Indonesia
NovelToon NovelToon
Killian'S Queen

Killian'S Queen

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / CEO
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Naomiwrite

Mari kita lihat bagaimana jadinya jika seorang yang tadinya sangat dingin, ketus, dan serius, tiba-tiba menjelma menjadi makhluk bucin? Itulah yang sedang terjadi pada Killian Riyudha Altez Dimitri setelah pertemuan menyebalkannya dengan seorang gadis yang hobi mengumpat bernama Leviana Ruby Triendl.

kepribadian keduanya yang bertolak belakang serperti halnya kutub magnet tak serupa yang semakin tarik menarik. Sampai keduanya memiliki ikatan emosional yang lebih dalam dan mengetahui luka yang dibawa masing-masing.

Killian yang merupakan Atasan sekaligus CEO ditempat Ruby bekerja, ternyata malah jatuh cinta dengannya, si gadis super aktif yang kadang polos dan kadang pecicilan. Namun yang menjadi masalah, gadis itu diam-diam menerapkan prinsip 'hidup selibat', atau keputusan untuk tak menikah sepanjang hidupnya.

Disinilah perjuangan Killian dimulai untuk meluluhkan Ruby. Dan juga perjuangan Ruby agar tak luluh dengan rayuan Killian yang ingin menjadikannya satu-satunya Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomiwrite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#17 Misi Penangkapan

...Enjoy you meal!...

...👓...

...〰️K i l l i a n's Q u e e n〰️...

Deg!

Kedua matanya terubuka lebar.

Hosh hosh hosh..

Tubuhnya tersentak dan serta merta terduduk dengan napas terengah-engah. Kedua tangannya meremat selimut yang menutupi sampai ke pahanya.

"Ruby? Yaampun! Kenapa langsung duduk gitu, entar pusing!"

Kepalanya menoleh kesamping dan melihat wajah yang tengah begitu mengkhawatirkannya.

"B-bella?" lirihnya.

"Gue.. Dimana.. "

Ruby tampak kebingungan dan mengedarkan matanya ke sekeliling. Ruangan yang tampak asing namun cukup menenangkan.

"Lu di rumah sakit, Ru." jawabnya seranya mengelap keringat yang bercucuran di pelipis Ruby dengan handuk kecil.

'Rumah sakit? Bukannya ini suit room hotel? Kenapa mewah gini? '  Sempat-sempatnya batinnya mempertanyakan hal yang tidak penting.

Napas Ruby terhela panjang. Bahunya mengendur melepas ketegangan sesaat setelah ia baru saja tersadar. Gadis itu menunduk menangkup dahinya yang terasa pusing dengan telapak tangannya.

"Ruby, lu baik-baik aja? Ada yang sakit?" Lagi-lagi Bella kembali bertanya dengan wajah cemas.

Ruby kembali mengangkat wajahnya dan melihat Bella. Ruby menggeleng pelan. "Gue.. "

Entah kenapa napasnya terasa tercekat begitu kepalanya mengingat kembali kejadian sebelum dia kehilangan kesadaran saat di kantor.

"B-bell.. Gue.. "

Mulutnya terasa kelu. Dia ingin mengadu. Tapi lagi dan lagi, rasa takut dan terancamnya tak bisa ia kendalikan.

"Its okay its okay..." Tutur Bella seraya menepuk bahu Ruby pelan.

Bella sangat mengerti. Ruby, sahabatnya akan seperti ini setiap kali mengalami panic attack. Dia hanya bisa menunggu sampai Ruby merasa lebih tenang.

Ruby menyandarkan tubuhnya pada bantal yang diletakkan Bella dibelakang punggungnya. Kepalanya terus menunduk dan seperti  menghindari tatapan Bella. Atau lebih tepatnya selalu terlihat gelisah sambil terus melihat ke segala arah.

Bella memperhatikan gerak-geriknya yang tak nyaman kemudian menghela napas. "Hei, Ru.. Jangan takut. Disini aman. Ini ruang rawat inap VIP. Gue bisa jamin keamanannya. " Ujar Bella.

Ruby terhenyak. Dia menatap Bella dengan mata berkaca. "Bella... Gimana nasib gue...a-ada orang jahat yang nyebarin foto gue di portal media-DM hiks.. Dia ngancam dan neror gue, dia juga nyimpen benda menakutkan di kamar kosan gue, Bella.. " Ucap Ruby akhirnya sambil terisak.

