Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 PAGI TANPA AURA GAIB
"Allahu Akbar... Allahu Akbar..."
Sayup-sayup, kumandang azan Subuh mengalun membelah pekatnya kabut pagi.
Suaranya mengalun merdu dari pengeras suara mushala kecil yang terletak beberapa ratus meter dari rumah Zaki, bersahutan dengan kokok ayam jantan dari segala penjuru yang mulai nyaring memecah keheningan ufuk timur.
Di dalam kamar masa kecilnya, Zaki perlahan membuka kedua matanya.
Tubuhnya terasa kaku dan pegal.
Rupanya, setelah prosesi sakral pelepasan Sekar Mayang di sepertiga malam tadi, Zaki tertidur dalam posisi bersila dengan kepala menunduk di atas sajadah lusuhnya.
Ia menggeliat pelan, meluruskan kedua kakinya yang kesemutan, lalu memutar lehernya hingga terdengar bunyi gemeretak pelan dari persendiannya.
"Aduuuhhh... Duh-duh-duh... Ssshhh..." desisnya merasakan kedua kaki yang ngilu.
Zaki terdiam sejenak di atas sajadah, membiarkan kesadarannya terkumpul seutuhnya.
Pemuda itu memejamkan mata, mencoba menajamkan indera batinnya secara refleks—sebuah kebiasaan lama yang tertanam selama belasan tahun.
Biasanya, ketika ia melakukan hal ini, ia akan langsung merasakan frekuensi energi dari dimensi lain. Ia akan merasakan titik-titik hawa dingin gaib di sudut ruangan, mendengar dengungan halus yang tak tertangkap telinga manusia biasa, atau mencium aroma bunga kantil merah yang menandakan kehadiran pelindungnya (Sekar Mayang).
Namun pagi ini... nihil.
TIDAK ADA APA-APA.
DAN TIDAK TERJADI APA-APA.
SAMA SEKALI TAK ADA.
Kamar itu terasa sangat kosong. Kosong dari segala bentuk residu energi lelembut.
Zaki membuka matanya perlahan. Ia meraba dadanya sendiri. Ada perasaan aneh yang mengusiknya.
Sebuah sensasi "kehilangan" yang sempat membuat batinnya berdesir canggung. Ia seperti seorang prajurit yang telah terbiasa memanggul zirah besi berat berton-ton selama bertahun-tahun, lalu tiba-tiba zirah itu dilepaskan begitu saja.
Seketika ada perasaan rentan, seolah ia telanjang tanpa pelindung.
Namun, hanya butuh beberapa tarikan napas bagi Zaki untuk menyadari sisi lain dari kekosongan tersebut.
Ternyata, rasa hampa itu justru membawa sebuah kebebasan yang luar biasa memabukkan.
Paru-parunya seakan bisa mengembang lebih maksimal. Pundaknya terasa sangat ringan, seringan kapas.
Zaki menyadari bahwa "hawa dingin" yang menyentuh kulit lengannya saat ini bukanlah hawa dingin mencekam dari dunia gaib, melainkan kemurnian hawa dingin dari embun pagi pedesaan yang menyusup lewat celah jendela.
Ia tersenyum simpul.
Sebuah senyuman yang merekah tulus dari dasar jiwa seorang manusia yang telah kembali pada fitrahnya.
Zaki kini benar-benar murni. 100% manusia biasa, tanpa perewangan, tanpa bayang-bayang dunia astral yang membebani setiap langkah kakinya.
Zaki bangkit berdiri. Ia kembali mengambil wudu di sumur belakang, menyegarkan wajahnya dengan air yang terasa menusuk pori-pori. Sekembalinya ke kamar, ia menunaikan salat Subuh dua rakaat.
Ada kekhusyukan yang sama sekali baru dalam salatnya kali ini. Zaki merasa komunikasinya dengan Sang Pencipta tak lagi terhalang atau dibayangi oleh kehadiran entitas gaib di belakangnya.
Sujudnya terasa begitu pasrah, mengisyaratkan ketundukan totalnya pada takdir langit.
Selesai berdoa, Zaki melipat sajadahnya. Ia melangkah menuju jendela kayu di kamarnya, membuka palang penguncinya, lalu mendorong daun jendela itu lebar-lebar.
Krieeet...
.....
.....
🌄🌄🌄🌄🌄🌄🌄
🌳🌳🌳🏡🌳🌳🌳
Udara pagi yang bersih, dingin, dan sarat akan aroma dedaunan basah langsung menerjang wajahnya.
Di luar sana, langit mulai memancarkan semburat ungu kebiruan, menandakan matahari sedang bersiap merangkak naik dari ufuk timur.
Zaki beranjak ke ruang tamu dan membuka pintu utama rumah.
Rutinitas normal seorang warga desa resmi ia mulai.
Zaki melangkah ke area teras, meraih sapu lidi yang bersandar di dinding, lalu mulai menyapu halaman depan rumahnya yang dipenuhi daun-daun yang kering berjatuhan.
Gerakannya santai, berirama dengan gesekan lidi di atas tanah keras.
Saat ia sedang sibuk mengumpulkan dedaunan ke sudut halaman, seorang pria paruh baya yang memanggul cangkul melintas di jalanan tanah depan rumahnya.
