Julia, merasa bahagia karna bisa menikah dengan Rangga-pria idamannya selama ini. Tak sia-sia mencintainya dari sejak kecil.
Tapi berbeda dengan Rangga, yang tak sama sekali menaruh perasaan terhadap Julia. Ia terpaksa menyetujui perjodohan karna Ayahnya yang memaksa.
Julia berusaha membuat Rangga jatuh cinta padanya. Tapi saat memasuki kehidupan Rangga, ia bahkan mengetahui banyak rahasia di sana. Keluarga Rangga penuh misteri juga teka-teki.
Akan kah Julia berhasil meluluhkan hati Rangga?
Atau justru ia akhirnya akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutrieRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 PERINGATAN KEMATIAN
"Tidak pernah berpacaran?" Rangga terbatuk-batuk, ia benar-benar langka jika menemukan wanita yang belum pernah berpacaran sebelumnya dan memutuskan untuk menikah.
"Iya aku tidak berpacaran. Tapi sekarang aku punyanya suami," jawabnya tersenyum malu.
Rangga memutar bola matanya jengah.
"Bagaimana aku bisa berpacaran dengan orang lain? Kalau dari dulu di hatiku hanya ada kamu."
"Oh ya, soal perkataan mu waktu itu tentang bunda yang menuduh mu meracuni apa benar bunda mengatakannya seperti itu?"
Rangga memang belum sempat menanyakan tentang hal itu ke Bunda. Ia pun harus memilih waktu yang tepat. Juga dalam suasana hatinya yang tenang.
"Sudahlah lupakan saja." Hatinya berdenyut sakit saat mengingat peristiwa itu. Entah apa yang dipikirkan Bunda kenapa ia menuduhnya seperti itu. Jika beliau tak menyukai Ibu Rashmi, tidak perlu sampai menuduhnya dan melempar kue itu ke lantai.
"Aku minta maaf atas nama bunda. Mungkin ini semua hanya kesalahpahaman," kata Rangga.
Ia melihat ketulusan dari kedua mata Rangga juga rasa sayangnya yang begitu besar pada ibu kandungnya. Sikapnya yang angkuh dan cuek ternyata akan luluh jika menyangkut tentang Bunda.
Julia pun mengatakan tidak apa-apa, ia juga tak menyalahkan Bunda jika beliau berpikiran negatif terhadapnya juga kepada Rashmi.
***
Kediaman Attar pagi ini terasa tenang. Tak banyak pergerakan dari seluruh anggota rumah. Juga pelayan yang tak terlihat mondar-mandir di sekitar ruangan. Pagi ini adalah pagi yang kesekian kalinya dalam hidup Attar. Dia akan meliburkan seluruh karyawan perusahaan juga pelayan di rumah. Hanya beberapa pekerjaan saja yang harus mereka kerjakan.
Attar menyentuh pigura foto yang dicetak besar di ruang kerjanya. Air matanya telah menggenang, tapi ia berusaha menahannya. Rashmi menghampiri suaminya dan memeluknya dari belakang.
Beberapa mobil telah bersiap di halaman rumah. Total ada empat mobil sesuai instruksi dari Attar. Mobil pertama akan ia tumpangi bersama Rashmi. Mobil kedua untuk Karina dan Barra yang semalam pulang ke rumah. Mobil ketiga untuk Rangga dan Julia. Dan mobil keempat untuk April dan Bibi Ratna. Untuk Maya biasanya ia akan memilih satu mobil bersama Rangga.
Semuanya telah bersiap menunggu Attar datang. Tapi tidak dengan April yang saat ini masih di dalam kamar. Itu tak jadi masalah karna biasanya April akan berangkat setelah semuanya telah berangkat duluan.
"Nyonya, bersiaplah. Sebentar lagi kita akan berangkat menuju makam."
April menatap kosong ke sembarang arah. Memori dulu berputar di kepalanya.
FLASBACK ON
"Aku tidak suka menantu yang malas. Yang hanya berdiam diri di rumah," ujar Bellina menatap menantunya yang baru sah menjadi istri Attar itu.
April tersenyum lalu mengatakan, "Saya akan tetap mengurus perusahaan. Dan tidak akan bermalas-malasan di rumah," katanya.
Bellina tersenyum bangga, "Saya ada tawaran bagus untukmu. Jika kamu mau mengambilnya itu akan sangat menguntungkan untukmu, April."
April dengan sangat senang menerima tawaran itu dan melakukan sesuai perintah ibu mertuanya. Tapi Attar tak setuju apa yang diputuskan istrinya tersebut, tapi April tetap kekeh dan mengambil keputusan itu. Hingga perdebatan terjadi, tapi April yang keras kepala lebih memilih mengikuti kemauan ibu mertuanya.