Bella menggeleng. Dia tidak merasa terkejut mendengarnya, karena Killian sudah lebih dulu memberitahu garis besar masalahnya. "Udah, jangan khawatir. A Ian uda ngurus semuanya. Gak akan terjadi apa-apa sama lu, oke?"

Ruby terdiam. Ah! Iya, tentu saja Killian.

Dia yakin, Killian pasti sudah tahu masalahnya. Tidak mungkin laki-laki itu akan diam saja ketika melihatnya tiba-tiba pingsan gara-gara terkena panic attack di kantor. Gelagatnya selama ini juga cukup mencurigakan terhadap bosnya itu. Apalagi, saat ini Ruby tak ingat lagi ada dimana handphonenya yang berisi chat dengan si peneror.

"Hiks.. " Dia terisak pelan sembari menutup wajahnya frustrasi.

Entahlah. Rasanya, semuanya malah menjadi semakin rumit. Padahal, rencananya Ruby tidak ingin terlibat dengan Killian lagi dan hidup tenang. Tapi, justru dia sendiri yang terus menerus terlibat masalah dan malah membawa-bawa Killian.

'Ada apa sih sebenernya sama gue? Apa gue ini dikutuk?' Keluhnya dalam Hati.

"Buat sementara, lo harus tinggal di apart gue dulu. Kosan lo udah gak mungkin lo tempatin lagi. Udah gak aman. Jadi lu gak usah khawatir soal tempat tinggal, oke?"

"Ta-tapi.. "

Bella segera menyela dengan tatapan tajam. "Gak ada tapi tapi. Lagian kenapa sih lu selalu nolak buat tinggal sama gue yang jelas lebih aman?!" Tutur Bella dengan nada sedikit kesal.

Ruby bungkam. Dia hanya tidak mau menjadi benalu dimanapun dia berada. Tapi Sepertinya, Bella yang keras kepala ini tidak bisa menerima alasan seperti itu.

"Kenapa kemaren lu gak cerita ke gue sih, Ru... Kan gue uda bilang kalo ada apa-apa lu harus cerita ke gue. Atau, kalopun gak mau cerita, yauda lu nginep aja terus di tempat gue. Ngapain malah tinggal di hotel, coba? Kan sayang cuan yang uda lu kumpulin, yang lu rawat dan sayangi udah kayak anak sendiri itu.. " Lanjut Bella panjang lebar.

Ruby tertunduk tak bisa membalas apa yang dikatakan Bella padanya. Dia jadi seperti anak kecil yang sedang diomeli ibunya habis-habisan. 

Namun, diam-diam Ruby merasa sangat senang melihat Bella yang memarahinya seperti ini. Itu artinya, Bella begitu peduli padanya. Mungkin seperti ini rasanya memiliki saudara perempuan yang amat peduli dan sayang padanya, pikir Ruby.

"Maaf.. Gue bingung banget abisnya. Uda mental break-down duluan. " Kata Ruby pelan

Bella hanya kembali menepuk-nepuk bahu Ruby seraya menghela napas lelah.

Ruby sangat bersyukur, dia tidak lagi selalu sendirian disaat-saat terberatnya seperti dulu. Bagi Ruby, Bella memang lebih dari sekedar sahabat baiknya yang selalu memihaknya dalam kondisi apapun.

Saat suasana cukup hening dan terlarut dengan pemikiran masing-masing, pintu ruang rawat Ruby diketuk beberapa kali. Kemudian masuklah sosok yang paling ingin Ruby hindari.

"oh? Ruby, kamu udah sadar. Syukurlah.. "

Killian dengan cepat menghampiri bed pasien Ruby. Bella yang sedang duduk dikursi tepat disamping Rubypun, seolah tak terlihat oleh Killian dan membuatnya sedikit terdorong kebelakang.

Killian memegang kedua bahu Ruby dan menatap gadis itu lamat-lamat. "Kamu.. Udah baikan? Pernapasan kamu gimana? Masih sesak?" Tanya laki-laki itu beruntun.

Ruby terbengong. Gadis iti masih dalam mode terkejut sekaligus bingung, "Ruby...udah gak papa." Sahutnya sambil berkedip beberapa kali dengan tampang melongo.

"Haaa~"

Killian mendongak dengan mata terpejam sambil menghembuskan napas panjang. "Syukurlah.." Gumamnya.

Decakan terdengar dari arah Bella yang sudah menatap kakaknya malas.  "Gue juga ada disini, woi. " Sindirnya yang tak dipedulikan Killian.

