Indonesia
NovelToon NovelToon
Perfect Husband

Perfect Husband

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: YoungLady

Rosalina, wanita cantik, anak Mami. Seorang pengangguran sukses berumur 33 tahun yang masih betah dengan kesendiriannya. Dijodohkan dengan seorang pria sederhana bernama Bagaskara, pria berumur 35 tahun yang berprofesi sebagai guru.

Awalnya Rosalina menolak perjodohan tersebut, tapi Dini Ibu dari Rosalina mengancam akan menjodohkan Rosalina dengan pria tua yang pernah datang ke rumah untuk melamarnya. Alhasil, Rosalina menerima perjodohannya dengan Bagas, pria yang telah lama menaruh hati kepadanya.

Rosalina : Aku mau menikah denganmu, tapi tanda tangani surat perjanjian pra nikah ini.

Bagas : Ingin mencoba mengendalikan aku? Lihat saja nanti, aku akan membuat kamu bertekuk lutut dalam cengkraman cintaku.

FOLLOW IG : Fatmawati 1472.

Nb : Jangan lupa like, vote dan komen sebanyak banyaknya. Matur nuwun🙏😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

"Berusahalah untuk bersikap manis padaku saat berada di depan kedua orang tuamu," Bagas mengajukan sebuah permintaan sederhana pada Rosalina sebelum mereka berdua pergi menuju rumah Dini dan Heri.

"Aku akan berusaha sebaik mungkin," Rosalina melempar sebuah senyum yang terlihat begitu sangat terpaksa.

Di sore yang indah itu, Rosalina dan Bagas berboncengan sepeda motor menuju rumah orang tua Rosalina. Sekilas, mereka berdua terlihat mesra karena Rosalina berpegangan pada pinggang Bagas. Bukan karena takut terjatuh, tapi karena banyaknya barang bawaan yang mereka bawa.

Ada kue basah, kue kering, sampai makanan ringan seperti keripik dan kerupuk mereka bawa sebagai oleh oleh untuk orang tua. Kebetulan Dini sangat suka kue, sementara Heri lebih suka makanan kering dan gurih.

Mereka ingin menunjukan perhatian mereka sebagai anak kepada orang tua dengan cara membawa makanan favorit kedua orang tua itu. Harganya memang murah meriah, tapi kalau anak sendiri yang membeli pasti rasanya lain.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam setengah, tibalah Rosalina dan Bagas di tempat tujuan. Kediaman Dini dan Heri yang sepi bak kuburan setelah ditinggal pergi oleh anak semata wayang mereka.

"Ayah, ibu, aku datang..." Teriak Rosalina begitu turun dari sepeda motor.

Mbok Jum berlari keluar rumah, dia langsung melompat kegirangan saat melihat nona mudanya pulang ke rumah. Dua minggu tak bertemu, membuat Mbok Jum dilanda rindu. Rindu pada ocehan dan keras kepalanya seorang Rosalina.

"Non, bagaimana kabarnya?" Mbok Jum menyeka air mata yang membasahi pipi.

"Baik, Mbok sendiri bagaimana?" Tanya Rosalina balik.

"Kabar Mbok juga baik."

"Ayah dan Ibu ada Mbok?" Sambung Bagas.

"Ada didalam, mari masuk." Ajak Mbok Jum.

Rosalina langsung mencari keberadaan kedua orang tuanya di ruang tv, mereka terlihat asyik menonton acara telenovela yang tayang disalah satu stasiun televisi favorit mereka berdua.

"Ayah, Ibu," panggil Rosalina. Dini dan Heri menoleh, mereka terkejut saat melihat putri cantik mereka datang berkunjung tanpa memberi tahu terlebih dahulu.

"Sayang, akhirnya kamu pulang juga," Heri bangkit dari tempat duduk dan memeluk tubuh ramping putrinya.

"Mana Bagas?" Lanjut Heri.

"Aku ada disini Pak," Bagas melambaikan tangan.

"Hai,tampan. Ayo kita naik ke lantai atas, aku sudah lama menunggu kedatangan mu, ingin mengajakmu berduel main catur," ujar Heri.

"Ayo Pak, siapa takut." Bagas tertawa lebar.

Bagas dan Heri naik ke lantai atas, meninggalkan Dini dan Rosalina yang sedang menatap dengan mulut terbuka.

"Bagas mengabaikan Ibu mertuanya begitu saja?" Oceh Dini.

"Ayah juga mengabaikan aku," celoteh Rosalina.

"Semua itu gara gara papan catur, sepertinya aku harus membuang papan catur itu." Gerutu Rosalina kesal.

*

*

*

Lelah karena selalu kalah bermain catur dengan Bagas, Heri memutuskan untuk mengajak pria itu istirahat sambil menikmati secangkir kopi dan berbincang ringan. Lama lama, perbincangan mereka menjadi sedikit berat.

"Apa dia bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik?" Tanya Heri. Tanpa menyebut nama, Bagas sudah tau siapa yang Ayah mertuanya maksud.

"Dia tidak bisa melakukan apapun selain makan, pergi ke kamar mandi dan tidur. Tapi Bapak tenang saja, dia sudah aku ajari cara menggoreng ayam ungkep walaupun dia menjerit seperti korban perampokan saat bertemu dengan minyak panas," tutur Bagas panjang lebar.

"Ha... Ha... Ha... Terimakasih, semoga saja ada perubahan baik dalam hidupnya setelah menikah denganmu. Dia putriku satu satunya, aku percayakan dia padamu jadi, jangan kecewakan aku ya!" Pinta Heri pada menantu kesayangannya.

"Aku janji tidak akan mengecewakan kamu Ayah. Ucap Bagas mantap.

