Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Ruang Tunggu
"Kamu gugup, Sayang?" tanya Gabriel lembut sambil mengusap punggung tangan Amara yang terasa dingin.
Amara menganggukkan kepalanya pelan. Saat ini mereka sudah berada di rumah sakit, duduk bersanding di ruang tunggu VIP yang tenang sambil menantikan giliran namanya dipanggil oleh dokter spesialis.
"Genggam tanganku lebih erat kalau rasa takutmu muncul lagi," bisik Gabriel penuh penekanan, menyatukan jemari mereka hingga tak tersisa celah.
Amara menatap pertautan tangan mereka, lalu mendongak menatap wajah tampan suaminya. "G-Gabriel..." panggilnya pelan, suaranya terdengar sangat serak karena rasa cemas yang berkecamuk di dada.
"Ya, Sayang? Aku di sini," sahut Gabriel sabar, mengelus lembut jemari istrinya dengan ibu jari.
Amara meraih buku catatannya dengan tangan kiri yang bebas, lalu menulis dengan terburu-buru. ‘Bagaimana kalau nanti dokternya bilang alat ini tidak cocok untukku? Bagaimana kalau suaraku tetap seperti ini selamanya?’
Gabriel membaca tulisan itu dengan seksama, lalu menggeleng pelan dengan senyuman hangat yang menenangkan.
"Dengar, Amara," ucap Gabriel penuh keyakinan. "Cocok atau tidak, itu hanya soal proses adjustment. Dan soal suaramu... bagiku suaramu yang sekarang sudah sangat sempurna. Apapun hasilnya nanti, tidak akan mengubah fakta kalau kau adalah istriku yang paling berharga."
Mendengar penuturan tulus itu, Amara menggigit bibirnya, merasa kehangatan merayapi dadanya dan perlahan mengikis rasa panik yang tadinya membelenggu.
"T-terima kasih..." cicit Amara malu-malu, menyandarkan kepalanya sejenak di lengan kokoh Gabriel.
"Sama-sama, Ratu kecilku," balas Gabriel seraya mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih.
Tak lama kemudian, pintu ruang pemeriksaan terbuka. Seorang perawat berseragam rapi keluar membawa papan klip di tangannya, lalu mengedarkan pandangan ke area ruang tunggu.
"Pasien atas nama Ny. Amara?" panggil perawat tersebut dengan suara ramah.
Gabriel dan Amara berdiri, lalu melangkah bersama masuk ke dalam ruangan serba putih yang harum aroma disinfektan lembut. Seorang dokter pria paruh baya bertag nama dr. Aris, Sp.THT-KL tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka.
"Selamat pagi, Tuan Gabriel, Nyonya Amara. Silakan duduk," sapa dr. Aris sopan seraya mempersilakan mereka ke kursi pemeriksaan.
Gabriel menuntun Amara untuk duduk di kursi khusus pemeriksaan, lalu tetap berdiri tepat di samping istrinya sambil terus menggenggam erat tangannya.
"Pagi, Dok. Langsung saja diperiksa, ya. Istri saya agak gugup sejak tadi," ujar Gabriel singkat namun tegas, menyalurkan rasa aman lewat remasan lembut di jemari Amara.
"Tentu, Tuan. Tenang saja, Nyonya Amara. Prosesnya tidak akan sakit sama sekali," kata dr. Aris ramah, mencoba mencairkan suasana. Ia meraih alat pembanding khusus dan mulai mengarahkan lampu ke telinga Amara. "Saya periksa posisi alat bantu dengarnya dulu, ya."
Amara meremas tangan Gabriel lebih kencang, matanya terpejam sesaat saat alat medis dingin menyentuh bagian belakang telinganya.
"B-bisa... pelan-pelan, Dok?" cicit Amara pelan, suaranya yang serak meloloskan permintaan gugup.
"Tentu, Nyonya. Sentuhannya sangat pelan kok," balas dr. Aris lembut. Setelah beberapa detik mengamati, dokter itu mengangguk puas. "Posisi alat bantu dengar di telinga kanan dan kiri sudah sangat pas. Tidak ada iritasi atau peradangan di saluran telinga luar. Respons pendengarannya sejauh ini bagaimana, Tuan?"