"Lho? Mas Zaki? Kapan mulihe, Mas?" (Kapan pulangnya, Mas?) sapa pria itu dengan nada terkejut namun ramah.
Pria itu adalah Mas Somad, salah satu tetangga yang rumahnya berjarak agak jauh dari rumah Zaki.
Zaki menghentikan ayunan sapunya, membalas sapaan itu dengan senyum lebar yang tak dibuat-buat.
"Weeeh... Mas Somad? Kolo wingi sonten, Mas..." (Weeeh... Mas Somad? Kemarin sore, Mas...)
"Mari mampir, ngopi dulu!" tawar Zaki ramah.
"Matur nuwun, Mas. Niki badhe langsung teng sawah, selak awan. (Terima kasih, Mas. Ini mau langsung ke sawah, keburu siang)," tolak Mas Somad dengan sopan, lalu melanjutkan langkahnya.
Zaki menatap punggung Mas Somad yang menjauh. Ada kehangatan yang mengalir di dadanya. Interaksi sesepele itu terasa sangat berharga.
Kini, ia tak perlu lagi khawatir membuat orang lain merasa tak nyaman dengan "aura berat" yang biasanya menguar dari tubuhnya.
Ia sekarang hanyalah Zaki, pemuda desa biasa yang menyapa tetangganya di pagi hari.
Setelah halaman bersih, Zaki beralih ke dapur. Ritual paginya belum lengkap tanpa secangkir kopi hitam.
Ia kembali menghidupkan tungku api peninggalan ibunya. Kali ini, tangannya sudah mulai luwes menyusun kayu bakar dan memercikkan korek api. Asap kembali mengepul, namun tak lagi membuatnya terlalu perih.
Sambil menunggu air di dalam panci mendidih, Zaki meracik kopi bubuk sisa peninggalan Pakdenya yang ia temukan di toples kaca, ditambah satu setengah sendok gula pasir ke dalam cangkir blirik hijau.
Begitu air bergolak, ia menuangkannya perlahan ke dalam cangkir. Aroma tajam kopi robusta lokal seketika menguar, memenuhi ruang dapur yang temaram.
Zaki membawa cangkir kopi panasnya ke teras depan. Ia duduk bersila di atas kursi kayu panjang. Sinar mentari pagi mulai menyorot hangat, menyeka sisa-sisa embun di dedaunan.
Zaki menyesap kopinya perlahan.
"Bismillah, Ssslllrrrppp... Woooaaahhh... Mantaaap!!"
Pahit, manis, dan hangat berpadu sempurna di lidahnya. Suara burung perkutut dari kejauhan menjadi alunan musik latar yang menyempurnakan pagi pertamanya.
Otaknya kembali memutar rencana yang telah ia susun semalam saat mengobrol panjang lebar dengan Pakde Mardi.
Hari ini, ia akan mulai menapak tilas jejak mendiang Bapaknya.
Di ujung desa ini, tepat di kaki bukit, membentang sepetak kebun kopi warisan keluarganya. Kebun itu tak seberapa luas, tapi cukuplah untuk menghidupi keluarga mereka di masa lalu.
Selama Zaki berada di Jakarta, kebun kopi tersebut diurus dengan sistem bagi hasil oleh Pak Doyo, sahabat almarhum Bapaknya sekaligus tetangga yang paling bisa dipercaya.
Zaki meletakkan cangkir kopinya yang telah kosong. Ia masuk ke dalam kamar, menukar pakaiannya.
Ia mengenakan kaus oblong putih berlapis kemeja flanel pudar kesayangannya yang sengaja tak dikancingkan. Celana jeans panjang berbahan tebal dan sepasang sepatu boot karet hitam yang ia temukan di dapur (peninggalan Bapaknya) menjadi pelengkap penampilannya pagi ini.
Tak lupa, ia merogoh laci lemari dan menemukan sebuah caping bambu usang milik almarhum Bapaknya juga.
Zaki memutar caping itu di tangannya, tersenyum mengusap debu tipis di permukaannya, lalu memakainya di kepala.
Pemuda itu melangkah mantap keluar rumah. Ia mengunci pintu depan dengan gembok, memastikan semuanya aman.
.....
.....
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Udara pagi sudah mulai menghangat. Deru aktivitas warga desa semakin terasa hidup. Anak-anak kecil berlarian berangkat ke sekolah dasar, para ibu rumah tangga bercengkerama sekembalinya dari pasar desa, dan para petani mengayuh sepeda onthel menuju lahan garapan mereka.
Zaki menghirup napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara kebebasan. Matanya menatap lurus ke arah jalanan setapak berbatu yang menanjak, mengarah langsung ke kaki bukit yang hijau rimbun di kejauhan.
Tanpa perewangan...
Tanpa bayang-bayang masa lalu...
an tanpa beban misteri, Zaki melangkahkan kakinya. Ia sudah siap menjemput takdir barunya.
Hari ini, Zaki bukan lagi seorang karyawan kantoran dari ibu kota, melainkan seorang petani muda yang akan merawat warisan mendiang Bapaknya di kaki bukit.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya