"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 25
"Maaf."
Oza langsung berkata demikian ketika mendapat tatapan tajam dari Nayaka. Bahkan Tono pun ikut mengerutkan alisnya mendengar perkataan spontan kepala bagian tersebut.
"Apa kamu pikir, aku adalah orang yang salah memilih?"
Debaran dada Oza semakin bertambah cepat. Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya mendengar perkataan tajam dari Nayaka.
"Maaf, Pak Nayaka."
"Rhea, jelaskan."
Rhea menganggukkan kepalanya. Dia lalu membuka laptop dan membacakan apa yang tadi dibahasnya bersama Nayaka dan Tono.
Secara runut, jelas dan lugas, Rhea menyampaikan analisanya. Semua mendengarkan dengan seksama, termasuk Oza. Pria itu bahkan tidak berkedip menatap wajah Rhea.
Perilaku Oza tersebut ditangkap oleh ekor mata Nayaka.
"Jadi seperti itu, Pak Oza. Semoga Anda mengerti," ucap Rhea setelah menyelesaikan semua penjelasannya.
"Nah udah paham kan, sekarang perbaiki. Rapatkan dengan tim mu, dan segera bawa kemari hari ini juga," imbuh Nayaka.
Oza sesegera mungkin mengalihkan pandangannya ketika Rhea selesai, ia kembali melihat kepada Nayaka. Dengan cepat Oza juga menganggukkan kepala untuk merevisi pekerjaannya.
"Kalau begitu saya permisi, selamat siang Pak."
Oza melenggang pergi, tak ada satu patah kata pun yang diucapkan oleh pria itu atas apa yang Rhea katakan.
Nayaka melirik ke arah Rhea, wanita itu bersikap begitu tenang. Semua gerakan tubuh Rhea tak ada yang menunjukkan kegugupan.
Nayaka kemudian tersenyum tipis, dan hanya beberapa detik. Setelah itu bibirnya kembali datar.
"Sudah tidak ada lagi kan Pak Bos, kami permisi ya," pamit Tono.
Nayaka mengangguk, dia masih menatap lurus ke arah kedua anak buahnya. Ketika Tono dan Rhea sudah melangkah keluar dari ruangan, Nayaka memanggil mereka berdua.
"Ton, Rhe!"
Dua orang itu serempak berhenti melangkah, dan membalikkan tubuh mereka.
"Ada apa Pak?" tanya Tono.
"Kalian berdua pergi lah ke bagian pemasaran, awasi rapat mereka. Dan Rhea, kamu bisa ikut campur di dalamnya."
Rhea dan Tono saling pandang. Mereka masih diam mematung di sana.
"Cepetan sana!"
Ucapan Nayaka membuat Rhea dan Tono bergerak dan bergegas pergi. Dan setelah melihat dua anak buahnya itu pergi, sebuah seringai terbit di bibir CEO LT tersebut.
Di ruang rapat, semua personel dari bagian pemasaran sudah menduduki kursi mereka masing-masing. Sebenarnya mereka terkejut ketika mendapat pemberitahuan rapat dadakan. Terlebih saat ini sudah pukul 11.00 dan sebentar lagi waktunya makan siang.
"Bakalan telat makan siang nih," ucap salah satu dari mereka.
"Iya ih, ngalamat. Kenapa sih ini kok tiba-tiba rapat dadakan," sahut yang lainnya.
Oza yang duduk di depan bisa melihat wajah anak buahnya yang masam. Meski mereka menyembunyikan dengan sebaik mungkin, tap tetap saja Oza bisa merasakan keengganan dari anak buahnya.
Dia mengesampingkan hal itu, saat ini pekerjaan di depan mata harus segera di selesaikan.
"Lebih baik kalian melakukan dengan benar, kalau tidak ingin lembur. Pak Nayaka meminta hasilnya hari ini juga."
Semua terdiam, mata mereka fokus ke laptop masing-masing.
"Sekarang buka bagian yang tadi sudah aku beritahukan kepada kalian, semua itu minta diubah karena tidak sesuai dengan jalur Eropa. Untuk yang Asia tidak perlu."
Oza memulai rapat internal bagiannya. Dia juga memberitahukan untuk berkordinasi dengan bagian keuangan sehingga ada dua orang dari bagian tersebut juga ada di sana.
"Kenapa tiba-tiba diubah gini sih?" bisik Trisna. Dia yang duduk di sebelah Oza tak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Kerjakan saja, jangan banyak tanya biar pekerjaan ini cepat selesai," jawab Oza lirih.
Meskipun mereka suami istri dan terkenal harmonis, namun Oza tetap profesional. Atau mungkin bisa dibilang memang seperti itu lah sikap aslinya dia terhadap Trisna.
tok tok tok
Pintu ruang rapat diketuk. Meski tak ada izin untuk masuk, bukan masalah bagi Tono untuk menerobos rapat yang diadakan oleh bagian apapun. Dan pula, tak ada yang berani menyinggung Tono.
"Saya bersama Mbak Rhea di sini atas perintah Pak Nayaka untuk mengawasi rapat. Tapi kalian tidak perlu merasa terbebani ya, jadi lakukan saja. Hanya saja nanti mungkin Mbak Rhea akan menginterupsi jika memang ada yang belum sesuai."
