Adis seorang gadis yang sangat membenci laki-laki, entah apa penyebabnya ia juga tidak tahu.
Yang jelas jika ada laki-laki yang mendekatinya, hati Adis bisa menjadi marah. Dan yang mengetahui penyebab itu adalah ibunya, hingga sang ibu memutuskan menyuruh Adis untuk menikah karena hanya itu jalan satu-satunya.
Meski kata menikah dalam benak Adis adalah 'Aneh' namun akhirnya Adis tetap menuruti permintaan ibunya itu meski ia sendiri ragu untuk menjalankan kehidupan berumah tangga.
Rahasia apa yang di sembunyikan oleh ibunya Adis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta berhenti bekerja
Setelah meletakkan kopi diatas meja, Adis pun permisi keluar tanpa membalas sapaan Bima. Cepat-cepat Bima berdiri dari duduknya dan mencengkal lengan Adis.
"Jangan keluar dulu, aku mau bicara padamu." Ujar Bima setelah Adis membalikkan badannya menghadap ke dirinya.
"Tuan mau bicara apa?" Tanya Adis yang sebenarnya malas untuk bicara pada atasannya ini.
"Nanti siang, kita disuruh Mama beli cincin pernikahan kita." Jawab Bima sambil tersenyum.
Tanggal pernikahan mereka sudah ditentukan dan kurang dari dua Minggu lagi. Adis bersedia, dengan syarat pernikahannya hanya dilakukan akad saja karena Adis tidak ingin pernikahannya diketahui oleh seluruh karyawan kantor. Adis ingin pernikahan mereka di rahasiakan dan tentu saja kedua orangtua mereka tidak setuju karena Mama dan Papa Bima ingin menggelar pesta yang meriah dengan mengundang seluruh relasi kerja Papa Adi dan juga teman-teman sosialita Mama Desi.
Namun Adis tetap menolak dan hanya ingin pernikahan yang sederhana saja. Mau tidak mau akhirnya mereka menyetujui permintaan Adis tapi yang jelas mereka akan mengundang beberapa rekan saja dan Adis pun setuju.
"Baiklah Tuan." Jawab Adis singkat sambil mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi." Lanjut Adis meninggalkan ruangan Bima.
Bima merebahkan dirinya di kursi kebesarannya dengan helaan nafas panjang. Perjuangannya masih panjang untuk bisa menggapai hati Adis. Tidak pernah terbayangkan ia akan mengejar cintanya seorang gadis sederhana apalagi status sosialnya jauh sekali dengan dirinya terlebih lagi dia hanya pegawai rendahan di kantornya yaitu seorang office girl. Cinta memang buta, pikir Bima tersenyum lucu.
Adis berjalan lesu menuju ke ruangan pantry bahkan saat ia dipanggil oleh kedua sahabatnya saja Adis tidak menyahut. Ia seperti orang yang tidak bersemangat.
"Ada apa dengan Adis, Nis?" Tanya Sekar kepada Anis.
Anis mengangkat kedua bahunya. "Aku juga nggak tahu." Jawabnya sambil memandang Sekar.
Mereka pun mempercepat langkahnya mengejar Adis yang sudah masuk ke ruangan pantry. Disana Adis duduk melamun dan tidak menyadari kehadiran mereka.
"Dor.." Anis mengagetkan Adis sambil menepuk bahu perempuan itu.
"Assalamu'alaikum.." Reflek Adis pun terkejut sampai mengucapkan salam.
"Haha..." Tawa pecah dari Anis dan Sekar.
Adis pun menoleh lalu memukul lengan Anis karena sudah membuatnya kaget.
"Ish.. kalian ini hobi banget membuatku kaget." Ujar Adis cemberut. Tapi jika sudah bersama kedua sahabatnya ini maka segala beban yang ada di pikiran Adis akan hilang seketika. Sebab hanya pada mereka lah Adis selalu berbagi keluh kesahnya. Anis dan Sekar pun menjadi pendengar setia setiap kali Adis mempunyai masalah.
"Ya habisnya kamu melamun aja, entar kesambet lho." Ucap Anis menakut-nakuti Adis.
"Ih, amit-amit.." Jawab Adis jangan sampai itu terjadi sambil mengetuk meja berkali-kali.
"Ada masalah apa lagi?" Tanya Sekar tanpa basa-basi pada Adis, duduk di hadapan Adis.
"Aku akan menikah." Jawab Adis dengan lesu.
"Apa!!" Pekik Anis sambil matanya menoleh pada Adis. Seketika membuat Adis dan Sekar langsung menutup telinga mereka.
"Anis.. kupingku bisa-bisa tuli ya." Kesal Adis karena Anis duduknya tepat di sebelahnya.
"Tau nih." Timpal Sekar juga ikutan kesal.