Bella kemudian menggelengkan kepala lalu beranjak ke sofa di sudut ruangan.

Ruby terlihat hanya diam saja dan sesekali melihat ke arah Killian dengan canggung. Rasanya, perhatian Killian terasa berlebihan padanya. Perasaannya menjadi kembali terasa aneh. Ada debaran samar yang membuat hatinya terasa hangat.

'Ugh! Ini bahaya. Sadar Ruby...sadar!'

...〰️K i l l i a n's Q u e e n〰️...

Di tempat lain, di suatu ruangan yang cukup besar berisi perangkat-berangkat elektronik berteknologi tinggi, Raidan dan Dimitri 'Black Team' tengah sibuk dengan tugas yang diinstruksikan Killian.

Dimitri 'Black Team',  adalah semacam organisasi bayangan dibawah naungan Dimitri. Di dalamnya terdapat kurang lebih lima puluh orang anggota dengan kemampun khusus di berbagai bidang.

Peran Black Team sendiri mencakup berbagai aspek terutama yang berkaitan langsung dengan sistem kemanan dan sumber informasi. Baik yang bersangkutan langsung dengan Dimitri Group maupun tidak langsung.

Ibarat sebuah sistem keamanan induk untuk Dimitri group, Black Team sangat mumpuni sampai-sampai kekuatannya hampir menyamai BIN (Badan Intelijen Nasional).

Tentu saja ada alasan kuat kenapa Black Team dibentuk. Namun demikian, tak banyak yang tahu dengan eksistensi Black Team selain internal yang Killian percayai. Karena tugas Black Team sendiri, lebih banyak untuk menangani hal berbahaya yang bersangkutan langsung dengan instruksi presdir Dimitri Group. Itulah kenapa, Black Team biasa disebut organisasi bayangan Dimitri.

'A Ian udah sampe ngasi instruksi langsung ke Dimitri Black Team.. Itu artinya, masalahnya cukup serius. Apa kasus Ruby ada hubungannya sama sistem keamanan kemaren yang hampir dibobol ya?'

Sedari tadi, Raidan terus bergumul dengan isi kepalanya sembari menatap layar PC nya tajam. Ke sepuluh jarinya sibuk mengetik melalukan berbagai coding dan mencari-cari sesuatu.

"Ketemu!" Pekiknya.

Jari-jarinya semakin cepat berpacu diatas keyboard, dan matanya terus fokus memelototi layar monitor yang menampilkan serentetan data yang terlihat acak dan memusingkan.

"Semuanya! Kita bersiap menuju ke lokasi. Titik koordinatnya berada lumayan jauh dari kota. Jadi kita harus hati-hati jangan sampe kehilangan target."

"Baik, pak!"

Jawab Black Team serempak.

Raidan memang memimpin pergerakan Black Team. Sebagai seorang peretas handal, ahli di bidang informasi dan teknologi, dia juga mahir dalam berbagai jenis ilmu bela diri.

Satu hal lagi yang Raidan rahasiakan dari publik selain dia ini adalah sepupu Killian. Pemuda itu juga sebenarnya pernah belajar di akademi militer nasional, kemudian melanjutkan studinya di luar negeri.

Raidan dan team yang terdiri dari kurang lebih sepuluh orang, dia kerahkan untuk menjalankan misi penangkapan. Berbagai senjata dan alat pelindung, serta sebuah van yang sudah dilengkapi perangkat komputer canggih sudah dipersiapkan.

Sudut bibirnya menyeringai dan lehernya dia regangkan sampai terdengar bunyi 'kretek' yang cukup nyaring. " Waah, udah lama gak berburu. Bakalan seru nih." Gumamnya.

...〰️K i l l i a n's Q u e e n〰️...

Kembali ke beberapa saat sebelum Killian bertemu Mallory dan ayahnya di ruang rawat Ruby.

Saat itu, seorang laki-laki paruh baya keluar dari ruangan direktur umum rumah sakit. Bukan untuk memeriksakan kesehatan, tapi hanya untuk bertemu teman lama sekaligus kolega bisnisnya yang tak lain direktur umum rumah sakit itu sendiri.

Dia adalah Arjuna Wiratama Dimitri. Ayah kandung Killian sekaligus presdir sebelumnya Dimitri Group.

Arjuna berjalan menuju ke arah lift. Tak banyak orang yang berlalu lalang disana, karena itu merupakan koridor khusus ruang-ruang rawat VIP yang satu area dengan ruang direktur.

