Disebuah kamar VVIP class, terdengar suara erangan-erangan kecil dan juga suara desa han, yang membuat para cleaning service yang akan melakukan tugasnya menjadi enggan untuk memulainya, mereka terlihat menutup pintu kamar itu kembali dengan hati-hati yang memang tidak terkunci, bahkan wanita itu langsung bersandar ditembok dan mengusap lengannya yang merinding karena mendengar suara-suara erotis dari penghuni didalamnya.
~~~
Kurangnya sebuah kasih sayang menjadikan anak cenderung sulit untuk mengidentifikasikan perasaan, hal pertama yang terjadi pada kondisi psikologis anak yang kurang akan kehangaxtan dan keharmonisan dari orang tua adalah kemungkinan anak akan kesulitan untuk mengontrol pikiran, emosi bahkan hasrat pada diri mereka sendiri.
Hanny adalah seorang mahasiswa cantik dan berprestasi, namun dia harus menjadi kupu-kupu malam untuk sekedar mencari kepuasan dan kesenangan diri.
Lalu bagaimana kisah taubatnya seorang wanita malam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Adu Skill Balap
...Happy Reading...
Setelah kejadian sore itu Hanny sudah tidak banyak berharap lagi, bahkan dia sudah melupakan dinner romantis yang sudah dia sepakati dengan Jeremy saat itu.
Dan Hanny pun mengabaikan semua panggilan telepon dari Jeremy, puluhan pesan masuk darinya juga tidak dia perdulikan sama sekali, bahkan Hanny tidak punya niatan untuk membaca, apalagi membalas pesan itu walau hanya satu kali saja.
Karena dalam pikiran Hanny, aibnya sebagai seorang kupu-kupu malam sudah pasti terbongkar, karena secara tidak langsung pria itu pasti bertanya dan bercerita kenapa mereka bisa mengenal dirinya.
"Aih... Hancur sudah impianku duet mende sah bersama Jeremy, padahal satu langkah lagi, tapi kenapa ada saja halangan yang selalu menghambat keinginanku untuk menerkamnya."
Dengan malas-malasan Hanny memakai sniker miliknya, walau semalaman pikirannya sedang kalut memikirkan hal itu, namun jika dia ada jadwal ngampus, sudah pasti dia akan datang tanpa mau melewatkan pelajaran-pelajaran penting dari dosennya.
"Mungkin aku harus mencari dukun untuk memikat si Jeremy itu, biar dia klepek-klepek dan menyerahkan diri denganku, aish... tapi dimana? sedangkan banyak dukun abal-abal di negri ini, bagaimana aku bisa mempercayainya kan? Ho oh tenan!"
Dia langsung menghempaskan tubuhnya didalam mobil sport berwarna merah maroon miliknya dan pergi menuju kampus tempatnya menimba ilmu.
Sedangkan saat mobilnya sampai didepan Kampus mereka, terlihat beberapa mahasiswi perempuan sedang bergerombol mengelilingi sebuah mobil sedan mewah disana.
Tin.. Tin.. Tin..
"Excusme... Hello? Kalian pikir ini jalan nenek moyang kalian apa? Minggir gue mau parkir ini!" Teriak Hanny sambil melepas kaca mata hitamnya.
"HANNY!"
"Aish... Sialll, kenapa mereka ada disini?"
Segerombolan wanita itu langsung terbelah begitu saja dan muncullah sosok Jeremy yang didampingi oleh Nicholas disana.
"Hanny, turun kamu! akhirnya kamu datang juga." Ucap Jeremy yang langsung berjalan mendekati mobil milik Hanny
"Maaf, sepertinya aku mau resign saja dari kantor anda, permisi aku malu lewat!"
Hanny bahkan langsung menekan kembali gas mobilnya, bukan untuk parkir disana tapi untuk kabur dari Jeremy.
"Hanny, apa-apaan ini!"
Teriak Jeremy yang merasa tidak terima diabaikan begitu saja oleh Hanny, karena dia juga baru pertama kalinya diperlakukan seperti ini dengan seorang wanita yang bahkan tidak ada hubungan khusus dengannya saat ini, selain hubungan kerja.
"Woah... Besar kepala sekali dia, punya nyali ternyata wanita yang satu itu!" Nicholas tersenyum miring melihatnya.
"Nichol, kejar dia! jangan sampai lepas!"
Jeremy bahkan melompati mobilnya agar lebih cepat masuk kedalam kursi depan di mobil mewah miliknya.
"Siapa takut!" Jawab Nicholas dengan cepat.
Nicholas bahkan merasa tertantang jika seperti ini, menurutnya melakukan aksi seperti ini lebih menghibur daripada sebuah rayuan dan gombalan dari seorang wanita.
"Gilak, mereka ngejar gue, dasar Bandit kampreto, ngajak balapan sama gue ini ceritanya!"
Hanny langsung menambah kecepatan mobilnya saat melihat dari kaca spion mobil, yang ternyata mobil Jeremy saat itu sudah mengejarnya dan bahkan hanya berjarak beberapa meter saja darinya.
"Woahaha... Seru juga main kejar-kejaran dengan perempuan yang satu itu, sudah kayak pembalap F1 kan kita bos, jangan lupa pegangan yang erat bos, kita salip itu si Bodat!"
Nicholas langsung tersenyum menyeringai saat mobilnya berhasil mendahului mobil Hanny.
