Saat pertama Kali menikah dengannya, dia begitu menyayangi ku dan memperlakukan ku seperti ratu. Namun dua tahun terakhir sikapnya beruba. Dia selalu mengomentari penampilanku yang menurutnya tidak menggairahkan dan tidak bisa merawat diri. Dia selalu mempersalahkan penampilanku yang setiap hari memakai daster dan jarang dandan kadang bau dapur dan asap.
Bukannya aku tidak bisa berdandan atau tidak mau berdandan, tapi pekerjaan ku mengurus rumah tangga tak henti-hentinya, mana sempat aku berdandan dan mengurusi penampilanku, belum lagi uang yang dia berikan tak pernah mencukupi kebutuhan bagaimana aku bisa merawat diri.
Aku juga harus mengurus keluarga mas Deni yaitu ibu dan adiknya Sinta karena mereka juga tinggal bersamaku dan suamiku, mereka tak pernah menghargai ku. Mereka selalu menganggap ku pembantu. Aku selalu sabar menghadapi mereka, hingga akhirnya mas Deni pulang dengan membawa seorang wanita cantik dan sexy dan ternyata itu adalah selingkuhannya sekaligus calon istri barunya dan akhirnya mas Deni menceraikanku karena dia mendapatkan wanita yang lebih cantik dariku.
"Kamu bisa apa tanpaku?! Aku yakin kamu pasti akan jadi gelandangan hidup tanpaku!" Ucapnya tertawa mengejek. Akan ku balas sakit hatiku pada mereka yang pernah menghinaku akan ku buktikan dan akan membuat mas Deni menyesal karena sudah mencampakkan ku.
Aku bisa tanpamu mas!!! Aku akan membuat kalian semua menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena April, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luby
Saat ini aku sedang menatap rumah mas Tama. Besar dan mewah bahkan lebih besar dari rumah mas Deni. Aku terpaku menatap rumah itu.
"Rin, ayo!" ajak mas Tama.
Aku ragu untuk masuk. Aku gak yakin tinggal di rumah sebagus dan semewah ini. Rumahnya juga besar sedangkan kami hanya berdua.
"Kenapa diam Rin?"
"Mas aku gak bisa tinggal di sini. Aku cari kontrakan aja ya!"
Aku benar-benar merasa tidak enak tinggal di rumah ini selain itu aku juga merasa tidak pantas. Mas Tama menghembuskan nafasnya.
Dia menarik lenganku dan membawanya masuk, aku kaget namun aku sudah tidak bisa mengelak lagi. Halaman rumahnya saja luas, ada taman dan air mancurnya, melihat depannya saja sudah semewah ini.
"Mas!"
Mas Tama menoleh. "Kenapa Rin?"
"Aku gak enak tinggal di sini. Ini kan rumah punya kamu! Aku juga merasa minder!" Jawabku jujur.
Mas Tama malah tergelak, entah sadar apa enggak tiba-tiba dia malah mencubit pipiku. Membuat aku melongo, dia salah tingkah saat menyadarinya, sepertinya tadi dia reflek.
"Maaf Rin. Habis kamu gemesin. Masa tinggal di rumah jelek begini minder!"
Hah.. Jelek? Kalo segini jelek terus rumahku apa? Gubuk reyot?!
Mas Tama mengajakku masuk Lula dan Bian sudah masuk lebih dulu mereka berlarian di ruang tamu yang luas itu. Mereka terlihat senang sekali. Lalu Lula menghampiriku dan menatap ku.
"Bunda kita mau tinggal disini sama kakak sama ayah?" tanyanya.
Aku melongo seperti kambing conge. Kenapa Lula berpikir seperti itu? Mas Tama terkekeh, dia menghampiri Lula lalu berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil putriku.
"Iya sayang adek sama bunda bakal tinggal disini!" jawab mas Tama padahal aku masih ragu untuk tinggal disini. Ku lihat Lula terlihat bahagia dia berteriak girang setelah tau mau tinggal disini.
"Sama ayah? Sama kakak juga kan?" tanyanya lagi.
"Iya, tapi itu nanti ya!" jawab mas Tama.