Degh!
Dua pasang mata langsung mengarah ke pintu, atau lebih tepatnya melihat ke arah Rhea.
Oza dan Trisna, dua orang yang dulu paling dekat dengan Rhea itu kini melihat ke arah Rhea secara bersama. Trisna menegakkan tubuhnya, sedangkan Oza membulatkan matanya.
"Silakan, lanjutkan saja. Jangan pedulikan kami," imbuh Tono. Ia menarik dua kursi, dan meminta Rhea untuk duduk. Keduanya bak seorang pengawas yang tengah mengawasi ujian.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut menjadi semakin fokus. Tubuh mereka menegang dan setiap kali hendak menyampaikan sesuatu pasti menyempatkan melihat ke arah Tono dan Rhea.
Oza bisa menangkap rasa tidak nyaman dari anak buahnya, namun dia sendiri tak bisa meminta dua orang tangan Nayaka itu peri dari sana. Apalagi perintah itu datangnya dari Nayaka langsung.
"Maaf saya menyela sebentar, sepertinya bagian itu masih kurang sesuai. Pasalnya resiko pengiriman barang bukan itu cukup riskan, sehingga kita tidak bisa menawarkan untuk garansi penuh. Benar kan Pak Tono?"
Rhea mengangkat tangannya, lalu mengoreksi apa yang sedang dibahas oleh mereka. Tentu saja itu bukan tindakan kurang ajar, karena dirinya sudah diberi wewenang untuk melakukannya.
"Ya benar, soal garansi menjadi hal yang paling krusial. Jangan sampai ada celah bagi perusahaan kita untuk merugi. Ingat bahwa jalur Eropa lebih panjang, dimana itu berarti resikonya juga besar."
Tono memperkuat pendapat Rhea. Bukan karena Rhea adalah rekan terdekatnya sekarang, tapi memang seperti itu seharusnya.
"Baik kami akan merevisinya untuk hal tersebut," jawab Oza. "Terimakasih," imbuhnya.
Tono mengalihkan wajahnya dari Oza ke Rhea. Ia memiringkan kepalanya sebentar, lalu tersenyum simpul.
Di luar prediksi anak-anak dari bagian pemasaran bahwa rapat mereka telah usai. Tono dan Rhea juga sudah pergi lebih dulu sambil meninggalkan pesan untuk memberi laporannya segera kepada Nayaka.
"Fyuuuh akhirnya ya bisa selesai. Ku pikir bakalan sampai sore kita rapatnya. Ini cuma sampai jam satu euy."
"Iya, semua berkat Bu Rhea ya. Meski baru, tapi beneran kompeten."
Satu per satu dari anak buah Oza meninggalkan ruang rapat sambil memuji Rhea. Dan di ruangan itu hanya tinggal Oza dan Trisna. Wajah Trisna yang sedari tadi muram, kini semakin gelap. Semua pujian yang terlontar untuk Rhea membuat dada nya panas.
"Seneng ya kamu, lihat mantan kamu lagi. Dari tadi ngelihatin sampai nggak kedip," ucap Trisna sengit.
Oza bergeming, dia tengah sibuk dengan laptopnya.
Trisna menggertakkan gigi-giginya.
"Mas!"
"Apaan sih Tris, kamu lihat nggak aku lagi sibuk. Aku harus ngasih laporan ini secepatnya. Dari pada kamu sibuk dengan pikiran mu yang nggak penting itu, lebih baik kerjakan pekerjaanmu," sahut Oza. Dia menghentikan sejenak kegiatannya dan memandang ke arah Trisna.
"Lagi-lagi karena dia kah, karena dia kamu giniin aku."
Suara Trisna yang tadi meninggi kini terdengar lebih pelan. Ia menundukkan wajahnya.
"Sudahlah Tris, jangan bawa nama dia."
"Lantas mengapa Mas, mengapa kamu begin? Kamu nggak pernah jelasin apapun ke aku. Aku lelah Mas, aku capek berusaha sendiri buat rumah tangga kita."
Trisna beranjak dari kursinya. Dia berjalan keluar dari ruang rapat. Berharap bahwa Oza akan memanggil dirinya namun tidak sama sekali.
Trisna hampir menangis, tapi dia tidak mungkin melakukannya di kantor terlebih citra ia dan Oza yang begitu harmonis.
Trisna kembali ke meja kerjanya. Saat hendak duduk, ia melihat ke ruangan suaminya. Sebuah dorongan dalam dirinya membuat Trisna masuk ke sana.
Ruangan yang sudah sering dilihatnya itu nampak sepi karena tak ada si empunya. Trisna duduk di kursi Oza, dia meraba meja itu dan tersenyum kecut saat melihat foto pernikahan yang terpampang di sana. Hembusan nafas kasar juga keluar dari hidungnya.
Mata Trisna beralih dari bingkai foto ke laci, ia menarik pegangan laci tersebut. Matanya membelalak saat melihat apa yang ada di sana.
"Apa karena ini?"
TBC
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