Indonesia
NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15.

"Apa maksud Abang? Daddy punya alasan?" tanya Elvian, menatap Kavian lekat-lekat dengan rahasia yang baru saja terungkap.

"Keluarga dari Mommy, El tahu sendiri, kan? Mereka sangat memanjakan Mommy karena dia satu-satunya putri di keluarga mereka. Daddy dan Mommy itu menikah karena perjodohan yang diatur oleh orang tua." Kavian menghela napas sesaat sebelum melanjutkan.

"Daddy awalnya menolak keras karena sudah punya kekasih yang sangat dicintainya. Tapi Kakek tetap memaksa Daddy untuk menikahi Mommy. Daddy tetap tidak mau, bahkan sampai pernah kabur dari mansion."

"Lalu?" pancing Elvian semakin penasaran.

"Kakek yang mengetahui Daddy kabur langsung mengerahkan orang untuk mencari. Beliau menemukan Daddy sedang bersembunyi di rumah kekasihnya. Di sana, Kakek mengancam Daddy. Kalau Daddy tidak mau menerima perjodohan itu, kekasih Daddy akan dicelakai. Dengan terpaksa, demi melindungi wanita yang dicintainya, Daddy akhirnya menyetujui pernikahan dengan Mommy," tutur Kavian panjang lebar.

"Terus, apa hubungannya dengan perlakuan Daddy ke El, Bang?" tanya Elvian lagi, hatinya mulai berdegup kencang.

Kavian menengadah ke langit-langit pantri lalu mengembuskan napas berat. "Daddy terpaksa mengabaikan kamu itu karena Mommy, El. Mommy tidak suka melihat kamu tersenyum dan tertawa bersama Daddy. Mommy itu orangnya cemburuan dan sangat egois."

Sorot mata Kavian berubah sendu. "Saat kamu berusia lima tahun, Daddy beberapa kali memergoki Mommy hampir mencelakai kamu. Kamu pernah didorong ke kolam renang, diberi minum susu basi, bahkan kamu hampir ditabrak oleh mobil yang dikendarai Mommy sendiri."

Elvian terperangah, tangannya refleks menutup mulut karena syok.

"Daddy sangat marah besar saat itu, sampai-sampai hampir menceraikan Mommy. Tapi, wanita itu justru mengancam Daddy. Jika mereka sampai berpisah, Mommy berjanji akan menghabisi kamu, El. Daddy tahu persis watak Mommy. Apa yang keluar dari mulutnya pasti akan nekat dilakukannya. Jadi dengan terpaksa, Daddy membatalkan niat cerai. Daddy terpaksa pura-pura mengabaikan dan bersikap dingin kepadamu hanya agar kamu tetap aman dari jangkauan wanita posesif itu," pungkas Kavian.

"Jadi ... selama ini El salah paham sama Daddy?" bisik Elvian lirih, setetes air mata lolos dari sudut matanya. "Terus kenapa cuma El yang dibenci sama Mommy? Kenapa Kak Luna dan Abang gak diperlakukan sama?"

"Karena saat kamu masih kecil, kamu itu paling dekat dengan Daddy dan paling dimanja karena statusmu sebagai anak bungsu. Hal kecil itu sudah cukup membuat Mommy membencimu, karena dia merasa kamu merebut perhatian Daddy yang harusnya cuma milik dia."

"Dasar wanita tolol! Hanya gara-gara El dimanja dan disayang Daddy, dia tega membenci El sekujur hidup? El benar-benar gak habis pikir sama Nenek Lampir itu. Padahal El ini anak kandungnya sendiri, loh, bukan anak pungut!" umpat Elvian berang, dadanya naik-turun menahan emosi.

Kavian hanya mengedikkan bahu pasrah, tidak tahu harus merespons apa lagi untuk membela ibunya. Ia kemudian melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah tepat menunjukkan pukul dua belas siang.

"Sudah jam dua belas, El. Mau ikut Abang makan siang?" tawar Kavian mengalihkan topik.