"Jangan menghalangi mobilnya secara mendadak, bisa bahaya nanti!" Jeremy takut jika nanti malah terjadi kecelakaan beruntun, karena bukan hanya mereka berdua saja yang melintas dijalanan itu.
"Tenang saja bos, nanti aku cari tempat yang sepi, biar bisa seperti di drama-drama action, hahay!" Nicholas bahkan bersorak kegirangan saat dia seolah mampu mengalahkan kecepatan mobil Hanny.
"Dasar Bandit gilak, aduh... kenapa gue bisa kalah?" Hanny bahkan langsung memukul stang bundar miliknya dengan kesal.
"Woi Bodat, pelankan mobilmu, atau nyawamu jadi taruhannya!" Teriak Nicholas sambil membuka kaca mobilnya.
"Tidak akan, seorang Hanny tidak akan terkalahkan begitu saja!" Umpat Hanny yang tetap nekad.
Brem... Brem...
Saat Nicholas terlihat lengah dengan kecepaan mobil Hanny yang lebih paten darinya, karena dia menggunakan mobil sport, Hanny akhirnya bisa melewati mobil Jeremy kembali yang disopiri oleh Nicholas.
"Da.. Da.. Bye.. Bye, hahaha!"
Bahkan Hanny melambaikan tangannya dengan sombong dan mengacungkan jari tengah miliknya kearah Nicholas yang terlihat melongo, karena dengan mudahnya Hanny bisa menyalip dirinya.
"Aish... wanita itu memang nggak ada takut-takutnya, awas aja kamu ya!" Nicholas langsung memainkan skill balapnya.
"Nicholas, jangan gila kamu ya, aku masih ingin hidup lagi ini!" Teriak Jeremy yang sudah berpegangan erat di pegangan mobil itu.
"Tenang saja bos, aku hanya ingin menggertaknya saja!" Nicholas bahkan sengaja ingin menempelkan mobilnya ke mobil Hanny.
"Dasar si Bandit, kamu pikir gue takut apa! Lihat saja nanti, tapi ehh itu... Aaaaaaaaaaa!"
Cekiiiiiittttttttt!
Braaaaaakkkk!
"HANNY!"
Jeremy langsung menjerit saat Mobil Hanny sengaja dia tabrakkan sendiri ke trotoar jalan karena ingin menghindari seorang ibu-ibu penjual makanan dijalanan yang hampir saja tertindas oleh mobilnya.
"Nicholas, kamu sudah gila ya!"
"Maaf bos, aku nggak lihat, tiba-tiba saja ada ibu-ibu pedagang itu muncul dari sana."
Akhirnya Jeremy dan Nicholas berlari kearah mobil Hanny untuk menyelamatkan dia.
"Cepat ambil batu, pecahkan saja kaca mobilnya dari belakangnya, kita buka pintunya lewat belakang!" Teriak Jeremy dengan panik.
"Okey!"
Praaaannnggggg!
Tapi saat kedua pria itu dengan panik memecahkan kaca mobil belakang milik Hanny karena dia pikir Hanny pingsan didalam, namun ternyata tak selang beberapa lama, pintu depan mobil itu terbuka sendiri dan keluarlah sosok Hanny dengan kening dan tangan yang sudah berlumuran daraah.
"Ibuk? Apa ibuk terluka?"
Hanny langsung berjalan tertatih-tatih mendekati ibu pedagang itu yang terjatuh, bukan karena tersenggol atau tertabrak mobilnya, tapi karena dia terkejut dan ketakutan saja.
"Nggak papa nak, cuma itu dagangan ibuk hancur semua." Ucap Ibuk itu dengan wajah dan tangan yang sudah bergetar, tubuhnya pun sudah keluar keringat dingin semua.
"Nggak papa buk, nanti saya beli semua dagangan ibuk dan saya ganti rugi semuanya, yang penting ibuk tidak terluka, apa ada yang lecet atau sakit di tubuh ibuk?" Tanya Hanny dengan khawatir.
"Tidak nak, tapi kamu yang malah berdaraah-daraah ini nak?" Tangan keriput itu mengusap darah yang mengalir dari kening Hanny perlahan.
"Nggak papa buk, anggap saja saya sedang donor darah, hehe..."
Hanny bahkan masih bisa tersenyum walau sebenarnya lukanya terasa sangat pedih dan ngilu.
"Tapi nak, ini daraahnya banyak loh?" Wajah Ibuk itu bahkan terlihat pucat melihat daraah segar yang terus menetes dari kening dan lengan Hanny.
"It's okey buk, sebentar ya saya ambilkan uang di mobil saya dulu."
Hanny bahkan sedikit menyeret kakinya yang terasa nyeri untuk kembali ke mobil dan mengambil dompet miliknya untuk ganti rugi.
"HANNY!"
Jeremy akhirnya mulai bersuara saat tadi dia dan Nicholas sempat terbengong sendiri melihat apa yang dilakukan oleh seorang Hanny, mereka berdua yang sudah ketar-ketir bahkan ketakutan kalau saja Hanny kenapa-kenapa, tapi malah dengan santainya dia menolong ibuk pedagang itu, bahkan mengkhawatirkan kondisi ibu itu, sedangkan dia sendiri jalannya sempoyongan karena terlihat menahan rasa sakit.
Terkadang Hati manusia itu ibarat Kendi, tidak ada yang bisa melihat isinya, sehingga kejernihannya, hanya dapat dilihat dari apa yang dia keluarkan.