kisah ini menceritakan seorang perempuan yang terlahir dari keluarga sederhana, ayah dan ibunya selalu mendapatkan hinaan dari orang lain, di sinilah anak perempuan bertekat meratau keluar kota demi menggapai citanya.
kira-kira bagaimana kelanjutan dari cerita ini yah...? yuk ikuin teruss
selamat membaca.....!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri ulfiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Kini putri berada disebuah rumah yang sederhana namun inilah tempat ternyaman bagi putri, sekarang putri sibuk memasak hidangan makan malam untuknya malam ini, walaupun putri sendiri namun dia ingin membahagiakan dirinya dengan memasak makanan yang lezat dan enak dari sekian kesedihannya selama ini.
Putri terlihat begitu sibuk menyiapkan semua bahan-bahannya, kini satu persatu bahan-bahan telah ia tuangkan dalam panci.
Setelah beberapa menit pertempuran putri, akhirnya semua menu telah masak, sisa dihidangkan lalu disantap.
Terlihat putri sangat bersemangat menyiapkan semua hidangan yang ia masak, dan membawanya kemeja makan.
"Alhamdulillah... akhirnya aku bisa makan enak lagi malam ini, wahai tubuhku terimakasih telah kuat sejauh ini, karena kamu sudah tangguh sampai dititik ini, aku hadiahkan kamu makanan ini, semoga enak. Bismillah Mari kita makan..." Ucapnya pada dirinya sendiri, lalu mulai menyantap makanannya.
Putri pun sangat menikmati makanannya dengan lahap, tak lupa putri menyisahkan untuk sarapan besok pagi.
"Alhamdulillah, sudah kenyang. Terimakasih ya Allah semoga engkau selalu melindungi aku dan selalu memberikan aku rezeki."
Setelah makan putri membereskan sisa makanan dan piring yang kotor semua dicuci agar bersih. Setelah membereskan semua, putri keruang tamu mengerjakan tugas sekolah untuk besok.
Beralih ketempat irfan, kini irfan tengah memandangi jalanan yang dipenuhi dengan kendaraan roda empat dan roda dua, entah apa yang ada dipiran irfan. Ia hanya memandang dikejauhan dengan tatapan kosong.
"Ini untuk mu bang." Ucap seorang laki-laki yang menyodorkan irfan uang dihadapannya. Namun irfan tak menggubris ia terus saja memandang lurus kedepan.
"Bang... Bang..." Tegur pemuda yang menyodorkan uang pada irfan.
"iya, kenapa?"Jawab irfan dengan santainya.
"Ini bang uang yang saya berikan, diambil yah bang, nanti diambil orang loh, kamu pake makan yah..." ucapnya, lalu pergi meninggalkan irfan sendiri.
Sebenarnya irfan sungguh gengsi untuk menerima uang pemberian pemuda tadi, tapi tak bisa dipungkiri jika irfan membutuhkan uangnya.
"Coba kalo tidak lapar nggak akan aku ambil ini uang, kenapa sih hidup gue itu seperti ini banget? Semua ini karena ayah..." Ucapnya dengan gertakan emosi.
"Kaka mau makan bareng aku nggak?" Ucap sosok suara perempuan dari seblah kiri irfan.
Irfan mencari asal keberadaan suara itu, sontak irfan kaget saat melihat siapa yang menawarinya makan.
"Kamu....?" Ucapnya.
"Halo kak, perkenalkan nama saya meta. Mau makan bareng aku nggak? Aku tau kaka lapar." Ucap meta.
"Ngapain kamu kesini? Tadi aku liat kaka melamun nampak seperti orang yang lagi sedih, yah... Aku memang tidak tau masalah kaka saat ini, dan aku juga tidak mau tau. Aku hanya ingin menawarkan makan untuk kaka." Ucap meta.
" Saya nggak butuh belas kasian kamu, bawa saja makanmu itu dan kasi pada pengemis lainnya. Aku kenyang." tolak irfan dengan wajah datar.
"Yakin nih kak, sekali lagi aku tawarkan dengan kaka. nggak mau makan bareng meta? hemmm baiklah, karena kaka tidak menjawab saya. Saya bawa ajalah makanannya dari pada di taro juga nggak akan di makan." meta pun mulai beranjak meninggalkan irfan.
Meta nampak semakin jauh melangkah dari pandangan irfan, irfan menarik nafas sedalam-dalamnya.
"Oke, aku mau makan bareng sama kamu." kata irfan dengan nada yang sedikit meninggi.