Aku tersentak. Apa maksudnya? Aku menatap mas Tama, mas Tama menoleh ke arahku dan tersenyum. Dia berlalu mengajak Lula dan tak memperdulikan tatapanku.
"Apa maksud dia? Mencurigakan!"
Aku berjalan masuk sambil melihat sekeliling. Ya ampun aku gak nyangka bakal tinggal di rumah semewah ini. Apa aku sedang mimpi?
Sebenarnya aku sangat tidak enak menempati rumah ini. Kalau aku menempatinya, Bian sama mas Tama tinggal dimana?
"Mas boleh aku bicara sebentar?" tanyaku saat menghampiri dia yang sedang menunjukan isi rumah pada Lula. Bahkan sudah ada asisten rumah tangganya.
Mas Tama mengangguk. "Ya udah adek main sama kakak ya. Ayah mau bicara sama bunda!" ucapnya pada putriku. Lula mengangguk dan Bian langsung mengajak Lula bermain.
"Ada apa? hm.."
Kenapa tiba-tiba aku salah tingkah saat dia menatap ku seperti itu. Aku berusaha menetralkan perasaanku yang aneh.
"Kalo aku tinggal disini. Kamu sama Bian tinggal di mana mas?" tanyaku dengan perasaan yang tidak enak hati.
"Tinggal bareng sama kamu!" ucap mas Tama membuat mataku membulat.
"A-apa?!" tanyaku terkejut, sungguh aku kaget dengan ucapan mas Tama.
"Aku pergi saja mas!"
Saat aku akan melangkah aku malah tersandung dengan kakiku sendiri hingga wajah ini menabrak dada bidang pria tampan di hadapanku.
Aku mengangkat wajah dan menatap wajah tampan pria ini. Jantungku berdetak kencang, nafasku juga terasa berat, wajahku terasa panas.
"Cieee.. Bunda sama ayah pelukan!"
Suara Bian membuyarkan lamunan kami berdua. Aku tak sadar jika mas Tama memegang pinggang ku hingga kami terlihat memang seperti sedang berpelukan.
"Astaghfirullah Al Adzim.." pekikku kaget.
Aku benar-benar tak sadar dalam pelukan mas Tama. Kami berdua jadi kikuk dan juga salah tingkah, apalagi sampai ke gap Bian dan Lula.
Lula terkikik sambil menutup mulutnya. Ya ampun aku malu sekali dengan mereka. Astaghfirullah ya Allah maafkan aku. Aku benar-benar tidak sadar. Ampuni dosaku ya Allah.
Aku langsung menghampiri Lula. "Sayang kita pulang yuk!" ajakku.
Mas Tama terlihat kaget saat mendengar ucapanku. "Gak mau bunda, aku mau disini!" tolak Lula sambil sembunyi di belakang tubuh Bian.
"Rin, maaf aku beneran tidak sengaja memeluk kamu. Maafin aku, aku mohon jangan pergi dari sini. Kamu gak usah khawatir soal aku dan Bian, karena kami tinggal di rumah mama!" ucap mas Tama wajahnya terlihat merasa bersalah.
Aku menunduk, aku masih malu dengan kejadian tadi. Aku benar-benar malu. Ya ampun ini salahku, kenapa mas Tama yang minta maaf?
"Maafin aku Rin!"
"Gak mas ini bukan salah kamu. Tadi cuma kecelakaan, aku yang seharusnya minta maaf. Maafin aku ya mas!" ucapku masih sambil menunduk, terdengar suara hembusan nafas dari mas Tama.
"Aku mohon tetaplah tinggal disini, lihat Lula juga sangat senang tinggal disini!"
Aku beranikan diri menatap mas Tama. Sorot matanya penuh harap, aku pun mengangguk. Dia tersenyum, entah kenapa senyuman manis itu yang membuat aku susah tidur dan membuatku melakukan dosa karena memikirkan laki-laki yang bukan mahramnya. Astaghfirullah Ya Allah ampuni hamba. Jagalah hati hamba agar tidak berzina.