"Jangan khawatir, Rangga akan Ibu urus sebaik mungkin. Kejarlah karirmu, ini adalah kesempatan emas."
April dengan berat hati merelakan Rangga diasuh oleh ibu mertuanya, dan ia pergi ke luar negeri demi mengejar karirnya.
FLASBACK OFF
Semuanya telah berangkat ke makam, hanya April yang masih di rumah.
"Ayo, Nyonya," ujar Bibi Ratna untuk kesekian kali. Setelah bersiap, Bibi Ratna membawa April menuju mobil yang telah disediakan.
Di makam, semuanya menangis. Terkecuali Maya yang masih bersikap tenang, karna ia memang belum pernah melihat Omanya sebelumnya. Saat ia lahir, Omanya sudah meninggal.
Attar yang paling bersedih diantara yang lain, ia sangat menyayangi ibunya. Kehilangan seorang Ibu terasa berat karna seperti kehilangan semangat hidup. Apalagi ibunya lah yang membesarkannya seorang diri. Oma Bellina membesarkannya sendirian tanpa suami di sisinya. Ia mendirikan perusahaan sendiri dan mengelolanya. Ayah dari Attar memilih menikahi perempuan lain dan kini tak tahu keberadaannya dimana. Entah masih hidup atau sudah meninggal, Attar tak tahu.
Julia mengusap punggung suaminya pelan, melihat Rangga menangis dirinya pun ikut menangis. Ini pertama kalinya ia melihat Rangga menangis. Hari ini, Rangga terlihat diam tak banyak bicara. Rangga pamit untuk pulang lebih dulu, karna ia akan terus bersedih jika melihat makam Omanya.
"Memangnya Oma meninggal saat umur kamu berapa?"
"Lima tahun," jawabnya.
"Oh, kamu masih kecil ya."
"Dan setelah Oma meninggal kita pindah rumah," katanya Rangga lagi.
Julia pun mengerti sekarang, saat Rangga pindah rumah ke depan rumahnya kala itu berarti mereka baru saja berduka.
"Bunda ...." Rangga berpapasan dengan April yang akan masuk ke pemakaman. Ia mencium tangannya dan Julia pun mengikuti. "Bunda, Rangga pulang dulu." April pun mengangguk tapi arah matanya tak henti menatap Julia yang berada di samping putranya.
Julia yang sadar bahwa sedari tadi April menatapnya merasa takut. Dia pun bersembunyi dibalik tubuh suaminya.
Hingga mereka pergi pun, April tak henti melepaskan pandangannya.
"Nyonya ada masalah apa dengan nona Julia?" tanya Bibi Ratna yang merasa aneh dengan tatapan April pada Julia.
"Saya tidak suka dengan gadis itu." April mengetiknya pada ponselnya dan diberikan pada Bibi Ratna.
"Loh kenapa, Nyonya? Nona Julia itu gadis yang baik," kata Bibi Ratna membela. Tapi memang benar, Julia itu wanita yang baik. Keluarga Attar sudah mengenal dekat Julia, makanya mereka dijodohkan.
"Dia sepertinya sama dengan Rashmi," ketiknya lagi pada ponselnya.
Bibi Ratna menggeleng dan menyangkalnya. Dia mengatakan bahwa April telah salah paham.
Di depan makam Bellina, masih terdapat Attar dan Rashmi di sana. Membuat April berhenti, ia menunggu kedua orang itu pergi. Rashmi menatapnya dari kejauhan, ia bahkan tak segan menggandeng mesra Attar yang akan meninggalkan makam.
Attar ingin menghampiri April tapi tak diperbolehkan Rashmi. "Masih suasana berduka! Jangan membuatku kesal!" kata Rashmi. Ia menarik suaminya untuk segera pergi dari sana.
"Ini bunga untukmu, Nyonya. Semoga Anda tenang di sana dan berada ditempat yang baik. Jika waktuku telah usai di sini, aku akan menemanimu di sana. Anda orang baik, hanya saja Anda yang tidak menyukai saya dari dulu. Dan saya terlambat menyadarinya," kata April dalam hati.
Ia mengusap air matanya yang menetes. Lalu menggantinya dengan senyum ketulusan.
"Putraku tumbuh menjadi pria yang sangat tampan. Ia telah menikah dan aku sepertinya sama denganmu tidak menyukai menantu dari putraku sendiri."
Hari semakin siang, panas terik matahari sudah tak membuatnya betah. April pun memilih pulang.