Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO / One Night Stand / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kumi Kimut

Romantis - Komedi

"Gak bisa Will, kita cuma nikah sementara kan? Bahkan ibumu juga benci sama aku?" -Hania-

"Tapi hamilmu gak pura-pura, Han? Aku bakal tanggung jawab!" -William-

***

Kisah dimulai saat Hania terpaksa menerima tawaran sang bos untuk menjadi istri kontraknya tapi setelah satu bulan berlalu, Hania mabuk karena obat perangsang yang salah sasaran dan mengakibatkan Hania hamil!

Bagaimana kisah ini berlanjut? Akankah Hania menerima pinangan kedua kali dari suami kontraknya atau kembali pada mantan tunangan yang sudah tobat dan ingin membahagiakannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

William masih menatap istrinya tak percaya. “Pergi? Kamu serius, Han? Ke mana lagi kali ini?” suaranya meninggi, tapi lebih karena cemas daripada marah.

Hania menghela napas panjang, lalu berdiri dari kursi. “Aku cuma mau beli bunga buat Mama di taman belakang gereja. Hari ini ulang tahun kepergiannya. Kamu lupa?”

Tatapan William langsung melunak. Ia memejamkan mata sejenak, menyesali sikapnya barusan. “Aku nggak lupa… cuma aku takut kamu ketemu orang-orang itu di jalan.”

“Orang-orang itu? Maksudmu teman lamaku?” Hania menatapnya dengan sedikit jengkel. “Will, kamu nggak bisa terus-terusan mikir semua orang mau nyakitin aku.”

William menunduk. Ada bayangan masa lalu yang sulit ia hapus dari kepalanya — insiden lima tahun lalu, saat seseorang hampir mencelakai Hania di acara reuni kantor. Sejak itu, paranoia menjadi temannya sehari-hari.

Hania melangkah ke depan, menggenggam wajah suaminya lembut. “Aku tahu kamu cuma khawatir. Tapi aku bukan perempuan rapuh, Will. Aku bisa jaga diri.”

William memegang tangan Hania erat-erat. “Aku percaya kamu kuat. Tapi aku nggak percaya dunia ini bisa lunak sama orang sebaik kamu.”

Hania tersenyum tipis. “Kalau gitu, temani aku beli bunga. Setelah itu kita makan di kafe favoritmu, gimana?”

William mendesah. “Kamu tahu gimana caranya bikin aku nggak bisa nolak, ya?”

Mereka berdua akhirnya keluar rumah, tangan masih saling menggenggam. Tapi, tanpa mereka sadari, sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan. Di dalamnya, dua orang pria sedang memperhatikan mereka.

“Yang perempuan itu Hania, kan?” tanya pria pertama dengan suara rendah.

“Ya,” jawab yang satunya sambil menatap layar ponsel, memperlihatkan foto lama. “Bos bilang, pantau terus dia. Jangan sampai suaminya tahu.”

“Bos? Kamu yakin ini ada hubungannya sama perempuan bernama Weni itu?”

“Yakin. Setelah kejadian tadi malam, semua perintah datang langsung dari dia.”

Mobil itu tak lama kemudian mengikuti William dan Hania dari kejauhan.

Sementara itu, di rumahnya yang mewah, Weni tengah berdiri di depan jendela besar sambil memegang segelas anggur merah. Di wajahnya tersirat kepuasan.

“Asal kamu tahu aja, Gus…” gumamnya pelan, menatap langit sore. “Kamu pikir kamu bisa main api sama aku? Sekarang lihat siapa yang akan terbakar lebih dulu.”

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.

“Target kedua sudah dalam pantauan. Tunggu instruksi selanjutnya, Nona.”

Senyum Weni melebar. Ia menatap bayangan dirinya di kaca, lalu berkata lirih, “Permainan baru saja dimulai.”

_____

Namun jauh dari sana, di dalam mobil yang melaju perlahan, William menatap kaca spion. Ia merasa ada yang aneh.

“Han…” suaranya pelan. “Kamu lihat mobil hitam itu dari tadi ikut di belakang?”

Hania menoleh ke kaca spion, keningnya berkerut. “Iya… tapi mungkin cuma kebetulan.”

William menggenggam setir lebih kuat. “Aku nggak suka kebetulan.”