Saat hendak menekan tombol lift, dia mendengar suara lembut seseorang memanggilnya. "Papa Juna?" panggilnya.

"Lho? Mallory? Kamu disini juga, nak?" Sahutnya sambil tersenyum sumringah.

Gadis itu mengangguk sambil balas tersenyum ramah. "Iya, Mallory cek kesehatan rutin aja." Katanya yang diangguki Arjuna.

Dari kejauhan, Mallory menangkap sosok laki-laki yang dikenalnya tengah berjalan memasuki salah satu ruang rawat. "Lho? Itu Ian?" Gumam Mallory yang ternyata juga didengar oleh Arjuna.

Arjuna refleks menoleh ke belakangnya, "Ian? Mana?" Katanya ikut penasaran.

"Tadi Mallory liat Ian masuk ke ruangan itu." Kata Mallory seraya menunjuk ruang rawat PIV paling ujung.

Karena penasaran Mallory berjalan kearah ruangan tersebut. "Mallory permisi mau cek ya, Pa. Siapa tahu itu beneran Ian." Katanya.

Arjuna hanya mengangguk. Niatnya untuk memasuki lift dan langsung pulang, seketika urung. Sudah lama dia tidak bertemu dengan putranya itu, tanpa sadar pria itu malah mengikuti Mallory.

Entah kebetulan atau memang situasi yang berpihak pada Mallory, pintu ruang rawat itu tidak tertutup sepenuhnya.

Mallory menyunggingkan senyum miring melihat siapa yang ada di balik pintu tersebut. Gadis itu menoleh sekilas ke arah Arjuna yang sudah ia duga akan menyusulnya.

Tanpa ragu, Mallory membuka pintu yang sedikit terbuka itu lebih lebar. "Ian." Panggilnya.

Killian langsung menoleh ke arahnya dengan kernyitan bingung. "Mallory?" Herannya. "Lagi apa kamu disini?" Tanyanya lagi.

Arjuna yang tinggal beberapa langkah lagi dari pintu kamar rawat Ruby, sontak berhenti saat mendengar Killian berujar dari dalam sana. Mallory menoleh ke arah Arjuna dengan senyum kaku. Dapat dia lihat, Killian masih terlihat kebingungan melihat gelagatnya. Tanpa babibu, Mallory mengisyaratkan Arjuna agar menghampirinya dan melihat Killian.

Killian sedikit terkejut saat melihat ayahnya yang berjalan melewati Mallory, yang masih berdiri di ambang pintu. Raut wajah pria itu terlihat marah dan menatap putranya tajam.

"Lho? Papa ngapain disini?" Killian tambah kebingungan.

Kemudian Arjuna mengalihkan pandangannya pada gadis yang tengah terbaring di bed pasien dalam keadaan masih tertidur. Raut wajahnya semakin kesal dan tampak menahan luapan emosi.

"Jadi dia yang bikin kamu terus mengulur pernikahanmu dengan Mallory??" Geram Arjuna seraya melayangkan tatapan tajam pada Ruby yang masih menutup matanya.

Mallory memperhatikan interaksi Killian dan ayahnya. Sudut bibirnya kembali terangkat samar penuh kepuasan entah untuk alasan apa.

Sedangkan raut wajah Killian tampak datar dengan tatapan matanya yang dingin. Suasananya berubah tegang dan mencekam.

"U-uhm.. Ian, papah Juna, menurut Mallory, kita harus cari tempat buat ngobrol. Gak enak, disini kan ada pasien. Nanti malah keganggu." Ucap gadis itu hati-hati.

Arjuna terdiam dengan tatapan yang masih menuding pada putranya. "Mengecewakan!" Desisnya tajam.

Pria itu lantas keluar dengan langkah besar. Mallory yang kebingungan melihat Killian dan Arjuna yang sudah melenggang pergi.

"Ian. You know, we need to talk!" Ucap Mallory lalu melangkah menyusul ayah Killian.

Ruang rawat Ruby kembali hening. Killian mengusap wajahnya kasar. "damn it!" Umpatnya kesal.

Iapun mau tak mau harus menyusul kedua orang itu.

...*****...

Dan disinilah ketiganya. Killian, ayahnya, dan juga Mallory.

Mereka memilih kedai kopi di seberang rumah sakit, untuk melanjutkan pembicaraan serius mereka.