Kami pun makan siang bersama. Selepas makan siang aku dan mas Tama pergi ke restoran, Lula ku tinggal bersama Bian dan bi Tinah di rumah. Benar kata mas Tama Restoran nya sangat dekat dengan rumah itu. Bahkan jalan kaki pun hanya lima menit sudah sampai.
Aku menatap restoran itu, memang masih sepi karena baru buka. Mungkin juga belum ada yang tahu padahal tempatnya sangat strategis. Mas Tama memperkenalkan aku pada karyawannya yang hanya ada enam karyawan dan dua koki.
Aku di perkenalkan sebagai manajer di Restoran ini. Setelah itu aku di ajak ke ruangan yang ada di lantai dua. Aku duduk di depan mas Tama.
"Seperti inilah Rin, keadaannya masih sangat sepi aku berharap dengan bergabungnya kamu disini bisa meramaikan Resto ini. Apa lagi kamu pintar masak kamu bisa kolab dengan koki di sini!" ujar mas Tama. Aku mengangguk paham.
Saat aku lihat di depan tadi, Resto ini masih terlihat terlalu sederhana jadi tidak seperti Resto malah terlihat seperti rumah makan biasa, mungkin itu juga sebab pengunjung ragu untuk singgah. Aku utarakan pada mas Tama, aku juga memberi usul untuk membuat Resto ini lebih modern agar bisa menarik pembeli.
Mas Tama mendengarkan usulku dan dia menyetujuinya dia akan merenovasi Resto itu lebih menarik dan modern.
"Iya Rin, aku terlalu sibuk dengan kerjaan lain. Jadi aku kurang fokus dengan Resto ini. Tapi sekarang ada kamu, aku yakin Resto ini bakal maju!"
"Oh iya mas gimana kalo Resto ini ganti nama juga. Kalo dengan nama Bintang terlalu pasaran mas, kita cari nama yang unik biar bisa menarik pelanggan juga!" usulku lagi.
"Kamu ada usul nama yang bagus, apa?"
Aku terdiam sambil memikirkan nama apa yang bagus juga unik.
"Mas yakin mau bekerjasama dengan ku?" tanyaku membuat mas Tama terlihat heran.
"Kok kamu malah tanya itu Rin? Kalo aku gak yakin gak bakal aku bawa kamu kesini Rin!"
Aku mengangguk. "Sebenarnya aku ada usul untuk nama Resto ini, tapi aku gak yakin. Takutnya kamu tersinggung mas!"
Lagi-lagi ucapanku membuat mas Tama mengernyitkan dahi. Dia terlihat kebingungan.
"Kenapa aku harus tersinggung Rin?"
"Ya karena ini kan usaha milik kamu mas. Aku gak mau nanti kamu berfikir aku mau menguasai Resto ini!"
Mas Tama menatapku lekat. Dia masih bingung dengan ucapanku.
"Please Rin, jangan buat aku penasaran. Emang apa namanya?!"
Terlihat sekali wajah penasaran mas Tama. Aku menggeleng. "Kita cari nama lain aja mas atau gak apa-apa namanya bintang aja. Gak usah diganti!"
Mas Tama menghembuskan nafasnya. Dia menatap tajam kearah ku.
"Rin ini usaha bersama aku dan kamu. Kamu berhak atas apa yang akan kamu lakukan dengan Resto ini. Jadi apapun keputusan kamu aku akan setuju selama itu baik!" ucap mas Tama.
Aku tertegun dengan tatapannya. Tatapan tajam itu tak membuatku takut tapi justru sebaliknya malah membuatku terpesona. Astaghfirullah.. apa lagi yang aku pikirkan? Gusti, kenapa Engkau membuat ciptaan seindah ini. Aku terus beristighfar dalam hati agar tidak berfikir macam-macam.
"Jadi apa namanya Rin?" Mas Tama mendesakku.
Aku menghela nafas. "Tapi kalo mas gak suka, mas boleh ganti atau terserah mas!" Mas Tama mengangguk.
"LUBY. Lula dan Bian!"
Bersambung..
sdh di bilangin tujuan nikahnya untuk apa, maasiiih aja batinnya brtanya2 , knapa orang yg di cintai ya seperti itu?? hadeeeh.. jdi pengen bilang taii Lo luna