"Liv, jujur aku merasa tidak nyaman dengan perubahan sikap kamu ini."
"Toh diantara kitakan memang tidak terjadi apa-apa. Jadi buat apa kamu berusaha untuk menghindari ku?" Lanjut Daniel.
"Ternyata benar, dia hanya menganggap ku teman biasa saja." Bisik ku dalam hati.
"Aku hanya merasa tidak nyaman saja, saat mereka bergunjing tentang kita. Karena aku tahu kamu pasti merasa tidak nyaman dengan itu." Balas ku.
"Seperti yang kamu katakan barusan, kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Ya harusnya kamu pun tidak harus merasa terganggu,mau aku menghindari kamu atau pun tidak."
Tanpa mau mendengar jawabannya, aku pun memilih untuk pergi lebih dulu. Rasa kecewa di hati ku, yang buat aku malah mengatakan kata-kata itu di hadapannya langsung.
Padahal beberapa hari ini, aku memendam rasa rindu ku terhadapnya. Dia tidak tahu saja,bagaimana tersiksanya aku karena harus menghindarinya seperti ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evien Alviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
...KEBERHASILAN DANIEL...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepulang dari danau itu, kami pun berpisah tepat di depan halam rumah ku. Jujur aku masih tidak menyangka kalau ternyata Daniel pun punya perasaan yang sama terhadap ku. Padahal akhir-akhir ini aku sudah merasa kecewa dan bimbang dengan perasaan ku sendiri.
Sesampainya di rumah,ibu langsung menyambut ku dengan menyiapkan minuman hangat yang terbuat dari jahe merah.
"Liv, tumben hari ini kamu pulang terlambat?" Tanya ibu.
"Iya bu, tadi aku mampir dulu untuk melihat danau beku. Itu pun karena Daniel yang mengajak ku,"
"Ah pergi dengan Daniel,"
"Ya sudah habiskan minumannya, setelah itu kamu mandi. Ibu mau masak dulu,sebentar lagi ayah pulang." Lanjut beliau.
Ibu pun kembali ke dapur untuk masak makan malam kami nanti,tidak lama setelah itu Axel pun keluar dengan membawa buku dan langsung menghampiri ku.
"Kenapa?" Tanya ku.
"Bantu dulu aku kerjakan tugas ini,"
"Aku kesulitan."
"Ya ampun, aku kira kenapa. Mana coba sini kakak lihat,"
Dengan wajah yang tampak senang, dia pun langsung memberikan bukunya pada ku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah kejadian itu,baik aku atau pun Daniel kami sama-sama sepakat untuk tidak dulu mempublikasikan hubungan kami terlebih dulu. Karena saat ini Daniel sendiri tengah fokus pada tesnya yang di adakan di beberapa universitas ternama di kota kami. Aku tidak ingin saja nantinya setelah anak-anak di sekolah ku tahu, mereka mengganggu kami dan itu bisa membuat Daniel tidak fokus.
Cukup Kimi,Lucas dan Hamid saja yang tahu tentang hubungan kami. Selain dari mereka bertiga tidak ada yang tahu,tentang hubungan kami.
Selama di sekolah pun kami bersikap biasa-biasa saja dan tidak menunjukan kalau saat ini kami tengah berpacaran. Namun tetap saja,Daniel selalu cari waktu yang tepat untuk kita bisa habiskan untuk berdua. Misalnya pergi ke perpustakaan,atau kalau ada kesempatan untuk kita bersama.
Sulit memang menjalin hubungan seperti ini,bahkan aku juga sempat merasa takut. Dengan cara seperti ini,takutnya ada wanita lain di luar sana yang masih anggap Daniel masih sendiri. Untungnya aku punya teman yang sangat mensuport hubungan kami berdua dan mereka jugalah yang selalu kasih kita ruang untuk bicara berdua.
Hari ini Daniel tidak masuk kelas,karena dia dan dua orang siswa lainnya tengah mengikuti lomba yang di adakan di salah satu universitas terkenal. Yang aku dengar,kalau dia bisa mendapatkan penghargaan di lomba ini atau memenangkannya itu bakal bantu Daniel untuk bisa mendapatkan beasiswa di universitas itu.
"Liv......."
"Udah dong, dari tadi aku perhatikan kamu diam saja. Kenapa kamu kangen yah?" Tanyanya.
"Tidak,bukan begitu Kim."
"Aku hanya gugup saja dengan hasilnya,"
" Kalau masalah itu,kamu tenang aja. Daniel itu salah satu siswa yang pintar di sekolah kita ini. Aku yakin dia bisa mengikuti lombanya dengan baik, kamu berdoa saja." Jelasnya.
