Takdir emang gak pernah adil, dia selalu mempermainkanku seolah aku ini boneka yang menurut padanya. Kenapa takdir begitu kejam padaku ? Sejak awal aku tidak pernah merasakan kebahagiaan, yang kudapat hanya luka dan luka. -Aerilyn Davie Ulani-
Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku sangat menyayangimu melebihi apapun, namun maaf. Aku lebih menyayangi ibuku daripada dirimu, jika aku diminta memilih antara dirimu dan ibuku maka aku akan lebih memilih ibuku.
-Axel Vegard-
Semua ada waktunya. Sedih dan bahagia. Kita gak pernah tau kapan kita bahagia dan kapan kita bersedih. Kehilangan adalah suatu kemungkinan yang akan kita hadapi dalam dunia ini, kita tak bisa menghindarinya.
-Al-Rescha Ravindra Davie-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis_Ariski2312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Aerilyn terbangun dari tidurnya, dia melihat ke samping dan melihat kakaknya yang sedang tidur lelap sambil mengenggam tangannya. Aerilyn menyingkirkan rambut kakaknya yang menutupi matanya. Aerilyn terus memandang kakaknya hingga kakaknya mulai terbangun dan duduk sambil memandangi Aerilyn.
"Sudah bangun ?" Aerilyn mengangguk sambil tersenyum manis. Rescha bangkit dari duduknya dan mengelus kepala adiknya. "Kakak kebawah dulu, cepat turun." Aerilyn mengangguk, Rescha berjalan keluar kamar Aerilyn. Pintu tertutup, Aerilyn tersenyum lalu bangkit dan membersihkan dirinya. Aerilyn turun, menghampiri kakaknya dan juga Axel. Aerilyn duduk di samping Rescha, Rescha tersenyum, mengacak rambut adiknya. Entahlah, jadi kebiasaannya mengelus dan mengacak surai adiknya.
Aerilyn tak mempermasalahkan kakaknya yang sangat suka mengacak rambutnya. Aerilyn senang, mulai saat ini dia akan menerima perlakuan manis dari kakaknya. Axel yang melihat mereka berdua hanya tersenyum namun dalam hatinya ia tertawa. Rescha masuk ke dalam mobil dan disusul dengan Kafeen dan Aerilyn yang duduk di belakang. Dalam perjalanan tak ada yang membuka suara, semua asik dalam pemikirannya masing-masing.
Aerilyn memainkan ponselnya entah apa yang ia lihat, Axel hanya memandang semua pergerakan Aerilyn. Jangan tanya Aerilyn, sebenarnya dia sangat canggung saat Axel selalu memperhatikannya. Rescha melihat keduanya dan hanya diam, mobil berhenti dan Rescha keluar dari mobil disusul keduanya.
Satu jam kemudian, pesawat Axel berangkat. Axel menghampiri Aerilyn dan menggenggam tangannya. "Makasih udah ngerawat gue walaupun cuma satu hari." Aerilyn diam. "Gue senang ketemu sama lo walau cuma sebentar." Masih diam. "Maaf atas segala kesalahan gue.” Aerilyn tetap tak merespon. "Gue pergi, senang bisa kenal sama lo. Thanks atas semua kebahagiaan yang pernah lo berikan sama gue walau gak sampe satu tahun."
Axel melepas genggamannya dan berlalu pergi. Aerilyn berlari menemui Axel dan memeluknya dari belakang. Axel diam, tak membalas atau menolak pelukan Aerilyn. "Gue, gue gak bisa jauh dari lo Feen. Gue pengen bareng terus sama lo." Axel tersenyum, namun dalam artian lain. Axel membalikkan badan dan membalas pelukan Aerilyn, Axel megelus kepala Aerilyn dan mengecupnya. Aerilyn membenamkan wajahnya pada tubuh Axel. "Makasih udah ada buat gue." "Makasih banget." Rescha memandang sendu adiknya yang berada dalam dekapan Kafeen. Rescha tak tega melihat adiknya menangis, tapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa.
