Menikah bukanlah tujuanku.
Olivia Xavier Surendra , gadis cantik dan periang ini harus menelan pil pahit Pernikahan Paksa Dengan CEO Tampan yang bahkan baru pertamakali ditemuinya.
Pertemuan itu terus menyeretnya kedalam kehidupan CEO yang bahkan tidak memiliki nuansa cerah. Sifat CEO yang sangat tidak bisa di tebak itu , sungguh membuat gadis seperti Olivia menjadi jengkel.
Semenjak pernikahan mereka , Olivia terus saja bertengkar dengan CEO itu. Akankah bukit cinta tumbuh di antara mereka , melalu pertengkaran itu? Terlebih lagi , kuatnya misteri masa lalu yang selalu membuat gadis pemberani seperti Olivia penasaran. Ia bahkan mengorek kembali kehidupan suaminya. Akankah takdir akan membiarkan Olivia mengungkap kebenaran? Ataukah dirinya yang akan hancur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Pagi harinya , Olivia turun sendirian dengan wajah yang sangat tidak enak di pandang. Gadis itu turun paling belakang , semua mata tertuju padanya dan sangat penasaran kenapa Olivia sangat pendiam. ''Sayang , kamu kenapa? Apa ada masalah?'' Tanya Nenek yang sedih melihat cucu menantunya itu bersedih.
''Hmm , tidak apa nek. Hanya saja Olivia sedikit capek aja. Kalian jangan khawatir , aku baik-baik saja.'' Olivia berkata dan tersenyum agar semuanya tidak khawatir. Christian yang ada disampingnya merasa risih karna tidak seperti biasanya kalau Olivia akan sediam ini dan membuat rumahnya sepi. Mereka sarapan tanpa ada yang bicara seperti biasa. Sebelum sarapan benar-benar selesai , Christian sudah berdiri dan menatap Olivia yang masih tidak peduli. Dari kemarin , Olivia hanya diam dan tidak mau berbicara.
''Otak udang!!" Kata Christian yang naik satu oktaf membuat semua mata tertuju pada mereka berdua. Olivia tidak menoleh dan sibuk dengan sarapannya. Charlotte mendekap Tyaga agar tidak mendengar atau melihat kejadian yang akan terjadi. "Otak udang aku bicara dengan mu!!" Kata Christian yang lagi lagi sama sekali tidak di sahuti oleh Olivia. "Christian! Jangan bicara seperti itu pada istrimu , apa itu yang nenek ajarkan?" Kini nenek bicara karna merasa sikap Christian sudah kelewatan. Pria itu masih tidak mau mengalah dan menatap Olivia dengan tatapan kesal.
"Olivia?" Panggil Chalondra yang membuat Olivia menoleh. "Ada apa kak? Apa kalian sudah selesai sarapan?" Tanya Olivia , pria yang ada di sampingnya semakin kesal karna tidak di perhatikan. "Christian dari tadi memanggilmu , apa kamu tidak mendengarnya?" Tanya Chalondra yang merasa kalau mereka berdua sedang bertengkar. Olivia berdiri lalu menoleh ke arah pintu depan. "Benarkah? Dari kemarin suamiku belum pulang , kemana dia? Apa dia sudah naik ke atas? Kenapa aku tidak melihatnya?" Ucap Olivia sambil menoleh sana sini , Christian yang merasa di tak dihiraukan menjadi sedih.
"Aku udah pulang dari kemarin , kenapa gak liat aku?" Rengek Christian , semua orang seperti syok melihat Christian yang sangat berubah. Bahkan dulu saat masih bersama Auristela saja ia tidak seperti ini. "Benarkah? Bukankah kamu masih disana! Tepatnya di mana masih terjebak masa lalu." Sindir Olivia lalu berlalu dari sana. "Olivia.....Jangan diam seperti itu. Olivia!!" Teriak Christian lagi karna Olivia tidak menghiraukan dan malah naik ke atas.