"Ngomong-ngomong aku masih tidak menyangka tau gak,"
"Maksudnya?" Tanya ku penasaran.
"Ya kamu sama Daniel. Karena setahu aku,selama kenal dia di sekolah ini. Belum ada tuh aku dengar dia dekat atau ngedeketin cewek."
"Kamu hebat tau gak,bisa mendapatkan hatinya sekarang." Lanjutnya.
"Bisa aja kamu,"
Ucapan Kimi barusan cukup buat aku tersipu, ini bukan kali pertama aku mendengar darinya. Bahkan Lucas dan Hamid pun juga pernah mengatakan hal yang sama dengan apa yang Kimi katakan barusan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepulang sekolah,aku pun langsung pulang karena tadi Daniel mengirimi aku pesan dan meminta ku pulang lebih dulu.
Padahal aku sudah menyiapkan sesuatu untuk dia hari ini. Meskipun aku belum tahu hasil dari lomba yang di ikutinya hari ini,tapi kemarin aku sengaja pergi ke supermarket untuk membeli hadiah untuknya.
"Kak,sini......." Ucap Axel langsung menarik ku.
"Ada apa sih dek?" Tanya ku heran.
"Bantu aku, untuk buat karya seni buat tugas ku besok. Tolonglah kak,"
"Ya ampun dek, aku kira ada apaan. Tau nya kamu mau di bantu untuk ngerjain tugas kamu itu."
"Sebentar lah, biarkan kakak makan dulu." Lanjut ku.
"Oh ya udah, tapi janji ya kak. Setelah itu kamu bantuin aku,"
"Iya......."
Dia pun langsung melepaskan tangannya dan pergi duduk di ruang tengah. Sedangkan aku langsung ke dapur untuk mengambil makan. Entah kenapa hari ini aku merasa lapar lebih awal,padahal tadi siang aku sudah makan cukup banyak.
Untung saja bunda sudah masak ayam goreng pandan dan sambal khas Indonesia. Meskipun kami sudah cukup lama tinggal di sini,tapi bunda selalu menyiapkan makanan dengan menu Indonesia. Ya meskipun kami harus beli bahan makanannya dengan harga yang jauh lebih mahal di sini.
"Bu........"
"Aku mau langsung makan ya."
Mendengar ucapan ku, ibu yang tengah berada di gudang pun hanya keluar sesaat dan membolehkan ku.
"Makanlah nak,ibu sengaja buat itu untuk kamu. Sekalian kamu ajak adik kamu itu, dia juga belum makan soalnya." Jelas ibu.
"Axel, makan dulu lah. Nanti baru kita kerjakan tugas mu itu,kalau kamu tidak mau awas aja nggak bakal mau aku bantu kamu." Teriak ku.
Mendengar ancaman dari ku, dia pun langsung berlari menghampiri ku dan mengambil piring.
"Bisa-bisanya kakak malah mengancam ku,'' ucapnya sambil mengambil nasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya setibanya di sekolah aku langsung menerima kabar dari Hamid,kalau ternyata Daniel memenangkan lomba yang di ikutinya kemarin. Dan sekarang dia tengah mengurus untuk mengambil piagamnya di sana.
Meskipun kami tidak bisa bertemu dalam beberapa hari ini,tapi setelah mendengar kabar baik ini aku merasa sudah terobati. Aku tahu betul perjuangan dia untuk mengikuti lomba ini,dia bahkan harus pergi ke perpustakaan setelah pulang dan pulang larut malam.
"Kamu pasti sangat senang," ucap Kimi.
"Tentu saja."
"Semoga saja siang nanti dia udah bisa balik ke sekolah." Lanjut Kimi.
"Iya semoga saja,"
Aku pun bersiap untuk mengikuti pelajaran pertama di hari ini dan mengeluarkan barang-barang ku dari loker. Beberapa hari ini aku belum membereskan loker ku ini, yang terlihat sudah sesak dan tidak beres.
"Liv, sepertinya kita harus merayakan kemenangan Daniel kali ini. Gimana menurut kamu?" Tanya Kimi.
"Sepertinya dia akan menolaknya lebih dulu. Tahu sendiri dia tidak suka dengan hal-hal seperti itu,"
"Iya juga sih. Aku melupakan itu,"
"Tapi nanti aku akan coba bicara dengan Lucas dan Hamid. Siapa tahu mereka punya ide gitu," Lanjutnya.
"Ya coba saja, secara kan Hamid juga cukup dekat dengan Daniel."