membuat Kanaya jatuh cinta. Dia pun tak menolak ketika Arkana mengajaknya menikah sebagai bentuk keseriusan dirinya. Namun, semua kenangan indah itu hancur pada hari ia mendengar percakapan taruhan tersebut.

"Aya."

Suara Arkana kembali membuyarkan lamunannya. Kanaya kembali menatapnya.

"Aku memang melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Tapi cintaku tidak pernah bohong, bahkan sampai sekarang."

Air mata akhirnya jatuh dari sudut mata Arkana. "Aku kehilanganmu. Aku kehilangan lima tahun hidup anak-anakku. Aku kehilangan keluarga yang seharusnya aku jaga."

Setiap kata yang keluar terdengar penuh penyesalan. Bukan penyesalan sesaat, melainkan penyesalan yang telah menggerogoti dirinya selama bertahun-tahun.

"Aku tidak pernah berhenti mencarimu."

Kanaya terdiam. Walau hatinya sedikit bergetar, tetapi rasa benci dan marah, masih menyelimuti hatinya.

Arkana melanjutkan dengan suara serak. "Aku juga tidak pernah mengambil Ferrari itu."

Kanaya mengernyit. "Apa?" batinnya.

"Sungguh aku tidak pernah mengambilnya. Aku tidak pernah menginginkannya."

"Tapi taruhan itu—" Kanaya tak percaya.

"Aku sudah melupakannya bahkan sebelum kita menikah." Arkana menggeleng dan menatapnya lurus. "Karena saat itu yang aku inginkan bukan mobil."

Air mata Arkana kembali jatuh. "Yang aku inginkan adalah kamu."

Kanaya tidak tahu harus berkata apa. Hatinya mulai goyah. Bukan karena ia sudah memaafkan Arkana. Lukanya masih ada dan sangat dalam. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan ketulusan yang terlihat di mata pria itu.

Lalu tiba-tiba Arkana mengatakan sesuatu yang membuat Kanaya benar-benar terkejut.

"Aya, aku tidak pernah menceraikanmu."

1
v_cupid
💪💪
v_cupid
💪
Jamayah Tambi
Alhamdulillah ,Tamat.Tq Athur.Ceritanya bagus,hingga berendam air mata,ada kelakarnya juga.Tidak banyak yg menyakitkan hati.Cuma kes Marlina saja Bagus tak buat pembaca sakit kepala.Selamat berkarya
v_cupid
❤️
Jamayah Tambi
Sedihnya kehidupan kamu Kanaya.Padahal kamu daribketurunan yg baik2.Tidak kekurangan apa pun.Macam2 cara Allah mengatur hidup manusia.
Jamayah Tambi
Bawa saja Bu Cintia,Paj Adjre da Shaka je Jakarta.Belikan mereka tempat tinggal yg layak seperti ibu bapa kandung.Urusan Catering di kota ini biarkan diurus oleh pekerja yg kau percaya.Buka cawangan baru di Jakarta.Seperti ini tiada yg terluka dan terlepas pandang.Jaryan catering mu tetap punya pejerjaan dan penghasilan./CoolGuy//CoolGuy/
Jamayah Tambi
Aku rasa di sini bukan Arkana sepenuhnya betsalah.Kabaya degil,kerascjepala,dia tidak mau mendengar luahan Arkana.Diavyg meninggalkan Arkana.Klalau fi kira2 dia boleh dikatakan nusyuz,meninggalkan suami yg belum menalakmu
Jamayah Tambi
Siasat cctv di tempat acara
v_cupid
❤️
Jamayah Tambi
susah klu gini .Macam mana nak sembuh
Ani Kurniati
bagus ceritanya,,, konflik nya gk terlalu berat
Jamayah Tambi
Terbaik Aya.Tentu saja Arkara sangat berterima kasih pada puterinya
Jamayah Tambi
Kalsu dah jodoh tak memana
v_cupid
💪
v_cupid
suka
v_cupid
❤️
Suyati
cakep idenya nih bch
Suyati
ayolah Kanaya buka hatimu
Suyati
jangan begitu dong kanaya ga semuanya slh arkana
Suyati
ayo arkana jangan putus asa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!