"Mallory, kamu sudah tahu?" Tanya Arjuna dengan nada datar.

Mallory hanya menunduk seolah dia tengah diinterogasi sebagai saksi. Kemudian gadis itu tersenyum kecil seraya berujar, "Dia kan sekretarisnya Ian, Pa. Jadi menurut Mallory, gak ada yang salah kalo mereka selalu bareng dan deket sebagai partner kerja."

Arjuna yang mendengar hal itu menghembuskan napas kasar. "Jadi kamu udah tahu, dan tetep mau ngebela mereka?" Sarkas Arjuna.

Killian yang mendengar interaksi ayahnya dan Mallory merasa muak dan tak banyak bicara. Ini seperti mereka tengah mencoba mempermainkannya, pikirnya.

"Killian, kamu tahu kan Papa sangat menginginkan Dimitri dan JW Group bisa bersatu. Terlebih papa mau kamu menikah dengan Mallory, kenapa kamu malah berbuat seenaknya sendiri?" Omel Arjuna pada Killian yang tampak tak terpengaruh.

Wajahnya tetap datar dan dingin. Namun terlihat sekali dia ingin segera mengakhiri percakapannya dengan sang ayah.

"ppppffth! Lucu." Kekeh Killian membuat Arjuna dan Mallory mengerutkan keningnya bingung.

"Kalau papa mau Dimitri dan JW group merger, kenapa nyerahin Dimitri ke saya? Papa tau kan, kalau saya udah memimpin dan mengambil alih sesuatu, semua prinsip dan kebijakan harus saya yang menentukan." Ujarnya membuat Arjuna merubah kembali wajahnya menjadi geram.

Killian tersenyum miring melihat reaksi Arjuna. "Saya tahu, bukan mergernya Dimitri dan JW group yang jadi alasan utama papa menginginkan pernikahan saya dan Mallory. " Pungkas Killian.

Arjuna mengepalkan tangannya geram. Rahang pria itu tampak mengetat menatap tajam anak laki-lakinya yang pongah.

Mallory yang merasakan suasananya semakin tegang, mulai tak nyaman dan berusaha melerai keduanya. "U-udah Pa, Ian. Gak enak kalo sampe ribut disini. Gimana kalo ada wartawan yang ngeliat. Bisa ada rumor gak enak lagi.. " Ucap Mallory.

Killian menghela napas dan menatap Mallory datar. Sedangkan Arjuna, mendengar penuturan Mallory, dia segera merubah raut wajahnya dan melepas kepalan tangannya yang tegang.

"Lihat? Kurang apa Mallory buat kamu Ian? Dia sempurna dan berhati malaikat. Tapi kamu justru malah bermain-main dengan sekretaris barumu itu?!"

Killian yang tadinya sudah tak peduli dan berminat dengan pembicaraan ini, berubah murka dan menatap nyalang Arjuna.

"Maksud papa apa? Siapa yang sedang main-main? Saya gak pernah ada niat hanya bermain-main dengannya." Tukas Killian penuh penekanan.

Arjuna dan Mallory sontak terkejut melihat perubahan drastis raut wajah Killian, dan ucapannya yang kelewat serius itu.

"A-apa? Apa maksud kamu Killian?!" Tanya Arjuna emosi.

"Saya rasa ngobrolnya udah selesai. Kalau begitu saya permisi. Dia sendirian disana." Ucap Killian santai sambil melenggang pergi.

Arjuna dan Mallory terdiam beberapa jenak mendengar kalimat terakhir Killian yang terdengar sangat aneh, pikir mereka.

Namun Arjuna segera tersadar dan emosinya kembali meluap. "MAU KEMANA KAMU, HEH! DASAR ANAK KURANG AJAR! PAPA BELUM SELESAI NGOMONG KILLIAN!!"

"P-pa, udah pah. Gak enak kalau bikin keributan disini." Ujar Mallory menenangkan amarah calon mertuanya itu.

Mallory menatap punggung Killian yang sudah menjauh. Tangannya mengepal kuat. Matanya memicing dengan sorot amarah yang dia tahan sekuat tenaga. Kalimat terakhir Killian, benar-benar memprovokasinya. Benarkah Killian sepeduli itu dengan sekretarisnya?

'Haaa~ so you wanna play hard to get, huh? Fine, Killian. I'll do whatever take to make you mine.'

...〰️K i l l i a n's Q u e e n〰️...

"Makasih, dok." Ujarnya seraya membungkuk sekilas.

