Sejak awal, Arini tahu posisinya. Dia bukan pilihan pertama.
Dia hanya "rumah singgah" bagi Rayhan yang hatinya masih tertinggal di masa lalu, di pelukan Sahira.
Bertahun-tahun Arini bertahan, berharap Rayhan akan memilihnya.
Sampai suatu hari Sahira kembali, sakit, dan butuh Rayhan lebih dari siapapun.
Di persimpangan itu Arini dihadapkan dua pilihan: bertarung mempertahankan, atau pergi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Mata Ardi melebar sempurna, dia melotot tajam mendengar perkataan Sahira yang sangat enteng itu.
Dia mati-matian mempertahankan hubungan mereka hingga meninggalkan rumah, dibuang Keluarganya dan melepas Arini yang sangat baik untuk bisa bersamanya bahkan kehilangan hak warisnya sebagai anak satu-satunya penerus keluarga dan sekarang dia dibuang seperti itu setelah semua pengorbanannya, dia tidak akan bisa menerima semua itu
"Jangan aneh-aneh kamu Sahira, aku sudah mengorbankan segalanya untuk bisa bersama kamu dan kamu mengatakan hal keterlaluan seperti itu, kamu tidak punya otak?".
Kalimat sarkas dan juga penuh kekesalan itu dia layangkan tanpa sadar, emosinya kini sudah tidak bisa dia bendung.
Sahira yang mendengar hal itu hanya terkekeh sinis menatap Rayhan dengan tatapan merendahkan.
Tadinya dia ingin tetap mempertahankan Rayhan untuk berada disisinya sebagai donatur keuangannya tapi melihat sikap keterlaluan pemuda itu dia malah semakin kesal apalagi balik nama apartemen yang dia belikan itu sudah selesai dan sertifikat apartemen itu sudah atas namanya, sedangkan mobil yang dibelikan oleh Rayhan memang atas namanya jadi dia tidak terlalu membutuhkan Rayhan lagi.
"Aku sudah tidak mau bersama mu lagi, kamu itu hanya lelaki kere sekarang jadi jangan banyak tingkah dan sok". Sungutnya dengan penuh emosi.
"Apa maksudmu Sahira, jangan mentang-mentang aku kehilangan hak warisku kamu mencampakkan aku seperti itu, kamu keterlaluan!!".
"Aku tidak peduli, yang jelas aku sudah tidak mau kembali bersamamu lagi, harusnya kamu membelaku bukan menghinaku seperti tadi".
"Tapi kenyatannya memang seperti itu Sahira, kita dalam masalah seperti ini karena kamu tidak mau mendengarkan perkataan ku sejak awal, kamu yang membuatnya kacau seperti ini".
"Terserah, aku sudah muak dengan semua ini, kamu hanya terus menyudutkan aku, sekarang aku juga hampir kehilangan pekerjaan ku, dan lagian yah apartemen itu sudah atas namaku jadi jika kita berpisah, pisah saja!!".
Dia segera pergi dari sana karena sangat emosi, jangan sampai bos mereka mendapati keduanya masih bertengkar didepan pintu ruangannya tapi langkahnya terhenti karena Rayhan mencengkram tangannya dengan sangat keras
Jantung Rayhan berdebar kencang mendengar perkataan Sahira itu, bagaimana mungkin apartemen yang dia beli hasil keringatnya sendiri bisa menjadi milik Sahira dan bahkan atas namanya, bagaimana cara Sahira membalikkan namanya itu.
Dia segera mencekal tangan itu dengan penuh emosi, dadanya naik turun karena amarah yang mulai meluap.
"Apa yang kau lakukan Dnegan apartemenku Sahira, itu milikku, bagaimana bisa berubah menjadi atas namamu?". Bentaknya dengan tidak terima
Sahira meringis kesakitan dan menatap sinis kearah Rayhan yang kini sangat marah kepadanya. Dia menghempaskan tangan itu Dnegan keras sehingga Rayhan melepaskan tangannya.
"Aku memang sudah membalikkan apartemen itu menjadi milikku Rayhan, kamu sudah menandatangani pengalihan kedua apartemen itu menjadi atas namaku jadi mulai malam ini kamu pergi dari sana jika tidak mau polisi yang menyeret mu". Jawabnya Dnegan angkuh.
Kini topengnya sudha dia lepas sempurna, tidak ada alasan lagi baginya untuk mempertahankan Rayhan, baginya Rayhan sudah tidak memiliki apapun dan tidak berguna untuknya jadi untuk apa dia pertahankan.
