"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Pertemuan
"Ustadzah Aisyah, antum dicari Ustadz Alam," panggil salah satu ustadzah dari kamarku.
Aku yang sedang sibuk merapikan barang-barang yang masih berserakan, langsung menoleh.
"Hah? Siapa itu Ustadz Alam?" tanyaku.
"Katanya koordinator putra," jawabnya singkat.
"Oh... iya. Aku segera turun."
Aku kembali menatap barang-barang di hadapanku. Mungkin beliau ingin menyampaikan sesuatu tentang raker yang akan dilaksanakan sore nanti. Tidak ada yang istimewa, pikirku.
Setidaknya, saat itu aku belum tahu bahwa pertemuan singkat itu akan menjadi salah satu hal yang terus teringat dalam pikiranku.
Aku segera turun dan berjalan menuju gerbang putri.
Dari kejauhan, kulihat seorang laki-laki duduk di kursi yang memang disediakan untuk tamu laki-laki. Posisi kursi itu tepat di dekat gerbang. Pondok ini memang tidak memperbolehkan tamu laki-laki masuk ke area putri.
Aku melangkah mendekat.
"Ustadz Alam?" tanyaku.
Laki-laki itu yang semula menunduk seperti sedang melamun, mengangkat wajahnya.
"Oh, iya. Dengan Ustadzah Aisyah?" tanyanya.
"Iya, Ustadz."
Entah mengapa, sesaat setelah tatapan kami bertemu, aku justru merasa sedikit canggung. Padahal, tidak ada yang aneh. Kami hanya dua orang yang sedang membicarakan urusan pondok.
Aku segera mengalihkan pandangan.
"Ini, Ustadzah. Daftar santri yang ikut daurah, serta mutaba'ahnya."
Beliau menyerahkan sebuah amplop yang berisi beberapa lembar kertas dan sebuah buku kecil.
"Baik, Ustadz. Jazakumullahu khairan," ucapku sambil menerima amplop itu.
"Wa iyyakum."
Setelah itu, suasana kembali hening.
Aneh.
Aku sempat mengira beliau akan langsung menjelaskan sesuatu tentang raker sore nanti. Namun, beliau hanya diam. Begitu pula aku.
Beberapa detik terasa lebih lama dari seharusnya.
Aku akhirnya memberanikan diri membuka percakapan.
"Untuk raker nanti aku tidak perlu berbicara, kan, Ustadz? Maksudnya... menyampaikan sesuatu mungkin?"
"Sepertinya tidak, Ustadzah."
"Oh... baik."
Aku mengangguk.
Hening lagi.
Sampai kemudian pandangan Ustadz Alam beralih ke sebuah tas berwarna marun yang berada di samping kursinya.
"Iya, Ustadzah..." katanya tiba-tiba.
Aku menatapnya.
"Apakah ini tas milik Ustadzah?"
Beliau mengangkat tas marun itu dan menyodorkannya kepadaku.
Aku terdiam.
Tas itu...
Betul. Itu tasku.
Aku bahkan tidak menyadari kalau tas tersebut tertinggal.
"Oh..." Aku menerima tas itu dengan sedikit malu. "Iya, Ustadz. Ini tas saya."
Beliau hanya tersenyum tipis.
"Sepertinya tadi tertinggal."
"Iya... saya bahkan tidak sadar."
Aku menatap tas itu sebentar.
Entah kenapa, ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul.
Bukan karena tas itu ditemukan.
Tapi karena orang yang menemukannya adalah seseorang yang bahkan baru beberapa menit lalu kukenal.
Aku kembali menatapnya sekilas.
Ustadz Alam sudah kembali duduk seperti semula, seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku pun segera berpamitan dan berbalik menuju kamar.
Namun baru beberapa langkah, entah mengapa aku menoleh lagi.
Ia masih di sana.
Dan tanpa kusadari, pertemuan singkat itu meninggalkan satu pertanyaan kecil dalam benakku.
Kenapa rasanya seperti... ini bukan pertama kalinya takdir mempertemukan kami?
Aku kembali teringat kejadian beberapa jam yang lalu, saat pertama kali tiba di pondok.
Ternyata, sopir Grab yang mengantarku menurunkanku tepat di depan masjid pondok putra. Mungkin karena pondok putra memang lebih dikenal, sementara letak pondok putri tidak begitu mudah ditemukan.
Setelah semua barangku diturunkan, mobil itu pun pergi.
Aku berdiri sendirian di sana, memandangi barang-barangku yang cukup banyak.
Lalu aku mulai bingung.
Aku harus bertanya kepada siapa?
Jalanan di sekitar pondok saat itu cukup sepi. Tidak banyak orang yang terlihat, sementara aku sendiri sama sekali tidak tahu di mana letak pondok putri.
Aku hanya berdiri sambil sesekali melihat ke kanan dan ke kiri, berharap ada seseorang yang bisa kutanya.
Untunglah, tak lama kemudian seorang ustadz datang menghampiriku.
"Ustadzah, mencari siapa?" tanyanya.
Aku pun menjelaskan bahwa aku hendak menuju pondok putri.
Alhamdulillah, beliau menunjukkan jalan dan memberitahuku arah menuju pondok putri. Kalau saja beliau tidak datang saat itu, mungkin aku akan semakin kebingungan.
Aku pun membawa barang-barangku menuju tempat yang ditunjukkan.
Namun, ada satu hal yang baru kusadari sekarang.
Tas marun itu...
Ternyata sejak tadi tertinggal di sana.
Aku bahkan sama sekali tidak menyadarinya.
Dan sekarang, tas itu justru kembali kepadaku melalui Ustadz Alam.
Entah kenapa, semakin kupikirkan, rasanya ada sesuatu yang aneh.
Kalau saja aku tidak turun di tempat yang salah...
Kalau saja jalanan tadi tidak sepi...
Kalau saja ustadz itu tidak datang menunjukkan jalan...
Dan kalau saja tas itu tidak tertinggal...
Mungkin aku tidak akan pernah bertemu Ustadz Alam hari ini.
Aku menggeleng pelan.
"Ah, mungkin hanya kebetulan."
Tapi entah mengapa, untuk pertama kalinya aku merasa bahwa beberapa kejadian dalam hidup memang datang dengan cara yang begitu sederhana...
hingga kita baru menyadari maknanya setelah semuanya terjadi.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