Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Gelombang Kejut dan Bayangan dari Jakarta
Cahaya keemasan matahari pagi menyusup lembut menembus celah tirai serba putih di kamar utama. Di luar, suara tetesan sisa hujan semalam masih terdengar menetes satu per satu dari dedaunan pohon mangga di pekarangan.
Di dalam dapur yang bersih, aroma seduhan kopi hitam kesukaan Dimas menguar harum ke udara. Namun bagi Kiara, aroma kopi yang biasanya menenangkan itu pagi ini terasa begitu menusuk dan menyengat ulu hatinya.
Kiara yang sedang mengoles mentega di atas selembar roti tawar mendadak menghentikan gerakannya. Wajahnya agak pucat, peluh tipis mendadak membasahi dahi dan pelipisnya. Dadanya bergejolak hebat, membawa gelombang mual yang sangat asing dan tak tertahankan.
Kiara menutup mulutnya dengan telapak tangan, melepaskan pisau roti, dan berlari cepat menuju kamar mandi di dekat dapur.
Di depan wastafel, Kiara menumpahkan rasa mualnya. Tubuhnya gemetar lemas saat air mata spontan menetes di sudut matanya karena dorongan mual yang begitu menyiksa.
Dimas yang baru saja turun dari lantai dua sambil merapikan ikatan dasi kerjanya seketika panik. Mendengar suara batuk dan mual Kiara dari arah kamar mandi, Dimas langsung menyambar segelas air hangat dan berlari menghampiri istrinya.
"Ra?! Kamu kenapa, Sayang?" bisik Dimas penuh kecemasan. Jemari hangat Dimas yang kokoh segera mengusap lembut tengkuk Kiara, menopang bahu istrinya agar tidak meluruh ke lantai.
Kiara membasuh mulut dan wajahnya dengan air dingin dari keran. Punggungnya menyandar lemas pada dada bidang Dimas yang terasa begitu kokoh dan hangat.
"Nggak tahu, Mas..." bisik Kiara dengan suara serak.
"Matahari baru terbit tapi kepalaku rasanya muter. Bau aroma kopi Mas di dapur tadi mendadak bikin ulu hatiku mual banget."
Dimas menempelkan punggung tangannya di dahi dan leher Kiara, mengecek suhu tubuh istrinya.
"Badanmu agak hangat, Ra. Bibirmu juga pucat banget. Jangan-jangan kamu kelelahan ngurusin berkas kontrak Harmony EO sama Dinas kemarin?"
Kiara menyunggingkan senyum tipis, mencoba menenangkan raut panik di wajah suaminya. Tangannya mengusap lembut pipi Dimas.
"Mungkin cuma masuk angin biasa, Mas. Nanti aku minta Widya nemenin minum teh hangat di kantor. Mas berangkat kerja aja, nanti terlambat rapat evaluasi anggaran."
Dimas mengecup kening Kiara dengan sangat lama, merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan hangat yang begitu protektif.
"Kalau rasanya makin gak enak, langsung telpon Mas ya? Biar Mas jemput."
Kiara mengangguk pelan. Namun jauh di dalam dasar batinnya, ada sebuah firasat halus yang mulai berbisik—sebuah perubahan biologis dan desakan emosi yang belum sanggup ia terjemahkan pagi itu.
...***...
Suasana di lantai dua Kantor Dinas UMKM mulai berangsur sepi. Sebagian besar staf sedang menghadiri sosialisasi di luar gedung. Dimas duduk sendirian di meja kerjanya, meneliti draf laporan keuangan program pendampingan usaha kecil.
Drrrt....Drrrt
Ponsel dinas Dimas yang tergeletak di atas tumpukan map bergetar nyaring. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp dari nomor baru yang tidak tersimpan masuk ke layarnya.
Dimas mengernyitkan dahi. Ia membuka pesan tersebut:
"Mas Dimas... ini Nadia. Tolong jangan langsung blokir nomor ini. Aku tahu ini mendadak, tapi aku benar-benar butuh bantuan kamu, Mas. Aku lagi ada di Sukabumi dan bingung harus minta tolong ke siapa lagi. Mantan suamiku, Farhan, mengancam mau merusak nama baikku dan membawa-bawa nama Dinas tempat kamu kerja. Tolong, Mas... kita ketemu sebentar saja sore ini."
Mata Dimas membelalak. Jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur.
