Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Mas Razka

Pengantin Pengganti Mas Razka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:25.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Dwi Febriana

Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.

"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."

Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Kembali Pulang

Beberapa menit berlalu hingga suasana di dalam mobil perlahan kembali tenang. Tangisan yang sebelumnya memenuhi mobil kini telah mereda. Amora dan Jelita sama-sama menarik napas panjang, berusaha mengembalikan emosi yang sempat tak terkendali.

Amora mengambil beberapa lembar tisu dari laci dashboard, lalu menyerahkannya kepada sang kakak.

"Nih, Kak."

"Terima kasih."

Jelita menerima tisu itu sambil mengusap sisa air mata di pipinya. Meski matanya masih tampak sembap, raut wajahnya tidak lagi setegang beberapa menit yang lalu.

Amora menunggu sejenak sebelum akhirnya kembali membuka percakapan.

"Selama ini Kakak tinggal di mana?"

Jelita menatap lurus ke arah kaca depan mobil.

"Aku nyewa kamar kos," jawabnya pelan. "Lokasinya beberapa menit dari sini."

Amora mengangguk pelan. Ia sama sekali tidak menyangka kakaknya berada di tempat tinggal yang begitu dekat dengan apartemen tempat ia kini tinggal bersama Atharazka.

Tidak lama kemudian, sebuah pertanyaan lain muncul di benaknya.

"Mas Dani tahu Kakak tinggal di sana?"

Jelita tidak terlihat terkejut mendengar nama sang kekasih disebut. Ia hanya menganggukkan kepala pelan.

"Iya. Dani satu-satunya orang yang tahu."

Amora tersenyum tipis.

"Aku udah curiga dari awal."

Jelita menoleh.

"Kok bisa?"

"Karena sikap Mas Dani beda."

"Dalam hal apa?"

"Sejak Kakak menghilang, dia enggak pernah sekalipun ikut nanya perkembangan pencarian Kakak. Padahal biasanya dia paling perhatian sama kakak. Kalau benar-benar enggak tahu, pasti dia bakal sering menghubungi Ayah atau Mama."

Amora berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Tapi dia justru kelihatan tenang. Dari situ aku mulai yakin kalau sebenarnya dia tahu Kakak ada di mana."

Mendengar penjelasan itu, Jelita tersenyum kecil.

"Kamu ternyata jeli juga."

Amora hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. Suasana di antara mereka kini jauh lebih santai. Untuk pertama kalinya sejak bertemu, keduanya bisa berbincang tanpa diselingi tangisan.

Jelita kemudian menceritakan bahwa ia sebenarnya hanya keluar sebentar untuk membeli makan malam. Ia sama sekali tidak menduga akan bertemu Amora di supermarket tersebut.

"Kakak kira enggak bakal ada orang yang kenal dengan berpenampilan kaya gini,," katanya lirih.

"Kalau adik sendiri mana mungkin enggak kenal."

Ucapan Amora membuat Jelita tertawa pelan meski masih terdengar hambar. Tidak ingin membuang kesempatan yang ada, Amora kembali membujuk kakaknya.

"Kak... pulang, ya."

Senyum di wajah Jelita perlahan memudar.

"Aku belum siap ketemu Ayah sama Mama."

"Kenapa?"

"Aku malu."

Jawaban itu keluar hampir tanpa suara.

"Aku sudah mengecewakan mereka."

Amora menggeleng pelan.

"Mereka mungkin kecewa sama keputusan Kakak, tapi mereka jauh lebih sedih karena Kakak menghilang tanpa kabar."

Ia menggenggam tangan Jelita dengan lembut.

"Selama dua hari ini mereka terus menunggu. Ayah bahkan berkali-kali keluar rumah cuma buat berharap ada kabar dari Kakak."

Jelita menundukkan kepala.

"Kakak takut dimarahi."

Amora tersenyum tipis.

"Kalau dimarahi sedikit sih mungkin iya."

Jelita langsung menatap adiknya.

"Tapi setelah itu semuanya pasti baik-baik saja. Yang penting Kakak pulang."

Amora sengaja tidak menceritakan bagaimana sebenarnya situasi setelah pernikahan mendadak itu terjadi. Ia tidak ingin menambah rasa bersalah yang sudah begitu besar di hati kakaknya.