Bagas memperhatikan keriput di wajah Heri, pria yang telah menanggung biaya hidup Bagas dari kecil hingga bisa mandiri. Dalam diam Bagas berjanji pada diri sendiri, akan merawat, menjaga dan memperhatikan pria itu hingga akhir hayatnya.

Bagas sangat menyayangi Heri dan istrinya, seperti dia menyayangi mendiang orang tuanya. Bagas sangat bersyukur karena telah memiliki orang tua asuh yang baik dan tulus seperti mereka berdua.

"Pergilah ke kamar dan beristirahat, besok pagi kita ngobrol lagi,"

"Siap Pak!"

Bagas pergi ke kamar Rosalina, karena merasa memiliki hak paten atas kamar itu Bagas tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk.

Tak disangka, Rosalina tengah mengganti pakaiannya. Tubuh polosnya yang indah terpampang jelas secara nyata di mata Bagas.

Glek...!

Bagas menelan ludah, dia tergoda untuk menatapi setiap inchi kulit mulus dan glowing milik istrinya. Ada yang tegak dan mengeras di bawah sana, dibarengi dengan hasrat kelakiannya yang meninggi.

Ceklek...

Bagas menutup dan mengunci pintu sesaat setelah Rosalina selesai memakai pakaiannya. Bagas bersikap santai seolah tidak terjadi apa apa, meski keringat dingin keluar membasahi pori pori tubuhnya.

"Sudah selesai main caturnya?" Tanya Rosalina.

"Sudah," sahut Bagas pendek.

"Siapa yang menang?" Rosalina penasaran.

"Tentu saja aku,"

"Hebat juga kamu ya, bisa mengalahkan Ayahku," Rosalina setengah tidak menyangka.

"Siapa dulu dong, Bagas." Bagas berucap bangga.

Bagas memperhatikan ruangan tempat Rosalina biasa beristirahat itu. Tempatnya luas, bersih, rapih dan sejuk. Berbeda jauh sekali dengan kamar yang ada di rumah kecil milik Bagas. Pantas saja Rosalina sering terbangun tengah malam, pasti karena kipas di kamar mereka kurang memberikan hawa sejuk.

Rosalina melompat keatas kasur, dia menciumi sprei dan sarung bantal yang melekat di sana. Aroma buah strawbery yang begitu sangat Rosalina rindukan terendus di hidung mancungnya.

"Apa kamu rindu kamar ini?" Bagas berjalan mendekat.

"Tentu saja, ini kamarku," Rosalina sedikit meninggi suara.

Mata nakal Bagas tertuju pada ujung piyama rosalina yang tersingkap.

Dag... Dig... Dug...

Jantung Bagas berdegup kencang, dia tak mampu lagi menahan hasrat untuk menyentuh dan mengelus kulit mulus istrinya.

Plak...

Rosalina menepis tangan Bagas segera sebelum sukses mendarat di pa-ha-nya.

"Jangan macam macam ya!" Rosalina marah.

"Kamu yang menggodaku duluan, salah sendiri memakai pakaian tidur yang seksi dan tipis seperti itu," Bagas membela diri.

Rosalina menarik selimut dan menutupi bagian indah tubuhnya. Seperti biasa, dia menata beberapa bantal guling sebagai pembatas di tengah tengah tempat tidurnya.

"Ingat ya, jangan melebihi batas penjagaan ini," ucap Rosalina.

"Aku tidak bisa janji, namanya juga orang tidur bisa hilang kendali." Bagas meringis.

*

*

*

Ada yang aneh dengan mimpi Rosalina semalam, di bermimpi di gigit seekor gajah berukuran besar. Anehnya, bukannya sakit Rosalina malah m*ndesah ke enakan.

Mentari telah meninggi, Rosalina bangkit dari tempat tidur, dia mengikat rambut panjangnya ke belakang dan bersiap menuju kamar mandi. Saat melintasi kaca rias, Rosalina iseng berkaca untuk melihat muka bantalnya yang menurutnya sangat menggemaskan.

Mata Rosalina turun ke area leher, dia melihat ada banyak tanda merah seperti bekas c*pang disana. Tanda itu bertebaran dari bawah dagu, rahang, sampai belahan gunung kemb@rnya.

Rosalina naik darah, dia kembali ke tempat tidur dan meninju perut suaminya yang sedang tertidur lelap.

"Pria br*ngsek, beraninya kamu mencuri curi kesempatan dalan kesempitan!" Omel Rosalina sambil terus menjambak dan menarik rambut suaminya.

"Ampun sayang, ampun... Aku khilaf," ucap Bagas sambil tertawa.

"Kamu telah berjanji tidak akan menyentuhku, tapi kenapa kamu tidak menepatinya?"

"Aku kan tidak menyentuhmu sayang, aku hanya menggigit mu sedikit saja,"

"Jangan berkilah, itu semua sama saja!"

Pertengkaran keduanya terdengar hingga keluar kamar, membuat Mbok Jum yang sedang sibuk memasak di dapur senyum senyum sendiri.

Bersambung...

1
indigosparkle
Seharian ini mumet dan ternyata author kesayangan aku update :) Aku tak jadi mengeluh
Irin Ka
💪
gaby
Aq baru gabung thor, sepertinya menarik. Smoga konsisten up nya, jgn putus ditengah jalan👍👍
random acts of pastel
Kumenunggu maning cerita ini huhu :(
WillofWashington
Ah, lanjutannya gimana nih? Aku udah kepo pake banget huhu
DazzledSweetie
Hai 🙋 Aku datang lagi nih.. Dengan membawa semangat dan dukungan.. Ayo barengan berkarya dengan hati suka cita,dan jaga kesehatan selalu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!