Apa yang kamu rasakan jika memiliki banyak orang yang menyayangimu dan mengatur semua yang kamu lakukan?
Isabella Alanis Piranda merasakan semua kasih sayang dan keposesifan keluarga terhadapnya, terutama suaminya--Leon Beldon Arsenic. Semua yang dia lakukan selalu dalam pengawasan Leon.
Leon menerima Isabella apa adanya. Meski wanita manja itu tidak bisa apa-apa dia tidak menuntut. Dia hanya butuh Isabella yang selalu berada di sampingnya. Mendampingi langkahnya dan menjadi bagian dari keluarganya. Namun, kadang kesalahpahaman kerap mengisi rumah tangga mereka.
**Cerita ini hanya cerita pendek yang dikhususkan untuk menghibur kalian, gak bakal panjang-panjang karena ini cerita yang sudah lama di draft aku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmiRas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16.16.
Hanya waktu 25 menit perjalanan dari rumah ke kantor suaminya. Isabella kini sudah berdiri di depan gedung perusahaan Beldon Coorporotion. Tanpa menunggu waktu lebih lama mengamati gedung di depannya, Ibel langsung membawa langkahnya memasuki gedung itu. Dengan senyum ceria di setiap langkahnya dan tangan yang menenteng rantang bekal, wanita hamil itu menebarkan aura kedamaian pada orang-orang di sekitarnya. Memasuki lift, Isabella menekan tombol 20 dimana ruangan Leon berada.
"Kamu sudah kangen Daddy ya, Baby," ujar Ibel sembari mengusap perutnya.
Suara denting lift menandakan jika dia sudah sampai di lantai yang ditujunya. Segera Isabella keluar dari lift dan berjalan menuju pintu jati di mana suaminya berada sekarang.
"Good afternoon, Maam!" sapa Kelly yang Isabella kenal sebagai sekretaris utama suaminya. Perempuan di hadapannya ini lebih tua 5 tahun darinya. Ibel senang dengan keramahan yang selalu Kelly terapkan kepada siapa pun yang ia lihat. Ia juga tidak perlu cemburu karena Kelly sudah bersuami dan bukan wanita yang suka menggoda atasannya.
"Too, Ly. Is my husband there?"
"Sejak satu jam yang lalu, Mr. Beldon tidak keluar dari ruangannya, Maam," jawab Kelly. Isabella mengangguk sebagai tanggapan, lalu langsung masuk ke ruangan suaminya.
Tubuh Ibel mematung melihat pemandangan di hadapannya. Dadanya mencelos, matanya berkaca-kaca melihatnya. Di sana, di kursi kerjanya Leon tertidur dengan posisi duduk. Isabella menutup pintu di belakangnya. Berjalan pelan berusaha untuk tidak menimbulkan suara apapun.
Menghampiri dimana posisi suaminya, Isabella meletakkan rantang yang dibawanya ke atas meja kerja suaminya. Dilihatnya laptop suaminya itu masih menyala, menampilkan grafik kurva yang Ibel tak mengerti. Isabella menunduk, mengecup singkat kening Leon. Rasa haru menyelimuti dadanya melihat betapa gurat lelah tak dapat disembunyikan di wajah suaminya.
Tak ingin mengganggu tidur Leon, Isabella mendudukkan dirinya di kursi yang ada di seberang meja Leon. Tangan kanan Isabella menyanggah kepalanya, memperhatikan suaminya yang tetap nyaman dalam tidurnya meskipun hanya dalam posisi duduk.
"Daddy pasti sangat kelelahan kan, Baby," gumam Ibel mengelus perutnya menggunakan tangan kirinya. Lama Isabella memperhatikan Leon sampai akhirnya suara perut Ibel yang berbunyi bersamaan dengan Leon yang membuka matanya.
Leon tampak kaget di tempatnya melihat Ibel yang ada di ruangannya. Namun, setelahnya dia langsung mengubah raut wajahnya jadi datar, sedangkan Isabella menampilkan senyum polosnya. Leon masih kesal dengan istrinya. Ingat, masih kesal.
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Leon menegakkan dirinya. Pura-pura sibuk dengan laptopnya tanpa menatap Ibel yang masih mempertahankan senyum polosnya.
