Keiyona Meadow merupakan putri dari Klan Meadow, Klan tertua di Carleon Metropolis yang bergerak dalam bisnis dunia hitam. Di saat identitasnya terbongkar, Nash Orlando datang membantu dengan maksud terselubung.
Percintaan, pencarian kebenaran, perebutan kekuasaan, ketidakpercayaan serta pengkhianatan, menjadi perjalanan mereka ketika peristiwa 20 tahun lalu kembali membayangi.
"we only part to meet again" Kita berpisah untuk bertemu kembali.
Keseruan apa yang akan dihadapi Keiyona dan Nash dalam kebersamaan?.
Ikuti ceritanya hanya di noveltoon.
by. adorablecat
cover. by pixabay
edit canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adorablecat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumor
"Kau belum dengar berita?" Rigel memasuki ruangan Nash begitu melihatnya datang.
Nash datang ke kantor siang harinya. Ia hanya bisa tidur 2 jam atas semua keributan yang terjadi. Keiyona dan Pavo telah menghilang dari kediamannya. Yang tersisa hanya Callisto dan anak buahnya yang baru.
"Berita apa?" Sahut Nash lesu.
Ia mencari di kafe tapi jejak Keiyona tidak ada di sana. Ke kasino pun di tutup. Kini ia memutuskan menunggu kabar sembari menyelesaikan pekerjaan yang terbengkalai.
"Woah! Kau tampak... euh...kacau Nash." Rigel mengamatinya dengan seksama.
"Sangat. Tidurku hanya 2 jam dan aku belum minum kopi." Nash memijat keningnya yang terasa berdenyut hebat.
"Kenapa?" Selidik Rigel penuh keingintahuan.
"Jangan campuri urusanku. Katakan ada berita apa dan enyahlah dari sini jika tak penting."
"Kudengar dari Midnight Mirage semalam, kasino di serang kembali ya?"
"Oh!"
Bukan Kasino tapi rumah Callisto. Siapa informan bodoh yang menyebarkan rumor miring. Ledek Nash di hatinya.
"Hanya oh."
"Memangnya ada tambahan lain?" Nash mencoba menaggapinya, supaya Rigel lekas pergi dari hadapannya.
"Kasino tersebut di rusak, kacau. Hancur. Bahkan sebagian warga yang bermain terluka. dan klan Meadow hancur. Begitulah yang kudengar."
Kepala Nash semakin berdenyut seperti di pukul palu besar, informasi yang di berikan Rigel bisa jadi benar. Apalagi Keiyona dan Pavo menghilang. Tapi Nash belum mau mengambil kesimpulan.
"Apa maksudmu dengan hancur?"
"Kudengar Blackthorn yang memulainya. Dan Callisto kalah. Benarkan ia cedera sampai keadaannya kritis?"
"Blackthorn! Kau ngaco. Itu hanya rumor jangan di tanggapi Rigel. Siapa yang menyebarkannya? Tidak ada kerjaan. Bagaimana jika Callisto mengutus orang untuk menjegalnya. Paling orang tersebut ketakutan dan kabur. Jangan di percaya Rigel," ucapnya meyakinkan sahabatnya tersebut.
"Semalam beberapa anak buah Blackthorn datang merayakannya. Dan memperlihatkan kediaman Meadow hancur. Videonya beredar di situs gelap. kau tak tahu?"
"Tidak tahu sama sekali."
"Kau tak percaya padaku kan?" Rigel menatapnya, tapi Nash mengalihkan pandangannya. Ia merasakan mata Rigel menusuknya.
Terkadang Nash berpikir bahwa Rigel tidaklah sebodoh dan seceroboh yang di perlihatkannya. Sesekali aura menyeramkan terkuar darinya, namun ia berusaha meredamnya, dengan berbuat konyol.
"Atau ini berita bohong. Tapi lihatlah foto ini. Bukankah ini belati milik Blackthorn."
Nash merebut ponsel Rigel secara paksa, ia memandangi dengan teliti apa yang tergambar di ponsel tersebut. Tapi tak bisa bilang apapun. Karena Rigel akan semakin bertanya.
