Tinggal di Panti sejak kecil, membuat ia tumbuh menjadi gadis kuat dan mandiri. Hana Maheswari, gadis desa berparas cantik berusia 19 tahun. Demi keluarganya di Panti, ia rela pergi ke kota untuk mengadu nasib berjualan balon. Tiap hari ia mengayuh sepeda berkeliling kota untuk menjajakan balon-balonnya. Hari-harinya selalu dihiasi senyum dalam kesederhanaan. Ia begitu bahagia menjalani kehidupannya. Hingga kebahagiaannya terusik, setelah ia bertemu Darel Pramudya Osric. Pria tampan berusia 32 tahun yang memiliki sikap arogan. CEO suatu perusahaan properti terbesar di Kota A. Awal pertemuan yang memalukan, membuat Darel mengibarkan bendera perang. Bagaimana reaksi Darel, ketika ia mengetahui kehidupan Hana yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais Twin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ILY GPB
"Ada keperluan apa Anda datang kemari Nona?" Tanya Janu tanpa basa-basi.
"Ah, Asisten Janu, sudah lama kita tidak bertemu, ternyata kamu masih saja seperti dulu." Ucap Elea dengan tersenyum mengejek.
"Tidak perlu basa-basi Nona, Jadi ada keperluan apa Anda datang kemari." Tanya Janu dengan wajah datar.
"Tentu saja, Aku akan menemui kekasihku." Jawab Elea tanpa rasa malu, para karyawan yang masih ada disana pun, terkejut. Banyak pasang mata yang menatap Elea dengan tatapan sinis, mereka yang lebih banyak wanita terlihat tidak suka dengan keberadaan Elea. Elea yang mendapat tatapan sinis dari merekapun tak merasa takut.
"Tapi maaf,Tuan Darel sedang tidak ada di Kantor." Ucap Janu berbohong.
"Benarkah? Apakah kamu bisa di percaya !" Ucap Elea tidak yakin.
"Saya tidak memaksa Anda untuk percaya." Ucap Janu berlalu pergi.
Elea yang melihatnya begitu kesal, Ia memutuskan untuk meninggalkan Kantor.
Sementara di tempat lain, Luna menemui Hana.
"Jadi bagaimana dengan tawaranku? Apakah kamu mau?" Tanya Luna.
"Apakah aku bisa, mengambil jadwal shift malam. Aku masih ingin berjualan balon." Ucap Hana.
"Padahal kamu cukup bekerja full di restoran, itu lebih menguntungkan hasilnya Han." Ucap Luna, ia sengaja menemui Hana untuk menjalankan hukuman dari Darel.
"Kamu benar, tapi aku tidak ingin mengecewakan mereka, anak-anak yang tersenyum bahagia karena balon-balon ku. Karena disamping aku berjualan, aku juga bisa bermain bersama mereka." Ucap Hana tersenyum.
"Jika itu keinginanmu, aku bisa apa?" baiklah, besok kamu bisa mulai bekerja di restoran itu dengan shift malam." Ucap Luna pada akhirnya.
"Benarkah? Secepat itu, apa aku tidak perlu mengajukan lamaran pekerjaan?" Tanya Hana.
"Tidak perlu, kamu langsung saja bekerja. Kebetulan restoran itu memerlukan tenaga kerja baru, dan kebetulan pemilik restoran itu adalah sahabatku." Ucap Luna.
Hana yang mendengarnya pun tersenyum. "Terima kasih, dengan bantuan mu, aku akan lebih cepat dapat mengumpulkan uang untuk adik-adik ku di kampung." Senyuman Hana tak pernah pudar.
ΩΩΩΩ
"Tuan, ini sudah siang waktunya makan siang." Ucap Janu mengingatkan.
"Aku tau." Ucap Darel, terlihat fokus dengan berkas-berkas yang ada di atas mejanya.
"Apakah anda ingin makan sesuatu?" tanya Janu.
"Tidak. Oh ya, bagaimana dengan Elea?" tanya Darel.
"Tenang Tuan, Nona Elea sudah pergi."
Darel mengangguk. "Sekarang kamu pergilah, belikan makanan terenak, selain udang. Kamu cari Hana, berikan makanan tersebut pada Hana." Pinta Darel, membuat Janu diam melongo.
"KAMU DENGAR TIDAK!" Bentak Darel.
"De-Dengar Tuan. Tapi dimana saya harus menemui Nona Hana?"Tanya Janu hati-hati.
"Kamu cari saja, tempat dimana biasa dia berjualan, kalau tidak ketemu kamu cari saja di tempat lain. Aku tidak mau tau, yang jelas makanannya harus sampai di tangan Hana, pastikan ia memakannya dan satu lagi, jangan sampai ia tau jika makanan itu dari Aku." Ucap Darel, menatap Janu. Janu hanya mengangguk paham, kemudian ia cepat-cepat pergi meninggalkan ruangan Darel.
Sementara di Taman, di sebuah Gasebo. Hana terlihat sedang duduk bersama Calvin.
"Kakak hari ini tidak bekerja?" Tanya Hana
"Bekerja, tapi tidak terlalu sibuk, jadi aku bisa menemuimu sebentar. Apa kamu sudah makan?" tanya Calvin.
Hana menggelengkan kepala. " Belum kak."
"Kebetulan aku membawa makanan, mari kita makan bersama." Ajak Calvin.
Dari kejauhan Janu berjalan dengan membawa beberapa kantong makanan. Setelah berkeliling akhirnya ia menemukan Hana.
"Apakah aku menganggu kalian?" Tanya Janu tiba-tiba.
"Kakak !, Kakak juga ada disini?" Tanya Hana
"Kebetulan aku selesai meeting di sekitar sini, aku ingin makan siang di taman, kebetulan aku bertemu kalian disini." Ucap Janu berbohong, Ia tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Wah, kenapa kebetulan sekali." Ucap Hana tersenyum.
"Tumben, Darel tidak ikut bersamamu?" tanya Calvin, setelah mengetahui Janu hanya sendiri.
"Tuan Darel sedang sibuk di kantor. Sudahlah, bolehkah aku ikut bergabung dengan kalian?" tanya Janu.
"Tentu saja Kak, kebetulan kita juga akan makan bersama." Ucap Hana tersenyum.
Kini Janu, Hana dan Calvin makan bersama. Makanan yang Janu beli untuk Hana pun akhirnya mereka makan bersama. Tidak ada pilihan lain.
"Tidak mungkin aku mengusir Calvin dari sini atau melarang Ia memakan makanan yang aku bawa. Ah, yang terpenting Hana memakannya, meskipun makanan ini dimakan bersama-sama, toh Tuan Darel tidak akan tau." Ucap Janu dalam hati.
Setelah selesai makan, mereka mengobrol sejenak.
"Aku dengar, mulai malam ini kamu akan bekerja di restauran?" Tanya Calvin, membuat Hana terkejut.
"Dari mana Kakak tau?" Tanya Hana.
"Luna." Ucap Calvin singkat, sebelum Luna menemui Hana, ia terlebih dulu menemui Calvin. Ia meminta tolong ke Calvin untuk merahasiakan tentang kepemilikan restoran tersebut. Awalnya Calvin tidak setuju, tapi setelah mendengar penjelasan Luna. Akhirnya Calvin pun setuju.
"Ah Aku lupa jika kalian semua bersahabat dengan Luna. Iya kak, kebetulan restoran milik sahabat Luna mencari tenaga kerja baru." Ucap Luna tersenyum.
"Oh ya, ini ada titipan dari Kakek." Ucap Calvin menyerahkan sebuah paper bag.
"Apa ini kak." Hana terlihat bingung.
"Buka saja." Ucap Calvin, Janu pun ikut di buat penasaran.
"Handphone." Ucap Hana setelah membuka paper bag nya.
"Iya, itu untuk kamu. Biar kami mudah menghubungimu." Ucap Calvin.
"Tapi Kak, ini pasti mahal sekali. Aku tidak bisa menerimanya." Ucap Hana memasukkan kembali handphonenya.
"Apa kamu ingin melihat Kakek marah."
Hana menggelengkan kepala. "Tidak Kak."
"Jadi terimalah pemberian Kakek."
"Terima saja Hana, dengan kamu memiliki handphone, setidaknya aku juga tidak akan pusing lagi." Ucap Janu. Karena Darel, ia sering dibuat pusing, terlebih lagi saat ini Darel mulai bucin, alhasil Janu lah yang menjadi sasaran kebucinan Darel.
"Maksudnya Kak." Hana tidak paham.
"Tidak ada, sudah terima saja." Ucap Janu enggan menjelaskan.
"Sekarang kamu pilih, menerima handphone ini atau ingin melihat Kakek marah." Ucap Calvin memberi pilihan.
"Baiklah Kak, aku terima." Ucap Hana pada akhirnya.
"Bagus. Di dalamnya sudah tersimpan nomor ku dan juga kakek." Ujar Calvin.
"Sini, kamu juga harus menyimpan nomor ku, dan begitu juga Aku. Aku harus menyimpan nomor mu." Ucap Janu mengambil handphone Hana.
"Sekalian nomor Luna ya Kak." Pinta Hana, Hana masih belum paham tata cara menggunakan handphone. Maklum, selama ini Ia hidup dalam kesederhanaan, bahkan sering sekali kekurangan.
"Baiklah." Ucap Janu, masih terlihat fokus pada handphone Hana.
Bukan Janu namanya, jika tidak bersikap jahil.
"KESAYANGAN❤️." SAVE. Sebuah nomor telah Janu simpan di handphone Hana, tentu saja semua itu tanpa sepengetahuan Hana.
"Bagaimana Kak, Apakah nomor Luna sudah kakak simpan?" tanya Hana.
"Sudah." Jawab Janu, mengembalikan benda pipih tersebut pada Hana.
mampir ya