Nama itu—Nadia—satu nama dari masa lalu di Jakarta yang sudah lebih dari delapan tahun ditutup rapat oleh Dimas.
Nadia adalah wanita yang pernah mengisi masa mudanya saat kuliah sarjana, namun hubungan itu berakhir sangat menyakitkan saat Nadia memutuskan pergi meninggalkan Dimas demi menikah dengan Farhan, seorang pengusaha kaya berwatak keras.
Dimas mengepalkan tangannya di atas meja. Jemarinya tegang saat menatap foto profil Kiara di layar ponselnya. Dimas sangat mencintai Kiara. Rumah tangga yang dibagun bersama Kiara dan Rayyan adalah hal paling suci dan berharga dalam hidupnya.
Dimas berniat langsung memblokir nomor tersebut. Namun, kalimat "mengancam membawa-bawa nama dinas tempat kamu kerja" membuat langkah Dimas terhenti.
Dimas mengingat betul betapa sengitnya ia bersama Kiara membebaskan nama baiknya dari fitnah audit Rendy beberapa waktu lalu. Ia tidak ingin ada skandal atau rumor baru yang sengaja diciptakan untuk mencoreng instansinya.
Dengan napas berat dan raut wajah membeku, Dimas mengetik balasan dingin:
"Kita ketemu 15 menit saja di Resto Taman samping kantor. Jangan pernah membawa-bawa nama Instansi saya dalam masalah pribadi kamu."
...***...
Resto Taman di sudut jalan itu terasa cukup sepi. Lampu-lampu gantung temaram mulai menyala, memendarkan cahaya kekuningan di sudut meja outdoor yang terlindung oleh rimbunnya tanaman hias.
Dimas duduk kaku di kursi kayu, bersedekap dada dengan jarak yang sangat menjaga batas.
Nadia duduk di hadapannya. Wanita itu tampil sangat mencolok dengan gaun berwarna merah maroon dan riasan wajah yang mahal, namun matanya sembap dan jemarinya gemetar hebat memegang cangkir.
"Langsung saja, Nad," buka Dimas dengan suara berat, dingin, dan tanpa emosi.
"Masalah apa yang kamu maksud? Kenapa harus menyeret nama dinas saya?"
Nadia mendongak, air mata mulai menetas membasahi pipinya.
"Mas... Farhan dendam sama aku setelah kami resmi cerai dua bulan lalu. Dia tahu dulu kamu mantan pacarku. Dia sengaja mau memalsukan draf kerja sama bisnis atas nama perusahaanku dulu dengan dinas tempat kamu menjabat, seolah-olah kamu menerima gratifikasi dari aku!" jelas Nadia
Dimas menyipitkan mata, tatapannya tajam menembus Nadia.
"Itu tuduhan bodoh. Saya tidak pernah menyentuh, menandatangani, atau menyetujui dokumen apa pun dari perusahaan kamu atau Farhan." bantah Dimas
"Aku tahu, Mas! Makanya aku datang buat ngasih tahu kamu biar kamu siap-siap kalau Farhan main kotor!" tangis Nadia pecah.
Dalam kondisi panik dan emosional, Nadia mendadak memajukan tubuhnya menyeberangi meja, berusaha memegang lengan tangan Dimas.
"Tolong bantu aku menghadapi Farhan, Mas Dimas... aku takut banget..."
Dengan reaksi refleks yang sangat cepat dan tegas, Dimas langsung menarik tangannya menepis sentuhan Nadia.
"Jangan pegang-pegang saya, Nadia!" tegur Dimas dengan suara dalam yang penuh penegasan.
"Saya punya istri dan keluarga yang sangat saya hormati dan saya cintai. Kalau mantan suamimu mau main fitnah, lembaga hukum Dinas kami siap menghadapi secara resmi. Kamu tidak perlu menemui saya secara pribadi seperti ini!"
Dimas berdiri seketika, meletakkan uang di atas meja untuk membayar minumannya sendiri.
"Mas, tolong...!" Nadia ikut melompat berdiri, secara spontan meraih dan merangkul lengan Dimas dari samping untuk menahannya pergi saat mereka melangkah menuju area parkir.
Dimas kembali melepaskan pautan tangan Nadia dengan kasar dan mendorongnya menjauh.
"Cukup, Nad! Jangan pernah hubungi saya lagi!"
Dimas masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi dengan perasaan sangat gusar dan tidak tenang.
