"Cinta" satu kata yang penuh makna. Terkadang butuh pengorbanan untuk menunjukkan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang yang Semakin Dekat
****
Hujan gerimis turun membasahi tanah yang masih lembab sejak semalam. Udara dingin menusuk hingga ke tulang, tetapi tidak ada yang bisa menandingi kegelisahan yang dirasakan Fahira saat ini. Sejak menemukan liontin di dekat pagar barak, pikirannya terus dipenuhi oleh sosok yang begitu dirindukannya.
Ia yakin Doni ada di dekatnya.
Tapi mengapa ia tidak menampakkan diri?
Kenapa ia hanya meninggalkan jejak kecil seolah-olah ingin menunjukkan keberadaannya, tapi tetap memilih bersembunyi?
Talita duduk di hadapannya di kantin, memerhatikan wajah Fahira yang tampak kosong. "Lo kepikiran Doni lagi?"
Fahira mengangkat wajahnya dan menatap sahabatnya dengan lelah. "Gue nggak bisa berhenti mikirin dia, Ta. Liontin ini... itu bukan kebetulan. Doni pasti ada di sekitar sini. Gue bisa ngerasainnya."
Talita mendesah, menyesap teh hangatnya sebelum berkata, "Lo sadar kan kalau lo terus mencari Doni, lo cuma bakal makin terluka?"
Fahira menunduk. Ia tahu, mungkin Talita benar. Tapi hatinya tidak bisa bohong.
Doni ada di sini.
Dan ia harus menemukannya.
Di tempat lain, Doni berdiri di atas bukit kecil yang menghadap barak. Dari sana, ia bisa melihat setiap gerakan di dalamnya—terutama gerakan Fahira.
Ia tidak pernah benar-benar jauh darinya.
Selama ini, ia selalu mengawasi dari kejauhan, memastikan bahwa tidak ada bahaya yang mengancam. Tapi semakin lama, semakin sulit baginya untuk menahan diri.
Melihat Fahira dengan ekspresi penuh kebingungan dan kerinduan itu menyakitinya lebih dari apapun.
Ia tahu, meninggalkan liontin itu adalah kesalahan. Itu hanya akan membuat Fahira semakin berusaha mencarinya.
Doni mengepalkan tangan.
Ia tidak boleh lemah.
Tugasnya belum selesai.
Ia menekan alat komunikasi di telinganya.
"Laporkan situasi."
Suara dari rekan timnya terdengar jelas di telinga, "Tidak ada pergerakan mencurigakan. Tapi kami menemukan sisa-sisa jejak di sekitar hutan barat. Bisa jadi ada seseorang yang mencoba mengamati barak dari sana."
Doni mengerutkan kening.
Ancaman itu semakin nyata.
Malam itu, Fahira tidak bisa tidur.
Ada sesuatu yang terus mengusik pikirannya.
Perasaan bahwa Doni ada di luar sana, mengawasinya.
Dan akhirnya, ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri.
Ia mengambil jaketnya dan keluar dari barak dengan hati-hati. Langkah kakinya ringan, hampir tidak menimbulkan suara di tanah basah.
Ia berjalan menuju pagar belakang, tempat ia menemukan liontin itu sebelumnya.
Angin malam berembus kencang, membuatnya menggigil. Tapi ia tidak peduli.
Matanya menyapu sekeliling area, mencari sesuatu, atau seseorang.
Lalu, ia melihatnya.
Sebuah bayangan berdiri di kejauhan, di antara pepohonan.
Jantungnya berdegup kencang.
"Doni?" bisiknya pelan, hampir tidak terdengar.
Bayangan itu tidak bergerak.
Fahira memberanikan diri melangkah lebih dekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Namun sebelum ia bisa semakin dekat, bayangan itu menghilang begitu saja.
Fahira tertegun.
Apakah itu benar-benar Doni?
Ataukah hanya bayangannya yang mempermainkan pikirannya?
Seketika, sebuah suara terdengar dari belakangnya.
"Fahira, lo ngapain di sini?"
Fahira tersentak dan berbalik. Gabriel berdiri di sana, dengan wajah penuh tanya.
"Lo ngikutin gue?"
"Harusnya gue yang nanya begitu," balas Gabriel. "Kenapa lo ada di sini sendirian malam-malam?"
Fahira ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, "Gue yakin Doni ada di sini, Gabriel. Gue merasa dia selalu memperhatikan gue, tapi dia nggak mau muncul."
Gabriel terdiam. Ada sesuatu di matanya yang sulit dibaca.
"Kalau dia nggak mau muncul, berarti dia punya alasan," ujarnya akhirnya.
Fahira menatapnya dengan tajam. "Lo tahu sesuatu, kan? Lo tahu di mana Doni?"
Gabriel tidak langsung menjawab.