Mata Rayhan memanas, perkataan kedua orangtuanya dan juga Arini hanya berselang sehari dan ternyata semuanya benar, Sahira manusia iblis dan hanya memanfaatkan dirinya selama ini dan kini dia mulai menyesali segalanya.
"Aku tidak terima, akan ku tuntut kamu secara hukum karena berani melakukan hal itu Sahira, aku Tidka akan biarkan kamu menguasai semua milikku yang ku beli Dnegan hasil keringatku, tidak akan!!".
Wajahnya betul-betul merah dan menatap tajam Sahira, hilang sudah rasa cintanya yang begitu berkobar itu, digantikan perasaan marah, kecewa dan menyesal.
"Terserah kamu Rayhan, yang jelas keduanya sudah menjadi milikku dan aku akan beri waktu kamu keluar dari sana dengan cara baik-baik jika tidak maka polisi yang akan mengeluarkan kamu secara paksa dari sana".
Tangan Rayhan mengepal erat, hingga kukunya memutih.
Plak..
Suara tamparan keras menggema diruangan itu, Sahira jatuh tersungkur karena mendapatkan nya.
Dia menatap Rayhan dengan mata membelalak tidak percaya, Rayhan baru saja menamparnya Dnegan keras dan kini mendekati dirinya dengan penuh emosi.
"Jangan membuatku marah Sahira, kamu Tidka tahu bagaimana gilanya aku jika sampai kamu melakukan ini padaku, aku tidak akan membuatmu hidup tenang, dan kupastikan kamu menyesali semua yang kamu lakukan padaku hari ini". Jawabnya dengan dingin.
Matanya berkilat murka, dan menatap Sahira seperti akan memakannya hidup-hidup.
Sahira menelan salivanya bulat-bulat, dia bisa melihat amarah yang berkobar dimatanya hingga membuatnya kesulitan bernafas.
Rayhan mencengkram tangan Sahira dengan keras membawanya dengan cepat keluar dari perusahaan, dia akan membuat perempuan ini menyesali segalanya yang dia lakukan padanya .
Dia begitu buta karena tidak mengenali Sahira Dnegan baik sampai dia kehilangan kedua orangtuanya dan juga istri yang begitu baik dan menyayanginya.
Sahira memberontak berusaha melepaskan cekalan erat Rayhan padanya tapi Tidka bisa, dia ingin berteriak tapi takut akan membuat masalah semakin runyam
"Lepaskan aku Ray, ini sakit, jangan keterlaluan!!".
Rayhan tidak mendengarkan apapun, dia menulikan telinganya karena emosi yang menguasainya, dia semakin mencengkram tangan Sahira Dengan keras dan membawa wanita itu ketempat yang seharusnya agar wanita itu mengembalikan miliknya.
"Diam, jika kamu masih ingin hidup!!". Jawabnya Dnegan dingin dan juga tajam.
Melihat dan mendengar kemarahan Rayhan yang begitu kentara membuat nyali Sahira menciut, dia tidak menyangka jika Rayhan marah seperti ini, dia Tidak pernah melihat Rayhan yang sangat marah padanya, selama ini lelaki itu melimpahi dirinya dengan kasih sayang dan penuh cinta.
Sesampainya dimobil, Rayhan menghempaskan Sahira kedalam mobil dan menjalankan mobilnya, dia tidak perduli dengan pekerjaannya, dia akan mengirim pesan pada bosnya agar dia di beri izin karena urusannya mendadak.
"Lepaskan aku Rayhan, kamu Tidak bisa melakukan ini padaku, akan ku laporkan kamu kepolisian jika kamu menyakiti aku". Ancamnya dengan ketakutan.
"Terserah apa katamu, yang jelas sekarang kamu harus mengembalikan milikku, jika tidak maka kita akan mati saja bersama, aku sudah kehilangan segalanya untuk bisa bersamamu tapi kamu menusukku dari belakang seperti ini, aku tidak akan tinggal diam".
Sahira kini menyesali kecerobohannya, andai dia tidak meneruskan ego dan emosinya semua tidak akan berakhir seperti ini, andai dia baru mengatakan hal itu setelah dia pindah dari kantor inti kekantor cabang semua ini tidak akan terjadi.
Kini dia harus menghadapi amarah Rayhan yang begitu membuatnya ketakutan, entah apa yang akan dilakukan lelaki ini padanya, dia harus segera mencari cara untuk bisa lepas dari semua ini sekarang juga.
"kembalikan milikku!!".
semoga bos nya gk pilih kasih walau rayhan Salah ttp hrs di Pecat.
Cerita ini bagus tidak bertele-tele ,tapi sayang upnya lama , hingga lupa alurnya.