"Gak, Bang. El sudah kenyang banget makan camilan tadi," tolak Elvian seraya menepuk perutnya.

"Jangan terlalu banyak makan camilan dan minum soda, tidak baik buat kesehatan," nasihat Kavian penuh perhatian.

"Oke, Abangku yang tampan dan cantik!" sahut Elvian mencairkan suasana.

Kavian terkekeh lalu mengacak rambut Elvian dengan gemas. "Sana pulang, jangan keluyuran lagi."

"Tapi soal urusan Elvia gimana, Bang?" tanya Elvian memastikan sebelum pergi.

"Biar itu jadi urusan Abang. Kamu tenang saja," tegas Kavian.

"Oke, El pulang ya, Bang." Kavian mengangguk.

Elvian segera keluar dari ruangan pantri dan langsung berjalan menuju motornya untuk tancap gas kembali ke apartemen.

Melihat kepergian adik bosnya, Reynal yang sedari tadi berdiri di dekat pintu akhirnya bersuara. "Bos, pemuda manis tadi itu benar adikmu?"

"Hmm. Dia adik bungsu saya, saudara kembar Elvia," jawab Kavian singkat dengan tatapan yang kembali dingin. Reynal pun hanya mengangguk mengerti.

Sementara itu, di belahan jalanan kota lainnya.

Terjadi keributan besar antargeng motor remaja. Tawuran itu menutup badan jalan hingga membuat arus lalu lintas menjadi macet total.

Brian dan Revangga yang sedang melajukan motor mereka terpaksa ikut mengerem mendadak karena antrean kendaraan di depan sama sekali tidak bergerak.

"Ada apa sih? Kenapa kendaraan di depan pada berhenti semua?" tanya Revangga kesal, mematikan mesin motornya sejenak.

"Bentar, biar gue ke depan dulu buat ngecek," sahut Brian. Ia turun dari motor dan berjalan beberapa meter ke depan. Matanya langsung menangkap pemandangan dua kubu geng motor yang masih mengenakan seragam SMA sedang baku hantam dengan brutal.

"Geng motor lagi ribut, Re," lapor Brian setelah kembali ke motor.

"Cih! Kenapa harus berkelahi di tengah jalan raya, sih? Mengganggu ketertiban aja!" gerutu Revangga berang.

Hampir setengah jam mereka tertahan di sana, namun perkelahian antargeng itu tidak kunjung mereda. Hal ini membuat Brian—yang memiliki tingkat kesabaran setipis tisu dibagi sepuluh—langsung kehilangan kendali. Ia melepaskan helmnya kasar, lalu berlari cepat menghampiri kerumunan remaja yang sedang baku hantam tersebut.

"WOI, SIALAN! SAMPAI KAPAN KALIAN MAU BERANTEM, HAH?!" teriak Brian menggelegar, memotong jalannya tawuran.

Seketika, beberapa remaja yang hendak melayangkan pukulan langsung terhenti dan menoleh kaget.

"INI SUDAH SETENGAH JAM KAMI MENUNGGU KALIAN SELESAI! KALAU MAU BERANTEM JANGAN DI JALANAN UMUM, NOH DI RING TINJU!" amuk Brian dengan urat leher yang menonjol. "SIALAN KALIAN SEMUA! MASIH SMA SUDAH SOK-SOKAN BERANTEM. MAU JADI PREMAN, HAH?! KALAU MAU JADI PREMAN GAK USAH SEKOLAH, BUANG-BUANG DUIT EMAK BAPAK KALIAN AJA! SEKARANG BUBAR ATAU GUE PANGGIL POLISI REKAYASA LALU LINTAS BIAR KALIAN DIANGKUT SEMUA! SEKARANG!"

Mendengar ancaman polisi dan gertakan galak dari pemuda yang berbadan lebih kekar itu, nyali para anggota geng SMA langsung menciut. Mereka langsung lari tunggang-langgang menaiki motor masing-masing untuk membubarkan diri.