"Sangat baik, Dok. Dia bisa mendengar bisikan saya dengan jelas sejak kemarin," jawab Gabriel bangga, melirik Amara yang kini menunduk malu.
"Luar biasa," puji dr. Aris. "Nah, sekarang kita periksa bagian pita suaranya, ya. Nyonya Amara, boleh tolong buka mulutnya dan katakan 'Aaa' yang panjang?"
Amara mendongak ragu, menatap Gabriel seolah meminta persetujuan.
"Tidak apa-apa, Sayang. Lakukan saja, aku ada di sini," bisik Gabriel memberi semangat, mengusap puncak kepala istrinya.
Amara menarik napas dalam-dalam, lalu membuka mulutnya perlahan. "Aaa..." ucapnya tegang, pita suaranya bergetar pelan.
dr. Aris menggunakan laringoskop kecil untuk melihat kondisi pita suara Amara. Setelah selesai, ia meletakkan alatnya dan tersenyum lebar.
"Kondisi pita suaranya secara fisik sangat sehat. Tidak ada kerusakan permanen atau benjolan," jelas dr. Aris mantap. "Kelambatan dalam berbicara ini murni karena trauma psikologis dan kekakuan otot karena sudah terlalu lama tidak digunakan. Nyonya Amara hanya butuh terapi latihan vokal secara rutin dan dukungan penuh dari lingkungan sekitar."
Mendengar penjelasan itu, Amara mengerjap kaget. Air mata haru seketika menggenang di pelupuk matanya.
"J-jadi... suaraku... b-bisa kembali normal?" tanya Amara terbata-bata, memastikan langsung lewat suaranya tanpa lagi menyentuh buku catatan.
"Pasti bisa, Nyonya. Progress Anda justru sangat cepat karena keberanian Anda sendiri," balas dr. Aris yakin.
Gabriel menghembuskan napas lega, lalu merengkuh kepala Amara dan mengecup kening istrinya penuh rasa syukur.
"Dengar itu, Sayang? Suaramu akan benar-benar pulih total," bisik Gabriel hangat.
"I-iya, t-terima k-kasih, Gabr-iel..." bisik Amara terbata-bata, suaranya bergetar hebat menahan keharuan yang membuncah di dadanya. Air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya menetes membasahi pipinya.
Gabriel tersenyum amat hangat, lalu mengusap lembut lelehan air mata di pipi istrinya menggunakan ibu jari.
"Jangan berterima kasih padaku, Sayang," balas Gabriel penuh kelembutan. "Berterima kasihlah pada dirimu sendiri yang sudah sangat hebat dan berani."
Gabriel kemudian berbalik menatap dr. Aris yang sedang mencatat beberapa perkembangan di lembaran medis.
"Dokter, apakah ada vitamin atau terapi khusus yang harus kami jalani di rumah?" tanya Gabriel.
"Ada, Tuan Gabriel," jawab dr. Aris ramah sambil menyerahkan secarik resep. "Saya resepkan vitamin untuk nutrisi saraf vokal. Selain itu, kunci utamanya adalah latihan bicara santai setiap hari seperti yang Tuan lakukan sekarang. Jangan dipaksa, biarkan alurnya mengalir alami."
"Baik, Dok. Terima kasih atas bantuannya," ujar Gabriel tegas sambil menerima resep tersebut.
Gabriel kembali menunduk menatap Amara, lalu mengulurkan tangannya. "Mari, Sayang. Kita pulang sekarang."
Amara menyambut uluran tangan kokoh itu tanpa ragu, meremasnya erat. "P-pulang... ke rumah?" tanyanya pelan.
"Iya, kita pulang ke rumah," sahut Gabriel tersenyum manis, mengecup singkat punggung tangan istrinya sebelum menuntunnya melangkah keluar dari ruangan. "Dan di rumah nanti, aku punya hadiah kecil untuk merayakan kabar bahagia ini."