Ken merasakan dunianya runtuh dan kebahagiaannya sirna ketika dengan mata kepalanya sendiri dia melihat seluruh keluarganya dibunuh dengan begitu sadisnya oleh sekelompok pria tak dikenal.
Ken adalah saksi bisu pembunuhan sadis yang menimpa seluruh keluarganya. Ayah, Ibu serta adiknya dibunuh tepat di depan matanya dengan sangat sadis. Tapi Ken tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan meratapi kematian mereka.
Ken ingin membalas dendam dan menghancurkan pria yang ia yakini sebagai dalang utama dibalik kematian keluarganya. Dan gadis bernama Shea Oliver-lah yang menjadi sasarannya.
Dan yang menjadi pertanyaannya, apakah benar-benar pria itu yang telah membunuh keluarganya?
Ken menculik dan menjadikan gadis tak berdosa itu sebagai sandera di mansion mewahnya. Memenjarakannya di sana dan mengikat paksa Shea dengan sebuah pernikahan.
Dan apakah Cintanya pada Shea mampu membuat Ken melupakan dendam kesumatnya pada keluarga Oliver? Apakah Ken mampu melepaskan dendamnya demi Shea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekas Luka
Ken memandang Rissa yang menuruni tangga dengan pandangan penuh selidik. Mata abu-abunya menyipit melihat nampan yang di pegang oleh wanita itu. Makanan dalam nampan itu masih utuh dan belum tersentuh.
Ken meletakkan rokoknya yang tinggal setengah lalu menghampiri Rissa, buru-buru gadis itu menunduk dan tidak berani membalas tatapan Ken yang teramat tajam dan menusuk.
"Berikan nampannya padaku," Ken mengambil nampan itu dari tangan Riss, dan membawanya pada Shea.
Rissa menoleh dan hanya punggung Ken yang tertutup kemeja putihnya-lah yang tertangkap oleh matanya. Wanita itu mendesah, kembali melangkahkan kalinya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Apa dia masih tidak mau menyentuh makanannya?" tegur Senna yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada di samping Rissa.
Wanita itu mengangguk membenarkan."Benar Eonni,"
"Aku tidak tau apa yang telah terjadi padanya. Sampai-sampai, Shea bersikap seperti itu. Atau jangan-jangan Iblis itu memperlakukannya dengan sangat buruk? Tapi aku rasa itu tidak mungkin. Lalu karna apa? Hufft, aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi!" Senna mendesah panjang.
Rissa mengangguk, Ia setuju dengan Senna. Sebenarnya Rissa pun merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Istri Tuannya itu sehingga dia bersikap seperti itu sejak kemarin, Risaa sangat mencemaskan keadaan Shea. Pasalnya, sudah dua hari perut gadis tak terisi sama sekali.
.
.
Cklekkk...!!
Ken membuka pintu berpelitur elegan dan mendapati Shea sedang berdiri di depan jendela dalam posisi memunggungi. Bahkan gadis itu tidak terusik sedikit pun meskipun Ia mendengar suara pintu terbuka, pandangan Shea tetap terarah pada satu objek yang sama.
"Jika kau datang hanya untuk membujukku supaya aku mau makan sebaiknya kau keluar, Ris. Karna aku tidak lapar," ujar Shea masih dalam posisi yang sama.
"Dan membiarkan dirimu sendiri mati mengenaskan!" sahut Ken dengan suara terlewat datar.
Mendengar nada suara yang pedas dan khas membuat Shea menoleh seketika. Terlihat Ken menghampirinya sambil membawa nampan berisi makanan.
"Mau apa lagi kau kemari? Keluarlah, Ken. Kedatanganmu hanya membuat suasana hatiku semakin buruk saja,"
"Berhentilah bersikap keras kepala, Nyonya Ai! Sebaiknya kau makan atau kau akan jatuh sakit,"
Ken menyodorkan nampan yang di bawahnya pada Shea, alih-alih menerinanya, nampan berisi makanan itu hanya di tatap datar olehnya.
Bukannya mengambil nampan itu, Shea malah membalikkan tubuhnya dan mengabaikan nampan yang Ken sodorkan padanya.
"Aku tidak lapar, sebaiknya bawah keluar saja nampan itu!" ujarnya tak kalah datar
"Berhentilah bersikap keras kepala, Shea Oliver!! Kau bisa sakit jika terus seperti ini!"
Shea membalikkan tubuhnya dan memandang Ken datar. "Memangnya apa pedulimu, hah!" teriak Shea tepat di depan wajah Ken
"Tentu saja aku peduli, karna kau Istriku!" jawabnya dingin.
"Hahahah," Shea tertawa tergelak mendengar jawaban Ken, detik berikutnya tatapan gadis itu kembali datar. "Istri? Memangnya sejak kapan kau pernah menganggapku sebagai Istrimu? Memperlakukanku layaknya seorang Istri pun tidak pernah."
"Bukankah selama ini kau hanya menjadikanku sebagai tawananmu. Jika kau memang menganggapku sebagai istrimu. Tidak mungkin kau memperlakukanku seburuk ini. Memenjarakanku di dalam istanamu yang seperti neraka ini. Kau membuatku jauh dari keluargaku. Kau benar-benar Iblis tak berhati, AI-KEN!!" teriak Shea dan memandang Ken sinis.
Pranggg....!!!
"Aaahhhhh," jerit Shea histeris.