"Gilbert! Ayo kekantor." Ujar Christian lalu pergi mendahului , Gilbert hanya menurut dan ikut dengan Christian. "Nek , coba cubit aku? Aku ingin tau apa ini mimpi aku nyata." Chalondra menyodorkan tangannya lalu nenek dengan senang hati mencubit tangannya. "Auchh! Nenek kenap di cubit beneran? Aku kan cuma becanda , kayaknya kemarin Christian ngelewatin pohon bingin deh." Celetuk Chalondra yang membuat Charlotte menoleh dan bertanya.
"Memangnya kalau melewati , kenapa?" Tanya Charlotte penasaran , ia bahkan sampai melepas dekapan hangatnya dari Tyaga dan berhasil membuat Tyaga bete. "Buktinya aja sekarang dia aneh , pasti ketempelan itu." Seloroh Chalondra dengan serius membuat Charlotte percaya dan menelan ludah nya dengan susah.
Tyaga yang melihat keseriusan di wajah gadis itu membuat Tyaga hanya menggeleng pelan , bagaimana bisa ia langsung percaya begitu saja di jaman sekarang.
Di dalam kamar Olivia sedang merebahkan dirinya di ranjang. ''Wahhh , enak ya bisa ngerjain tuh bocah. Emang dia aja yang bisa suruh-suruh. Oh no , kalau Olivia tidak bisa membalas secara setimpal maka bukan Olivia namanya.'' Katanya pada diri sendiri , Olivia yang bergerak kesana kemari membuatnya tak sengaja melihat secarik kertas di ujung nakas. Olivia mengambil kertas itu lalu membacanya dan ternyata itu kertas penting. ''Sering ngeledek aku ceroboh sedangkan dirinya bahkan lebih ceroboh.'' Ujar gadis itu sambil membuka laci paling bawah sebelah nakas untuk menyimpan berkas itu.
Tak.
Sebuah album foto terjatuh dari dalam laci itu karena di senggol oleh Olivia dan membuat gadis itu penasaran. Siapa wanita di sebelah Christian? Yang ia bisa tebak adalah kedua orang yang sudah terlihat lanjut usia ini pasti orang tua Christian , lalu apa gadis itu adalah kekasih Christian? Olivia terduduk laku memandang album itu. ''Apa ini mertuaku? Menantu macam apa aku yang tidak tau mertuaku sendiri , kalau mereka ada disini pasti akan malu punya menantu yang tidak peka seperti ku. Tapi , kemana mereka?'' Tanyanya pada diri sendiri , didalam album kecil itu hanya ada satu foto itu saja.
''Aku penasaran , aku akan bertanya pada nenek saja.'' Olivia berlari keluar kamar sambil membawa album itu menuju kamar nenek yang ada di bawah. Gadis itu bahkan turun tangga dengan berlari karna rasa penasarannya yang tinggi. Tidak mudah untuk melupakan rasa penasaran yang sudah mendarat di dasar hati. Olivia berlari hingga kini berada di depan kamar sang nenek.
Tok
tok.
''Nenek , Olivia bisa masuk?'' Tanya Olivia dari luar kamar yang pintunya masih tertutup.
''Iya nak , masuklah. Pintunya tidak di kunci.'' Sahut dari dalam kamar.
Ceklek.
Saat pintu terbuka , terlihat seorang nenek yang sedang duduk di tepi kasur dengan obat-obatan yang ada di sebelahnya. Olivia menghampiri sang nenek lalu jongkok di hadapan nenek Grizelle. ''Nenek kenapa? Apa nenek sakit?'' Tanya Olivia lembut , ia melihat wajah nenek Grizelle sama sekali tidak seperti biasanya.
''Kenapa kamu berkeringat nak? Apa kamu berlari kesini?'' Tanya nenek tersenyum lemah. Olivia menatap nenek jengah. ''Nenek jangan mengalihkan pembicaraan , aku sedang bertanya apa nenek sakit? Sejak kapan? Tadi nenek baik-baik saja , apa nenek menyembunyikan sakit nenek?'' Tanya Olivia beruntun membuat wanita paruh baya itu tersenyum. ''Nenek hanya lelah , entah kenapa kondisi nenek selama beberapa hari ini sedikit menurun. Dokter bilang pengaruh umur jadi membuat nenek mudah lelah.'' Sahut sang nenek yang terlihat sedikit pucat.