"Hehe.. sorry-sorry." Jawab Anis cengengesan. "Dis, serius, kamu mau nikah? Sama siapa? Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba mengatakan mau nikah aja." Cerocos Anis panjang lebar.
"Iya Dis, nggak percaya aku." Ucap Sekar tetap tidak mempercayai omongan Adis. Bagaimana mungkin seorang Adis yang sudah mereka ketahui kalau sangat membenci laki-laki katanya akan menikah? Tentu saja mereka tidak percaya begitu saja.
"Tapi itu kenyataannya. Aku sebenarnya juga tidak ingin menikah, tapi Ibuku yang memaksaku." Rengek Adis seperti anak kecil. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Anis.
"Uh, kasihan sekali kamu Dis." Ujar Anis turut sedih seraya menepuk pipi Adis.
"Terus siapa calon suami kamu?" Tanya Sekar dengan menaik turunkan alisnya menggoda Adis yang tampak cemberut.
Adis pun menegakkan badannya dari pundak Anis lalu menoleh ke kiri dan kanan sebelum mengatakannya pada kedua sahabatnya ini.
"Mendekat lah." Pinta Adis. Sontak saja kedua perempuan itu memajukan tubuhnya dan siap mendengarkan.
"Tuan Bima." Bisik Adis agar tidak di dengar oleh orang lain.
"What!!!" Pekik bersamaan Anis dan Sekar.
"Ssttt.. jangan berisik." Ucap Adis melototi kedua sahabatnya itu. Dan untung saja tidak ada OB lain yang masuk jadi aman lah.
***
Karena tidak ingin ketahuan oleh karyawan lain. Adis memutuskan untuk menunggu Bima di halte saja. Adis juga sudah mengirim pesan pada Bima dan pria berparas tampan itu menyuruh Adis untuk menunggu lima menit lagi.
"Lama banget sih Tuan Bima, jadi nggak nih. Mana perutku udah lapar lagi." Gumam Adis sambil melihat ke arah jalan barangkali mobil Bima sudah keluar dari perusahaan.
Tin..
Bima mengklakson dan berhenti di halte lalu membuka kaca mobilnya. Dia tersenyum melihat Adis yang bersedekap dada karena lama menunggu dirinya.
"Ayo masuk." Suruhnya.
Dengan bibir mengerucut Adis masuk ke dalam dan duduk di samping Bima.
"Pake dulu sabuk pengamannya." Ucap Bima sambil geleng-geleng kepala. Adis pun memasang safety beltnya lalu Bima melajukan mobilnya.
"Dis, nanti kalau kita sudah menikah kamu berhenti ya jadi office girl." Ujar Bima melirik sekilas ke arah Adis.
"Kenapa? Malu ya punya istri yang pekerjaannya hanya jadi tukang bersih-bersih." Jawab Adis ketus.
"Bukan seperti itu Dis. Aku tidak ingin kamu kerja lagi karena aku ingin kamu menjadi ibu rumah tangga aja. Lagian untuk apa kamu kerja kalau perusahaan itu milik suami mu sendiri." Sahut Bima dengan hati-hati agar perkataannya tidak menyakiti perasaan Adis.
"Jika aku tidak kerja gimana dengan ibu, Tuan? Penghasilan ibu sebagai seorang penjahit rumahan tidak tentu." Ujar Adis yang masih mencemaskan ibunya.
"Kamu jangan memikirkan ekonomi Ibumu, semua akan aku tanggung. Jadi kamu bersedia kan untuk berhenti bekerja." Pinta Bima.
Adis menghela napasnya. "Entahlah, aku belum bisa putuskan. Tolong jangan paksa aku." Ucap Adis memandang Bima.
Bima hanya mengangguk saja. Tak terasa mobil yang di kendarai Bima sudah sampai di salah satu pusat perbelanjaan. Untungnya Adis tadi sudah mengganti seragamnya dengan pakaian biasa jadi tidak akan malu kalau pergi ke mall masih dengan pakaian seragam OBnya.
"Tuan, kita cari makan dulu ya perut saya sudah bunyi dari tadi." Pinta Adis.
Bima tersenyum tipis. "Baiklah, ayo." Tanpa sadar Bima menggandeng tangan Adis namun langsung di tepis oleh perempuan itu.
"Silahkan duduk." Bima menarik kursi agar Adis mendudukkan dirinya.
"Mau makan apa?" Tanya Bima.
"Terserah anda saja Tuan." Jawab Adis.
Disela-sela makannya Bima mengajak Adis mengobrol agar Adis tidak diam saja. Adis hanya menyahuti seperlunya saja.
"Hai Bima.." Sapa gadis cantik dengan pakaian modisnya menghampiri meja Bima sambil tersenyum.
Adis dan Bima sama-sama menoleh.
"Anggun." Gumam Bima sambil melirik Adis.
.
.
Bersambung..
.