Indonesia
NovelToon NovelToon
Oh, My Doctor!

Oh, My Doctor!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Pelakor / Cinta pada Pandangan Pertama / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:66.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kunay

Pertemuan Meriana Lindsey dengan seorang pria bernama Juan Parker membuatnya harus kehilangan pekerjaan sebagai seorang dokter, karena pria itu menuduhnya sebagai pembunuh temannya yang hendak diselamatkan oleh Meriana.

Tidak cukup sampai di situ, Juan juga memblokir semua akses Meriana supaya tidak diterima di rumah sakit mana pun.

Tiga tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali dengan kondisi Meriana yang cukup menyedihkan. Gadis itu hanya bisa bekerja sebagai paramedis di rumah sakit terpencil, di sebuah pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk ibu kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Gagal

Juan masih berdiri di ambang pintu, matanya menyipit, menerka sosok Meriana yang baru saja meninggalkan ruangan. Anthony, yang sedang berbicara dengan asistennya, Nessie, segera memalingkan wajah ke arah Juan.

“Ada apa, Erick? Ke mana saja kau selama ini?” tanya Anthony.

Juan melangkah ke hadapan ayahnya, mengabaikan pertanyaan itu. “Dad, di mana dia?” tanyanya dengan ekspresi tegang dan napas terengah-engah.

“Dia? Dia siapa? Kalau yang kau maksud adalah Nessie, dia ada di hadapanmu sekarang.” Anthony menunjuk asistennya.

“Sara! Aku tahu dia datang ke rumah ini. Katakan di mana? Dad tahu persis kalau selama ini aku mencarinya. Biarkan aku menebus rasa bersalahku.”

Anthony menyandarkan punggungnya di kursi. “Kau ini bicara apa? Bagaimana Sara datang ke sini?”

“Dad!” Juan terlihat frustrasi. Ini bukan pertama kalinya ia gagal mengejar Sara. Terakhir, saat ulang tahun Anthony, Juan gagal bertemu dengannya. Kini, informasi dari ibunya pun terasa nihil.

“Erick—”

Juan terus memikirkan ucapan ibunya. Tidak mungkin Ibunya berbohong. Ibunya pasti mengerti betapa kerasnya ia mencari Sara selama ini.

Juan langsung berbalik dan melangkah cepat. Ia ingat, ia masuk melalui pintu samping. Sara pasti meninggalkan rumah melalui pintu depan. Mereka pasti berpapasan.

Sial! Harusnya aku masuk dari pintu depan!

“Tuan Erick!” panggil Leon yang berdiri di belakangnya.

Juan mengabaikan panggilan itu, mengabaikan rasa sakit di kakinya yang kembali menyengat. Ia harus bergegas. Jangan sampai ia terlambat untuk kesekian kalinya.

Begitu Juan sampai di depan pintu utama, ia keluar dan mengedarkan pandangan. Halaman rumah sangat luas, tidak mungkin Sara berjalan secepat itu. Ia berniat menghubungi penjaga gerbang.

Namun, pendengarannya menangkap suara motor dari arah samping kiri menuju ke gerbang keluarga.

Juan melihat motor itu, menyadari sesuatu. Ia berlari. “Sara!” panggilnya dengan suara keras. “Sara, tunggu!” teriaknya lagi, tetapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya karena kakinya terasa semakin sakit dan mulai kebas. “Aaaa!”

Motor yang dikendarai Meriana sudah melaju keluar dari gerbang utama, dengan kecepatan tinggi.

Sht!

Kenapa harus dalam keadaan seperti ini Sara datang ke rumah itu? Andai saja kakinya baik-baik saja, Juan pasti bisa mengejarnya dengan motor lain di garasi.

“Tuan Erick!” Akhirnya Leon berhasil menyusul Juan yang berdiri terpincang-pincang. “Anda baik-baik saja?”

Juan segera menegakkan tubuhnya, wajahnya dipenuhi keringat.

“Paman, benar, kan, kalau orang yang baru saja meninggalkan rumah ini adalah Sara? Orang yang mengendarai motor?”

“Tuan—”

“Jawab saja, Paman!”

Leon membungkam dan menundukkan kepalanya, sebagai permohonan maaf.

Melihat hal itu, Juan yakin itu Sara. Ia meraup wajahnya dengan kasar dan mengacak rambutnya. “Aaaaa! Sial! Kenapa aku harus selalu terlambat!”

Juan berteriak frustrasi. Bertahun-tahun ia mencari Sara tanpa hasil. Ia menyesal dulu, saat tahu ibu Sara meninggal, ia datang ke rumah sakit untuk mengajak gadis kecil itu pulang. Tetapi Sara sudah pergi bersama seorang pria. Juan takut Sara diculik.

“Tuan, sepertinya kaki Anda terluka? Lebih baik segera diobati.” Leon melihat kaki Juan membengkak dan kebiruan. “Apakah sesuatu terjadi saat Anda menuju kemari?” tanyanya khawatir.

Juan yang sedang melampiaskan amarahnya menatap Leon. “Aku baik-baik saja,” katanya tajam. “Baiklah jika Paman tidak ingin memberitahuku mengenai keberadaan Sara. Aku pasti bisa menemukannya sendiri.”

Setelah berkata demikian, Juan meninggalkan Leon, menuju mobil yang terparkir di sisi kanan pintu masuk samping. Orang suruhan sahabatnya masih menunggu. Juan kembali pergi, tanpa menemui ibunya.

