Indonesia
NovelToon NovelToon
The Hidden Truth

The Hidden Truth

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:872
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Cucu

"Nes, bangun Nes..."

Elea menepuk pipi Vanesa dengan lembut, hingga wanita itu mulai membuka mata perlahan.

"Ini sudah jam berapa, Lea?" tanya Vanesa dengan suara serak.

"Sudah jam satu siang," jawab Elea.

"APA!" ucap Vanesa terkejut, ia menatap sekitar, matahari sudah di atas kepala mereka. "Maaf Lea, gue ketiduran."

Elea menggeleng pelen, tatapannya lurus menatap ke luar jendela mobil. "Nggak apa-apa, Nes. Lo butuh istirahat, yang seharusnya minta maaf itu gue, bukan lo."

"Auh..."

Vanesa langsung mencubit lengan sahabatnya, membuat wanita itu meringis pelan. "Sembarangan lo yah, Lyn itu anak gue juga."

Elea tak menjawab, semalaman mereka tidak mendapatkan jejak putrinya. Elea akhirnya memutuskan beristrirahat sejenak karena melihat Vanesa yang sudah kelelahan.

"Lo sudah dapat jejaknya?"

Elea menjawab dengan gelengan pelan.

Vanesa menghela napas, menegakkan posisi duduknya. Ia meraih laptop yang tergeletak di pangkuannya, jarinya mulai bergerak cepat di atas keyboard.

"Gue akan coba lacak lagi. Mungkin ada kamera CCTV jalan raya yang nangkep pergerakan Lyn," ucapnya fokus menatap layar.

Elea hanya diam, tatapannya kosong menerawang keluar jendela mobil. Wajahnya pucat, ada kantong hitam samar di bawah matanya, pertanda ia sama sekali tak tidur semalaman.

"Lea," panggil Vanesa pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya. "Lo harus makan sesuatu. Dari semalam lo belum nyentuh apa pun."

"Gue nggak lapar, Nes," jawab Elea datar.

"Lea." Kali ini Vanesa menoleh, menatap sahabatnya dengan serius. Ia meraih sebungkus roti dari dashboard, menyodorkannya ke tangan Elea. "Kalau lo sampai ambruk, siapa yang bakal cari Lyn? Gue nggak bisa sendirian ngurus semua ini. Makan ini dulu, minimal buat ganjel perut."

Elea menatap Vanesa sejenak, lalu menghela napas berat. "Baiklah, gue makan." Ia meraih roti lalu mengunyahnya.

Vanesa tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada laptopnya. Jarinya bergerak lincah menyusuri berbagai rekaman kamera lalu lintas. Beberapa menit berlalu dalam diam, hanya suara ketikan keyboard yang mengisi kesunyian di dalam mobil.

Tiba-tiba, mata Vanesa membulat. "Lea! Gue dapat sesuatu!"

Elea langsung menoleh cepat. "Apa? Lo nemuin Lyn?"

"Gue nemuin rekaman CCTV jalan raya, agak jauh dari pelabuhan," Vanesa memutar layar laptopnya menghadap Elea, jarinya menunjuk sosok di layar. "Lihat ini."

Di layar, tampak seorang gadis berjalan limbung di pinggir jalan, melambaikan tangannya pada setiap mobil yang lewat, memohon pertolongan.

Napas Elea tercekat. "Itu... itu Lyn."

Tangannya bergetar menyentuh layar, air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Nes, itu Lyn! Dia masih hidup!"

"Apa gue bilang." Vanesa tersenyum lega, matanya juga mulai berkaca-kaca. "Putri kita itu anak yang kuat."

Elea mengangguk berulang kali, tak mampu menahan haru yang membuncah di dadanya. Ia benar-benar merasa ada harapan nyata setelah sekian lama.

Namun kelegaan itu berubah tegang saat rekaman berlanjut. Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan Lyn. Gadis itu tampak berbicara sebentar, lalu naik ke kursi depan.

Senyum di wajah Elea perlahan memudar.

"Siapa yang bawa Lyn pergi, Nes?"

Vanesa langsung fokus, jarinya bergerak cepat memperbesar gambar, mencoba menangkap detail pelat nomor mobil itu.

"Bentar, gue coba lacak."

"Siapa pemilik mobil itu?" tanya Elea, suaranya mulai menegang, insting seorang ibu mulai bekerja.

Vanesa mengetik cepat, menjalankan pencarian melalui database yang ia akses.

Beberapa detik kemudian, layar menampilkan hasilnya.

Pemilik: Cakra Narendra — CEO Narendra Group.