Mendengar itu meta tersenyum lalu membalikkan lagi badannya dan melangkah kembali menuju irfan.
"Baiklah, karena saya pun sudah kelaparan, jadi mari kita makan." ucap meta yang menyodorkan nasi kotak didepan irfan serta sebotol air minum.
Awalnya irfan ragu untuk makan, karena gengsi dan ego irfan terlalu tinggi. Tapi karena irfan melihat meta menyantap makanannya dengan lahap, hal itu membuat irfan tak sungkan.
Irfan pun ikut menyantap makanannya dengan lahap karena memang irfan sejak tadi sudah kelaparan. Melihat hal itu meta nampak tersenyum merasa puas, akhirnya ia menemukan kelemahan irfan.
Walaupun sebenarnya ia tidak tau apa sebenarnya masalah irfan, tapi meta yakin kalo irfan ini bukanlah pengemis.
Melihat irfan sudah menyantap semua makananya tampa sedikit yang disisanya, lalu meta mengatakan.
"Enak kan makanannya kak?" tegur meta.
Irfan sungguh malu dibuatnya, ia berfikir kenapa ia tak menolak saja tawaran meta.
"Nggak, biasa aja kok. jangan kamu fikir aku ambil makanan dari kamu karena saya lapar yah, itu karena kamu yang memaksa." Ucap irfan mengelak.
"Iya, iya deh. Oiya kalo boleh tau rumah kaka dimana." Tanya meta yang perlahan mulai mendekati irfan, karena meta yakin bahwa irfan bukanlah pengemis.
"Aku tidak punya rumah." Jawabnya dengan wajah datar.
"Kaka mau nggak ikut sama aku? Nggak..." tolak irfan dengan tegas.
"Disini dingin loh kak, bagaimana kalo kaka kedinginan disini terus besoknya demam dan pinsan lagi, terus nggak ada lagi nih orang baik yang menolong kaka. Kira-kira bagaimana yah nasib kaka." Ucap meta berusaha memancing irfan.
Irfan sontak menengok kearah meta dengan tatapan tajam. " Aku ini bukan bocah kaya kamu, yang mudah kedinginan. Aku tangguh. Jika tak ada lagi yang perlu dibahas kamu pulang sekarang, bocah kok berkeliaran." Ucapnya irfan.
Jujur disini meta nahan marah banget, ingin rasanya dia mencabik-cabik wajah irfan, namun meta berusaha keras untuk menahan amarahnya.
"Ya... Baiklah aku akan pulang sekarang, tapi ingat yah kak jangan sampai menyesal karena menolak tawaran aku." ucapnya.
Lagi-lagi irfan menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu berkata dalam hati. " Emang benar kata ini bocah, tapi masa ia aku ikut sama dia, harga diri gue mau dikemanain." ucapnya dalam hati.
"Lama banget sih kak berfikirnya, mau nggak?" Ulang meta.
"Okey, okey aku ikut sama loh. Ucap irfan dengan nada sedikit keras.
"Gitu kek dari tadi." Ucap meta.
Kemudia irfan dan meta berjalan kearah motor meta.
"Kak bawa motor yah!! yaa, buruan naik. Santai dong kak." Ucap meta namun tak digubris oleh irfan.
Irfan yang merasa perjalanan mereka sudah cukup jauh berlalu namun rumah meta tak kunjung sampai.
" Bocah, kamu nggak lagi main-main kan sama aku? Ya enggak lah. Iya udah rumah kamu seblah mana? Tu depan." Ucap meta.
Motor pun langsung diberhentiin dengan irfan.
"Kak, tunggu bentar yah, aku masuk dulu, terus aku bagaimana, tidur disini gue? Ya engga lah. Tunggu sini aja bentar kok." ucap meta kemudian meninggalkan irfan.
Beberapa menit kemudian meta datang kembali dengan gendongan tas di punggungnya. Irfan yang melihat itu sontak berfikiran aneh.
"Bentar deh, jangan bilang kamu mau lari sama aku? Wah benar-benar nih boca nambah masalah gue aja." ucap irfan.
"Apaan sih kak, fiktor banget pikirannya. Mana mau aku sama bentukan kaya gini enggak level." ucap meta.
"Ya terus kita mau kemana? Udah ikut aja kak. Ayo jalan keburu tenga malam nih." Ucap meta.
Meta dan irfan kembali menyisir jalan dengan gelapnya malam.