"Percaya sama aku," lanjut Amora pelan. "Ayah dan Mama enggak mungkin marah terlalu keras sama kakak. Mereka sayang banget sama kakak." Kalimat itu membuat Jelita terdiam cukup lama.

Beberapa saat kemudian, ia menganggukkan kepala pelan.

"Iya, kakak pulang."

Jawaban singkat itu langsung membuat wajah Amora berbinar.

"Serius?"

"Iya."

Senyum lebar seketika terukir di wajah Amora. Rencana membeli bahan makanan malam itu langsung terlupakan. Yang terpenting baginya sekarang hanyalah membawa kakaknya kembali ke rumah keluarga Atmojo.

Amora segera menyalakan mesin mobil. Begitu kendaraan mulai bergerak meninggalkan area parkir supermarket, ia melirik sekilas ke arah Jelita yang kini tampak jauh lebih tenang.

Perjalanan malam itu terasa berbeda. Bukan sekadar perjalanan pulang menuju kediaman keluarga Atmojo, tetapi juga langkah pertama bagi Jelita untuk menghadapi semua kesalahan yang selama ini ia hindari, ditemani sang adik yang sudah ia kecewakan tapi tetap selalu ada untuknya.

Sekitar 30 menit kemudian, mobil yang dikemudikan Amora akhirnya memasuki halaman kediaman keluarga Atmojo. Lampu taman yang menyala menerangi jalan masuk menuju garasi, sementara suasana malam di sekitar rumah tampak begitu tenang.

Amora memperlambat laju mobilnya sebelum menghentikannya di area parkir yang berada tepat di depan teras utama. Mesin dimatikan, tetapi tak satu pun dari mereka langsung beranjak turun.

Di kursi sebelah, Jelita masih terdiam. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan, sementara pandangannya terus tertuju ke bawah. Wajahnya menyiratkan kegelisahan yang belum juga hilang.

Amora menoleh ke arah kakaknya dengan senyum lembut.

"Kak..."

Jelita mengangkat wajah perlahan.

"Kita udah sampai."

Kalimat sederhana itu membuat Jelita menarik napas panjang. Ia mencoba mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya menganggukkan kepala pelan.

"Ayo," ujar Amora menenangkan. "Semuanya pasti baik-baik aja."

Jelita membalas dengan senyum tipis yang terlihat dipaksakan. Beberapa detik kemudian, keduanya membuka pintu mobil dan turun bersamaan.

Angin malam berembus pelan, membawa aroma bunga melati dari taman depan rumah. Belum sempat mereka melangkah menuju teras, pintu utama lebih dulu terbuka dari dalam.

Danendra Atmojo bersama Fina Atmojo sudah berdiri di sana.

Rupanya suara mobil yang memasuki halaman membuat keduanya segera keluar untuk memastikan siapa yang datang.

Sesaat, waktu seolah berhenti. Tidak ada satu pun yang berbicara. Tatapan Danendra langsung tertuju kepada putri sulungnya yang berdiri beberapa langkah dari teras. Sementara Fina menatap Jelita dengan mata yang perlahan dipenuhi air mata.

Jelita sendiri hanya mampu menundukkan kepala. Rasa bersalah membuatnya tak sanggup menatap kedua orang tuanya lebih lama.

Tanpa menunggu lebih lama, Fina bergegas menghampiri putrinya. Begitu jarak mereka cukup dekat, perempuan itu langsung memeluk Jelita erat.

"Ya Allah... akhirnya kamu pulang juga, Nak."

Suara Fina terdengar bergetar menahan haru.

"Mama takut terjadi apa-apa sama kamu."

Pelukan itu begitu hangat hingga membuat benteng pertahanan Jelita runtuh seketika.

Air matanya kembali mengalir.

"Maaf, Ma..." bisiknya lirih. "Maafin Jelita."

Fina mengusap pelan punggung putrinya.

"Yang penting kamu pulang dalam keadaan selamat."

Sementara itu, Danendra masih berdiri beberapa langkah dari mereka. Pria yang biasanya selalu tampak tegas itu hanya memandangi putrinya dalam diam. Rasa lega begitu jelas terlihat dari sorot matanya, meski ia belum mengucapkan sepatah kata pun.

Amora yang menyaksikan momen tersebut ikut merasa haru. Ia berjalan mendekati kedua orang tuanya lalu berkata dengan lembut,

"Ayah.. Mama... kita masuk dulu, yuk. Di luar udaranya mulai dingin."

