Kematian sang kakak tercinta membuat Alaska sangat terpuruk di tambah pertengkaran rumah tangga kedua orang tuanya setelah kepergian sang kakak.
Suatu hari Alaska balap liar di kalahkan oleh seorang wanita cantik yang bernama Aline. Alaska tertarik dengan Aline, ia berusaha untuk mendapatkan Aline. Akankah Alaska berhasil?
Kejanggalan kematian kakaknya, Alaska pun menyelidikinya dan berhasil menemukan pelakunya yang ternyata ada hubungannya dengan keluarga Aline.
Ada dendam apa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alaska marah
Aline bergegas masuk ke dalam kos-kosannya lalu masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian. Habis ini Aline ingin menyelesaikan tugas dari dosen dan juga melengkapi power point organisasi karena mereka sebentar lagi ada acara khusus anggotan BEM.
Selesai mengganti pakaian Aline pun duduk di ruang tengah sambil menyetel musik dari laptopnya. Di tengah keasikan mengerjakan tugas tiba-tiba Fani berteriak memanggil Aline membuatnya terkejut.
“Apa?” teriak dari dalam.
“Makanan lo datang, bayar.” Teriak Fani.
“Astaga gue hampir lupa.”
Aline langsung berlari keluar untuk mengambil makanan yang tadi sempat di pesannya. Mereka pun masuk ke dalam rumah lalu Fani ikut duduk di sofa ingin mengincar makanan Aline.
“Ganti baju lo sana, baru makan.” Aline duduk lagi di depan laptopnya.
“Lo beliin gue juga?”
Aline mengangguk. “Ya udah sana, gue mau sibuk.”
“Lo memang terbaik.” Memberikan finger heart kepada Aline lalu masuk ke dalam kamarnya.
2 jam berlalu, akhirnya Aline selesai mengerjakan semua tugas-tugasnya karena memang tidak terlalu sulit bagi Aline. Ketika Aline ingin mengambil pizza, terdengar ponselnya berdering panggilan dari Alaska.
“Hm?” Aline memasukkan pizza ke dalam mulutnya. “Gue mau makan.”
“Lo di mana?”
“Di kos-kosan, gue baru selesai mengerjakan tugas.”
“Ouh ya udah makan aja dulu, nanti gue telpon lagi.”
“Eh tunggu dulu, lo nelpon gue buat apa?”
“Gak ada, cuman mastiin lo doang.” Ucap Alaska. “Gue matikan dulu, bye muwah.”
Aline melempar ponselnya lalu menikmati beberapa makanan yang mulai dingin akibat di diamkannya. Begitulah Aline, jika sedang mengerjakan sesuatu pasti sangat fokus sampai selesai.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 15.00 saat ini Aline dan Fani sedang duduk di sofa sambil menonton sebuah drama dari negara China. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Aline yang malas berdiri pun menyuruh Fani untuk membuka pintu.
“Aline, kakak lo datang.” Teriak Fani.
Aline langsung beranjak dari sofanya lalu berlari keluar menghampiri Arnold yang sedang berdiri di teras. Sejenak mereka berpelukan lalu duduk di depan menikmati angin alam.
“Tumben lo datang ke tempat gue?” Aline heran dengan kedatangan Arnold yang mendadak. “Bawa apaan lo?” melihat paper bag.
“Tadi gue mampir ke toko baju kebetulan di sampingnya orang jualan kue, sekalian aja gue beliin lo.” Meletakkan paper bag itu di depan Aline.
“Dih ada maunya ya lo?” ucap Aline.
“Gak lah, gue sudah ada pacar.” Arnold menyombongkan dirinya yang memang sudah lama jomblo setelah putus dari mantan kekasih. “Pacar gue cantik banget.”
Arnold mengacak-acak rambut Aline sambil terkekeh kecil, kedekatan mereka itu sangat dekat. Arnold selalu menyangi Aline, memberi perhatian lebih kepada Aline di saat kedua orang tua mereka sibuk bekerja mereka saling memberi perhatian satu sama lain. Sementara Alaska sampai sekarang belum mengetahui siapa orang tua dari Aline, apakah Aline ada kakak atau adik karena dari mereka sendiri belum ingin memberitahu jika belum waktunya.
.
.
.
Basecamp Redwolf sangat berisik karena teriakan suara mereka yang sedang berkumpul bersama. Jarang-jarang ada momen seperti ini, jika tidak ada Alaska mereka semua tidak bakal kumpul begini. Terlihat Zen masuk ke dalam sambil membawa minuman kopi yang sangat banyak untuk mereka.
Zen menepuk bahu Alaska. “Ke atas, ada yang mau gue bicarakan sama lo.” Bisiknya.
Alaska menoleh. “Ada apa? Serius banget kayaknya.” Berdiri. “Kalian lanjut aja, gue mau ke atas.”
“Satu-satu biar semuanya kebagian.” Teriak Zen.
“Oke.” Sahut Eky.
Alaska menaiki anak tangga di ikuti Zen, sesaat Vino menyenggol Carlos lalu menyusul Alaska ke atas. Mereka saling peka jika memang ada sesuatu yang serius. Mereka berempat berkumpul di salah satu ruangan yang kedap suara agar bisa leluasa untuk berbicara.
Kenapa mereka seperti itu? Karena tidak semua orang harus mendengar atau mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. Dan tidak semua anak Redwolf murni anak Redwolf.
“Ada apaan?” Carlos yang sudah tidak sabar. “Apa Frans mencari masalah lagi?”
Zen mengangguk. “Tadi gue sama Julia melihat Aline di ganggu anak Frans bersama teman-temannya.”
Alaska langsung memukul meja. “Anjing, berani-beraninya tuh orang ganggu cewek gue.”
