JIBRIL IBRAHIM cuma pengamen jalanan...
Terkenal sebagai 'makhluk halu' yang meresahkan.
Artis tanggung yang 'maksa pemes'.
Seandainya orang-orang yang mem-bully-nya tahu kebenaran tentang Jibril Ibrahim...
________________________________________________
PS: Hormati privasi orang lain, karena siapa tahu ia justru menyembunyikan kekuatannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Pukul tujuh pagi, Gabrielle baru betul-betul terlelap dan terbangun pada pukul tiga sore.
Sekujur tubuhnya terasa linu ketika ia baru membuka mata, dan kepalanya berdenyut-denyut.
Gabrielle kembali memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa pusingnya. Tapi tak berhasil. Dengan terpaksa ia kembali membuka matanya dan memeriksa ponsel yang tergeletak di tepi bantalnya untuk melihat jam.
Tapi kemudian ia melihat notifikasi pesan masuk dari: Nizar---demikian ia menamai kontak kekasih barunya sebelum mengetahui nama asli pria itu adalah Senja Terakhir.
"Tomboi, gua demam!" katanya disertai emoticon yang di bagian mukanya disumpal tisu.
Gabrielle mengernyit. Aku mengerti, katanya dalam hati. Aku juga demam, ia menyadari.
"Gue bantu doa ya," balas Gabrielle. Lalu memaksa bangkit tubuhnya yang kemudian langsung sempoyongan.
Ia menjatuhkan dirinya di dekat jendela dalam posisi berlutut kemudian menautkan jari-jari tangannya di depan dada.
"Tuhan, Firman-Mu mengatakan bahwa Engkau menjawab mereka yang berseru kepada-Mu, dan Engkau melepaskan mereka." bisiknya di tengah-tengah doanya. "Saat ini, kami memohon agar Engkau menyembuhkan mereka yang sakit dan terluka. Dan terlepas kesembuhan-Mu datang hari ini atau 10 tahun nanti, kami akan terus memuji-Mu, bahkan di saat kami menunggu jawaban-Mu."
Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamarnya. "Beb?" itu suara Desty.
Gabrielle menghela tubuhnya dari lantai, kemudian merayap pelan ke arah pintu dan membukanya.
Desty mengerutkan dahi mengamatinya. "Ngapa lu?"
"Gue demam," Gabrielle mengaku.
Desty sontak membekap mulutnya. "Wah," katanya dengan mata membulat. "Corona lu!"
Gabrielle tiba-tiba tertegun. Ya, Tuhan, batinnya. Jangan-jangan aku benar-benar terinfeksi. Kalau begitu... Nizar juga!
Gabrielle terhenyak seraya membekap mulutnya.
"Elah, lebay!" Desty menoyor kepalanya meski harus berjingkat untuk menjangkaunya. "Emang ratu iblis masih mempan covid?" sergahnya semakin meninggi.
Aku sama sekali tidak takut jika aku terinfeksi, kata Gabrielle dalam hati. Tapi aku tidak berharap menulari siapa pun jika memang benar aku terinfeksi. Terutama Nizar. Aku bisa kesalahan!
Situasi saat ini membuat semua orang ketakutan hingga saling mencurigai satu sama lain. Kalau sampai Nizar terinfeksi, bisa-bisa keluarganya menyalahkan aku dan akhirnya tidak diizinkan lagi untuk bertemu.
"Lu gak takut ketularan, Beb?" tanya Gabrielle pada Desty. "Kayaknya gue beneran terinfeksi deh!"
Desty memelototinya sekarang. "Elu pan biangnya virus," sergahnya. "Saben ari juga gua bareng elu!" tandasnya seraya menoyor kepala Gabrielle sekali lagi.
Gabrielle merasa kepalanya seperti ditindih lonceng raksasa di gereja-gereja katolik. Punggungnya seperti digelayuti kingkong dalam film fantasi barat.
Aku betul-betul sakit, katanya dalam hati.
"Gue mandi dulu deh, Beb!" katanya pada Desty tanpa menoleh. Ia mengayunkan pintunya setengah menutup kemudian merenggut handuk di belakang pintu itu.
Desty diam saja, hanya mengekori Gabrielle dengan tatapannya, ke mana pun Gabrielle bergerak, bola matanya ikut bergerak.
"Lu ngapa sih, melototin gue?" hardik Gabrielle. "Emang gue pisang?"
Desty menyeringai, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar Gabrielle sementara si pemilik kamar menghambur ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.
Tak sampai lima menit, Gabrielle sudah kembali sementara Desty sudah tengkurap menonton sesuatu di ponsel Gabrielle di atas tempat tidur dengan kedua kaki mencuat ke atas.
"Encang lu neleponin mulu nih, dari tadi," katanya melaporkan tanpa mengangkat wajahnya dari ponsel Gabrielle.
"Dulu," sergah Gabrielle tak sabar. "Gue pake CD dulu, pake b.r.a dulu, ambak-ambakan, a.n.j.i.r!"
Desty diam saja. Hanya memelototinya sambil cengengesan sampai Gabrielle benar-benar selesai berpakaian.
Begitu selesai berpakaian, Gabrielle membungkus rambutnya dengan handuk dan beranjak naik ke tempat tidurnya dan bersila di depan Desty. Lalu mulai sibuk dengan ponselnya.
"Bukan encang gue, Setan!" katanya pada Desty. "Bokin baru gue!"
"Oh, lu sekarang pacaran sama Cang Nizar?" tanya Desty tak mengerti.