Untunglah semalam Kei berhasil mengeluarkan kita semua, apa jadinya jika masih di sana. Mereka benar-benar nekat dan penuh persiapan. Batin Nash bergidik mengingat peristiwa beruntun yang di alaminya.
"Benarkah ini kediaman Meadow? Kupikir akan hitam kelam bak kastil vampire atau sejenisnya."
Nash mencoba tertawa mendengar kegilaan pemikiran sahabatnya.
"Seiren!" Panggil Nash. Sekretarisnya segera muncul dari balik pintu.
"Ya sir."
"Bawakan aku parasetamol dan segelas kopi."
"Tapi... "
"Cepatlah," Bentak Nash.
Blackthorn, Midnight Mirage. Meadow. Mereka semua membuat kepalaku pecah. Dan Keiyona.
"Pusingmu separah itu?" Nash hanya bergumam euhm saat menjawabnya. "Jangan satukan kopi dan obat, itu tidak baik." Nash mengangguk.
"Terima kasih Rigel atas informasinya, tapi kau percaya Klan Meadow hancur begitu saja?"
"Entahlah, tapi bisa saja terjadi."
"Alasannya?"
"Blackthorn telah mengincar mereka. walau Keiyona kuat tapi ia tidak bisa menandingi pria semacam Lucius. Kuat. Benrani. Nekat. Dan Callisto sepertinya sedikit melemah.“
Kau gila. Kau tidak mengenal Kei, jangan berkata hal yang menbuatku tertawa. kau bilang ia lemah. Kita lebih lemah dari padanya. Kau mengerti.
Nash hanya mangut-mangut mendengar Rigel membeberkan alasannya. Hatinya menolak semua yang di katakan partner kerjanya tersebut.
"Penjelasan yang menarik."
“Sir, obat dan kopi anda.“
Nash mengambil obat yang masih terbungkus tersebut dan menegaknya dengan segelas air putih yang tersedia di mejanya.
"Biarkan aku tidur," Nash mengusir semua orang yang berada di ruangannya.
"Seiren. Jangan biarkan seorang tamu pun masuk atau gajimu aku tahan.“
Dengan wajah memberengut Seiren tetap mematuhi permintaan atasannya tersebut. "Baik, sir."
"Kau...." Rigel hendak membelanya tapi tangan Nash menghentikannya.
"Mintalah tambahannya pada Rigel jika kau kekurangan."
"Nash!" Panggil Rigel kesal.
Mereka tak mengganggu lagi. Keduanya keluar dari ruangannya.
Nash memutar kursinya sembari memijat keningnya. Informasi yang di berikan Rigel belum sepenuhnya ia percayai.
Akibat efek obat, mata Nash semakin lama semakin berat dan akhirnya tertidur. Ia tidak menyadari kantornya telah kedatangan tamu istimewa.
Nash terjaga kembali setelah benda dingin menyentuh urat nadi di lehernya.
"Tidurmu nyenyak tuan notaris? Atau boleh ku panggil pengasuh nona Meadow!"
....•♫•♬••♬•♫•....
"Berapa orang yang terluka?" Tanya Keiyona ketus pada pelayan kasino.
"Belum bisa di pastikan nona, tapi semua yang terluka sudah di tangani."
Keiyona berada di kasinonya setelah mendapat pesan dari anak buahnya melalui ponsel Pavo.
"Sepertinya mereka mulai kehilangan kesabaran."
Keiyona berada di Stardust melihat kerusakan yang di timbulkan gerombolan orang setelah kasino tutup.
Lambang sulur berduri yang membelit kupu-kupu hitam, tertancap menggunakan belati khas, di meja kerja sang ayah. Lambang yang di pakai oleh klan Blackthorn.
"Menurut nona ini ulah Blackthorn?" Pavo datang setelah memulihkan sistem keamanan.
"Entah. Tapi seingatku, Lucius bukan seorang pengecut."
"Jadi nona menyimpulkan ini ulah yang lain."
"Bisa di bilang. Mungkin orang yang semalam meruntuhkan keamanan paman di rumah."
Keiyona mengeluarkan peralatan dari lemari sang ayah. Sarung tangan karet steril. Sebuah senter.
“Matikan semua cahaya, aku harus memeriksanya," perintah Keiyona.