Namun, di antara kepanikan itu, ada seorang remaja laki-laki yang tegak mematung. Ia menatap Brian dengan sorot mata yang penuh kerinduan dan rasa haru.

"Woi, Ketua! Kenapa malah diam aja? Ayo pergi, keburu polisi datang!" ajak salah satu teman remaja itu sambil menarik jaketnya.

Mengabaikan ajakan temannya, remaja laki-laki itu justru melangkah perlahan mendekati Brian yang masih berdiri berkacak pinggang.

"Bang Brian..." panggil remaja itu lirih, suaranya bergetar.

Brian yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh. Ia mengernyitkan alis saat mendapati seorang remaja jangkung berseragam SMA sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Elo siapa? Dan... kenapa elo bisa tahu nama gue?" tanya Brian heran.

"Bang... ini aku, Raja," ucap remaja laki-laki itu memperkenalkan dirinya.

Deg.

Jantung Brian mencelos. Matanya melebar menatap lekat-lekat wajah remaja di depannya. "Raja?"

Brian melangkah mendekat, begitu pula dengan Raja yang air matanya kini mulai menggenang di pelupuk mata.

"Hiks ... Bang, ini beneran aku, Raja."

"Elo ... Raja? Adik bungsu gue?!"

Raja mengangguk cepat. Dengan perasaan haru, ia langsung merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut pelukan hangat dari sang kakak yang sudah lama terpisah. Namun, yang didapatnya justru jauh dari ekspektasi.

Ceklek! Twist!

"Aduh, Bang! Sakit, Bang! Lepasin, sakit!" jerit Raja histeris saat Brian justru menjewer telinganya dengan sangat kuat.

"Elo itu masih sekolah, Dek! Masih SMA tapi malah keluyuran memimpin tawuran! Rasakan ini! Rasakan! Masih mau berkelahi lagi, hmm?!" omel Brian tanpa ampun sambil terus memutar jewerannya.

"Gak lagi, Bang! Gak akan berkelahi lagi, suer! Ampun!" mohon Raja sambil berjinjit menahan perih.

Brian akhirnya melepaskan jewerannya. Raja langsung mengusap telinganya yang memerah dan berdenyut panas.

Melihat sang adik meringis, barulah pertahanan Brian runtuh. "Huaaaa! Elo sudah besar aja, Dek! Udah tambah tinggi, bahkan lebih tinggi dari gue!" seru Brian emosional. Ia langsung menghambur dan memeluk erat tubuh bongsor adiknya yang sudah lima tahun tidak ditemuinya itu.

Di dalam pelukan, Raja terkekeh pelan. "Abang yang tambah pendek."

"Gue ini tinggi ya! Elonya aja yang ketinggian kayak tiang listrik!" balas Brian tidak terima, memukul punggung Raja pelan.

Sementara itu, teman-teman geng motor Raja yang masih tertinggal di pinggir jalan melongo menyaksikan pemandangan tersebut.

"Itu beneran si Raja, Bro? Kok beda banget ya?" bisik salah satu teman Raja tidak percaya.

"Oho, Raja kan biasanya dingin banget kayak kulkas seratus pintu. Ini malah nangis kayak bocah," timpal yang lain menggeleng tak percaya.

"Boro-boro mau meluk kita. Natap dia aja langsung dibalas tatapan dingin mematikan."

"Pemuda itu siapanya Raja, ya?"

"Kagak tahu."

"Nanti ku tanya aja sendiri ke Raja."

Brian melepaskan pelukannya lalu menepuk pundak sang adik. "Kita pindah tempat ngobrolnya, Dek. Kita ke kafe aja yuk."

Raja menoleh ke arah teman-temannya. Seketika, ekspresi wajahnya berubah drastis menjadi datar dan sedingin es. "Kalian pulang duluan. Gue ada urusan penting sama Abang gue," perintah Raja mutlak.

"Yoi, Ketua!" sahut mereka serempak, lalu segera menyalakan mesin motor dan pergi meninggalkan jalanan yang kini sudah mulai lancar kembali.

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!