🕳🕳🕳
Rescha memberhentikan mobilnya di sebuah cafe yang tak jauh dari rumahnya. Rescha turun dan membukakan pintu untuk adiknya, Aerilyn mengernyit bingung menatap kakaknya namun akhirnya dia mengikuti kakaknya masuk ke dalam cafe. Rescha duduk di samping jendela yang mengarah pada sungai yang sering Aerilyn kunjungi.
Aerilyn duduk di seberang kakaknya dan mengikuti arah pandang kakaknya. Aerilyn batu teringat bahwa dia belum ke sungai itu sejak kemarin, airnya berubah tidak sederas saat dia ke sana.
Gadis yang tak asing bagi Aerilyn menghampiri meja mereka dan menaruh pesanan nereka. Rescha memandang gadis itu sebentar. "Silahkan menikmati." Aerilyn yang merasa tak asing dengan suara itu membalikkan tubuhnya yang tadi mengarah pada jendela. Aerilyn terkejut saat menghadap seorang gadis yang berdiri di hadapannya. "Eoh, kakak."
Aerilyn tersenyum, gadis itu ternyata ingat dengan dirinya. "Ini cafenya ya ?" tanya Aerilyn. "Iya kak," jawab gadis itu sambuk tersenyum manis. "Kamu kenal ?" tanya Rescha. Aerilyn mengangguk lalu mempersilahkan gadis itu duduk. Aerilyn baru teringat bahwa mereka belum memperkenalkan diri. "Nama lo siapa ? Gue lupa nanya kemaren." "Keiyara kak, panggil aja Kei."
"Oke, nama gue Aerilyn panggil aja Lyn. Ini kakak gue, Rescha." Rescha tersenyum memandang gadis di hadapannya ini. Gadis itu tersenyum lalu mengangguk. Perbincangan mereka berlanjut entah sejauh apa, langit mulai menggelap menelan sang matahari menandakan malam telah datang.
"Kami pulang ya Ki.” "Iya kak, makasih ya buat kemaren." Aerilyn mengangguk lalu bangkit dari duduknya dan meninggalkan cafe itu bersama kakaknya. Kia berjalan ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya. Tangannya di cekal oleh seseorang dari samping membuat pergerakannya terhenti.
"Siapa lo ?" tanya pria itu. "Temen, udah aku mau kebelakang." "Siapa namanya ?" "Kak Lyn, kepo amat sih. Suka ya ?" Kia memandang curiga pada kakaknya ini, baru kali ini kakaknya menanyakan seorang gadis. Evren, kakak Kia yang terkenal ganteng itu menyukai seorang gadis yang baru dia lihat, sebuah keajaiban setelah sekian lama dirinya tak tertarik pada seseorang.
"Cowok tadi siapa dia ?" "Kakaknya, udah ih,” ucap Kia lelah karena kakaknya yang tak kunjung habis bertanya. "Eh tunggu, dia tinggal dimana." "Di penginapan dekat sungai, dia seminggu lagi di sini. Mendingan kakak cepat deh kalo mau kenalan, bye aku mau kebelakang." Kia meninggalkan kakaknya yang masih sibuk dengan fikirannya sendiri. Evren menyukai gadis itu, itu fakta. Senyuman gadis itu dengan sorot mata yang teduh mampu membuatnya membuka hati setelah sekian lama tertutup. Tapi, apakah dia berani untuk mendekati gadis itu ? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Dilain tempat, setelah Aerilyn membersihkan dirinya dia keluar rumah menuju sungai yang sudah dua hari tak ia datangi. Aerilyn memasukkan kakinya ke air yang dingin itu, dinginnya air sungai ini sangat membuatnya nyaman. Seorang gadis ikut duduk disampingnya dan melakukan apa yang Aerilyn lalukan. Aerilyn menoleh dan mendapati Kia di sampingnya. Gadis itu tersenyum sangat manis, gadis itu memainkan air itu dengan kakinya. "Kakak malam-malam kok kesini ?"
