Indonesia
NovelToon NovelToon
Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 — Mengintai Cendana

Gedung Cendana Data Nusantara berdiri tanpa nama besar mencolok di fasadnya — hanya sebuah plakat kecil di lobi, seolah sengaja dirancang untuk tidak menarik perhatian siapa pun yang lewat. Tapi begitu Wulan memutar rekaman drone kecil yang ia terbangkan diam-diam dari atap gedung seberang, gambar yang muncul menunjukkan kenyataan yang sangat berbeda dari fasad sederhana itu.

"Tiga lapis pengamanan," jelas Wulan, memperbesar gambar di layar bengkel tua mereka. "Pagar luar dengan sensor gerak, lobi dengan pemindai biometrik ganda — sidik jari dan retina — dan area server utama yang katanya cuma bisa diakses lewat otorisasi langsung dari dua orang berbeda secara bersamaan, standar keamanan level pemerintah."

"Ini bukan target yang bisa kita masuki dengan cara yang sama seperti Tri Daya Investigasi," gumam Bara, menggeleng pelan melihat kompleksitas sistem itu.

Raka menatap layar lama, mengingat kembali pelatihan lamanya soal infiltrasi fasilitas keamanan tinggi. "Kita butuh orang dalam. Seseorang yang punya akses sah, atau setidaknya tahu celah dalam sistem yang tidak tertulis di dokumen resmi mana pun."

Wulan mengangguk, sudah menduga kesimpulan itu akan muncul. "Aku sudah mulai menggali profil karyawan Cendana lewat jejak digital publik mereka — forum diskusi teknologi, media sosial, ulasan pekerjaan anonim. Ada satu nama yang menarik perhatianku."

Ia membuka sebuah profil di layar — seorang pria muda, wajahnya biasa, terlihat seperti ribuan pekerja kantoran lain di kota ini.

"Namanya Dimas Prakoso, insinyur sistem di Cendana selama dua tahun terakhir. Beberapa bulan lalu, dia menulis ulasan anonim di forum karier soal tempat kerjanya — mengeluh soal instruksi aneh yang sering diterima dari 'manajemen tingkat atas', permintaan akses data yang menurutnya di luar prosedur normal perusahaan data biasa, dan tekanan untuk tidak banyak bertanya."

"Kedengarannya seperti seseorang yang mulai curiga dengan pekerjaannya sendiri," kata Bara.

"Atau seseorang yang cukup putus asa untuk dimanfaatkan pihak yang salah, kalau kita tidak hati-hati mendekatinya," Raka memperingatkan. "Kita tidak tahu apakah dia benar-benar tidak nyaman dengan situasinya, atau justru bagian dari sistem yang sama."

Wulan mempertimbangkan itu sejenak. "Aku bisa coba pendekatan tidak langsung dulu — menyamar sebagai peneliti independen yang menulis soal etika kerja di industri data, wawancara anonim lewat forum yang sama tempat dia menulis keluhannya. Kalau responnya menunjukkan dia benar-benar resah, kita lanjutkan lebih jauh. Kalau tidak, kita mundur tanpa meninggalkan jejak."

"Itu ide bagus," Raka setuju, "tapi kita hanya punya waktu terbatas. Berapa lama proses itu biasanya?"

"Dengan tekanan waktu seperti ini? Aku bisa coba percepat, mulai malam ini." Wulan sudah mulai mengetik, menyiapkan identitas online baru untuk pendekatan itu.

Sementara itu, di rumah keluarga Wijayakusuma, Handoko duduk di ruang kerjanya, menerima telepon dari sekretaris pribadinya dengan nada yang tidak biasa — sedikit gelisah, berbeda dari ketegasan yang biasa ia tunjukkan.

"Pihak Andratama meminta pertemuan pribadi sebelum penandatanganan ulang," katanya kepada Cinta yang kebetulan lewat, tanpa benar-benar bermaksud membagikan informasi itu, hanya berpikir keras pada dirinya sendiri. "Kolonel Setiawan sendiri yang meminta, katanya untuk 'membahas detail keamanan tambahan' setelah insiden kemarin."

Cinta membeku sejenak di ambang pintu. "Kapan pertemuannya, Ayah?"

"Lusa. Di kantor Andratama langsung, hanya aku dan dua pengacara perusahaan." Handoko menghela napas, menggosok pelipisnya. "Aku mulai berpikir, mungkin merger ini terlalu berisiko untuk dilanjutkan secepat ini."

Untuk pertama kalinya, Cinta melihat celah keraguan nyata di wajah ayahnya — bukan karena bukti konkret seperti yang dimiliki Raka dan timnya, tapi insting seorang pebisnis berpengalaman yang mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres di balik kesepakatan yang terlihat terlalu menguntungkan untuk menjadi kebetulan.

"Ayah," katanya hati-hati, memilih kata-katanya dengan sangat berhati-hati, "kalau perasaan Ayah bilang begitu, mungkin ada baiknya didengarkan, bukan diabaikan demi keuntungan bisnis semata."

Handoko menatap putrinya lama, sesuatu yang jarang terlihat di matanya — kerentanan seorang ayah yang mulai menyadari, mungkin selama ini ia terlalu sibuk membangun kerajaan bisnisnya hingga lupa mendengarkan insting yang dulu membuatnya sukses dari nol.

"Aku akan memikirkannya," katanya akhirnya, meski nada suaranya menunjukkan keputusan itu belum benar-benar bulat.

Di kamar sempitnya malam itu, ketika Cinta menceritakan percakapan itu kepada Raka, satu hal menjadi jelas bagi mereka berdua — pertemuan pribadi Handoko dengan Setiawan lusa bukan sekadar soal "detail keamanan tambahan".

Itu adalah kesempatan lain bagi Setiawan untuk mendekati targetnya, kali ini tanpa ratusan saksi yang melindunginya seperti malam penandatanganan yang gagal.

1
Eka P
c
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!