Desty sebetulnya tidak kenal Nizar---si kapten divisi, dia hanya tahu dari cerita Gabrielle bahwa pria bernama Nizar dalam kontaknya adalah pria paruh baya asal Mesir.
Tiba-tiba Gabrielle menyadari kedua pria bernama Nizar itu tersimpan dengan nama yang sama dalam daftar kontaknya tanpa nama belakang. Aku harus mengubah salah satunya, pikirnya.
Tak lama panggilan masuk atas nama Nizar mengalihkan perhatiannya.
"Hi," sapa Gabrielle begitu menerima panggilan itu. Mendadak tak yakin Nizar yang mana yang sedang menghubunginya.
"Lu gak demam kan, Sayang?" itu suara Nizar---sang superstar.
"Gue---" Gabrielle mendadak tergagap. Pertanyaan jebakan, batinnya. "Iya, gue demam," ia mengaku. Lalu menghela napas pendek.
"Ini gara-gara gua!" erang Nizar di line telepon.
Perut Gabrielle mendadak kejang membayangkan adegan mesranya dengan pria itu tadi malam.
"Sayang, maafin gua ya. Baru hari pertama udah nularin penyakit," tutur Nizar penuh rasa bersalah.
Gabrielle mengerutkan keningnya tak percaya. Dia juga merasa bersalah, katanya dalam hati. "Bukan salah lu kok... Sayang!" tukas Gabrielle yang langsung terbata-bata begitu menyadari Desty ternyata sedang mencebik mendengarnya berkata sayang.
Bibir tipis Keparat Mungil di depannya komat-kamit setengah mencibir menirukan kata-kata Gabrielle.
Gabrielle terkekeh sembari menoyor siku tangan Desty dengan ujung kakinya. "B.a.b.i," gerutunya pelan.
"Halo?" tegur suara di line teleponnya terdengar tak sabar.
"Maaf, Sayang! Gue... lagi ngomong sama temen barusan. Lu gak usah mikir macem-macem, ini bukan salah lu. Lu mending istirahat aja, minum air putih yang banyak. Besok pasti sembuh!" tutur Gabrielle panjang lebar tanpa dipikirkannya lebih dulu. Ia betul-betul tak bisa konsentrasi karena Desty terus-menerus mengejeknya.
"Ya udah deh, Sayang! Lu juga istirahat ya," ucap Senja akhirnya mengakhiri pembicaraan. "I love you!"
"Te amo," balas Gabrielle.
Begitu Gabrielle menutup panggilan itu, Desty langsung meledak tertawa.
Gabrielle tidak ikut tertawa. Ia mencampakkan ponselnya begitu saja kemudian menjatuhkan dirinya dan meringkuk. "Gue kedinginan," katanya seraya menggigil.
Desty berhenti tertawa, kemudian bangkit dari tempat tidur seraya menatap Gabrielle dengan raut wajah khawatir. Ia bergegas ke arah dispenser. Menuangkan air panas, menyeduh secangkir teh tawar. Lalu kembali ke tempat tidur dan menyodorkan cangkir teh itu kepada Gabrielle. "Minum dulu, Beb!" katanya. "Ntar gua cariin antibiotik dulu deh di kamar gua. Kali aja masih ada sisa-sisa kejayaan," katanya.
Gabrielle memaksakan tubuhnya untuk duduk. Tapi seluruh tulangnya terasa seperti sedang digerogoti monster kecil tak terlihat dari bagian dalam tubuhnya.
Gabrielle menolak untuk minum antibiotik. Dia adalah penganut homeopathy dan menyatakan dia lebih suka memerangi virus itu dengan pertempuran jarak dekat.
Katanya yang perlu dilakukannya hanya minum air banyak-banyak dan secara genetis tubuhnya sudah punya kekebalan untuk mengatasi kuman aneh apa pun.
Desty tidak mengerti apa maksudnya. Tapi ia berusaha mengerti untuk tidak memaksanya minum antibiotik.
"Darah Yesus berkuasa," Gabrielle menggerung di balik selimut tebalnya yang baru saja diselubungkan Desty ke tubuhnya begitu ia kembali meringkuk. "Makasih, Beb," katanya pada Desty setengah menggumam, kemudian memohon pada Desty untuk pergi dari kamarnya dan membiarkannya bertempur dalam kedamaian.
Desty melangkah keluar dan menutup pintu kamarnya dengan hati-hati.
Sementara Gabrielle berusaha untuk tidur.
Kuasa Tuhan bekerja maksimal ketika kita tidur, katanya pada diri sendiri.
Hawa diciptakan ketika Adam tidur, batinnya di antara kesadarannya yang timbul-tenggelam akibat rasa sakit di kepalanya. Darah Yesus berkuasa! Darah Yesus berkuasa! Darah Yesus berkuasa!
Begitu seterusnya ia mengulang-ulang perkataan itu kepada dirinya sendiri. Dan akhirnya jatuh tertidur.
Begitu ia bangun keesokan harinya, wajahnya sudah tampak segar dan demamnya betul-betul hilang.
Giliran Desty sekarang yang diserang demam.
"Tuh, kan? Corona?" komentarnya begitu ia menyelinap masuk ke dalam kamar Desty.
"Si g.o.b.l.o.k," Desty menggerung di bawah selimut tebalnya.
aku baca novel sebelah dulu!
Orang yang menyerangmu hanya kebingungan kenapa banyak orang mencintaimu. Barangkali dia tak pernah mendapatkan cinta sebesar itu.
mantap 👍
Move on, Gabe... Tuhan Yesus memberkati