Di lantai tiga, Anthony baru masuk ke kamarnya dan langsung dihampiri Diana. “Sayang, apa kau bertemu dengan Erick?”

Anthony mengerutkan kening. “Bagaimana kau tahu kalau Erick datang? Bukankah aku sudah menyuruhmu tetap di kamar ini sampai aku kembali?” Anthony menatapnya dingin.

Diana menjadi gugup. “Aku sejak tadi berada di kamar. Hanya saja… tadi Erick menelepon akan datang, tapi dia belum juga menemuiku.”

Anthony melangkah ke sofa. “Mungkin dia sudah pergi,” katanya acuh tak acuh, lalu mengambil buku dan mulai membaca.

Diana mengerti, suaminya tidak ingin diganggu. “Aku akan turun untuk menyiapkan makan malam.” Diana harus segera menemui anaknya untuk memastikan sesuatu. Anthony tidak menjawab.

Setelah meninggalkan rumah ayahnya, Meriana mengendarai motornya menuju ke suatu tempat. Ia memarkir motornya tidak jauh dari sebuah tebing dengan hamparan laut di depannya. Meriana berjalan menuju ujung tebing dan berdiri di sana.

“Aaaaaa!” teriak Meriana sekuat tenaga. Ia mengulang teriakannya beberapa kali hingga napasnya tersengal. Setelah itu, Meriana ambruk, terduduk, dengan tangisan yang pecah.

Ucapan ayahnya hari ini telah menghancurkan seluruh hatinya. Pria yang menjadi cinta pertamanya, yang selalu membanjirinya dengan kasih sayang, kini tidak peduli sama sekali. Ibunya yang sudah banyak berkorban bahkan tidak dianggap.

Ayahnya membawa wanita selingkuhannya ke rumah. Seharusnya ia memikirkan perasaan ibunya, tetapi bajingan itu malah mengusir mereka karena ibunya menolak menerima keberadaan pelacur itu.

Lelah menangis, Meriana bangkit menuju motor Ben. Ia pergi meninggalkan tebing itu, menuju ke tempat lain. Ia tidak ingin adiknya, apalagi Juan, melihatnya menangis dan melihat kerapuhannya.

Meriana menghentikan motornya di sebuah rumah dua lantai. Ia melangkah ke pintu masuk dan menekan bel tanpa ragu, meski sudah larut malam.

Lima menit berselang, terdengar gerutuan seorang wanita. “Siapa yang bertamu tengah malam seperti ini?”

Begitu pintu terbuka, Meriana tersenyum amat dipaksakan, air matanya kembali mengalir deras.

“Meriana?” tanya wanita berusia 40 tahunan itu. “Kamu kenapa, Sayang?”

“Bibi…” Meriana menghambur ke pelukan wanita itu dan menangis dengan sangat keras, melepaskan semua gumpalan di dadanya.

“Natasha, siapa yang datang—”

Seorang pria muncul dari belakang, rambutnya berantakan, wajahnya terlihat baru bangun tidur. Ia langsung menghentikan ucapannya saat melihat Meriana memeluk istrinya.

Natasha, ibu kandung Dareen, memberikan isyarat pada suaminya untuk diam dan semakin mengeratkan pelukan pada Meriana. Ia tahu betul Meriana menangisi kondisi ibunya yang sudah meninggal, dan semua beban yang dipikulnya.

Meriana selalu menutupinya dengan senyum dan kerja keras.

Meriana bahkan menolak bantuan dari Natasha dan suaminya, Kendrick. Padahal, Kendrick sudah menawarkan rumah jika Meriana tidak ingin tinggal bersama mereka karena Dareen selalu mengekori Meriana.

Mereka tidak ingin merepotkan Meriana, tetapi Meriana menolak, dan Dareen menolak berhenti mengikuti kakaknya. Akhirnya, mereka hanya bisa membantu secara sembunyi-sembunyi melalui Dareen.

“Bibi, aku ingin sekali membunuhnya! Aku ingin menghabisi mereka yang sudah menghancurkan seluruh hidup Mommy!” Suara serak Meriana terdengar pilu.

Natasha hanya memeluk, membiarkan Meriana menumpahkan semua beban di hatinya.

Di rumah sewa Meriana, Juan baru saja kembali. Ia sedikit ragu membuka pintu, meskipun memiliki kunci cadangan. Ia bingung harus menjawab apa jika Meriana dan Dareen bertanya.

Namun, keningnya berkerut saat lampu di dalam rumah dan teras masih gelap. “Apa mereka belum pulang?” gumam Juan. “Apa Riana masih di rumah sakit karena masalah tadi siang?”

Juan meyakini hal itu. Sedangkan Dareen, mungkin saja ia sedang di rumah temannya atau orang tuanya.

Juan membuka pintu dan rumah itu benar-benar kosong. Ia penasaran keberadaan Meriana, tetapi juga sedikit lega karena tidak perlu menjelaskan dari mana saja dirinya sampai tengah malam.

Juan melangkah menuju kursi kayu tempat tidurnya. Kakinya terasa semakin sakit. Ia memilih merebahkan tubuhnya, berharap kondisinya membaik dengan tidur.

1
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰🥰
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan ..... emang bner .... dan itu menyakitkan ..
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰z
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰z
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰🥰
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
,,,,,
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
,,,,
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰z
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!