Keiyona memeriksa meja sang ayah, sarung tangan karet telah terpasang sebelum menyentuh apapun. Ia menerangi meja tersebut dengan senter ultraviolet. Mencari sidik jari yang tertinggal.
"Bagaimana?" Tanya Pavo penasaran.
"Sepertinya ini replika. Terlalu bersih. Seperti tidak pernah di sentuh siapapun."Kesimpulan Keiyona setelah memeriksa lambang Blackthorn dan pisaunya.
"Orang gila mana yang punya pemikiran seperti ini."
"Orang cerdik yang tahu dasar penyelidikan. Hukum. TKP. Dan forensik."
"Seperti nona."
Pavo kembali menyalakan lampu setelah Keiyona selesai memeriksa dengan teliti.
"Paman terlalu menyanjung," jawabnya tersipu malu.
"Nona..." Salah seorang bawahannya tergesa menghampirinya.
"Nona harus lihat ini." Ia menyodorkan ponselnya yang telah menayangkan video di kediamannya.
Keiyona segera merampasnya, video tersebut bergulir sampai di detik terakhir foto keluarganya tertancap belati Blachthorn.
"Bedebah mana yang berani melakukannya," umpat Keiyona.
"Dan satu lagi nona. Beredar rumor di Midnight Mirage, Meadow di kalah oleh Balckthorn."
"Mulai kapan?"
"Semalam."
"Kau tahu siapa sumbernya?"
"Menurut mereka, anak buah Blackthorn yang mulai menyebarkan. Mereka juga yang mempunyai rekaman tersebut."
"Pergilah ke Midnight Mirage. Minta rekaman cctv mereka. Aku harus melihat pelakunya. Dan sampaikan pada Blackthorn aku akan mengunjunginya."
"Baik nona." Ucapnya sekaligus meninggalkan ruangan tersebut.
"Lagi-lagi Blackthorn. Apa mereka berusaha mengadu domba, karena aku mengunjunginya?" Keiyona meminta pendapat Pavo.
"Bisa saja. Tapi jangan menutup kemungkinan jika Blackthorn sendiri yang melakukannya."
"Aku mengerti paman," sahut Keiyona sedikit menyetujui masukan Pavo.
"Bisa saja mereka takut terhadap Blackthorn. Apa yang di sembunyikan Lucius yang kita tidak tahu?" Keiyona mengungkapkan pikirannya yang lain.
"Maksud nona Lucius punya sesuatu."
"Bukan Lucius tapi sang ayah, Lucifer. Aku harus secepatnya menemuinya. Ah..." Keiyona menepuk keningnya.
"Kau melupakan sesuatu?"
"Nash! Aku lupa memberitahukan agar tidak berkeliaran di kantor untuk beberapa hari ke depan. Paman Tahu kan banyak mata-mata berkeliaran, bisa saja ia di todong untuk memberitahukan dimana dadda berada saat ini."
"Nona terlalu berlebihan. Disana kantor hukum bagaimana penjahat bisa masuk."
"Dengan menyamar," balas Keiyona santai.
Keiyona menyambar ponsel dari tasnya. Ia menekan nomor Nash. Barulah pada dering ketiga telepon tersebut di angkat, tapi suara yang menjawab bukanlah suara Nash.
Keiyona mendengarkan instruksi dari suara tersebut. Raut wajahnya berubah menjadi amarah. Dan kemudian menjawab dengan tegas.
"Dengar pengecut. Aku akan datang menemuimu. Jika kau melukai salah satu dari mereka, aku akan mengejarmu meski sampai neraka."
Sambungan telepon ditutup kasar, kilatan amarah berkelebat di matanya. Namun, Keiyona di tahan Pavo ketika hendak pergi.
"Lepaskan!" Histeris Keiyona.
"Tidak! Selama nona memakai emosi."
"Mereka.... "
"Akan baik-baik saja, karena tujuannya adalah dirimu. Nona harus tenang. Buang emosi dan berpikir jernih."
Keiyona mulai sedikit tenang atas penjelasan Pavo yang masuk akal.
"Atur strategi baru menemuinya. Paham!"
"Kau benar paman. Setidaknya aku harus menangkap perusuh tersebut."
Kumohon, lindungi mereka Tuhan!. Do'a Keiyona tulus dalam hati.