Sang dokter menyahutinya dengan senyuman dan anggukan. Gadis itu segera membuka pintu dan keluar dari ruangan tersebut.

"Udah selesai?" Tanyanya begitu Ruby muncul dari balik pintu di hadapannya.

Gadis itu mengangguk pelan seraya tersenyum kecil. "M-mas sendirian?" Tanyanya.

"Iya. Bella katanya ada urusan di galeri, jadi gak bisa ikut kesini. Gak apa apa kan kalo saya yang jemput?" Jelas Killian.

Ya. Ruby baru saja menyelesaikan sesi konselingnya dengan psikolog. Killian memang sengaja menjadwalkan beberapa sesi konseling untuk pemulihan pasca trauma untuk Ruby.

Dia yakin, gadis itu menyimpan banyak beban dan ketakutan sendirian selama ini. Mengetahui fakta Ruby mengkonsumsi obat antidepresan saja, membuat Killian cukup terkejut dan tak bisa berhenti mengkhawatirkannya.

"Yaudah. Ayo berangkat. Barang-barang kamu sudah dipindah ke apartemen Bella." Kata Killian sambil berjalan.

Ruby mengangguk dan mengekor dibelakangnya. "Iya." Jawabnya singkat.

...*****...

Ruby akhirnya menyetujui untuk tinggal sementara dengan Bella sampai ia menemukan tempat tinggal yang baru. Dia sudah tidak berani pulang ke kosannya setelah kejadian itu.

Killian menyuruh pegawainya untuk memindahkan barang-barang Ruby. Jadi, Ruby bisa langsung pulang ke tempat Bella seusai dirawat di rumah sakit setelah tiga hari disana.

"Kamu butuh sesuatu?" Tanya Killian membuat Ruby sedikit terhenyak dari lamunannya.

"Engga. Ini cukup, kok." Sahutnya.

Hening melanda. Mereka hanya berdua di apartemen Bella yang luas ini. Seketika suasana menjadi canggung. "M-mas— "

"Ruby– "

Panggil keduanya bersamaan. Killian berdeham kaku dan Ruby mengalihkan pandangan ke arah lain sejenak.

"Kamu duluan. " Kata Killian memutus kecanggungan.

Ruby menatap laki-laki itu sebentar. Kemudian seyum tulus terulas dari gadis itu. "Makasih banyak ya, mas Ian. Dan..Ruby juga minta maaf, " Katanya menggantung.

Killian mengernyit seraya menatap wajah Ruby intens.

"Makasih uda selalu nolongin Ruby yang selalu banyak kenak masalah ini. Dan maaf juga, udah selalu ngebuat mas Ian ikut keseret sama masalah Ruby yang rumit.. Ruby.. Gak tau harus ngebales kebaikan mas Ian kayak gimana.. " Lanjutnya panjang lebar.

Killian tampak terdiam. Lalu dia tersenyum kecil seraya mengusap pucuk kepala Ruby beberapa kali. "Iya. Kamu mungil-mungil gini kenapa suka sekali kena masalah besar, ya?" Canda Killian membuat Ruby tersenyum kikuk.

"Gak apa apa. Saya cuma berusaha ngebantu apa yang saya bisa lakuin, kok. Kamu gak perlu minta maaf buat hal itu. Karena saya yang mutusin buat terlibat sama masalah kamu." Lanjutnya serius.

Ruby tampak tersenyum haru dan berterima kasih sekali. Lalu dia kembali pada aktivitasnya menyusun barang di kamar barunya.

"kalau.. Kamu mau ngebales kebaikan saya, sebenernya ada sih caranya." Ujar Killian sambil menatap Ruby intens.

Ruby langsung menoleh penasaran. "Hm? G-gimana caranya?" Tanyanya cepat.

Killian tampak tersenyum penuh arti. Tapi Ruby tak mengerti dan malah mengerutkan keningnya sambil menatap Killian aneh.

Killian yang melihat sekretarisnya yang kadang lemot ini, hanya mendengus sebal. "Tanda tangani kontraknya, Ruby. Itu caranya." Bisik Killian di telinga Ruby.

Ruby langsung beranjak dari sana dan menjauh. Wajah dan telingannya terlihat memerah. Napas Killian yang panas menerpa daun telinganya dan terasa menggelitik.

Killian menatap Ruby aneh karena tiba-tiba setengah meloncat lalu menjuhinya.

"A- apa sih?! Kok ja-jadi bahas kon- kontrak?!"