Di bawahnya, muncul data singkat: usia dan foto seorang pria berwibawa dengan setelan jas mahal.

Data keluarga: -Citra Narendra (Istri)

-Clarisa Narendra (Putri)

Elea mematung, tubuhnya membeku seketika. Nama itu... wajah itu... langsung tertanam dalam ingatannya. Dialah ayah dari gadis yang selama ini menjadi mimpi buruk putrinya.

"Itu..." suara Elea tercekat, matanya melebar penuh ketidakpercayaan. "Itu Ayahnya Clarisa."

Vanesa menoleh cepat, wajahnya ikut menegang. "Anjir, serius?"

"Lacak lokasinya, Nes! Sekarang!" Elea nyaris berteriak, panik kembali menguasainya.

Vanesa segera mengetik perintah, mencoba melacak sinyal GPS mobil itu melalui sistem yang berhasil ia retas. Namun beberapa detik kemudian, wajahnya berubah frustasi.

"Sial... lokasinya nggak bisa dilacak. GPS-nya sengaja dimatikan atau diblokir."

Elea mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menahan amarah.

"Lea, coba pikir deh, ini pasti ada kaitannya sama Clarisa. Ayahnya turun tangan buat nutupin masalah anaknya."

"Itu sudah pasti! Dia melindungi putrinya," ucap Elea dengan nada dingin.

—•—

Di sebuah ruangan mewah, seorang pria berambut putih, tubuhnya masih terlihat kokoh meski usia mulai menua, berdiri sambil bertumpu diri pada tongkatnya, menatap lekat kota Eldoria yang terbentang luas dari ketinggian gedung.

Pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang pria berjas rapi melangkah masuk, berhenti beberapa meter di belakang sosok berambut putih itu, lalu membungkuk hormat.

"Ketua," ucapnya pelan, penuh kepatuhan.

Pria berambut putih itu tak segera menoleh, matanya masih terpaku pada gemerlap kota Eldoria di bawahnya.

"Ada apa?" ucapnya akhirnya.

Rio—sang asisten, terdiam, membuat sang ketua menoleh.

"Rio..." desisnya tajam.

"Cucu Anda diculik, Ketua!"

"APA?!"

Sang ketua itu mengepalkan tangannya, matanya menajam. "Siapa yang berani menculiknya, hah?!"

"Para tim kita masih menyelidikinya, Tuan," jawab Rio.

Ketua terdiam sejenak, rahangnya mengeras menahan amarah yang membuncah. "Menantuku, di mana dia sekarang?"

"Nyonya Elea sudah bergerak, Tuan," jawab Rio cepat. "Beliau dan Nona Vanesa sudah mulai mencari sejak semalam."

Sang ketua mengetukkan tongkatnya ke lantai, suara detingnya bergema di ruangan sunyi. "Bergerak ke mana?"

"Kami belum tahu pasti, Tuan. Tapi berdasarkan laporan terakhir, mereka sempat berada di area pelabuhan lama kota Novaris."

Mata sang ketua menyipit tajam.

"Pelabuhan..." gumamnya, seolah mengingatkan sesuatu. "Kirim tim terbaik kita! Kita bergerak sekarang!"

"Siap, Tuan. Akan segera saya laksanakan."

"Dan satu lagi," sang ketua berbalik sepenuhnya, tatapannya kini menusuk tajam ka arah Rio. "Cari tahu siapa dalang di balik semua ini. Saya ingin nama itu di tanganku!"

Rio membungkuk semakin dalam. "Baik, Tuan. Saya akan pastikan."

Sang ketua melangkah keluar ruangan dengan tegap, tongkatnya menopang setiap langkahnya.

"Tunggu aku, Elea," gumamnya pelan. "Kita cari Lyn bersama-sama."

1
Anne Rukpaida
smngat lyn 💪
Nona Jmn: Terima kasih
total 1 replies
Anne Rukpaida
akhirnya lyn ketemu juga 😇
Nona Jmn: Akhirnya🫰😁...
Ikutin terus yah... masih ada plot twist kebelakangnya🤭
total 1 replies
Anne Rukpaida
critanya luar biasa keren 😎
Nona Jmn: Terima kasih🫰🫰
total 1 replies
Anne Rukpaida
smangat ka, jadi smkin penasaran ma jln ceritanya asal muasal ortunya Lyn bisa punya keahlian bela diri gitu🔥
Nona Jmn: Sabar yah🤭🤭😁😁
total 1 replies
Anne Rukpaida
ceritanya bkin deg²n 🔥 smangat ka
Nona Jmn: Terima kasih kak😊😊🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!