Ken membanting nampan yang sedari tadi Ia pegang, membuat seluruh isinya tumpah dan berserakan di lantai, termasuk mangkuk sup dan nasi yang kini hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.
Shea terlonjak kaget, kedua matanya tertutup rapat. Dan apa yang baru saja Ken lakukan mengingatkan Shea pada insiden mengerikan yang Ia alami beberapa tahun yang lalu. Mata abu-abu Ken memandang Shea tajam dan penuh Intimidasi.
"BERHENTILAH MENGUJI KESABARANKU!!" bentak Ken penuh emosi.
Tubuh Shea tiba-tiba menegang, kedua matanya memanas berkaca-kaca. Gadis itu menggeleng, melangkah mundur ketika melihat Ken menghampirinya. Namun langkah Shea harus terhenti ketika punggungnya berbenturan dengan dinding, gadis itu menjatuhkan tubuhnya pada lantai.
Shea duduk berjongkok sambil menutup telinganya rapat-rapat, dan air matanya sudah tumpah sejak beberapa detik yang lalu. "Hiks,! Berhenti, jangan mendekat. Aku mohon, aku mohon, aku mohon !" rancau Shea dengan nada rendah.
Ken mengerutkan dahinya, mendengar bisikan Shea. Ken juga bingung kenapa tiba-tiba Shea bersikap seperti itu lagi
"Ara-ah," panggilnya lembut dan menghampiri Shea.
Ken mengulurkan tangan kirinya, berniat memegang bahu Shea namun segera di tepis oleh gadis itu. "Jangannn," dan berteriak histeris seperti orang yang sedang ketakutan.
"Tenanglah, ini aku!" Ken berusaha meyakinkan Shea jika Ia tidak akan menyakitinya.
"Jangan mendekat, aku mohon. Aku mohon, jangan mengambil harta berharga milikku, aku mohon!" rancau Shea memohon, wajahnya mendongak menggosokkan kedua tangannya.
"ARA OLIVER!!" bentak Ken sambil mengguncang bahu Shea.
"Aaaaahhhhh," bukannya diam, Shea justru semakin histeris. Ken menarik Shea kedalam pelukannya, dan berusaha menangkan gadis itu yang terus meronta, mencoba melepaskan pelukannya.
"Aku mohon, jangan menyakitiku lagi. Hiks,! Aku mohon,! Aku mohon,!" Ken menegadahkan wajahnya mencoba menghalau cairan bening yang memenuhi pelupuk matanya, tangannya mengusap punggung Shea dengan gerakan naik turun.
"Tenanglah, Sayang. Ini aku, Ken, suamimu. Tidak ada yang menyakitimu, aku di sini akan melindungimu!" ujar Ken datar namun penuh kelembutan.
Ken benar-benar tidak tau apa yang telah terjadi pada Shea di masa lalu. Hal menyakitkan seperti apa yang telah Ia alami sampai-sampai membuatnya sampai bersikap seperti ini.
Ken merengkuh tubuh itu dengan erat, memberikan perlindungan dan rasa aman pada gadis yang sangat Ia cintai ini. Dan Ken tentu tidak akan tinggal diam, Ia akan mencari tau dan menghabisi siapa pun yang telah membuat gadis-nya menjadi seperti itu.
Ken melonggarkan pelukannya, ketika tidak lagi mendengar isakan gadis itu. Sudut bibirnya tertarik keatas saat mendapati Shea sudah terlelap setelah lelah menangis. Mengabaikan kemeja bagian depannya yang basah oleh air mata Shea.
Kemudian Ken mengangkat tangan kanannya, jari-jari besarnya menghapus sisa air mata di wajah Shea.
Gadis itu masih sesenggukan, Ken mencium keningnya lama lalu merengkuh tubuh Shea kembali ke dalam pelukannya sebelum mengangkat tubuh yang tampak rapuh itu bridal style dan membaringkan di atas tempat tidur.
Ken membaringkan Shea dengan hati-hati, seolah-olah tubuh itu adalah benda rapuh yang mudah hancur bila di sentuh.
Ken menarik selimut hingga sebatas dada, namun gerakan tangan Ken terhenti ketika tanpa sengaja Ia melihat sesuatu yang cukup menyita perhatiannya.
Dengan gerakan cepat, tangan Ken menyibak baju atas Shea dan mendapati sebuah bekas luka bakar pada bahu kiri yang menjorok kebawah dan hampir mencapai sikutnya.
Ken membekap mulutnya, dengan mata membulat sempurna. Kulit bahu dan lengan Shea berwarna merah sedikit keputihan.
Seperti bekas tersiram air panas, Ken menyentuh bekas luka itu dengan tangan sedikit gemetar. Ken tidak merasa jijik sedikit pun, laki-laki itu mengusap bekas luka bakar tersebut dengan mata berkaca-kaca.
Rasa sesak kembali menghimpit dadanya, dan kini Ken tau alasan kenapa Shea selalu memakai dress dan blus cantik berlengan panjang. Dan bekas luka itulah alasannya.
Ken beranjak dan membiarkan Shea untuk beristirahat. Laki-laki itu menutup kembali pintu kamar sang Istri sebelum benar-benar pergi.
-
Bersambung.
n ini cuma bisa kirim sekuntum mawar untuk Thor seorang.
selalu ceria dalam berkarya,biar selalu indah n menyenangkan untuk d baca n d ikuti alurnya.
slalu bahagia....
moga hasilnya sama2 kembar jg
gak masalah n gak maku2in kok