Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 32
Sabtu pagi, sepuluh jam sebelum Grand Ballroom hotel bintang lima dibuka untuk ribuan tamu VIP, atmosfer di dalam ruang kerja pribadi Bisma Pratama di kediaman mewahnya terasa sedingin es.
Arsen melangkah masuk dengan langkah tegap, mengenakan kemeja putih yang lengannya tergulung rapi. Di dalam sakunya, ia sudah mengaitkan flashdisk cadangan yang memuat seluruh dokumen kejahatan ayahnya. Namun, begitu melangkah melewati pintu ganda berukir mahoni tersebut, langkah kaki Arsen mendadak terhenti total.
Di tengah ruangan yang luas itu, berdiri dua orang pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam. Di antara mereka, terduduk sebuah kursi kayu dengan seorang wanita yang terikat erat menggunakan tali tambang tebal. Mulut wanita itu disumpal kain hitam, dan rambutnya berantakan.
"Tsania...!" jerit Arsen histeris, hilang sudah seluruh ketenangan dan topeng dingin yang ia bangun bertahun-tahun.
Tsania mendongak dengan mata membengkak merah. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat dari balik sumpalan kain, menyuarakan jeritan tertahan.
"Mmph... mmph...!" Air mata ketakutan dan keputusasaan mengalir deras di pipinya yang pucat.
"Jangan bergerak satu langkah pun, Arsen," sebuah suara berat dan sarat kekuasaan menggelegar dari sudut ruangan.
Bisma Pratama berdiri di dekat jendela raksasa, memegang cangkir porselen berisi kopi hitam hangat. Ia berbalik perlahan, menatap putra tunggalnya dengan senyuman dingin yang teramat mengerikan, senyuman seorang iblis yang telah memegang kendali penuh atas papan catur.
"Papa... apa-apaan ini?!" bentak Arsen dengan urat leher menegang hebat. Manik matanya merah membara oleh amarah yang meledak.
"Lepaskan Tsania sekarang! Jangan sentuh dia dengan tangan kotor Papa!"
Bisma terkekeh renyah, menyesap kopinya dengan sangat tenang sebelum meletakkan cangkir itu di atas meja kaca.
"Kamu pikir kamu sangat cerdas, Arsen?" tutur Bisma santai, melangkah mendekati Tsania yang tubuhnya gemetar hebat di atas kursi. Bisma meletakkan tangan keriputnya di atas bahu Tsania, membuat wanita itu memejamkan mata ketakutan.
"Kamu pikir Papa tidak tahu apa yang kamu lakukan bersama Danu selama satu minggu terakhir ini? Kamu pikir Papa tidak tahu kamu menyusup ke kamar VVIP rumah sakit setiap tengah malam hanya untuk menangis di samping wanita sialan ini?!"
Arsen mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Papa memata-matai aku?!"
"Tentu saja!" gertak Bisma, raut wajahnya mendadak berubah menjadi sangat culas dan penuh intimidasi.
"Aku yang membesarkanmu, Arsen! Aku yang mengajarimu cara bertarung di dunia bisnis! Kamu pikir aku tidak curiga saat kamu mendadak setuju bertunangan dengan Aurelia tanpa perlawanan berarti? Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu menyusupkan dokumen audit rahasia ke souvenir box para tamu untuk malam nanti?!"
Arsen membeku. Seluruh rencana matang yang ia susun bersama Danu ternyata telah bocor di tangan ayahnya sendiri.
Tsania terisak makin kencang di atas kursi. Tangan dan kakinya yang terikat rapat mulai memerah akibat benturan tali saat ia mencoba memberontak.
"Kamu mau menghancurkan nama Pratama Group?" bentak Bisma tepat di depan wajah Arsen, suaranya memenuhi setiap sudut ruangan.
"Kamu mau melempar Papamu sendiri ke dalam penjara hanya demi membela anak dari seorang sopir miskin yang sudah membusuk di dalam tanah ini?!"
"Diam, Papa!" jerit Arsen murka.
"Ayah Tsania meninggal karena orang-orang suruhan Papa! Papa yang memerintahkan mereka menghabisi beliau dan memblokir ambulans saat aku koma di Singapura! Papa adalah iblis!"
PLAK!
Sebuah tamparan keras dari Bisma mendarat telak di pipi kiri Arsen, membuat kepala pria muda itu terlempar ke samping. Namun Arsen tidak mundur sedikit pun. Ia kembali menatap ayahnya dengan kilat kebencian yang makin membara.
"Jaga mulutmu, Arsen!" ancam Bisma seraya menunjuk wajah putranya.