Namun, tanpa disadari oleh Dimas maupun Nadia, dari balik kaca mobil sedan hitam yang terparkir lima meter di seberang resto, sebuah lensa kamera tele berukuran besar terus berbunyi ceklak-ceklik tanpa henti.
Seorang pria bermasker hitam tersenyum sinis memandangi tiga lembar foto di layar kameranya:
Foto saat Nadia seolah menggenggam tangan Dimas di meja temaram.
Foto saat Nadia merangkul lengan Dimas di area parkir.
Foto wajah Dimas yang tampak tegang saat menatap Nadia.
"Sempurna..." bisik pria itu.
"Ini akan jadi amunisi luar biasa untuk menghancurkan rumah tangga pejabat sok suci ini."
...***...
Di lantai tiga gedung perkantoran hukum, Kiara sedang merapikan berkas klien di meja kerjanya. Tubuhnya terasa makin lemas dan pusing sejak sore tadi, namun ia menahannya karena ingin menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
Drrrrtt....Drrrrrtt
Ponsel pribadi Kiara bergetar. Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan beberapa file foto beresolusi tinggi.
Kiara mengklik pesan tersebut. Dan dalam detik berikutnya, seluruh pasokan udara di dalam paru-paru Kiara seakan dihisap habis.
Layar ponselnya menampilkan foto Dimas sedang duduk berdua dengan wanita bergaun merah maroon di restoran temaram, foto wanita itu memegang tangan Dimas, dan foto wanita itu merangkul lengan suaminya di pelataran parkir.
Di bawah foto tersebut, tertera sebuah kalimat teror:
"Tanya suamimu yang sok suci itu, siapa Nadia. Rahasia masa lalunya di Jakarta belum selesai. Jangan terlalu percaya sama laki-laki yang kelihatan lurus di depanmu."
DEG
Jantung Kiara serasa berhenti berdetak. Nama itu... Nadia. Kiara ingat betul, Dimas pernah bercerita jujur bahwa Nadia adalah mantan kekasihnya zaman kuliah yang pergi meninggalkannya demi pria kaya.
Kenapa wanita itu ada di Sukabumi? Kenapa Dimas menemuinya di tempat temaram tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Kiara? Kenapa Dimas membiarkan wanita itu menyentuh lengannya?
"N-nggak... ini nggak mungkin..." bisik Kiara serak.
Rasa mual hebat mendadak mengocok ulu hatinya, bercampur dengan rasa sakit hati dan kekecewaan yang luar biasa mendalam. Kepala Kiara berputar hebat, pandangannya yang tadinya menatap layar ponsel perlahan mendadak memburam dan berubah menjadi bintik-bintik hitam.
Dada Kiara naik turun menahan sesak napas yang amat sangat. Tubuhnya gemetar hebat, hingga jarinya tak sanggup lagi menggenggam ponsel.
PRANG!
Ponsel Kiara jatuh menghantam lantai.
Widya yang baru saja melangkah masuk ke ruang kerja Kiara untuk mengajak pulang bersama seketika terperanjat melihat kondisi sahabatnya.
"Kiara?! Kiara, kamu kenapa?!" jerit Widya panik melihat Kiara memegangi dadanya dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat.
"Wid....Widya.... Mas Dimas..." bisik Kiara sangat lirih sebelum matanya terpejam rapat.
Tubuh anggun Kiara meluruh total dari atas kursi, pingsan tak sadarkan diri di atas lantai.
"KIARA!" teriak Widya histeris.
Widya berlutut menyambar tubuh Kiara, lalu dengan tangan gemetar cepat-cepat menyambar ponselnya sendiri untuk menelepon Dimas.
Di dalam mobilnya yang sedang melaju di tengah kemacetan jalan raya, ponsel Dimas berdering nyaring.
"Halo, Widya?"
"MAS DIMAS! KAMU DI MANA?! KIARA PINGSAN DI KANTOR! DIA NGGAK SADAR-SADAR! INI AKU SAMA DRIVER KANTOR LAGI BAWA KIARA KE RS MEDIKA!"
Seketika itu juga, dunia Dimas runtuh seketika. Kunci mobil di tangannya serasa membeku, dadanya dihantam rasa penyesalan dan ketakutan paling dahsyat dalam hidupnya.
"KIARA!" jerit Dimas histeris, memutar balik kemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah malam Kota Sukabumi menuju rumah sakit.