'S*alan! Kenapa gue jadi gagap gini yaampuun??  Duuuh malu...' Ruby meringis malu dalam hati.

Killian yang melihat Tingkah Ruby, malah terkekeh dan terus memperhatikannya. "Kamu kenapa? Ppppftt! Kok muka sama telinga kamu jadi merah gitu?" Akhirnya Killian malah terbahak.

Dahi gadis itu mengerut bingung dan wajahnya mulai memberengut kesal karena malah ditertawakan.

"Ish! Gak tau ah! Sana mas Ian pergi aja. Hush hush. " Usirnya.

"hmm udah berani ya... "

Ruby langsung merapatkan bibirnya. "Hehe." Gadis itu malah menyengir tak jelas.

Keduanya tampak asyik dengan interaksi masing-masing. Setelah selesai merapikan barang-barangnya, Killian mengajak Ruby makan siang di luar. Namun Ruby menolak dengan alasan masih merasa lelah.

Karena apartemen Bella hampir tak pernah ada bahan masakan, Killian akhirnya memutuskan untuk pesan antar.

...〰️K i l l i a n's Q u e e n〰️...

Sebuah mobil van berwarna hitam terparkir di pinggir jalan yang dikelilingi bangunan kosong. Dari dalam mobil tersebut, beberapa orang tengah mempersiapkan diri untuk melakukan sesuatu.

Sebuah titik merah pada layar monitor tampak berkedip-kedip di satu posisi. Raidan memperhatikan titik merah itu sambil menyeringai tersenyum miring. "Kenak kau!" Gumamnya.

Pemuda itu segera menaikkan maskernya menutupi sebagian wajahnya kemudian memakai topi hitamnya kembali.

"Semuanya, kepung sekeliling bangunan di depan sana. Blokir semua pintu atau apapun yang bisa jadi jalan keluar buat target. Ingat.." Ujar Raidan menggantung.

"Bergerak dengan senyap, hati-hati, dan bawa target diam-diam tanpa mengeluarkan suara. Kalian boleh melumpuhkan target kalau dia berisik, yang penting gak dibikin mati aja. Kalian paham? " Lanjutnya.

Ucapan Raidan terdengar enteng namun cukup membuat anggotanya merinding. Lalu semua timnya mengangguk serempak.

Sesuai namanya— Black Team, semua anggotanya mengenakan pakaian dan atribut serba hitam. Raidan memimpin operasi penangkapan malam itu. Black Team bergerak senyap seolah menyatu dengan hitam dan heningnya tengah malam.

Setelah memeriksa dan menggeledah kamar kosan Ruby, Raidan berhasil menemukan 3 kamera berukuran kecil yang tersembunyi di berbagai sudut. Selain itu, Raidan juga memeriksa laci nakas paling bawah sesuai yang diperintahkan Killian, dia menemukan benda menjijikkan di dalam sana.

"Ck! Gimana Ruby gak ketakutan, kalo di laci kamarnya dia nemu gigi geraham yang masih belepotan darah sama potongan jari kelingking kaki, yang dijadiin liontin kalung." Gumamnya kesal.

"Dia kayaknya bukan cuma penguntit, tapi psikopat gilak." lanjutnya sambil menggeleng-geleng kepala.

Raidan dan Black Team berhasil naik ke lantai atas sebuah bangunan terbengkalai. Suasanya gelap gulita dan tercium bau lembap dari bangunan yang sudah tua.

Semua ruangan sedah diperiksa. Namum tidak ada siapapun disana. Tinggal satu ruangan paling pojok yang terlihat tertutup rapat. Raidan memberi aba-aba untuk langsung mendobrak pintu tersebut.

1..2..3..

BRRUAKK!

Terlihat seorang pria berhoodie merah maroon dan berkaca mata tebal tengah duduk di hadapan komputer, dia serta merta tersentak kaget begitu pintu dibelakangnya didobrak sampai terlepas.

"S-SIAPA KALIAN??" Teriaknya.

Beberapa anggota Black Team segera meringkusnya. Raidan memperhatikan orang tersebut dengan saksama. Orang yang sangat familiar dan sering dia lihat di kantor Dimitri Group.

"4NJ*NG! LEPASIN GUA, B*NGS4T!" Teriaknya lagi sambil terus meronta.

"Ck! Berisik banget." Kata Raidan sambil mengorek telinganya lalu mendekat ke arah laki-laki berhoodie merah itu.