"Darah yang mengalir di tubuhmu itu darah Pratama! Semua kekayaan, jabatan CEO, dan kehormatan yang kamu nikmati hari ini adalah hasil jerat payahku! Dan kamu mau menghancurkannya dalam semalam hanya untuk wanita tidak berguna ini?!"
Bisma kemudian merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah pistol perak kaliber kecil dan mengarahkannya tepat ke pelipis Tsania.
"MMPHHH...!" Tsania menjerit histeris, menutup matanya rapat-rapat saat moncong besi dingin itu menempel di kulit kepalanya.
"PAPA! JANGAN!" teriak Arsen panik luar biasa. Seluruh keberanian dan keangkuhannya runtuh seketika saat melihat nyawa Tsania berada di ujung tanduk. Arsen berlutut di lantai, memegang dadanya yang terasa sesak oleh ketakutan yang tak tertahankan.
"Jangan sentuh dia, Pa... aku mohon... jangan sentuh Tsania..."
Bisma tersenyum puas melihat putra tunggalnya yang angkuh kini berlutut pasrah di hadapannya.
"Dengarkan syaratku baik-baik, Arsen Pratama," bisik Bisma penuh penekanan beracun.
"Malam ini, jam sembilan tepat, kamu akan berdiri di samping Aurelia di atas panggung Grand Ballroom. Kamu akan tersenyum, menyematkan cincin berlian di jarinya, dan mengumumkan pernikahan kalian bulan depan di hadapan seluruh media massa."
Arsen menunduk dalam-dalam, air mata frustrasi menetes membasahi karpet mahal ruang kerja ayahnya. "Lalu... bagaimana dengan Tsania?"
"Wanita ini akan tetap berada di dalam ruangan ini, terikat dan dijaga oleh anak buahku," jawab Bisma dingin.
"Jika kamu melakukan kesalahan sekecil apa pun di atas panggung nanti, jika kamu mencoba membocorkan dokumen itu atau membatalkan pertunangan satu temba-kan akan langsung menembus kepala wanita tercintamu ini sebelum kamu sempat turun dari podium."
Tsania menggelengkan kepala sekuat tenaga dari atas kursi, air matanya membasahi kain penyumpal mulutnya. Dari balik matanya yang basah, ia menatap Arsen dengan tatapan memohon.
'Jangan lakukan, Mas... Jangan korbankan integritasmu demi aku!'
Arsen mengadahkan kepalanya, menatap mata Tsania yang dipenuhi duka dan ketakutan. Hati Arsen bagai diiris-iris oleh ribuan belati. Pria itu menyadari bahwa jebakan ayahnya begitu sempurna. Jika ia memilih membongkar kejahatan malam ini, Tsania akan tewas. Namun jika ia menurut, ia akan kehilangan Tsania dan terjebak dalam neraka pernikahan bersama Aurelia selamanya.
"Bagaimana, Arsen?" tanya Bisma dengan nada mengejek, memainkan pelatuk pistol di kepala Tsania.
"Pilih reputasi keluarga dan keselamatan wanita ini atau hancur bersama di dalam penjara dan kuburan?"
Arsen mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas lantai, menahan guncangan napasnya yang terengah-engah. Di dalam kegelapan situasi yang tak bertepi itu, Arsen menarik napas panjang, mencoba memikirkan celah terakhir untuk menyelamatkan ratunya dari genggaman iblis di hadapannya.
"Baik..." bisik Arsen dengan suara hancur dan parau.
"Aku akan menuruti semua kemauan Papa malam ini. Tapi lepaskan sumpalan mulutnya dan biarkan aku bicara padanya sebentar."
Bisma memberi isyarat mata pada salah satu pengawalnya. Pengawal itu melangkah maju dan merenggut kain hitam dari mulut Tsania dengan kasar.
"Mas Arsen, jangan!" jerit Tsania seketika begitu mulutnya terbebas, suaranya parau dan melengking penuh histeria.
"Jangan turuti kemauan Papamu! Biarkan dia membu-nuhku, Mas! Aku lebih baik ma-ti daripada melihatmu harus menikahi wanita itu dan tertekan selamanya di bawah ancaman Papamu!"
"Nia, diam!" potong Arsen seraya berdiri perlahan, menatap Tsania dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat dalam dan tenang sebuah pendar rahasia yang hanya dipahami oleh mereka berdua.
"Dengarkan aku, Tsania percaya padaku. Mas tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Tunggu Mas malam ini."
👍👍👍👍
selamat mendekam d penjara pak Bisma