Danendra menganggukkan kepala pelan.

"Iya. Kita lanjut ngobrol di dalam."

Fina perlahan melepaskan pelukannya, tetapi tetap menggenggam tangan Jelita seolah takut putrinya kembali menghilang.

"Masuk, Sayang," ucapnya lembut.

Jelita mengangguk pelan sambil mengusap sisa air matanya.

Keempatnya kemudian melangkah memasuki rumah bersama-sama. Suara langkah kaki mereka menggema pelan di atas lantai marmer yang mengilap. Meski keheningan masih menyelimuti perjalanan menuju ruang keluarga, suasana rumah malam itu terasa jauh berbeda.

Tidak semua persoalan telah selesai, dan masih banyak penjelasan yang harus disampaikan. Namun setidaknya, rumah keluarga Atmojo yang selama dua hari terasa kehilangan kini kembali utuh dengan hadirnya putri sulung mereka.

1
Linda Ayu Tong-Tong
yeeee kulkasnya colokannya dah tercabur..dah meleleh tuh🤣🤣🤣
Ariany Sudjana
puji Tuhan, hubungan Razka dan Amora sudah membaik, apalagi sesudah Razka mengungkapkan isi hatinya, sebelum semuanya terlambat dan timbul penyesalan
Ariany Sudjana
kamu juga harus punya niat yang sama dengan Razka untuk menjalani kehidupan pernikahan ini bersama-sama dan memulai dari nol lagi. kamu juga harus meruntuhkan dinding tinggi dalam hati kamu Amora, supaya kehidupan rumah tangga kamu berjalan lancar
Valen Angelina
𝚗𝚊𝚖𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚓𝚞𝚐𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚖𝚊𝚛𝚊𝚗!... 𝚙𝚊𝚜𝚝𝚒 𝚜𝚎𝚗𝚢𝚞𝚖 𝚜𝚎𝚗𝚢𝚞𝚖 𝚜𝚗𝚍𝚒𝚛𝚒 𝚔𝚢𝚔 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚜𝚝𝚛𝚎𝚜 𝚠𝚠𝚔𝚔𝚠𝚔𝚔𝚠𝚠
Lusi Hariyani
tak krin langsng unboxing😄
Valen Angelina
𝚌𝚒𝚎 𝚌𝚒𝚎. 𝚌𝚒𝚞𝚖𝚊𝚗 nih😙😙😙😙😂
Lusi Hariyani
akhir y kata cinta kluar dari bibir atharazka....nangis terharu ra cintamu g bertepuk sebelah tangan😍
Lusi Hariyani
razka sdh ketergantungan sm km amora bntr lg bucin posesif
Linda Ayu Tong-Tong
wooaah kulkasnya dah mencaiiirrr🤣🤣🤣
Ariany Sudjana
puji Tuhan, finally Razka mengungkapkan isi hatinya ke Amora /Heart//Heart/ sudah Amora jangan ragu lagi yah 😄🙏
Herlina
keren ... ❤❤❤❤akhirnya kata keramat terucap jg😍😍😍trmksh thor🙏🙏
Linda Ayu Tong-Tong
aaaaa sneng....akhirnya mau otw kulkas 2pintu🤣🤣🤣
Ariany Sudjana
Amora jangan ragu-ragu menerima itikad baik dari Razka, untuk memulai kehidupan rumah tangga kalian dari awal. kalau kamu ragu dan menolak, nanti kamu menyesal
Opi Sofiyanti
ooo trnyt dia yg mo pindah, bkn ngajak amora pindah... 🤭🤭🤭
Endang Anwar Rahmawati
/Heart/
Lusi Hariyani
razka km terlalul ribet bong aja dh mlai tergantung sm amora
Ariany Sudjana
jangan lama-lama mikirnya Amora, siapa tahu dengan kebersamaan yang terjalin setiap hari, keinginan kamu untuk menjadi lebih dari sekedar teman terpenuhi
Linda Ayu Tong-Tong
ayo donk bobok bareng lagi...aaah kulksnya dah mau otw 3pintu
Linda Ayu Tong-Tong
iiiih razka ayook bisa yok yg lebiiih🤗🤗🤗
Tita Kartika
asikkk mulai nihhhhh tanda2nyaa🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!