Tok
tok
Olivia dan nenek menatap seorang perawat datang dengan obat dan air minum di tangannya. Olivia menatap intens perawat itu hingga berdiri di hadapannya. ''Nenek sudah waktunya minum obat , ayo saya bantu.'' Ujar sang perawat sambil menyodorkan obat dan air. Olivia mengambil obat dan air itu lalu menatap perawat itu. ''Biar aku yang berikan ke nenek , kamu bisa keluar.'' Ujar Olivia.
''Tapi , hmm baiklah. Harus diminum ya nek.'' Kata perawat itu lalu pergi dari sana dan menutup pintu. Olivia kini beralih menatap nenek Grizelle. ''Sejak kapan ada perawat nek? Kemarin masih tidak ada. Dan ya , kemarin waktu di pesta nenek baik-baik saja. Kenapa sekarang nenek jadi sakit seperti ini?'' Tanya Olivia mengintrogasi.
''Kemarin malam nenek tiba-tiba pusing , jadi sebelum pulang nenek membuat janji dengan dokter pribadi. Lalu dokter nenek menyarankan untuk membawa salah satu perawat di rumah sakit itu , agar nanti mencegah sesuatu yang tidak diinginkan.'' Jelas nenek sambil mengambil obat dan meminumnya. Lalu meneguk air putih yang tadi di berikannya.
''Bukankah nenek sudah meminum obatnya dari kemarin malam? Kenapa wajah nenek semakin pucat dan malah tambah parah? Apa obatnya tidak berfungsi atau memang aku yang terlalu khawatir?'' Batin Olivia menatap nenek yang lemah.
Olivia berdiri lalu memindahkan obat yang ada di sebelah nenek ke laci. Sedangkan obat yang di berikan oleh perawat tadi berbeda dengan yang ada di kasur. Olivia membantu nenek bersandar di kepala ranjang. Mata Olivia tertuju pada album yang tergeletak di lantai , ia sampai lupa dengan tujuan ia datang kesini. Olivia mengambil album itu lalu duduk di sebelah nenek.
''Nenek , bukankah ini mertua ku nek? Kemana mereka? Aku tidak melihat mereka berdua selama aku disini. Bukankah aku menantu yang buruk karna tidak menanyakan mertuaku sendiri , hahaha.....'' Nenek tersenyum lalu menggenggam tangan Olivia erat.
''Mereka sudah meninggal nak , kamu tidak melihatnya karna mereka sudah pergi ke tempat yang jauh. Kamu adalah menantu yang baik , mereka pasti bangga memiliki menantu seperti mu.'' Olivia seperti tersentak mendengarnya , sungguh ia begitu tidak peduli hingga tidak tau bahwa mertuanya telah meninggal. ''Maaf nenek , jika aku kembali membuka luka lama. Tapi bisa jelaskan mereka seperti apa? Dan bagaimana mereka bisa meninggal?'' Tanya Olivia penasaran , ia sangat ingin tau lebih dalam tentang keluarga ini.
''Mereka berdua adalah pasangan yang serasi , Nama mama mertua mu adalah Freya dan papa mertuamu bernama Kei. Mereka sangat baik kepada orang lain terlebih lagi Freya , wanita itu sangat baik dan naif. Ia selalu bersikap ramah kepada orang lain. Kamu melihat prilaku kasar Christian dulu itu karna Christian sangat kehilangan kedua orang tuanya. Ia menjadi tidak percaya pada orang baru dan memilih membenci mereka. Karna masih dalam kondisi berkabung dan susah menerima bahwa ia telah di tinggalkan jauh.'' Kata nenek Grizelle sambil meneteskan air matanya , ia seperti menatap jauh ke masa lalu. Olivia memeluk sang nenek memberikan kekuatan kepadanya.
''Mereka meninggal karna kecelakaan malam itu , Malam yang begitu dingin dan gelap. Saat malam itu.......''
Bersambung......
...****************...
...Terima kasih sudah membaca 😘...