Menghadirkan cinta yang sempurna dalam hidup adalah impian. Akan tetapi, bagaimana jika cinta itu mulai terbagi antara nyata dan obsesi?
Celli dan Austin adalah gambaran cinta beda usia yang terhalang tembok besar. Karena Celli sudah memiliki keluarga kecilnya.
Hanya saja, kehidupannya yang jalan ditempat membuat Celli keluar dari zona nyaman itu sendiri.
Bagaimanakah kelanjutan kisah mereka?
Apakah mereka akan melanjutkan hubungan terlarang itu?
Atau kah menghentikan cinta mereka. Sebelum menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon warna terindah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mencari penyelesaian
pagi menyapa dengan segala keindahannya,
hiruk pikuk dunia mulai terdengar,
sayup-sayup suara kicauan burung beradu dengan kendaraan yang lalu lalang,
entah mengapa,
tiba-tiba jantung ini berdetak begitu kencang,
risau,
antara kegelisahan dan kelegaan mewarnai hati,
antara mimpi atau nyata,
manusia hanya bisa berencana,
tapi tuhan tau apa yang terbaik untuk umatnya.
Celli
Disaat Celli sedang sarapan bersama anaknya, tiba-tiba ia tersedak.
"mama kenapa?," tanya Rafa yang langsung memberikan minum kepada mamanya.
"tidak tau nak, mungkin saja ada orang diluar sana yang sedang membicarakan mamamu yang cantik ini," ucap Celli sembari menggoda anaknya.
"mama ku memang cantik, siapa yang bilang jelek?,"
"papamu, soalnya dia tidak pernah memuji mama,"
"bukan tak pernah memuji, hanya saja takut mengatakannya, takut mama terbang ke angkasa dan tidak balik lagi,"
"kalau mama ke angkasa, mama akan membawa kamu,"
"benarkah itu ma?,"
"oh tentu, karena kamu adalah kesayangan mama,"
"trus papa gimana?,"
"kita tinggal."
"kok ditinggal?,"
"karena papa udah jahat sama mama," Celli langsung menutup mulutnya dan mengalihkan pembicaraan.
maafin mama nak, mama terbawa arus, tak seharusnya Kamu mengetahui hal ini, gumam Celli dalam hati.
"sayang sudah makannya, kalau sudah bereskan piring kamu dan...."
"aku boleh bermain."
"oh tentu, tapi ingat...."
"baik Mama," Rafa segera membereskan piringnya dan berlalu pergi, tak lupa ia mengecup pipi sang mama.
"hati-hati sayang,"
Rafa tidak menjawab, hanya tersenyum dan melambaikan tangan pada sang mama.
Celli pun mulai melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dengan mudahnya, hingga tak terasa waktu begitu cepat berlalu.
waktunya aku bersantai dan menghubungi brondong ku. Sedang apa dia sekarang, apa masih bekerja?
Celli yang sama sekali belum diberi tahu oleh Austin kalau ia pulang kerumah nenek dan akan dipindah beberapa hari lagi ke Padang, karena Austin memang sengaja akan memberi kejutan kepada sang kekasih hati.
Di dua tempat yang berbeda, tapi melakukan hal yang sama, yaitu saling menghubungi, Celli yang kalah cepat dari Austin hanya tersenyum melihat panggilan yang masuk,
apa ini yang namanya sehati.
Dua sejoli yang dimabuk cinta itu tertawa bersama membagi kisah tentang kesibukan masing-masing, sejenak melupakan apa yang telah melukai hati mereka. tak memperdulikan sekitar, hanya ingin berbahagia walau sesaat, karena mereka tau besok atau lusa belum tentu seperti ini. hanya ingin menikmati hidup dengan apa adanya.
biarlah seperti ini karena bahagia ku saat ini hanya kamu.
ucap mereka didalam hati masing-masing.
"Sayang, aku akan diroling keluar pulau," ucap Austin sengaja menggoda Celli dan ingin membohonginya.
"kemana, katanya kamu akan meminta dipindah kesini?,"
"aku memang memintanya, tapi tak diizinkan kesana, maafkan aku ya sayang,"
"ya sudahlah, mungkin belum waktunya aku bertemu dengan kekasih gelap ku,"
"apa, sekarang sudah berganti lagi, dari brondong itu kekasihku menjadi kekasih gelap ku, terserah kamu sajalah, aku sudah tak peduli dengan panggilan itu, yang aku peduli saat ini hanya kamu, kekasih hati yang pertama mengisi kekosongan jiwaku,"
"aseeeek...., sudah pandai puitis berondong ku sekarang ya?!" ucap Celli menggoda Austin.
"puitis, tidak, aku sama sekali bukan seorang puitis, tapi ungkapan hatiku padamu sayang.
"aku boleh terbang gak, digombalin Ama brondong cuy...." Celli tertawa lepas karena ucapannya sendiri.
Hingga membuat Austin terdiam dibalik panggilan.
akan selalu ku jaga senyuman itu sampai kamu sendiri yang menghilang dari kehidupan ku Cellicia angle, maafkan aku.
"Austin, kamu masih mendengarkan aku kan, hallo."
"tentu aku mendengarkan kamu, tawa itu terlalu indah untuk aku memotongnya dengan pembicaraan."
"benarkah, seandainya kamu berada disini, pasti senyumku takkan pernah pudar, karena kamu sendiri yang menghadirkannya untukku."
"ya.... mau bagaimana lagi, tuhan belum mengizinkan kita untuk bertemu," ucap Austin meyakinkan Celli.
"kalau sudah waktunya pasti akan bertemu, so bersabarlah."
Begitu banyak yang mereka ceritakan hingga azan ashar menghentikan pembicaraan mereka. meminta izin untuk melakukan kewajiban tuhan dan aktivitas lainnya yang akan memakan waktu lama.
*
*
Kembali pada austin yang sejak siang duduk di sebuah gubuk dekat waduk yang tak jauh dari rumah nenek, mengira-ngira apakah ayahnya sudah pulang atau belum, karena dia sudah lelah terus berdebat dengan kepala keluarga itu.
apapun yang terjadi, yang akan aku dengarkan hanya nenek, karena cuma nenek yang mengerti bagaimana aku dulu dan sekarang.
Celli apakah cintaku padamu benar cinta antara laki-laki dan perempuan, atau aku hanya mengagumimu karena aku belum pernah menemukan wanita sepertimu, aku sebenarnya tidak mau menjadi duri dalam rumah tanggamu, tapi aku tidak bisa jauh dari kamu, tidak bisa mendengar tangis itu, maafkan aku Celli, maafkan aku....
Austin berjalan pulang menuju rumah nenek, setibanya dirumah ia kembali menemui nenek, membicarakan yang belum usai tadi pagi.
Mereka begitu serius dalam pembicaraan itu hingga menemukan titik dari permasalahan Austin. nenek menyarankan untuk Austin tidak terlalu dalam mencintai Celli, karena bagaimanapun Celli tetaplah seorang istri yang harus menjaga keutuhan rumah tangganya, tinggal bagaimana Austin yang mendewasakan diri untuk berfikir mana yang baik dan buruknya.