Hania menelan ludah, mulai merasa gelisah. Ia tahu tatapan suaminya — tatapan yang sama seperti lima tahun lalu, ketika bahaya benar-benar datang.

“Will, jangan bilang—”

“Pegang tangan aku,” potong William cepat. “Kalau aku bilang lari, kamu langsung keluar dari mobil. Jangan tanya kenapa.”

Hania membeku. Nafasnya mulai tak beraturan.

Mobil hitam di belakang mereka mulai mempercepat laju.

Dan dalam sekejap, suara klakson panjang menggema di sepanjang jalan kecil itu.

____

William langsung membanting setir ke kanan, mobil mereka berbelok tajam masuk ke jalan kecil yang menurun menuju area perkebunan. Ban berdecit keras, membuat beberapa burung beterbangan dari pohon-pohon di pinggir jalan.

“Will! Hati-hati!” jerit Hania sambil berpegangan erat ke dashboard.

“Pegang kuat-kuat!” balas William tanpa menoleh. Nafasnya berat, matanya fokus pada kaca spion. Mobil hitam itu masih mengikuti — lebih cepat dari yang ia duga.

Hania menatap ke belakang, tubuhnya bergetar. “Mereka masih di sana! Siapa mereka, Will?!”

“Aku nggak tahu… tapi jelas bukan kebetulan,” jawabnya dengan suara tegang. “Aku cuma tahu satu hal — mereka bukan orang baik.”

Mobil William meluncur melewati jalan berbatu, lalu menukik masuk ke jalur sempit di antara kebun kopi. Ia tahu jalan ini — jalan yang dulu sering ia lewati waktu kecil bersama ayahnya.

“Pegang sabuknya, Han. Aku bakal matikan lampu. Mereka nggak boleh tahu arah kita.”

“Will, jangan—”

Tapi lampu depan mobil sudah padam. Gelap. Hanya suara mesin dan detak jantung mereka yang terdengar.

Dari belakang, mobil hitam melambat. Pengemudinya tampak bingung sejenak.

“Bos, mereka masuk jalur kebun. Gelap banget. Mau disusul?”

“Kejar!” suara dari radio terdengar tajam. “Jangan sampai lepas. Kalau mereka keluar dari area itu, habisi.”

Mobil hitam itu pun melaju kembali, menembus jalan tanah yang sempit.

William menahan napas. “Kalau kita bisa sampai ke jalan besar di sebelah utara, kita bisa minta bantuan polisi.”

“Tapi gimana kalau mereka lebih cepat?” Hania berbisik, suaranya nyaris hilang oleh gemuruh mesin.

William menatap ke arahnya, menahan rasa takutnya sendiri. “Kalau itu terjadi… aku nggak akan biarin mereka sentuh kamu. Sekalipun harus—”

Tiba-tiba, suara keras terdengar dari belakang. Braaakk! Batu besar di sisi jalan terguling, membuat mobil mereka terguncang hebat.

“WILL!”

Mobil itu oleng, menabrak semak lebat, dan berhenti mendadak setelah menabrak batang pohon.

Asap tipis mulai keluar dari kap mesin. William cepat-cepat melepas sabuk pengaman Hania. “Cepat keluar! Sekarang!”

“Tapi mobilnya—”

“Han, dengar aku!” William menarik tangan istrinya. “Lari ke arah sungai! Aku tahu ada jembatan kecil di sana. Ayo!”

Mereka berlari di bawah cahaya bulan yang redup, menembus kabut tipis. Di belakang, suara langkah kaki dan teriakan samar mulai terdengar.

“Cepat! Kejar mereka!”

***

bersambung ...

1
Eva Karmita
Andra kamu harus nya bersyukur punya teman seperti Dani yg selalu bisa menasehati kamu supaya hidup dijln yang lebih baik lagi, plisss dengerin nasehatnya..,, jarang sekali ada sahabat sebaik Dani mau jadi teman curhat yg baik.. dan biarkan Hania hidup bahagia dan tenang bersama William
KumiKimut: iya nih kak, awas saja kalau kebanyakan ganggu
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut thoooorr
Eva Karmita
Tom and Jerry ini namanya lanjut thoooorr 🔥💪🥰
KumiKimut: iya kak, mas mksih udah mampir ya
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut thoooorr 🔥💪🥰
Eva Karmita
❤️
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!