“Terus gimana? Apa dia menyentuh Aline?” Vino di buat penasaran apalagi menyangkut Frans.
“Hampir, karena gue datang makanya Frans gak jadi menyentuh Aline.”
“Nanti malam gue datang ke basecamp mereka, sekarang gue harus mengerjakan tugas.” Kesalnya.
Hari ini kelas Alaska mendapat tugas yang harus di kirim secara online, karena tadi dosennya tidak bisa berhadir. Alaska yang terlalu meremehkan jam pun tergesa-gesa, terakhir di kumpul jam 17.00 sedangkan tugasnya lumayan banyak.
.
.
.
Jam begitu cepat berlalu hingga tidak terasa sudah jam 10 malam, Alaska keluar dari basecamp lalu naik ke atas motornya. Alaska ingin pergi ke basecamp Tracker sendirian, karena ini urusannya dengan Frans tidak ada hubungan dengan anak-anak yang lain termasuk Elang.
Alaska tidak paling tidak suka jika ada orang yang mengganggu kekasih tercintanya, makanya di kampus tidak ada yang berani mengganggu Aline apalagi pria.
“Ka, lo yakin datang sendirian ke sana?” tanya Vino mengkhawatirkan Alaska.
“Jangan pedulikan gue, lo pada di basecamp aja.” Menjalankan motornya.
Elang yang terlalu setia dengan Alaska pun memutuskan untuk menyusul bersama 10 anak Redwolf. Tetapi mereka datang tidak secara terang-terangan melainkan diam-diam untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan.
Sesampai di basecamp Tracker dengan jarak yang membutuh waktu 15 menit dari basecamp Redwolf. Dengan santai Alaska melepaskan helmnya lalu masuk ke halaman basecamp sambil berteriak memangggil Frans.
“Mau apa lo datang ke sini?” tanya Frans. “Lo mau bertamu atau apa?”
Alaska yang sudah tidak bisa menahan amarahnya pun menarik Frans dengan kasar lalu memukul wajahnya beberapa kali. Elang dan yang lainnya masih memantau di luar halaman basecamp, Frans yang tidak paham dengan maksud Alaska tiba-tiba menyerang pun marah. Frans membalas pukulan tetapi Alaska menangkis tangannya lalu memegang dengan kuat.
“Maksud lo apa tiba-tiba menyerang begini?”
“Tadi siang lo mengganggu cewek gue.”
“Siapa cewek lo?” Frans berusaha mengingat. “Ouh itu, dia pacar lo? Kenapa selera lo sangat rendahan.” Terkekeh kecil.
Alaska memukul lagi wajah Frans tanpa ampun karena sakit hati mendengaar Frans yang menjelek-jelekkan Aline. Frans membalas juga pukul Alaska dengan penuh emosi, mereka saling memukul dan juga Frans melampiaskan semua kebenciannya kepada Alaska.
Tiba-tiba Vino melihat ada sesuatu yang tidak beres dari samping basecamp pun langsung berlari masuk ke halaman di ikuti yang lainnya. Alaska terkejut melihat kedatangan mereka, karena Alaska sudah melarang mereka.
“Kenapa kalian ada di sini? Jangan ikut campur, ini urusan gue.” Teriak Alaska.
“Ka, gue cuman mau kasih tahu kalau cewek yang menjadi kekasih lo itu adik dari seorang pria bajingan.”
Pria bajingan yang di maksud Frans adalah Arnold. Memang Arnold ini selalu mencari masalah dengan anak motor lain, sebenarnya Aline juga tidak tahu apa-apa mengenai Arnold walaupun mereka sangat dekat tetapi Arnold tidak pernah mengajak Aline nongkrong bersamanya.
Ketika Alaska ingin memukul lagi, tiba-tiba ada yang melempar batu hingga terkena kepala Alaska membuat kepalanya berdarah. Carlos yang melihat itu melempar balik batu kepada mereka, kini mereka saling melempar batu hingga kondisi semakin tidak kondusit.
Zen dan Vino yang melihat Alaska semakin terluka parah pun langsung melempar suatu benda ke tengah hingga asap putih tebal keluar. Carlos dan Axel langsung membawa Alaska pergi dari sana lalu masuk ke halaman rumah kosong yang ada di komplek seberang.
Beberapa menit kemudian ambulans datang, Vino langsung memasukkan Alaska ke dalam ambulans bersama Carlos. Ambulans itu pun jalan menuju rumah sakit terdekat, kini wajah Alaska penuh dengan darah.
Pandangan Alaska buram tiba-tiba teringat kejadian Gevan waktu itu tanpa terasa air matanya turun karena merindukan sang kakak tercinta. Masih teringat jelas kejadian kecelakaan waktu itu, bagaimana kondisi di dalam ambulans melihat Gevan yang sekarat.
Tiba di rumah sakit, kedua suster menurunkan brankar pasein dari ambulans ketika ingin masuk ke dalam terdengar Aline berteriak memanggil Alaska. Alaska tidak apa-apa, hanya bisa tersenyum.
Aline menggenggam tangan Alaska. “Kenapa lo jadi begini? Siapa yang melukai lo?” menangis.
“Gue gak papa, jangan menangis.” Mengelus wajah Aline. “Siapa yang memberitahu lo?”
“Carlos.” Sesaat menghela nafas. “Suster cepat.” Teriak Aline.
“Tunggu gue.” Ucap Alaska dengan pelan menahan sakit di kepala dan tangannya.
Perlahan genggaman Aline terlepas karena Alaska mulai masuk ke dalam ruang UGD yang di mana selain pasien tidak boleh ada yang masuk apalagi pasien yang sangat darurat.
Julia langsung memeluk Aline dengan erat. “Tenanglah, Alaska gak bakal kenapa-kenapa.” Berusaha menenangkan.
...Bersambung…....