"Jangan panggil kakak, kita cuma beda tiga tahun,” ucap Aerilyn membalas perkataan Kia. "Tetap aja kakak lebih tua," jawab Kia sambil tersenyum geli. "Terserah kamu deh." "Kak," Kia menoleh menatap Aerilyn. Aerilyn berdehem membalas panggilan Khira. "Aku punya kakak, kayaknya dia suka sama kakak."
Aerilyn mengalihkan pandangannya pada gadis kecil di sampingnya. "Kok bisa ? Kakak aja gak pernah ketemu dia." "Tadi dia liat kakak di cafe, terus dia nanyain tentang kakak,” jawab Kia. "Nanyain apa aja ?" Kia mulai menceritakan apa yang kakaknya bicarakan padanya tadi.
"Masa sih ? Ada-ada aja kakak kamu,”ucap Aerilyn sambil tertawa "Iya bener kak, kasihan dianya. Banyak yang suka sama dia eh malah dia gak suka sama mereka." "Kakak kamu terkenal juga ya," ucap Aerilyn sambil terkekeh. "Hehe iya, akunya aja yang gak terkenal."
Deheman seseorang membuat dua gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati Shaarim di belakang mereka. "Ibu nyariin lo, katanya ada perlu." "Eoh, oke. Kakak disini aja ya temeni Kak Lyn, kasihan sendirian bye." Kia beranjak pergi menyisakan dua orang yang diselimuti keheningan satu sama lain. Aerilyn melihat ke arah air yang mulai deras lagi, Evren hanya diam tak tahu harus bilang apa.
Setelah sekian lama terdiam, Evren berdehem lalu melihat ke arah Aerilyn. "Udah lama di sini ?" tanyanya. "Udah seminggu," jawab Aerilyn. "Gue udah dengar banyak tentang lo dari adek gue." "Iya ? Padahal gue aja baru kenal adek lo lima hari yang lalu."
"Ehm, nama gue Evren," ucap Evren. "Eh, Aerilyn. Panggil aja Lyn." "Nama lo cantik," ucap Evren spontan. "Makasih," jawab Aerilyn kikuk. "Lo mau gak besok jalan bareng gue ?" tanya Evren. "Em ? Boleh kok, jam berapa ?" tanya Aerilyn balik. "Gimana kalo joging dulu sorenya kita jalan-jalan,” ucap Evren memberi saran. "Oke, gak masalah."
"Besok gue jemput ya. Rumah lo yang itu kan ?" tanya Evren sambik menunjuk rumah Aerilyn yang tepat di belokan. "Iya," jawab Aerilyn singkat. "Pulang yuk, udah malam. Gak baik cewek keluar malam." Aerilyn mengangguk lalu bangkit dari duduknya disusun oleh Evren. "Em, boleh minta nomor lo gak ?"
"Boleh kok, ini." Aerilyn menyerahkan ponselnya pada Evren, Evren menyimpan kontak Aerilyn lalu mengembalikan ponsel Aerilyn. "Makasih. Good night." "Iya." Evren meninggalkan rumah Aerilyn dan pulang ke rumahnya. Setibanya dia di pintu rumah adiknya mengagetkannya yang membuatnya mengelus dada.
"Ngapain sih lo ?” tanya Evren kesal. "Ciee, yang udah deket sama cewek," goda Kia. "Diem lo, gue mau tidur,” ucap Evren sambil ingin berlalu namun ditahan oleh Kia. "Ekhm, bilang makasih gitu kek udah gue bantuin." Evren memang meminta bantuan pada adiknya ini.
Kok membingungkan
cast pemeran rescha kalau Ndak salah itu krisWu
mantan member exo