Lalu, dengan nada pelan, ia berkata, "Kalau lo benar-benar percaya sama Doni, lo harus sabar, Fahira. Jangan paksa sesuatu yang belum saatnya terungkap."
Dan dengan itu, ia berbalik meninggalkannya.
Meninggalkan Fahira dengan pertanyaan yang semakin menumpuk di kepalanya.
Di balik bayang-bayang pepohonan, Doni mengamati dari jauh.
Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Fahira hampir menemukannya tadi.
Dan yang lebih buruk, Gabriel juga mulai curiga.
Doni tahu, waktu semakin menipis.
Cepat atau lambat, kebenaran akan terungkap.
Dan ketika saat itu tiba, ia hanya bisa berharap bahwa Fahira siap menghadapi semuanya.
Fahira masih berdiri di tempatnya, membiarkan angin malam menyapu wajahnya yang terasa hangat karena emosi yang terus berkecamuk dalam dirinya. Ia mengepalkan tangannya, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat dari biasanya.
Gabriel tahu sesuatu, itu jelas.
Tapi mengapa ia tidak mau memberitahunya?
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Fahira menarik napas dalam, mencoba meredam perasaan frustrasi yang semakin menyesakkan dadanya. Ia tidak bisa tinggal diam. Ia harus mencari tahu sendiri.
Namun, sebelum ia sempat bergerak, suara dari radio komunikasi yang disematkan di jaketnya terdengar.
"Fahira, segera kembali ke barak. Keamanan sedang diperketat."
Suara tegas dari salah satu petugas keamanan barak itu membuatnya tersadar. Ia menghela napas panjang dan memutuskan untuk menurut.
Sambil melangkah kembali ke barak, pikirannya tetap dipenuhi oleh berbagai pertanyaan.
Dari kejauhan, Doni masih mengawasi Fahira. Matanya menatap wanita yang masih dicintainya dengan penuh kerinduan. Ia tahu Fahira mulai semakin curiga, dan itu membuat segalanya menjadi lebih sulit.
Doni ingin sekali mendekatinya, menyentuh wajahnya, memberitahunya bahwa ia baik-baik saja. Bahwa ia tidak pernah benar-benar meninggalkan Fahira.
Tapi itu hal yang mustahil.
Doni menghela napas panjang. Ia harus tetap berada dalam bayang-bayang untuk saat ini.
Di telinganya, suara rekan timnya kembali terdengar melalui alat komunikasi.
"Doni, ada pergerakan mencurigakan di sisi timur barak. Bisa jadi mereka sedang mengintai."
Doni langsung fokus.
"Siapkan pengamanan, jangan lakukan serangan terbuka kecuali benar-benar terpaksa."
"Siap."
Doni menyadari sesuatu, mereka tidak bisa tinggal diam terlalu lama. Jika benar ada ancaman yang mengincar barak ini, maka Fahira juga dalam bahaya.
Dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Keesokan harinya, Fahira bangun lebih awal dari biasanya. Ia masih merasa gelisah setelah kejadian semalam, tapi ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain.
Saat ia keluar dari baraknya, ia melihat Gabriel sudah berdiri di luar, menyandarkan tubuhnya ke pagar besi sambil menyeduh kopi di tangannya.
Tatapan mereka bertemu, dan Gabriel mengangguk kecil sebagai sapaan.
Fahira berjalan mendekatinya. "Gue mau lo jujur sama gue."
Gabriel mengangkat alisnya. "Tentang apa?"
Fahira mengepalkan tangan. "Lo tahu sesuatu tentang Doni, kan? Lo tahu dia masih di sini."
Gabriel terdiam sejenak, sebelum akhirnya menghela napas panjang.
"Fahira, gue nggak bisa kasih tahu lebih dari yang seharusnya lo tahu. Percayalah, ini bukan tentang keinginan gue buat nyembunyiin sesuatu dari lo."
Fahira menatapnya tajam. "Kalau gitu, kapan gue bisa tahu kebenarannya?"
Gabriel menatap lurus ke arahnya. "Ketika saatnya tiba."
Fahira mendengus frustrasi. Ia ingin marah, ingin memaksa Gabriel untuk bicara. Tapi dari sorot matanya, ia tahu percuma.
Gabriel tidak akan memberitahunya apa pun.
Untuk saat ini.
Tapi Fahira berjanji dalam hatinya, ia akan menemukan jawabannya sendiri.
####
Di sebuah kedai kopi kecil, Shun dan Nagisa bertemu secara tak terduga. Percakapan ringan, secangkir kopi, dan keheningan yang nyaman perlahan menumbuhkan sesuatu di antara mereka. Namun, tak semua kenangan diciptakan untuk bertahan selamanya…
Ketika masa lalu, rahasia, dan takdir mulai menguji mereka, mampukah kenangan itu tetap hidup?
Sebuah kisah tentang pertemuan, kehilangan, dan arti merelakan.