Tatapan Raidan berubah dingin dan tajam. "Jadi elo, sampah yang udah ngancurin ketenangan hidup orang, ha?" Ujarnya.

Laki-laki itu terus meronta sambil menatap murka Raidan. Sedetik kemudian, dia menyeringai lebar lalu tertawa seperti orang gila.

"Bhuahahahaha... Jangan bilang, lo semua orang-orangnya presdir?!

Raidan mengangkat sebelah alisnya tajam mendengar penuturan laki-laki itu. "Aah, lo udah tau rupanya. Bagus lah. Biar lo sadar, lo lagi berurusan sama siapa." Sahut Raidan santai.

"Padahal.. Rencana gue tinggal dikit lagi berhasil," Gumamnya tak jelas.

"Apa lo bilang?" Tukas Raidan

"Padahal tinggal dikit lagi gua bisa dapetin cewek j*lang itu jadi milik gua, tapi presdir selalu ngehalangin dan nempelin terus cewek gua!! Ruby itu cewek gua! Dia itu harusnya jadi j*lang gua!"

BHUGH!!

Raidan menghantam kepala laki-laki itu sampai pingsan dalam sekali pukul. "B*ngs4t! Itu dia kenapa obsesi itu musti dikekang layaknya iblis." Gumam Raidan tajam.

"Bawa dia ke van dan sita semua barang bukti yang ada disini."

"Baik Pak Raidan."

Black Team membawa tubuh lunglai laki-laki itu menuju van mereka. Beberapa orang lainnya sibuk membereskan semua barang yang ada di ruangan ini.

Raidan mengedarkan penglihatannya ke sekeliling dengan sorot dingin. Tangannya mengepal kuat melihat dinding yang dipenuhi dengan foto Ruby. Bahkan ada foto di dalam kamar kosannya, saat gadis itu hanya mengenakan pakaian dalam. Raidan refleks mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Dia segera merogoh handphonenya untuk segera melapor pada Killian.

"Halo, Dan. Gimana?"

Raidan diam sejenak sambil menghela napas. "Idan udah nangkep pelakunya." Katanya.

Pemuda itu mengambil sebatang rokok dan mengapitnya diantara bibirnya, lalu menyondongkan kepala pada salah satu anggota, untuk membantunya menyalakan api.

Asap putih membumbung di udara saat dia menghembuskannya bersamaan dengan rasa kesalnya.

"Bagus. Saya tunggu di markas Dimitri Black Team."

Tut

Panggilanpun terputus. Setelah semua barang bukti dikantongi, dan ruangan tersebut bersih dari foto-foto Ruby, Raidan segera menyusul timnya ke mobil.

Malam ini terasa panjang dan melelahkan baginya. Tapi Raidan cukup menikmati udara dini hari ini juga sebatang nikotin yang membuatnya rileks setelah aktivitas menegangkan tadi.

"Haa~ Ruby, semoga kamu gak shock ya, setelah tau siapa pelakunya." []

1
Music Carousel
Kakkk ga akan update kah?? 😭
Music Carousel
Kak kok ga update2?? 🥺
Marchioness Roscent
nahlo... Ian jdi maung
Karina Rin
haaakh! ngpain sih mantan
udah pnya binik juga
Karina Rin
eaaak! /Slight/
Thalitaxx
another clue? wah makin penasaran plisss
Thalitaxx
mau digendong juga /Smug/
Marchioness Roscent
A Ian bucieeeen ikh
Marchioness Roscent
duh aa meniiii 😘
Marchioness Roscent
lah? kunti yg di mimpi?
Tri Pujiningsih
busettt siapa yg naroh bawang haaaaah😭😭
Tri Pujiningsih
apakah sampai melakukan itu. kalo sampe angga melakukan hubungan intim sama ruby pokoknya gak rela. angga harus dapet karma yg setimpal ya kak othor
Tri Pujiningsih
panas dingin othor😄
Esa Ratnasari: gimana? A ian jago kan? 😁
total 1 replies
Tri Pujiningsih
ommoooo
Tri Pujiningsih
ada yaa lakik kek gini. pasti yg jd istrinya meleyot tiap hari ulululuuuu🥰
Tri Pujiningsih
masak iya penguntit nya bang darren
Tri Pujiningsih
angga yah
Tri Pujiningsih
kenapa eh
Tri Pujiningsih
tahan tahan ya ruby ya😂
Trii Puji
astagaaaaa ngakak guling"🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!