"Lihat. Aku bawa bekal makan siang. Aku ingin makan siang bareng kamu," ucap Ibel mengangkat rantang yang tadi ditaruhnya di atas meja ke hadapan Leon.
"Aku sudah makan siang tadi," jawab Leon cuek.
"Ih, dasar bohong banget. Tadi Kelly bilang kamu belum keluar sama sekali dari ruangan kamu," ujar Ibel geli.
"Bukannya ditelepon tadi ada yang bilang kalau aku ganggu waktu sarapannya ya!" sindir Leon masih pura-pura cuek.
"Lah, Baby kayaknya ada yang baperan nih. Cemen banget ya gitu aja ngambek," balas Isabella mengajak bicara kandungannya.
Leon mendongak menatap kesal istrinya yang tersenyum geli. Lelaki itu merasa istrinya begitu menyebalkan hari ini. Namun, menilik penampilan sang istri yang sangat cantik hari ini membuat Leon tak tega rasanya jika harus mengabaikan bidadari di hadapannya ini.
Suara keroncong perut Ibel membuat senyum geli wanita itu luntur. Ditatapnya Faisal dengan mata memelas.
"Udahan ya ngambeknya. Baby udah laper banget," ujar Isabella lirih. Memegang perutnya yang sepertinya hampir melilit. Oh tidak, jangan sampai dia harus menunggu lagi, bisa-bisa dia pingsan karena kelaparan.
"Dasar Bego! Lo mau lihat istri lo masuk rumah sakit lagi!" umpat batin Leon.
Tanpa menunggu lama lagi, Leon langsung berjalan menuju sofa yang ada di ruang kerjanya. Diikuti Isabella yang menenteng rantang. Keduanya makan dalam diam, dan Ibel tahu jika suaminya itu masih ngambek dengannya. Sepuluh menit dihabiskan oleh keduanya dalam diam. Setelah membereskan bekas makan mereka, Isabella menyenderkan punggungnya ke sofa. Matanya mengikuti gerakan suaminya yang membuka pintu balkon ruang kerjanya. Leon tampak santai menikmati semilir angin. Salah satu tangannya tenggelam dalam celana bahannya. Jas yang biasanya melekat di tubuh tegap itu kini hanya menyisakan kemeja putihnya yang masih terpasang dasi.
Isabella bangkit dari duduknya, berjalan menuju posisi Leon. Tanpa diduga oleh pria itu, Ibel sudah menyusupkan tangannya di pinggang sang suami, memeluk pria itu erat. Kepalanya menyender di punggung lebar itu.
"Udahan ya ngambeknya. Gak asik banget, By. Aku merasa seperti manusia hina yang menjijikkan saat kamu berpaling tak menatapku," ujar Isabella serak. Tanpa Leon tahu jika wanita yang memelukanya itu sudah menangis tanpa suara, mengigit bibir kuat meredam isakannya.
"Aku merasa egoku sebagai pria terluka karena kamu bicara seperti itu ditelepon. Ya, aku baperan, aku akui itu. Aku hanya merasa...entahlah. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Aku yang baperan atau kamu yang sudah mulai merasa muak denagn ke protektifan aku," ujar Leon tanpa membalik tubuhnya. Masih membiarkan Isabella memeluknya.
"Hiks...aku tidak muak, By. Aku cuma bercanda ngomong kayak gitu. Maaf!" isak Isabella akhirnya. Leon langsung membalik tubuhnya, membawa istrinya itu ke pelukannya.
"Aku gak marah, Dear. Sudah, berhenti nangisnya ya!" bujuk Leon menghapus air mata di pipi Isabella dengan ibu jarinya. Sesekali mengecupi puncak kepala wanita itu.
"Aku gak bakal bisa lama-lama ngambek dengannya kalau senjatanya udah main air mata!" gerutu Leon di hati.
Ya, begitulah tingkah pasangan muda ini. Terkadang yang satu bisa bersikap sangat dewasa, yang satunya lagi juga bisa sangat kekanak-kanakan. Namun, itulah yang membuat mereka saling melengkapi kekurangan masing-masing.
Ibel menghentikan tangisnya. Mendongak menatap Leon. Tangan wanita itu mengalung di leher suaminya. Mengecup bibir suaminya, dan dibalas Leon dengan lumatan. Ciuman itu mengakhiri aksi cekcok ngambek-ngambekan ala mereka.
...To Be Continue.... ...